Menarik mencermati sebuah berita yang dilansir harian Kompas (31/01/2018) mengenai hancurnya Tank legendaris Jerman Leopard di medan perang Suriah. Jika membicarakan mengenai Leopard, mungkin bayangan kita langsung akan bertuju pada “sosok” Tank yang sangat kuat dan berkelas.

Uniknya Kompas tidak melacak secara lebih jauh dengan cara apa Tank berkelas tersebut dihancurkan. Termasuk siapa yang bertanggung jawab atas penghancuran Tank tersebut. Pemberitaan lebih berkutat pada runtuhnya mitos “kedigdayaan” Tank tersebut dalam perang Suriah.

Misteri tersebut terjawab jika menujuk pada lansiran Southfront (2018). Ternyata sosok wanita Kurdi yang bertanggung jawab atas hancurnya Tank legendaris tersebut.

Lebih mencengangkannya lagi Tank tersebut dihancurkan oleh serangan bunuh diri yang juga menewaskan wanita Kurdi tersebut.

Sang wanita Kurdi "heroik" tersebut bernama Avesta Khaboor (Avêsta Xabûr). Khaboor merupakan anggota dari Yekîneyên Parastina Jin (YPJ) –dalam bahasa Indonesia bermakna Unit Perlindungan Wanita-.

Aksi bom bunuh diri Khaboor merupakan aksi “perdana” yang dilancarkan oleh kelompok YPJ tersebut. Pasca keberhasilan Khaboor, dengan segera anggota YPJ lain juga berupaya melakukan aksi bom bunuh diri serupa (Southfront : 2018).

Kelompok YPJ sendiri adalah sayap paramiliter dari Partiya Yekîtiya Demokrat‎ (PYD) –dalam bahasa Indonesia bermakna Partai Persatuan Demokrat- yang mengaku berideologi sosialis.

YPJ bukan merupakan satu-satunya sayap paramiliter PYD, sebab pada hakikatnya ia adalah sebuah divisi dari organisasi paramiliter yang lebih besar bernama Yekîneyên Parastina Gel (YPG) –dalam bahasa Indonesia bermakna Unit Perlindungan Rakyat.

Dapat dikatakan organisasi paramiliter tersebut saat ini menjadi andalan PYD dalam mempertahankan kekuasaannya di sejumlah wilayah Suriah yang notabene dihuni oleh komunitas Kurdi.

Uniknya bagi PYD, sayap militer wanita (YPJ) itulah yang sejatinya menjadi andalan dalam berbagai peperangan yang terjadi. Tercatat YPJ ditempatkan di front terdepan guna melawan ISIS maupun serangan militer Turki yang mencoba memperlemah basis kekuatan PYD di Suriah.

Mengapa YPJ menjadi andalan? Jika merujuk pada analisis The Kurdish Project, dinyatakan bahwa YPJ memiliki militansi yang luar biasa dibandingkan rekan laki-lakinya. Hal ini terjadi karena anggota YPJ paham bahwa ketika mereka tertangkap oleh musuh –seperti ISIS misalnya- mereka pasti akan diperkosa dan dibunuh. Sehingga militansi mereka menjadi berlipat ganda.

“Entah saya yang menang atau saya mati sebagai “martir’ daripada ditangkap”. Nuansa batin semacam itulah yang kiranya menjelaskan mengapa wanita seperti Khaboor memilih meledakkan dirinya dengan bom daripada ada kemungkinan tertangkap setelah menghancurkan Tank Turki tersebut.

Masih menurut lansiran The Kurdish Project, YPJ memiliki “keunggulan” lain (khususnya dalam perang melawan ISIS). Dimana YPJ yang anggotanya merupakan kaum hawa secara keseluruhan memberi keuntungan secara psikologis ketika bertempur melawan ISIS.

Dikatakan bahwa ISIS memiliki doktrin bahwa ketika mereka membunuh kaum wanita maka hal itu akan menghalanginya masuk surga. Tentu analisis ini bisa diperdebatkan, tetapi faktanya kekalahan ISIS di Kobani melawan YPJ tentunya menjadi bukti tersendiri akan kebenaran analisis tersebut.

Walaupun sebagaimana ditegaskan sebelumnya, “keunggulan” ini mungkin hanya efektif ketika melawan ISIS. Faktanya jika merujuk pada lansiran media sosial resmi milik YPG wilayah Rojava, diperlihatkan gambar seorang anggota YPJ yang mati dengan tubuh tanpa busana dan termutilasi.

Menurut keterangan resmi YPG, itulah nasib wanita YPJ yang tertangkap oleh pasukan Turki dan akhirnya dihabisi dengan sadis. 

Dengan kata lain, tentara Turki tidak memiliki belas kasihan sedikitpun pada anggota YPJ.

