Siang itu cuaca sedang mendung. Kepulan awan hitam menutupi langit yang tadinya tampak cerah. Beberapa kali, hantaman kilat putih melintasi jendela kaca di indekos milikku.

Segala macam pepatah tentang mendung kuabaikan. Apalagi soal “mendung belum tentu hujan”. Aku menghiraukan pepatah tua itu. Dengan kondisi sudah seperti ini, mustahil tidak turun hujan.

Aku menutup jendela, lalu keluar kamar untuk memungut pakaianku yang terlanjur berserakan di atas tanah akibat hantaman angin kencang.

Di pintu semesta, burung-burung gereja tampak asyik berkeliaran. Terbang ke sana kemari, saling berinteraksi, ada yang reuni, atau sekedar memadu kasih. Semuanya kunikmati dari pijakan kaki yang menyentuh tanah. Tanah yang sebentar lagi akan meregenerasi zatnya. Dari tanah kering dan gersang menjadi molekul-molekul padat yang ketika tertekan berubah bentuk dengan sendirinya, sesuai objek apa yang menimpali.

Bulir-bulir hujan berjatuhan dari atap langit. Perlahan, aku berjalan ke arah kamar. Kamar dengan pintu berlatar cokelat, ditimpali  poster seorang lelaki yang hampir menutupi sebagian sudut pintu. Pacarku sangat mengagumi pria digambar itu.

Aku memasangnya agar ia selalu datang menengokku dan melihat gambar itu. Gambar itu biasa-biasa saja. Tidak tampan. Orangnya juga tampak kusut. Walau, dia cukup terlihat berwibawa dengan baret yang dikenakannya. Kata pacarku, pria itu sosok terkenal di Dunia yang lahir dan besar di Kuba. Aku tidak mengenalnya, apalagi sampai repot-repot menulisnya di kolom pencarian Google. Tidak menarik, menurutku.

Karena mau hujan, aku menyimpan poster itu di dalam kamar dan menaruhnya di belakang lemari. Saat sedang melipat kain, tiba-tiba suara kencang datang dari balik pintu. Ketukan itu makin keras. 

Aku membuka pintu. Seorang pria berambut klimis dan kumis tipis masuk begitu saja. Aku tidak terkejut. Ia pacarku. Pria paling di terkenal di kampus dan dikagumi banyak wanita cantik, tapi memilih berlabuh bersamaku. Orang-orang menyebutnya, Rifan Adiputra.

“Kenapa Che Guevara tidak ada di depan kamar?” tanya pacarku menghadap kaca.

“Che Guevara, siapa?” jawabku terkejut mendengar orang asing itu.

“Itu... Poster yang kamu tempel dia depan pintu.”

“Oh, yang itu. Sana, aku taruh di belakang lemari. Takut basah, soalnya.”

“Oh, kukira kau buang,” pungkasnya.

Setelah selesai melipat kain, aku merebahkan badan di atas kasur untuk tidur siang. Namun, Rifan, terus-terusan menggodaku. Ia kerap menarik-narik selimut yang kukenakan.

“Ada apa lagi, sayang,” ucapku dengan suara datar

“Aku pinjam bajumu. Bajuku basah, soalnya,” sahut pacarku sedikit merayu.

Aku beranjak dari tempat tidur dan menghampiri lemari. Perasaanku sangat senang bercampur jengkel. Senang karena dia datang ke indekos, dan jengkel karena dia terus menggangguku untuk tidur siang. Aku mengambil baju tidur yang sudah lama tidak kukenakan. Baju dengan warna merah muda dengan motif hello kity yang lucu kulemparkan ke arahnya.

Ia kaget bukan kepalang. Tanpa pertimbangan, ia menolak mengenakannya. Aku membujuknya. Memeluk badannya yang dingin karena hujan, lalu mencium pipi kanannya. Akhirnya, dengan penuh kerelaan, ia mau mengenakan baju itu.

Saat keluar dari kamar mandi, aku tertawa lepas melihat Rifan mengenakan baju dengan motif hello kity. Ia menghampiriku. Baring di sebelah kanan, lalu memelukku dengan erat. Ia seperti tidak mau melepaskan. Tangan dan kakinya mengunci pergerakanku. 

Badanku bergeming. Susah untuk digerakkan. Ia tertidur dengan kepala tersandar di dada sebelah kanan. Aku merangkul tangan kanannya yang mulai melepas pelukan, lalu ikut terlelap bersamanya. Dalam dinginnya hujan, dalam hangatnya pelukan. Nyenyak sekali.

***

Sejak pacaran denganku, sifat Rifan banyak berubah. Hal itu bisa dilihat dari gerak-geriknya, juga informasi tambahan dari Ingki, sahabat dekatnya Rifan. Kata Ingki, setelah seminggu Rifan pacaran denganku, Rifan menjadi jarang berdekatan dengan perempuan selain aku, juga teman-teman kelasnya.

