Banyak orang tua berpura-pura selama melakukan pengasuhan anak. Tujuannya adalah untuk menjaga perasaan anak. Para orang tua berprinsip, anak-anak harus dijaga perasaannya dari pengalaman tidak enak. Sebisa mungkin anak-anak hanya dipaparkan pada kejadian-kejadian menyenangkan saja. Tujuannya, agar perasaan anak tidak terluka.

Banyak pula orang tua yang berpura-pura kepada anak. Saat anak menunjukkan gambar hasil karyanya, misalnya, orang tuanya segera memujinya. Tujuannya, agar anak senang dan bersemangat untuk menggambar lagi. Meskipun gambar yang dihasilkan tidak bagus, orang tua akan mengatakan bahwa gambar itu bagus.

Perlukah hal-hal seperti itu dilakukan?

Secara tidak sadar, sebenarnya kita sedang mengajarkan kepalsuan dengan cara itu. Ketika kita memuji tidak pada tempatnya, sebenarnya lama-lama anak-anak akan menyadari bahwa pujian kita sebenarnya tidak asli. Mereka tahu bahwa kita berpura-pura. Mereka akan menangkap suatu makna penting, bahwa mereka boleh menampilkan kepalsuan.

Tapi bagaimana merespons anak untuk menunjukkan bahwa kita memberi perhatian pada mereka?

Sebenarnya kita bisa memberi respons tanpa memuji. Kita tunjukkan saja perhatian dengan cara lain. Yang terbaik adalah dengan mengajak anak melakukan eksplorasi terhadap karya mereka.

Ajak anak untuk berdialog soal itu. Misalnya, kalau anak menggambar pemandangan pantai, tanyakan soal-soal imajinatif, seperti siapa saja yang bermain di pantai itu, seberapa besar ombaknya, apakah di situ ada ikan dan kepiting, dan sebagainya. Intinya, curahkan perhatian pada karya anak, tanggapi dengan cara yang mengembangkan pikiran dan imajinasi mereka.

Secara keseluruhan, memuji anak tidak dianjurkan. Boleh memuji, tapi frekuensinya harus diminimalkan. Juga objek yang dipuji. Para ahli pendidikan mengajarkan bahwa pujian hanya boleh diberikan dengan sejumlah syarat.

Pertama, berikan pujian terhadap usaha spesifik anak. Harus ada suatu usaha yang dia lakukan, dan pujilah usaha itu. Dengan begitu anak akan sadar soal kebaikan apa yang dia lakukan.

Penting untuk diperhatikan bahwa fokus pujian adalah usaha. Artinya, jangan memuji anak saat dia berhasil. Pujilah anak saat ia berusaha dengan sungguh-sungguh, meski belum berhasil.

Kedua, pujilah anak atas hal-hal yang bisa diusahakan. Jangan puji anak, misalnya, atas kecantikan dan ketampanan. Hal itu bukan kualitas yang bisa mereka usahakan. Pujian atas hal tersebut akan menumbuhkan pola pikir permanen, bahwa anak memiliki suatu kualitas tanpa perlu diusahakan. Anak harus diajari untuk mendapatkan kualitas yang diusahakan.

Menjaga perasaan anak dianggap penting oleh banyak orang tua. Memuji adalah usaha untuk membuat anak senang.

Selain memuji, orang tua berusaha keras untuk tidak mengecewakan anak. Banyak orang tua yang memenuhi setiap keinginan anak karena tidak ingin mengecewakannya. Tidak sedikit orang tua yang memenuhi setiap keinginan anak dengan alasan ini, sampai berlebihan, sehingga justru berbahaya dan merusak anak.

Perlukah perasaan anak dijaga? Untuk apa?

Manusia hidup dengan berbagai jenis emosi. Tidak ada orang senang sepanjang hidupnya. Tentu saja tidak ada orang yang sedih sepanjang hidupnya. Hidup adalah kombinasi antara senang dan sedih silih berganti.

Anak-anak sedini mungkin harus diajari bahwa hidup itu berwarna-warni. Senang harus dinikmati, sedih pun harus dialami. Yang terpenting bukan soal bagaimana hidup senang terus-menerus. Yang terpenting adalah bagaimana bersikap dan mengendalikan perasaan dalam setiap suasana. Saat senang, perasaan harus dikendalikan agar tidak larut dalam kesenangan yang berlebihan. Demikian pula sebaliknya, tidak boleh larut dalam kesedihan berkepanjangan.

Karena itu, penting untuk memaparkan anak pada semua jenis emosi. Tidak perlu memagari anak, membatasi mereka hanya pada satu jenis emosi saja. Paparkan anak pada keadaan hidup yang autentik, yang berwarna-warni tadi.

Kita harus mengajarkan pada anak untuk tidak banyak berpura-pura. Tidak berpura-pura dalam menerima kenyataan atau menghadapi keadaan eksternal, juga tidak berpura-pura saat menerima kenyataan tentang diri sendiri. Tidak perlu berusaha menjadi pribadi yang bukan diri kita. Tidak perlu menipu diri, berusaha menjadi orang lain.

Kita harus menghargai keadaan anak maupun pilihan-pilihannya. Biarkan anak jujur mengungkapkan perasaan dan keinginan mereka. Jangan intervensi, beri mereka ruang otonomi. Dengan begitu, anak akan terbiasa bersikap apa adanya, tidak berpura-pura.

Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Ajari anak untuk mengenali kelebihan serta kekurangan mereka. Bimbing untuk mengasah kelebihan, mengoptimalkan potensi mereka. Pada saat yang sama, bimbing juga untuk menerima kekurangan diri sendiri. Kekurangan bukanlah aib, sehingga tidak perlu ditutup-tutupi.

Jangan bandingkan anak dengan anak lain, termasuk saudara mereka. Pembandingan akan membuat mereka merasa bahwa keadaan asli mereka salah dan harus ditutupi. Sekali lagi, biarkan anak menjadi diri mereka sendiri.

Tidak kalah penting dalam pendidikan ini adalah, kita bersikap jujur. Jujur soal keadaan dan perasaan kita. Jangan menunjukkan ketidakjujuran.

Menjaga atau memagari anak dengan tujuan menjaga emosi mereka sering dilakukan oleh para orang tua dengan cara berbohong. Itu adalah pendidikan yang buruk kepada anak-anak.