Sebelum Muhammad bin Abdullah menyampaikan risalah di atas muka bumi, Ali bin Abi Thalib menggambarkan keadaan negeri Arab saat itu. Mekah dipandang sebagai tempat kemegahan dan kemewahan, penduduknya gemar minum arak dan main judi, mengubur bayi perempuan, kebiasaan pria menikah dan bercerai.

Mekah juga merupakan standar pemerintahan yang sudah maju menuju ke kota peradaban dan sistem pemerintahan memberikan pembagian tanggung jawab dan peran yang sesuai, sebagaimana halnya sebuah pemerintahan yang dicapai melalui musyawarah secara terbuka.

Dengan kehidupan yang mapan dan mewah itu, penduduknya mempunyai cara hidup yang jauh dari moral yang luhur, berbuat maksiat, mengejar kesenangan, dan menyembah berhala.

Di tengah kehidupan yang sudah mapan dan nyaman tersebut, hadir di hadapan mereka Nabi Muhammad membawa risalah dengan misi menyeru ke jalan yang baik/lurus dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kemusyrikan.

Nah, pertama-tama Nabi Muhammad menyampaikan risalah secara diam-diam di lingkungan rumah, keluarga, dan di kalangan rekannya, adapun yang pertama kali menyambut dakwah nabi adalah Khadijah bin Khuwailid, menyusul Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah dan Ummul Aiman.

Setelah dakwah diam-diam dilakukan, selanjutnya atas saran Umar bin Khattab dakwah dijalankan secara terang-terangan/terbuka. Dakwah tersebut ada yang menolak dengan cara lemah lembut dan juga dengan cara kasar, yang menolak dengan kasar adalah Abu Lahab (Abduluzza bin Abdul Muthalib).

Reaksi-reaksi keras menentang dakwah nabi pun bermunculan di Mekah, usaha dakwah tetap dilanjutkan tanpa mengenal lelah dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat.

Dakwah secara terang-terangan ini, kemungkinan Abu Lahab akan menciptakan keresahan dan kekacauan. Dari itu, untuk mengantisipasinya nabi mengadakan pertemuan khusus dengan keluarganya dengan tujuan dapat berbicara langsung dalam suasana kekeluargaan, terutama kepada Abu Lahab.

Dalam pertemuan tersebut, Abu Lahab pun mengatakan:

“Inilah paman-paman dan sepupu-sepupumu. Engkau akan berbicara kepada mereka, yang tiada lain untuk mengajak mereka kepada kemurtadan. Jangan berpaling dari agama kaummu, dan jangan seret mereka pada kemarahan orang-orang Arab. Kaummu tidak mampu menghadapi perlawanan seluruh bangsa Arab, dan mereka tidak dapat diharapkan menghadapi mereka dalam pertempuran. Kaummu menyadari akan apa yang hendak engkau ambil dalam agama mereka.  Mereka tidak peduli terhadap apa yang engkau lakukan dan apa yang engkau perjuangkan: Pemberontakan terhadap agama dan tradisi yang diwarisi dari nenek moyang kita, maka perhatikanlah dirimu sendiri dan nama cucu bapakmu. Pasti orang-orang Arab tidak membiarkanmu sendirian dan tidak akan sulit bagi mereka untuk membunuhmu.”

Demikian juga Nabi Muhammad dalam pertemuan tersebut menyampaikan:

“Saya tidak tahu kalau ada seorang dari bangsa Arab yang membawa kepada kaumnya sesuatu yang lebih baik dari yang saya bawa kepadamu. Saya membawa satu kebaikan guna kebahagiaan kamu di dunia dan akhirat. Saya disuruh Tuhanku mengajak kamu kepada-Nya. Siapakah di antara kamu yang menolong aku dalam pekerjaan ini?.”

Ketika nabi menyampaikan dakwah untuk menyembah Allah dan menumpaskan belenggu kesirikan, menyembah berhala (patung). Hal ini Nabi Muhammd dituduh telah murtad dari agama nenek moyangnya atau disebut dengan istilah shabi’.