Padahal, sebelum pacaran denganku, lanjut Ingki, Rifan sangat sering gonta-ganti pasangan. Bahkan, Rifan tak segan-segan menidurinya. Memakai perempuan itu hanya satu malam, lalu pergi meninggalkan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bajingan, memang...

“Dia banyak berubah, Del,” ucap Ingki meyakinkanku.

“Aku, tahu hal itu,” jawabku tersenyum.

Saat Ingki hendak menimpali, aku memotong niatnya.

“Aku mencintainya. Tak perlu khawatir.”

Ingki terdiam mendengar ucapku. Ia terlihat kaget dicampur cemas. Mungkin, ia mencemaskan sahabatnya yang sudah dianggap seperti saudara. Sangat mengharukan.

Setelah berbincang-bincang di kantin belakang kampus, aku menelefon Rifan. Aku memintanya untuk menjemputku. Rifan mengiyakan, tanpa niat untuk menolak.

“Rifan sudah mau kemari. Aku pulang dulu. Terima kasih untuk infonya,” ucapku sambil berdiri.

“Iya, sampaikan salamku untuknya,” pungkasnya.

Aku membalasnya dengan senyum, lalu berjalan keluar kantin menuju pinggir jalan. Di bawah pohon Ketapang, aku menyembunyikan diri dari terikanya panas. Belum lama menunggu, Rifan dengan sepeda motornya datang dari arah selatan. Kami berboncengan menuju indekos.

Sepeda motornya melaju dengan kencang. Aku memeluknya dari belakang, menyandarkan pipiku di punggungnya.

Hanya perlu beberapa menit, kami sudah sampai di depan pintu kamar. Pria berambut sedikit ikal memakai baret menyambut kami dengan senyum. Aku dan Rifan menuju kamar. Karena langit mendadak mendung, aku menyuruh Rifan untuk menginap. Rifan mengangguk mengiyakan. 

Setelah meletakkan barang bawaan, menggantung pakaian, kami rebahan di atas kasur. Lagi-lagi, Rifan memelukku dengan erat, sampai dia tertidur pulas.

Sementara Rifan tertidur, aku masih saja terjaga. Mataku memandang langit-langit atap dengan tatapan kosong. Kepalaku masih saja ke pikiran omongan Ingki, sewaktu di kampus. Aku takut nanti Rifan akan meninggalkanku. Perempuan sepertiku tidak ada apa-apanya dengan mantan-mantan Rifan. Bisa saja, Rifan meninggalkanku setelah dia bosan.

Kepalaku masih saja bekerja. Puluhan, bahkan ratusan pertanyaan bermunculan begitu saja. Masih dengan topik yang sama. Apa Rifan tidak akan meninggalkanku?

Malam semakin larut. Tak ada satu suara yang terdengar, kecuali detak jam dinding yang terus-terusan berputar sampai menunjuk angka sebelas. Aku baru ingat, tepat jam dua belas nanti, hubunganku dan Rifan genap satu tahun. 

Di hubungan selama ini, ia belum pernah sama sekali menyentuh singgasanaku. Jangankan menyentuh. Meminta izin pun tak pernah. Ia menghindari zona merah itu.

Karena takut kalau nantinya Rifan mencampakkanku, aku berniat mengajaknya untuk meniduriku. Semua telah siapkan. Gelas ukuran besar berisi air, roti selai, baju ganti, handuk bersih, ke semuanya telah siap.

Tepat jam dua belas lewat satu menit malam hari, aku membangunkan Rifan dari lelapnya. Ia kaget dengan suara bisik-bisik di telinga kirinya. Ia menegakkan badan dan memperjelas pandangan. Cukup lama ia terdiam. Aku menyuruhnya untuk mencuci muka di kamar mandi.

Selama Rifan di kamar mandi, aku melepas semua baju. Tak ada sehelai benang pun menutupi badanku. Aku mengambil selimut sebagai penutup badan. Sementara Rifan, aku menyuruhnya untuk memakan roti selai dan susu putih hangat yang kusiapkan sebelumnya. Ia masih belum bertanya apa-apa sama sekali. Ia hanya menuruti setiap kata dari mulutku.

Setelah selesai, dia kembali ke pelukanku. Badanku masih tertutup selimut. Ia belum menyadarinya sama sekali. Ia hanya merasa gerah akibat minum susu hangat tadi. Ia melepas pelukan. Karena kepanasan, aku menyuruhnya melepas kaus dan celana panjangnya. Ia membantah. Dingin, katanya. Aku berusaha meyakinkan. Ia akhirnya menuruti.

