Anda merasa terganggu dengan pemikiran atau paradigma yang berbeda dengan cara berpikir Anda? Tulislah argumen yang logis untuk mempersoalkannya, comot kutipan sederet pemikir besar untuk memperkuat.

Jika substansi argumen Anda tetap kurang meyakinkan, coba cara lain: gunakan label-label untuk mengalihkan esensi persoalan. Dengan label, Anda bisa mengalihkan substansi persoalan dengan peristilahan.

Setelah “saintisme” dipakai sebagai label untuk menyerang epistemologi sains, kini “ateisme baru” dikampanyekan untuk mempersoalkan orang berparadigma sains.

Apa sebenarnya yang baru dari ateisme ini? Tidak ada, selain hanya sebuah istilah yang dipakai oleh seorang wartawan majalah “Wired”, dalam artikelnya “The Church of the Non-Believers”(2006) untuk mendeskripsikan sejumlah pemikir ateis abad 21.

Beda dengan “ateis lama” yang kerap harus menyembunyikan pandangannya karena persekusi agama, para ateis baru lantang bersuara. Mereka menyuarakan pendapat mempersoalkan pemikiran takhayul dan dogma agama. Mereka juga, alih-alih bersikap pasif, sangat aktif mendebat, mengritik, dan membongkar irasionalisme dengan argumen rasional. Mereka adalah para pemikir yang mempromosikan sekularisme dan humanisme, memisahkan agama sebagai wilayah privat dengan urusan publik.

Beberapa nama “ateis baru” yang populer adalah Richard Dawkins, Daniel Dennet, Sam Harris, dan Christhoper Hitchen. Mereka dijuluki sebagai “The Four Horsemen” (empat penunggang kuda pembawa kabar kiamat). Mereka populer karena buku yang mereka tulis laku keras: “The God Delusion” (Dawkins); “Breaking The Spell” (Dennet); “The End of Faith” (Sam Harris); “God Is not Great” (Hitchens). Pemikiran mereka yang tersebar di internet memukau publik sepanjang dekade pertama abad 21.

Mereka melanjutkan tradisi berpikir rasional yang dirintis kaum intelektual era pencerahan seperti Spinoza, Rousseau, Voltaire, Thomas Hobbes, Diderot, David Hume, Adam Smith, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin. Bagi kaum puritan, nama mereka sering disebut dengan “rasa ngeri”, sebagaimana ngerinya nama-nama pengusung ateisme lama, seperti Ludwig Feurbach, Karl Marx, Arthur Schopenhauer, Nietzsche. 

Selain Hitchens yang “ganas tak kenal ampun” dalam berdebat melawan kaum agamis, anggota The Four Horsemen yang lain adalah “ateis santun” sebagaimana Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein, atau John Dewey yang juga dikenal atheis.

“Ateisme baru” adalah label peyoratif. Istilah wartawan Wired ini digemari kalangan konservatif dan sempit pikir sebagai alusi “bahaya” kaum tak ber-Tuhan. Ateisme menjadi semacam “scarlet letter”, simbol bagi orang yang dianggap melanggar kesucian, stigma yang menempel pada “para pendosa.” Di Indonesia, menjadi semacam tanda “ET” (ex-tapol) yang dicetak di KTP, berlaku bagi narapidana politik kiri yang pernah ditahan oleh rezim Orde Baru.

Cukup mengherankan cara berpikir puritan, pengenaan label-label masih dipakai saat ini. Oleh orang-orang yang terkesan terpelajar dan terbuka pemikirannya. Kekhawatiran pada ateisme bisa dipahami ketika peradaban manusia masih di era mitologis atau era abad kegelapan (dark ages), ketika takhayul masih menguasai manusia. Namun di era artificial intelligence saat ini, sungguh tidak intelijen mempersoalkan ateisme.

Pandangan “ateistik” mulai muncul ketika sejumlah filsuf Yunani klasik berupaya menjelaskan fenomena alam dengan berfilsafat. Mereka memakai metode berpikir rasional, ketimbang menelan mentah kisah-kisah mitologis. 

Misalnya adanya halilintar atau perubahan cuaca ekstrem, yang dianggap pertanda kemarahan Dewa Zeus, mereka jelaskan sebagai “proses pemisahan angin dengan awan”. Atau gempa bumi dideskripsikan sebagai “pergerakan tanah yang memanas dan mendingin”, bukan karena ulah Dewa Hades yang sedang galau. Penjelasan filsafat tentang fenomena alam, meskipun sederhana, jelas lebih logis pada masanya; dan terbukti benar secara saintifik.

