Hezbollah yang sudah dicap sebagai organisasi teroris asal Lebanon sudah lama telah melakukan kaderisasi dengan berbagai cara. Satu di antaranya dengan cara membangun jaringan kepanduan (pramuka) dan atletik yang kuat dan sistemik. 

Mereka memobilisasi kekuatan fisik olahraga dan kemampuan survival kepanduan sebagai jalan indoktrinasi ideologi radikal bagi kaum muda Lebanon dan simpatisannya yang tersebar di seluruh dunia. Sebagaimana ideologi terorisme yang radikal, Hezbollah memandang kepanduan dan olahraga sebagai sarana yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai jihad-militer.

Sejak didirikan pada 1982, Hezbollah telah berhasil menginvestasikan sumber daya yang cukup signifikan dalam mengembangkan institusi untuk merekrut dan membina kekuatan teroris masa depan. 

Mobilisasi kepanduan dan olahraga merupakan salah visi luas mereka untuk menciptakan "Masyarakat Perlawanan" ala Hezbollah telah menargetkan pemuda dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. Termasuk pula jaringan kepanduan mereka, "Asosiasi Pramuka Imam al-Mahdi".

Program olahraga Hizbullah mengajarkan keterampilan atletik sejak usia muda untuk mengembangkan kemampuan teroris dan skil pejuang masa depan secara efektif. Keterampilan ini meliputi seni bela diri, angkat besi, renang, dan olahraga menembak. Termasuk cabang sepak bola, yang merupakan salah satu olahraga populer diselenggarakan pada tanggal simbolis mereka, yaitu pada "Hari Shahid (Martir)".

Untuk mengimbangi hal tersebut, seorang pendaki gunung dan pegiat petualangan alam bebas asal Lebanon, Avedis Kalpaklian dan para Alpinis Lebanon lainnya getol melakukan tandingan melalui Alpinisme yang berbasis liberalisme. 

Eksistensinya sebagai pemandu gunung, Avedis Kalpaklian sudah cukup matang untuk menguasai jalur-jalur pendakian gunung-gunung di Lebanon. Adapun jalur-jalur tersebut adalah mulai dari kawasan Andqet di utara (dekat Qoubayat) hingga Marjayoun di Selatan. Termasuk pula menguasai trek gunung-gunung di Lebanon lainnya seperti: Sannine (2,621 mdpl), Hermon (2,814 mdpl) dan As Sawda (3,088 mdpl).

Prestasi Alpinisme yang dicapaianya adalah pendakian maraton dengan jarak 452 kilometer yang hanya diselesaikan dalam sembilan hari. Pendakian maraton ini setara dengan dua kali lari maraton setiap hari. Inilah ciri khas Alpinisme Modern, bebas melintas batas kemampuan manusia biasa. 

Avedis Kalpaklian bersama Tim Lebanon lainnya seperti: Peter Mouracade, Lindos Daou, dan Georges Mikhael juga sudah melibas Mt. Everest dan Mt. Vinson dan beberapa puncak-puncak tinggi dunia lainnya. 

Bersama rekan-rekan Alpinis senegaranya, dia juga melakukan kegiatan amal Palang Merah Lebanon dengan melakukan pendakian selama delapan hari secara vertikal di seluruh negeri dalam upaya mengumpulkan dana untuk Beirut yang dilanda ledakan dengan tajuk, “Hike for Beirut”. 

Avedis Kalpakian dan para Alpinis Lebanon lainnya, seperti: Zeina Mouannes K, Khodr Ghadban, dan Khattar Abdulkhalek, berusaha sekuat tenaga untuk melakukan tandingan atas radikalisme Hezbollah dengan Alpinisme.

Misi tersebut membawa amal kemanusian dengan melintasi jalur lima puncak gunung-gunung di Lebanon sepanjang 470 km tanpa henti dalam 8 hari untuk mengumpulkan dana sebesar $ 10.000 USD bagi Palang Merah Lebanon.

Pendakiannya yang panjang dan menantang tersebut adalah inisiatif yang sempurna untuk menunjukkan kepada Hezbollah bahwa Alpinisme yang berbasis Liberal dapat dan mampu melakukan kebajikan-kebajikan daripada melakukan tindak-tindak kekerasan ala terorisme.

Adapun lima gunung yang didaki secara maraton tersebut adalah: Sannine 2628 mdpl, Ain Zhalta 1950 mdpl, Elcheikh 2814 mdpl, Kneisseh 2091 mdpl, dan Qornet el sawda 3088 mdpl.

Bukan hanya mereka berdua saja, satu lagi Alpinis wanita Lebanon juga menunjukkan perlawanannya terhadap budaya keras terorisme Hezbollah. Dia adalah Fatima Deryan. Fatima getol berjuang menancapkan kuku Alpinisme dan rajin melakukan perjuangan kebebasan dan kesetaraan wanita di Lebanon.

Bagi Fatima Deryan, bukan tindakan mencapai puncak yang merupakan tantangan terbesarnya, tetapi mengatasi tekanan untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tradisionalnya. Ini merupakan ciri khas Liberalisme. 

Fatima Deryan merupakan pendaki gunung wanita Arab berprestasi yang sangat langka jumlahnya. 

Menurutnya, pertanyaan pertama yang sering dilayangkan kepadanya adalah: “Bagaimana Anda mendapatkan kebebasan? Bagaimana Anda meyakinkan orang tua Anda untuk membiarkan Anda melakukan semua ini?

Dia menjawab: "Anda (sebagai wanita) harus membuat perubahan sendiri, dan langkah pertama adalah mengembangkan keluarga Anda."

“I’m in awe of my body” – ultra runner wont let breastfeeding force her to choose between trails and motherhood” -- Fatima Deryan.

“Kebanyakan wanita Arab tidak dapat membebaskan diri dari rasa bersalah yang dibebankan pada mereka oleh masyarakat. Tapi ingat Anda sendiri, tidak ada yang memiliki Anda,” katanya.

Sayangnya, beliau mempunyai pengalaman buruk saat mendaki Carstenz Pyramid Indonesia.

“Saya sendirian di kota hutan bernama Timika. Suatu hari, seorang pria, seorang anggota suku, menyerang saya ketika saya mengambil foto - saya memutuskan untuk belajar bela diri setelahnya,” katanya.

Peristiwa buruk itu terjadi pada 2018 saat bersama pendaki wanita asal Emirat Arab. 

Deryan pergi ke Indonesia untuk mencoba Puncak Jaya - atau Carstensz Pyramid - puncak tertinggi Oseania. Namun, ekspedisi tersebut langsung menemui kesulitan, termasuk masalah komunikasi dan keterlambatan helikopter pengangkut.

Duh, selamat berjuang, para Alpinis! Jaya selalu Alpinisme!