Posisi tidurnya berubah. Kedua tangannya dijepit di sela-sela tempurung kaki yang ikutan membungkuk. Posisi tidurnya mirip pistol. Ia membelakangiku. Aku memeluknya, membungkusnya dengan selimut. Bibirku mendadak kelu saat Rifan berbalik ke arahku dan menatapku tajam. 

Wajahnya makin mendekat. Lumatan bibir Rifan menempel di bibirku. Mataku melotot. Rifan makin tidak terkendali. Ia menari di singgasanaku. Aku tak berkutik. Kemauanku terpenuhi.

Sebelum kesadaranku terjun ke sumur paling dalam, aku melihat Rifan terbaring lemah tepat di singgasanaku. Tampak tak berdaya. Ia kehabisan tenaga. Pandanganku mulai gelap. Aku terjun ke sumur terdalam. Dalam sekali. Tanpa batas pijak. Tak tergapai.

***

Liburan semester tinggal beberapa hari lagi. Segala urusan perkuliahan telah terpenuhi. Tak ada tugas yang menunggak, tak ada dosen yang mesti disembah-sembah. Aku merapikan pakaian. Memasukkannya satu demi satu ke dalam tas besar.

“Apalagi setelah ini?” tanyaku di telinga sendiri.

“Rifan... Iya, dia harus menemuiku. Dua hari lagi aku pulang kampung,” diriku yang lain menimpali.

Aku mengambil gawai di atas kasur. Mencari menu telepon, dan langsung menghubungi Rifan.

“Kamu di mana, sayang,” tanyaku memulai obrolan.

“Aku di lagi nongkrong dengan teman-teman di kafe dekat taman kota.” Jawabnya.

“Selepas dari situ, kamu harus kemari. Menginap di sini tepatnya”

“Loh, kok? Memang, kenapa lagi? Tanyanya, sedikit kaget

“Dua hari lagi, aku mau pulang kampung. Aku ingin memelukmu sebelum pulang”

“Ya sudah. Sedikit lagi aku langsung ke sana. Tunggulah...” ucap Rifan mematikan telefon.

Aku menunggu Rifan di depan kamar. Bersama nyamuk-nyamuk. Bersama nyanyian kodok dan jangkrik. Bersama letupan rindu yang terlanjur menggumpal. Bersama malam yang disinari bintang-bintang dan rembulan. Bersama setumpuk harapan. Bersama penantian. Penantian. Penantian. Lagi dan lagi soal penantian.

Aku mulai kedinginan. Udara malam memang tidak cocok dengan kulitku. Rifan membuatku lama menunggu. Aku tak suka menunggu. Dadaku sesak. Nyaris berhenti berdegup. Rifan menghilangkan sesak dadaku. Dari kejauhan, ia melambaikan tangan. Aku berdiri. Menyambutnya dengan senyum terbaikku.

“Kenapa di depan pintu?” tanya Rifan sembari melepas helm dari kepala.

Aku menggeleng. Memeluknya. Mengajaknya masuk. Masih memeluknya. Kami berbaring. Saling hadap-hadapan. Setelah beberapa kali mengecup bibirnya, aku memulai obrolan.

“Dua hari lagi aku akan pulang kampung. Aku nanti bakalan rindu. Aku mau kamu jangan nakal di sini. Jangan selingkuh. Awas kalau nanti ketahuan.” Aku mengoceh terhadap Rifan tanpa henti. Menyuruhnya untuk tidak melakukan hal yang macam-macam. Ia hanya mengangguk. Aku yakin dia mendengarkan. Sangat mendengarkan. Bukankah dia mencintaiku?

Rifan langsung memelukku. Mulutnya mendekat di telinga kiri lalu membisik satu hal.

“Aku mencintaimu. Jangan meninggalkanku,” ucapnya di telingaku.

Aku hanya terdiam. Menikmati hangatnya pelukan Rifan. Pelukan itu menghentikan kerja Semesta. Seluruh partikel-partikel langit yang bergerak mendadak bergeming. Pikirku begitu. Tapi sudahlah. Aku menghiraukannya. Aku terlelap dipeluk Rifan.

“Aku juga mencintaimu,” gumamku dalam hati sesaat sebelum terlelap.

***

Mobil  jemputan tiba di depan kamar. Om Andi mengangkat koperku. Aku duduk di depan, di samping kursi sopir. Aku meraih gawai di dalam tas. Menghubungi Rifan untuk pamit. Teleponku tak diangkat. Nomornya tidak aktif. Aku sudah mencobanya beberapa kali sampai rasa lelah menghentikanku. 

Mobil mulai berjalan. Rifan belum juga menghubungiku. Aku mencoba mengabaikan. Sakit rasanya kalau terus dipikirkan. Mood ku tidak beraturan. Aku sementara datang bulan. Jangan membuatku terus memikirkan.

