Tiga dekade lalu, dunia mengenal Aung San Suu Kyi sebagai tokoh perdamaian dunia. Perempuan pejuang kemerdekaan Myanmar itu meraih Nobel Perdamaian atas keberhasilan usahanya memperjuangkan pemerintahan demokratis di Myanmar tanpa adanya tindak kekerasan.

Tentu saat itu tidak ada yang mengira bahwa tiga dekade setelahnya, Aung San Suu Kyi dihadapkan pada permasalahan yang membuat orang mempertanyakan jiwa cinta damainya. Kasus genosida terhadap etnis Rohingya di Myanmar mewarnai pemberitaan dunia beberapa tahun ini. Herannya, Aung San Suu Kyi yang dahulu dengan keras kepala memperjuangkan kemanusiaan dan kesejahteraan bagi rakyat Myanmar, kini tidak berlaku sama terhadap salah satu kaum minoritas di negaranya tersebut.

Sebenarnya apakah yang tengah Aung San Suu Kyi lakukan? Apakah tindakannya tersebut dikarenakan kekuatannya dibungkam oleh kekuasaan militer Myanmar yang dulu dilawannya? Ataukah dalam rangka melindungi negaranya dari tuduhan genosida yang dianggapnya tidak berlandaskan bukti dan fakta? Apakah sebenarnya dirinya hanya seorang pejuang nasionalis, bukan pejuang kemanusiaan?

Mengulas Singkat Kasus Rohingya

Tindakan tak manusiawi yang diterima oleh kaum Muslim Rohingya sebenarnya telah ada sejak tahun 80-an. Namun, kasus tersebut mulai memanas dan menjadi sorotan dunia sejak 2012.

Mengutip dari https://act.id/rohingya/, kaum Rohingya tidak diakui sebagai bagian dari 135 etnis resmi di Myanmar sejak 1982 dan tidak diakui kewarganegaraannya. Kaum Muslim di negara bagian Rakhine itu dianggap sebagai pendatang ilegal dari Bangladesh dan merupakan sarang terorisme.

Masih dari sumber yang sama, pihak militer Myanmar telah berkali-kali melakukan aksi tidak manusiawi terhadap kaum Rohinya, di antaranya sebagai berikut:

1. Upaya mengintimidasi kaum Rohingya dan memaksa mereka keluar dari wilayah arakan dengan melakukan operasi King Dragon pada tahun 1978

 3. Pengembalian secara paksa para pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh akibat tidak mampu bertahan dalam situasi konflik yang berkepanjangan pada tahun 1990, serta pemusnahan rumah ibadah (Masjid) dan sekolah pada tahun 2001

4. Munculnya gerakan Rohingya elimination group yang didalangi oleh kelompok ekstremis yang menamakan dirinya 969. Gerakan ini bertujuan untuk menghapus kaum Rohingya dari bumi arakan. Akibat dilakukannya gerakan ini, sekitar 140.000 orang dipaksa tinggal di kamp konsentrasi yang menyebabkan 200 orang tewas

5. Terjadinya eksodus besar-besaran warga Rohingya dengan menggunakan kapal untuk mengungsi ke Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Eksodus ini menyebabkan ribuan orang terkatung-katung di lautan dan banyak di antaranya meninggal dalam perjalanan. UNHCR memperkirakan setidaknya terdapat 150.000 orang melarikan diri dari perbatasan Myanmar-Bangladesh sejak Januari 2012 – 2015

6. Pembantaian terhadap muslim Rohingya yang terjadi pada bulan Oktober 2016 yang menewaskan 150 orang dan 3 desa yang hangus dibakar.

Lawan Menjadi Kawan, Kawan Menjadi Lawan

Gambia, sebuah negara di Afrika, mengajukan kasus genosida Rohingya ke International Court of Justice; didukung oleh Organisation of Islamic Cooperation. Hal ini menjadikan Aung San Suu Kyi harus menghadap peradilan internasional.

Ironis memang, semasa perjuangannya mewujudkan demokrasi dan hak masyarakat Myanmar, Aung San Suu Kyi mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak internasional. Kini, dia melawan tuduhan masyarakat internasional atas kasus genosida di negaranya. Kekuasaan militer Myanmar yang dulu dilawannya kini dibelanya.

Dalam pernyataannya kepada peradilan internasional, Aung San Suu Kyi menganggap bahwa tuduhan genosida yang ditujukan pada negaranya tidaklah benar dan tidak berdasarkan bukti maupun fakta.