Shabi’in bermakna orang yang keluar dari agama yang asal dan masuk ke dalam agama lain. Sebab itu, ketika nabi mencela-cela agama nenek moyangnya yang menyembah berhala, kemudian menegakkan tauhid. Oleh orang Quraisy, nabi dituduh telah shabi’ dari agama nenek moyangnya. (Hamka, Tafsir Al-Azhar).

Selanjutnya agama Islam dan Nabi Muhammad mulai menjadi percakapan ramai di masyarakat. Terlihat Abu Lahab beserta kawan-kawannya mengambil tindakan untuk menghalangi setiap pergerakan nabi.

Nabi pun diperolok-olok dengan meminta permintaan yang tidak masuk akal, ada yang meminta untuk menghidupkan orang mati, menjadikan emas bukit Safa dan Marwa yang bertujuan semata-mata untuk merendahkan.

Pertentangan antara Nabi Muhammad dengan masyarakat Quraisy mulai panas sehingga paman nabi, Abu Thalib sangat risau dan khawatir atas keselamatan keponakannya tersebut. Dari itu, Abu Thalib identitasnya tidak sejalan dengan nabi/tidak memeluk agama Islam, tapi ia memberikan perlindungan kepada nabi.

Melihat sikap Abu Lahab dan Abu Thalib yang sama-sama tidak memeluk Islam, menurut hemat saya di sini letak perbedaan paradigma berpikir keduanya. Abu Lahab, berpikir sempit dan dikendalikan hawa nafsu hanya melihat dari satu sudut pandang, sementara Abu Thalib melihatnya dari perspektif yang luas.

Perjalanan Islam di Mekah berada dalam jurang yang terjal dan curam karena nabi melawan agama nenek moyangnya sendiri yang merupakan penyembah berhala (patung) dan juga dihadapkan pada orang yang menolak dengan keras, seperti Abu Lahab dan Abu Jahal.

Nabi Muhammad menerima pahit dan getirnya menyampaikan Islam di tengah-tengah masyarakat yang nyaman dengan kepuasan duniawi dan kemewahan, nabi diperolok-olok dan menuduh telah murtad dari agama nenek moyangnya. Nah, menerima perlakuan tersebut nabi tetap kuat dan teguh menerimanya.

Kebengisan dua Abu di atas, tidak menghambat tujuan nabi dalam menyebarkan agama Islam, pemeluk agama Islam semakin bertambah dengan keteguhan dan keteladanan yang dimiliki nabi. Agama Islam pun sampai ke tangan kita dan ini merupakan suatu nikmat yang tak terhingga nilainya, nikmat Islam dan iman.

Walaupun begitu, dalam perbedaan keyakinan tersebut: nabi tetap menghormati dan menjalin hubungan sosial. Hal ini termaktub dalam kehidupan penduduk kota Madinah yang aman dan damai. Begitu juga dengan keadaan hari ini, perbedaan keyakinan tidak lantas menjadikan bermusuhan, akan tetapi saling bertoleransi.

Catatan:

Risalah: surat, tulis, misi kerasulan. Ajaran Allah yang diwahyukan kepada rasul untuk disampaikan kepada manusia. Risalah secara etimologis terkait dengan kata rasul yang berarti utusan pembawa berita, para rasul disebut demikian karena mereka membawa berita dari Allah untuk  disampaikan kepada manusia.

Bahan Bacaan:

- Ensiklopedi Islam, cetakan VI. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1999.

- Hamka. Tafsir Al-Azhar, Juz I. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.

- Rus’an. Lintasan Sejarah Islam di Zaman Rasulullah Saw. Semarang: Wicaksana, 1981.

- Salahi. Muhammad Sebagai Manusia dan Nabi. Terjemahan M. Sadat Ismail. Yogyakarta: Pustaka, 2010.