Aku kembali meraih gawai. Mengetik beberapa kalimat untuknya. Meski sedikit kesal, aku tetap mengetik. Beberapa kata terlihat typo. Aku tetap mengetik, lalu mengirimkan pesan itu.

“Aku sudah di perjalanan menuju kampung halaman. Nomormu tidak aktif saat kuhubungi. Ingat pesanku malam itu. Jangan nakal! Aku akan merindukanmu. Sampai jumpa di semester depan. Stay that way and don't look away. I love you.

***

Sudah dua mingguan aku berjarak dengan Rifan. Setiap hari, ia menyempatkan waktu untuk mengirim kabar. Ia mencintaiku, katanya. Sangat mencintai. Aku percaya itu. Ia telah membuktikannya. Ia pernah mengajakku di rumahnya dan memperkenalkanku dengan ayah-ibunya. Mereka semua ramah. Sangat menyayangiku. 

Lebih-lebih ibunya. Karena pintar memasak, aku menjadi idaman, kata ibunya. Bahkan, setelah libur nanti, rencananya ibu dan ayah Rifan menyuruhku tinggal bersama mereka. Kurang ramah apalagi, coba.

Di kampung, aku memperbaiki hubungan dengan ayah. Entah kenapa, aku merasa bahwa ayah menjaga jarak dariku. Aku tidak tahu persis alasan kenapa ayah menjauh. Hanya saja, kata ibu, ayah mulai menjauhiku saat dekat dengan anak kampung sebelah. Bina, namanya.

Bina adalah kakak kelasku sewaktu SMA. Ia cinta pertamaku. Aku sempat mengaguminya dengan sangat. Sampai sekarang barangkali. Apa mungkin? Aku tak tahu persis. Hatiku terasa aneh jika memikirkan dirinya. Lagian, aku sudah punya Rifan. Dia lebih bertanggung jawab dari pada bina. Buktinya, Rifan sangat menyayangiku.

Aku begitu pusing memikirkan kedua nama itu. Aku keluar menuju alun-alun. Kebetulan, tempat itu tidak jauh dari rumah. Hanya beberapa meter. Seratus meter kalau tidak salah. Dekat. Tidak jauh-jauh amat. Hitung-hitung sambil olahraga.

Sesampainya di taman, aku sontak terkejut. Seorang pria dengan raut tak asing memandangiku dengan tajam. Aku juga memandanginya. Memperjelas pandangan, mengumpulkan ingatan, dan “Bammmm....” Itu, Bina. Mantanku sewaktu SMA. Cinta pertamaku. Aku gemetar. Wajahku menjadi pucat. 

Aku mencoba menghiraukan. Aku menepi dan mengambil tempat yang cukup jauh dari mereka. Aku duduk membelakangi Bina dan kerumunannya. Jantungku berdegup kencang. Kencang sekali. Seperti balapan kuda saat musim lebaran haji.

Aku mencoba menelefon Rifan. Namun, lagi-lagi, nomornya tidak aktif. Aku mulai panik. Bingung mau buat apa. Di belakang, terdengar ada sentakan kaki yang perlahan mendekat. Aku memalingkan wajah. Wajahku dan wajah Bina berpapasan. Kami saling senyum. Ia tidak berubah. Masih sama seperti dulu. Apa dia masih mencintaiku?

“Hai. Kamu Adel, kan?” Bina menyapaku dengan sedikit kaku.

“Iya. Kak Bina, kan?” jawabku menimpali.

“Iya...” ucapnya singkat, lalu mengambil tempat di sebelahku.

Jantungku semakin sesak. Tidak ada air yang boleh kuteguk. Aku mendadak gemetar. Telapak tanganku mulai membentuk bulir-bulir keringat. Aku tidak bisa membohongi perasaanku. 

Aku sadar kalau masih menyimpan perasaan terhadap Bina. Lalu bagaimana dengan Rifan? Aku juga mencintainya. Mencintai keduanya. Aku bingung. Tempurung kepalaku seperti dilucuti jarum yang jumlahnya ribuan. Semakin sakit.

Pada akhirnya aku harus memilih. Setiap konsekuensi harus kuambil. Aku tidak mau berbohong terhadap diri sendiri.

“Atas nama perasaan, aku memilih Bina, menjadi cintaku. Dan untukmu Rifan, aku tetap mencintaimu. Aku mencintaimu dengan segenap-genap hati. Dengan segala sesak yang harus kuterima, maafkan aku. Aku telah mencintai pria lain sebelum mencintaimu. Aku harus jujur terhadap semua. Maaf, karena cinta menjadi semakin kejam. Sekali lagi Maaf, Maafkan aku...” gumam Adel membatin.