Aung San Suu Kyi memang merupakan pemimpin Myanmar secara de facto. Namun, kekuasaan militer lebih besar daripada dirinya. Tidak menutup kemungkinan penguasa militer memaksanya untuk berpihak pada mereka kali ini.

Namun, bila mengingat kembali betapa teguhnya perlawanan Aung San Suu Kyi kepada militer berpuluh tahun lau, betapa dirinya tak takut pada segala ancaman, bahaya, dan hukuman yang ditujukan militer pada dirinya, rasanya tak mungkin Aung San Suu Kyi semudah itu dipaksa.

Menganalisis Sikap Aung San Suu Kyi

Mungkinkah di usia senjanya yang menginjak kepala tujuh ini dia ingin menjalani hidupnya dengan lebih tenang dan tidak memperpanjang masalah dengan golongan militer lagi? Hal itu juga tidak bisa dibenarkan. Dirinya masih memegang tanggung jawab sebagai pemimpin de facto bangsanya, di mana dia harus menghadapi berbagai persoalan politik.

Lalu apa yang melatar belakangi sikap Aung San Suu Kyi terhadap kasus pelanggaran HAM kaum Rohingya ini? Apa yang membuatnya rela kehilangan berbagai penghargaan sebagai pejuang kemanusiaan yang diperolehnya dahulu?

Mari menengok kembali perjuangan Aung San Suu Kyi di masa lalu. Coba kembali pandang dirinya sebagai seorang perempuan berani dan berwawasan luas yang rela meninggalkan keluarganya di Inggris demi negaranya. Seorang tangguh yang rela kehilangan kehidupan berkeluarga yang normal dan bahagia demi kesejahteraan rakyat Burma. Nasionalis konsekuen, itulah yang bisa kita simpulkan dari dirinya, seorang nasionalis yang memperjuangkan kemakmuran bangsanya.

Berbicara mengenai kemakmuran tentu tak terlepas dari terpenuhinya hak-hak masyarakat sebagai manusia. Itulah yang menjadikan perjuangannya dipandang sebagai perjuangan hak kemanusiaan pula. Perlawanannya termotivasi oleh perjuangan Mahatma Gandhi yang mengutamakan perdamaian dan anti-kekerasan. Hal itulah yang menjadikannya tokoh perdamaian pula.

Hal ini membuka pemikiran bahwa bisa saja perjuangannya dahulu sejatinya perjuangan demi bangsanya yang dipandang secara global sebagai perjuangan kemanusiaan. Hal ini wajar, karena memang nasionalisme berkaitan dengan kesejahteraan. Karena kesejahteraan bangsa ialah ketika setiap warganya menjadi manusia sebenarnya dan saling memanusiakan.

Namun, menjadikan Aung San Suu Kyi sebagai ikon perjuangan perdamaian dan kemanusiaan secara global rasanya kurang tepat. Apabila dirinya memang pejuang hak asasi manusia yang sejati, tentu sikapnya terhadap kasus pembantaian kelompok Rohingya kini akan berbeda.

Apabila perjuangannya dulu atas dasar kemanusiaan, bukan hanya jiwa nasionalisme, tentu ia akan membela kaum Rohingya dan melakukan perlawanan pada militer seperti yang dia lakukan dahulu. Apabila perlawanannya dulu memang hanya menggaris-bawahi nasionalisme, tak heran bila kini ia berusaha keras untuk melindungi bangsanya dari tuduhan genosida.

Bagaimanapun juga, penulis yakin, dalam diri Aung San Suu Kyi masih terdapat gejolak kemanusiaan. Sebagaimana yang dituliskan Harper Lee dalam novelnya yang berjudul To Kill A Mockingbird, “Kau tidak akan bisa benar-benar memahami seseorang sebelum kau memandang segala hal dari sudut pandangnya, masuk menembus kulitnya, dan menjalani hidup sebagai dirinya.”

Tiada yang mengetahui apa alasan di balik tindakan yang Aung San Suu Kyi ambil saat ini. Segala yang diterangkan penulis di atas pun sebatas analisis dan pemikiran, tanpa adanya niatan menjelekkan atau membela. 

Selebihnya, kita hanya berharap penyelesaian yang terbaik atas kasus Rohingya ini. Berharap kemanusiaan diutamakan di dunia ini. Berharap Aung San Suu Kyi sebagai tokoh yang mempunyai peranan penting dalam konflik Rohingya ini mampu mengambil tindakan yang membuktikan dirinya memang pejuang perdamaian dan kemanusiaan. Setidaknya itulah harapan yang paling kita semogakan.