66152.jpg
http://www.hdwlp.com/wp-content/uploads/2016/12/tiger-high-definition-wallpaper-1280x720.jpg
Saintek · 3 menit baca

Awaaas... Ada Harimau di Balik Padang Ilalang!
Alegori Teori Konspirasi

Di masa Pilkada banyak teori konspirasi berseliweran di sosmed. Goenawan Mohamad menyebut teori konspirasi sebagai “teori orang malas”, lebih tajam lagi Eep Saefulloh menyebutnya sabagai "teori para pecundang".

Saya kurang tertarik untuk membahas apakah para penggemar teori konspirasi itu malas ketika berteori atau tidak, cukup untuk mengatakan bahwa teori yang mula-mula dianggap teori konspirasi bisa saja ternyata terbukti benar asal didukung oleh bukti-bukti yang kuat dengan pikiran yang terbuka. Di tulisan ini saya lebih tertarik untuk menjawab mengapa teori ini laris manis, cepat dipercaya secara kurang kritis, dan mengapa teori ini bisa bertahan lama?

Michael Shermer di Scientific American edisi Desember 2008 yang berjudul Patternicity: Finding Meaningful Patterns in Meaningless Noise memberikan ilustrasi berikut. Bayangkan anda berada di padang ilalang, kemudian anda mendengar suara gemerisik ilalang yang mencurigakan. Anda bisa menduga bahwa suara itu suara ilalang yang tertiup angin atau suara gesekan ilalang dengan gerakan harimau yang siap menerkam anda. 

Dugaan mana yang anda beri bobot lebih besar? suara gemerisik itu gesekan harimau atau gesekan angin? Dalam yargon metodologi pengetahuan, pilihan ini dikenal sebagai pilihan kesalahan dugaan jenis I: percaya bahwa sesuatu itu nyata padahal tidak, dan kesalahan dugaan jenis II: percaya bahwa sesuatu itu tidak nyata padahal sebetulnya nyata.

Dalam ilustrasi di atas, kalau anda mengambil kesimpulan bahwa tidak ada harimau padahal harimau memang benar ada (kesalahan dugaan jenis II), resikonya anda mati. Anda akan cenderung memilih kesalahan dugaan jenis I: menduga ada harimau walaupun mungkin itu hanya suara gesekan angin dengan ilalang. Seleksi alamiah melalui evolusi ribuan tahun "memilih" mahluk, termasuk manusia, yang menganggap semua tanda ancaman itu nyata. Michael Shermer memberi julukan "paternicity" untuk kecenderungan ini: manusia cenderung mencari makna dari sesuatu yang sebetulnya acak.

Di artikel berikutnya (Scientific America May 2009): Why People Believe Invisible Agents Control the World, Michael Shermer melanjutkan argumen di atas. Karena manusia memiliki volume otak yang lebih besar dari mahluk lain, manusia mampu berteori, dan mampu memperkirakan adanya "agent" di balik pola yang diamati. Dia menyebut kecenderungan ini "agenticity".

Yang lebih menyedihkan, masih banyak lagi bias kognitif yang memperkuat kecenderungan teori konspirasi ini. Bias konfirmasi: kecenderungan untuk memberi bobot lebih tinggi pada informasi baru yang mendukung kepercayaan sebelumnya, dan sebaliknya. Bias konfirmasi menjelaskan mengapa teori yang salah tetap bertahan walaupun ada ribuan fakta yang membantahnya. "Law of small number" kecenderungan manusia untuk lompat ke kesimpulan berdasarkan contoh yang tidak memadai. 

"Availibility heuristic", memilih informasi yang telah kita kenal sebagai bukti penyokong teori kesayangan kita. "Illusion of control" kecenderungan manusia untuk melebih-lebihkan kemampuannya melakukan kontrol padahal sebetulnya tidak ( tulisan populer mengenai kognitif bias bisa dilihat di tulisan The 12 cognitive biases that prevent you from being rational ). 

Bias kognintif ini menjadi salah satu fokus pendekatan baru dalam ilmu ekonomi yang dikenal sebagai behavioral economics yang dipelopori oleh Herbert Simon, Daniel Kahneman dan Vernon Smith. Pendekatan ini mencoba meneropong premis-premis dasar ekonomi melalui teleskop psikologi dan sebaliknya.

***

Kalau anda menonton film Beautiful Mind, riwayat hidup pemenang nobel ekonomi John Nash. Anda mendapatkan contoh sempurna tentang "paternicity" dan "agenticity." John Nash demikian gandrung dengan pola-pola, berusaha mencari pola dibalik setiap peristiwa yang diamatinya. 

Bakat patternicity John Nash dengan cepat bergeser menjadi agenticity, dan berakhir di terminal paranoia. Hanya rasionalitas yang mampu menyelamatkan John Nash dari paranoia parah, ketika John Nash sadar bahwa anak kecil yang selalu mengikutinya adalah imajiner, karena anak itu tidak menjadi dewasa setelah puluhan tahun.

Tentu saja kemampuan melihat pattern juga yang telah membuat John Nash mampu menemukan Nash Equlibrium yang sekarang menjadi makanan sehari-hari para game theorist. Namun hanya pattern yang telah melalui pengujian logika dan pengujian empiris yang ketat yang patut dipertimbangkan. Tidak terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa suara gemerisik adalah suara gerakan harimau di padang ilalang.

Mungkin perlu direnungkan apa yang dikatakan John Nash di Beautiful Mind: "I still see things that are not here. I just choose not to acknowledge them. Like a diet of the mind, I just choose not to indulge certain appetites; like my appetite for patterns; perhaps my appetite to imagine and to dream" ... . supaya "our mind" tetap "beautiful".