Xenophanes adalah filsuf pertama yang tercatat menyatakan ketidakpercayaannya pada dewa-dewa (600 tahun sebelum Masehi). Ungkapannya yang terkenal “kalau saja sapi atau kuda punya tangan, maka dua hewan itu akan menggambar wujud dewa-dewa seperti wujud mereka.” Ia mempertanyakan mitos dewa-dewa yang tak lain hanya sekadar gambaran “manusia dengan kekuatan super”. 

Democritus berhipotesis dunia tersusun dari atom-atom yang saling berinteraksi, menisbikan adanya dewa-dewa supranatural. Intuisi filosofisnya kemudian terbukti benar, dan menginisiasi tradisi berpikir rasional.

Namun pemikiran rasional kemudian ditakuti dan tidak disukai karena merongrong keyakinan lama yang sudah mapan. Ritual mempersekusi ateisme kerap terjadi bahkan di era mitologi, ketika agama-agama besar belum lahir. Dan selalu, yang menjadi korban adalah orang-orang pintar, pemikir besar, yang berani bersuara mempertanyakan takhayul.

Pada era Yunani klasik, warga yang dianggap ateis (tidak memercayai dewa-dewa) bisa dihukum. Contoh populer adalah yang menimpa Socrates. Dengan metode Socratic, ia mengajak murid-muridnya berpikir lebih mendalam untuk mempertanyakan segala hal, termasuk kisah dewa-dewa. Kaum elite puritan di Athena terganggu dengan metodenya dan mengganggap ia telah meracuni generasi muda.

Socrates diadili dan dihukum mati dengan meminum racun. Sebuah ironi, mengingat metode mengajar Socrates kemudian melahirkan filsuf-filsuf besar seperti Plato dan Aristoteles.

Socrates adalah filsuf kedua yang dihukum karena ateisme, korban lainnya adalah Anaxagoras. Ia dijatuhi hukuman dibuang dari Athena karena melanggar “Dekrit Diopeitheis”. Aturan hukum yang melarang ateisme dan masuknya pengaruh agama asing. Satu produk puritanisme hukum yang dikeluarkan elite politik Athena akibat kegalauan setelah kalah melawan Sparta dalam perang Peloponnesian.

Belajar dari sejarah agama (Samawi) menunjukkan kelaziman agama yang cenderung saling “meng-ateis-kan” atau memurtadkan. Agama yang hegemonik (mainstream) mempersekusi agama lain yang baru muncul. Munculnya Kristen dipandang sebagai gerakan “murtad” terhadap agama resmi kekaisaran Romawi dan Judaisme. 

Kaum Kristiani awal dipersekusi oleh tentara Romawi, atas hasutan penganut Judaisme. Yesus Kristus, Sang Putra Tuhan, disalib karena dianggap menyebarkan ajaran sesat, melawan agama yang resmi. Begitu juga ketika Islam lahir, dianggap sebagai pengingkaran terhadap Kristen yang mainstream. Sampai saat ini, relasi tiga agama yang bersumber dari pewahyuan (Tuhan) yang sama ini masih saling menegasi secara teologis.

Di luar agama Samawi yang monoteistik, terdapat sejumlah agama yang tidak ber-Tuhan, alias “agama ateis”. Buddhisme, Jainisme, Taoisme, dan sebagian mazhab Hinduisme tidak mengenal konsep Tuhan sebagai pencipta atau penguasa alam semesta. Ajaran beberapa agama itu lebih bernuansa filosofis, ketimbang dogmatis.

Uraian singkat sejarah ateisme (vis a vis mitologi dan agama) di atas bisa menjelaskan, ateisme jelas bukan persoalan. Irasionalitas dan dogmatisme agamalah yang menjadi persoalan. Kaum puritan terganggu dengan ateisme karena paradigma keyakinannya dipertanyakan. Orang yang gampang terganggu keyakinannya menunjukkan indikasi ragu pada keyakinannya. Itu soalnya.