Satu hal yang ingin digarisbawahi dalam artikel ini -mengacu pada berbagai fakta diatas-, ialah semakin dalamnya kaum wanita terseret dalam arus kekerasan yang melanda negara Suriah.

Jika selama ini dunia menyaksikan kekejaman brutal ISIS terhadap kaum wanita, saat ini musuh ISIS -seperti PYD dan YPG- juga mempergunakan wanita untuk tujuan politis mereka. Perbedaannya hanya terletak di level wacana yang dipergunakan untuk mempengaruhi para wanita tersebut.

Jika ISIS menggunakan wacana teologis untuk menggiring wanita menjadi “pengantin” bom bunuh diri misalnya, maka dalam kasus Khaboor (dan anggota YPJ lain secara umum) dipergunakanlah wacana nasionalisme Kurdi atau perang melawan ISIS misalnya.

Faktanya, jika mengacu pada rilis atau pernyataan resmi dari pihak YPJ, YPG, ataupun PYD kita akan menemukan pujian setinggi langit kepada para anggotanya yang tewas dalam pertempuran sebagai martir bagi tanah airnya.

Tidak hanya wacana nasionalisme Kurdi, bahkan ide emansipasi wanita juga dipakai untuk kepentingan politis ini. Fakta ini secara jelas tergambar dari lansiran resmi YPG menanggapi kematian Khaboor, dimana dikatakan secara tegas bahwa kematiannya adalah sebuah wujud emansipasi wanita yang sesungguhnya: “...She reached the point of martyrdom and joined the caravan of the martyrs...For our units, Avêsta is a symbol of emancipated women” (ypgrojava.org: 2018).

Upaya menghubungkan kematian wanita Kurdi dengan ide emansipasi wanita nyatanya juga termanifestasi dari pernyataan pimpinan PYD yang juga seorang wanita bernama Asya Abdullah.

Dalam salah satu pidato publiknya di Oslo dalam rangka tahun 2016 silam, sang pemimpin PYD tersebut dengan tegas berkata: “Isis would like to reduce women to slaves and body parts. We show them they’re wrong. We can do anything” (The Independent: 2017).

Tentu saja artikel ini tidak bermaksud menggugat peran wanita dalam mempertahankan wilayah mereka. Tetapi yang menjadi masalah adalah eksploitasi wanita terselubung yang dilakukan elit PYD dan YPG dengan berbekal slogan nasionalisme ataupun emansipasi wanita.

Jika memang benar para elit tersebut peduli terhadap kaum wanita bagaimana bisa mereka begitu tega memposisikan wanita sebagai ujung tombak peperangan sehingga menimbulkan banyak korban seperti sosok Khaboor atau anggota YPJ lain.

Lebih jauh, bukankah dengan memposisikan wanita di garis terdepan pertempuran memberikan resiko tersendiri? Sebagaimana dilansir The Kurdish Project, militansi hebat yang ditunjukkan anggota YPJ sejatinya timbul dari ketakutan mereka. Dimana jika kalah, mereka akan dihinakan dan akhirnya dibunuh. Sesuatu yang tidak dirasakan oleh kaum laki-laki yang bergabung dalam YPG secara umum.

Dengan kata lain ada ekspoitasi ketakutan wanita untuk memaksanya melakukan perbuatan yang “nekat” sebagaimana kasus Khaboor.

Rilis gambar mutilasi anggota YPG oleh tentara Turki bukankah sejatinya juga merupakan bagian dari eksploitasi ketakutan tersebut? Ketika anggota YPJ melihat gambar tersebut maka tentunya diharapkan militansi mereka akan semakin besar dan semakin “nekat” dalam berjuang demi menghindari nasib tragis sebagaimana terjadi pada rekan mereka.

Jika dianalogikan, mungkin YPJ ini mirip dengan pasukan harakiri Jepang yang notabene dikirim ke medan tempur tetapi dengan harapan selamat yang lebih kecil dibandingkan dengan pasukan reguler.

Lebih jauh ketika menjadikan wanita sebagai ujung tombak pertempuran, bukankah juga membuka peluang militer Turki akan bertindak semakin keras pada wanita Kurdi secara umum? Dengan mudah Turki bisa beralasan bahwa para wanita tersebut adalah calon paramiliter YPJ atau bahkan anggota YPJ yang menyamar.

Pada intinya baik ISIS atau YPG/YPJ dan PYD sejatinya memposisikan wanita pada posisi rentan dalam situasi konflik yang melanda wilayah tersebut.

Semoga spiral kekerasan yang menghantui wilayah Timur Tengah dan juga menyengsarakan kaum wanita ini bisa berakhir. Para wanita maupun masyarakat pada umumnya dapat hidup dalam alam kebebasan dan kenyamanan. Tanpa desing peluru, bom, dan suara peralatan perang lainnya. Semoga hari itu dapat terjuwud.