Ateisme, seperti dikemukakan Sam Harris, bukanlah pemikiran filsafat atau paradigma cara memandang dunia (“weltanschauung”). Melainkan sekadar menolak adanya konsep Tuhan. Sebagaimana orang boleh tidak percaya ramalan bintang (astrologi) sebagai non-astrologer; dan orang tidak menyukai permainan golf sebagai non-golfer. Orang yang tidak percaya Tuhan adalah sekadar non-theists. Sebagaimana tidak ada istilah “aastrologi” atau “agolfer”, ateis dan ateisme sebenarnya istilah yang tak perlu ada.

Di komunitas sains, tidak ada istilah “a-sains” bagi orang yang tidak mengamini sains. Juga tidak perlu ada istilah “a-filosofis” bagi yang tidak meyakini filsafat. Mengapa pula perlu ada “a-theis” untuk mereka yang tidak meyakini Tuhan?

Tentu, karena Tuhan versi agama (juga mitologi) dianggap sebagai kebenaran mutlak, pasti ada, dan tak boleh dipertanyakan. Tuhan bagi agama adalah “kebenaran sakral yang harus ditutup rapat dan dipertahankan misterinya, agar tak terungkap.” 

Bahkan ketika ingenuitas otak manusia kini telah mampu memahami dan menjelaskan dunia dengan lebih baik. Tuhan masih saja diperlakukan sebagai hantu misterius, yang mendiami wilayah angker imajinasi manusia.

Mempersoalkan ateis atau ateisme-baru seperti memancing di akuarium yang tidak ada ikannya. Tidak terlalu jelas juntrungannya. Jika Tuhan yang gemar menghukum manusia benar ada, biarlah Tuhan yang mengurus para ateis. 

Sesama manusia tak perlu menilai atau melabel kepercayaan atau ketidakpercayaan yang dianut. Pemikir genuine lazimnya mampu memahami secara esensial. Kaum ateis umumnya adalah sosok humanis, mereka sekadar ingin mengoptimalkan rasio ketimbang emosi, memilih berpikir realis ketimbang romantis.

Di negara sekuler-demokrasi, ateisme adalah non-isu, urusan masing-masing. Untuk negara pseudo-sekuler-hiper-agamis seperti Indonesia, apa pun jadi isu. Asal tahu saja, Pancasila secara substansial tidak mempersoalkan ateisme. Pengakuan Buddhisme, agama yang tak ber-Tuhan, sebagai salah satu dari enam agama resmi yang boleh dianut adalah bukti. Pancasila juga membolehkan warga menganut kepercayaan tradisional non-agama.

Jadi, ada apa rupanya dengan kegetolan—atau kegenitan—sejumlah intelektual (puritan?) mempersoalkan sains dengan mewacanakan “saintisme” atau “ateisme-baru”? Menginginkan Indonesia terus berkubang dalam konservatisme agamis? Menginjeksikan dosis agama dan irasionalitas lebih besar agar menjadi masyarakat yang lebih tawakal?

Yang paling menjengkelkan, atau menyedihkan, aspirasi banal mempersoalkan sains justru muncul dari mereka yang dikenal terpelajar. Mereka yang diharapkan justru memotivasi perlunya penyebarluasan perangai saintifik.

Baiklah sekali lagi perlu ditekankan, sains bisa salah, banyak contoh kesalahan sains yang kemudian direvisi dan diperbaiki. Sains adalah metode pengetahuan yang maju justru karena terbuka untuk disalahkan dan selalu diperbarui. Tidak ada yang final dan mutlak dalam sains. Itu yang membedakan sains dengan mitos atau agama.

Persoalan terbesar manusia adalah dogmatisme yang ingin menghegemoni dan mempersekusi pemikiran. Kita tahu siapa pelakunya. Cukup menggelikan tuduhan itu kini diputar-balikkan pada sains. 

Sejak kapan saintis menjadi dogmatis atau pengikutnya menjadi bigot? Adakah organisasi semacam Front Pembela Sains (FPS) atau Himpunan Teknologis Indonesia (HTI) yang berteriak-teriak di jalan dan di mimbar-mimbar, melakukan perusakan, atas nama “syiar-sains”?

Debat sains menjadi banal jika wacana serangan tertuju pada label-label tak substansial, seperti saintisme atau ateisme-baru. Diskursus label mungkin bisa menarik kalau ateisme-baru dihadapkan dengan dogmatisme-baru, sehingga basis platformnya sama-sama baru. 

Namun, itu soalnya, dalam urusan dogma, tidak pernah ada yang baru. Dogma selalu berkutat pada yang lama.