Suatu ketika saya mendapat telepon dari seorang pengusaha yang minta pabriknya diasuransikan secepatnya. Tentu saja saya heran, karena biasanya orang ogah-ogahan mengasuransikan propertynya. Jarang orang terburu-buru meminta polis asuransi. Bahkan beberapa kasus memerlukan negosiasi yang cukup alot untuk mencapai kesepakatan bersama mengenai kondisi jaminan dan tarif preminya.

Usut punya usut, ternyata si pengusaha memiliki 3 lokasi pabrik plastik dan salah satu pabriknya baru saja terbakar dini hari sebelumnya. Pantas saja pengusaha itu kelimpungan, ternyata pabrik yang terbakar itu belum tercover asuransi. Supaya tidak kecolongan dua kali, dia bertindak cepat meminta 2 pabrik lainnya diasuransikan. 

Asuransi dibedakan menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama adalah asuransi umum dengan jangkauan produk mulai dari yang paling populer seperti asuransi kebakaran dan asuransi kendaraan bermotor sampai ke produk yang mungkin hanya dibutuhkan kalangan tertentu saja seperti asuransi pengangkutan, pemasangan mesin, pekerjaan konstruksi, tanggung gugat, hingga asuransi satelit. 

Sedangkan kelompok kedua adalah asuransi jiwa dengan beberapa variasi produk seperti term life, dan whole life atau endowment. Ada produk yang hanya menjamin risiko kematian saja serta ada produk dengan penambahan investasi. Di antara kedua kelompok tersebut, asuransi kesehatan berada pada grey area sehingga bisa masuk kelompok pertama maupun kelompok kedua. 

Pada kelompok pertama, dengan menggunakan prinsip indemnity sebagai dasar penggantian kerugian, umumnya hanya membayarkan ganti rugi untuk biaya pengobatan saja sedangkan pada kelompok kedua pembayaran ganti rugi termasuk risiko meninggal akibat sakit dengan dasar penggantian kerugian sebesar uang pertanggungan.

Di luar kelompok satu dan dua tersebut masih ada lagi asuransi sosial seperti BPJS dan Jasaraharja yang diselenggarakan oleh pemerintah. 

Metode pemasaran asuransi khususnya asuransi jiwa umumnya berbasis direct selling sehingga perusahaan asuransi langsung berhadapan dengan konsumen akhir yang menjadi pemakai jasanya. Tentunya dengan mengerahkan hingga ribuan agen yang tersebar hingga ke seluruh pelosok nusantara. 

Mungkin rata-rata dari kita pernah mendapatkan kunjungan dari agen asuransi, karena agen asuransi biasanya menyasar orang dari lingkaran pergaulan terdekat terlebih dahulu untuk menawarkan produk asuransi, terutama asuransi jiwa.

Karena agen bukan orang luar yang sama sekali asing, maka acara penjelasan produk asuransi pun kemudian dilakukan sambil lalu saja, biasanya diawali dengan ngopi bareng dan diakhiri dengan tanda tangan persetujuan membeli produk asuransi. Entah karena terbawa suasana yang hangat atau terlanjur percaya terhadap teman akrab, muncullah rasa segan apabila terlalu formal meminta penjelasan produk asuransi secara detail.

Padahal dengan minimnya informasi, keputusan membeli produk asuransi akhirnya terjadi bukan lagi karena desakan kebutuhan akan proteksi, tetapi lebih kepada gengsi. Besarnya dorongan untuk menunjukkan pada teman yang menjadi agen asuransi bahwa kita mampu membayar premi jauh melebihi keinginan kita untuk melindungi diri dan keluarga dari risiko yang mungkin terjadi.

Sebagai tambahan informasi, asuransi jiwa adalah kontrak jangka panjang yang memaksa orang untuk setia hingga akhir karena manfaat produk asuransi jiwa hanya dapat dinikmati setelah periode polis berakhir, itu pun hanya untuk produk tertentu yang memang menyisihkan sebagian premi untuk investasi. Sedangkan manfaat utama asuransi jiwa tentu tidak akan pernah dinikmati sendiri karena hanya dapat diajukan klaimnya oleh ahli waris.

Dengan panjangnya periode pertanggungan asuransi jiwa yang terkadang tidak sejalan dengan ritme kehidupan manusia, tak jarang di tengah perjalanan hidup lingkaran pergaulan kita pun menjadi spiral untuk kemudian mengorbit dalam lingkaran yang berbeda.

Masalah mulai timbul apabila agen asuransi yang semula berada di dalam lingkaran pergaulan kita menjadi semakin jarang kita jumpai bahkan kemudian menjadi  asing sama sekali.

Saat itulah terjadi masa genting dimana kita bisa tiba-tiba sadar bahwa produk asuransi yang terlanjur dibeli bukannya kebutuhan mendesak. Selama ini kita toh sehat-sehat saja. Kita cenderung lupa bahwa tidak ada di dunia ini yang bisa memberikan prediksi akurat kapan risiko yang dijamin asuransi akan terjadi

Maraknya pemberitaan yang kurang seimbang di media massa tentang gagal bayar yang dialami beberapa perusahaan asuransi jiwa semakin mengesampingkan kebutuhan akan proteksi. Maka beramai-ramailah orang mencairkan polisnya dan mengambil nilai tunai hasil investasi atas sebagian premi diikuti dengan ketidakpuasan dengan perhitungan nilai tunai yang dicairkan dan menuding perusahaan asuransi melakukan penipuan. Padahal yang terjadi adalah ketidaklengkapan penyerapan informasi.

Sebagai perusahaan yang diatur dan diawasi oleh OJK, salah satu syarat suatu produk asuransi mendapat ijin untuk dipasarkan adalah transparansi. Transparan bukan hanya mengenai isi perjanjian polis, luas jaminan dan pengecualiannya, tetapi juga kemana harus menyelesaian masalah apabila terjadi sengketa hingga berapa premi dan komisi pihak perantara.

Apabila menyangkut produk asuransi yang sudah digabungkan dengan investasi, maka transparansi juga meliputi diberikannya ilustrasi mengenai pengembangan dana investasi, tentu dengan beberapa asumsi seperti tingkat suku bunga dan periode investasi yang bisa saja mengalami perubahan di tengah perjalanan polis yang mengakibatkan imbal hasil yang didapatkan tidak sesuai ilustrasi.

Yang sering terlupa adalah bahwa elemen premi yang dibayarkan selain saving premium sebagai bagian premi yang menjadi modal investasi, masih ada elemen risk premium yang merupakan bagian premi yang dibayarkan sebagai harga risiko atas jaminan yang diberikan oleh perusahaan asuransi.

Umumnya premi risiko menjadi hak perusahaan asuransi sebagai dasar pembentukan cadangan klaim. Apabila dianalogikan sebagai kegiatan arisan, maka premi risiko adalah uang arisannya. Pihak yang mendapat arisan adalah orang yang mengajukan klaim, misalnya untuk risiko meninggal dunia, dimana pembayaran klaim yang diterimanya adalah uang arisan dari semua peserta asuransi.

Konsekuensi premi risiko sebagai harga yang harus dibayar untuk mendapatkan jaminan, tentu hangus apabila tidak terjadi klaim. Perusahan asuransi sudah memiliki mekanisme khusus untuk membentuk cadangan klaim atas dana yang terkumpul ini sehingga tidak mungkin dikembalikan lagi kepada nasabah apabila tidak terjadi klaim.

Banyak awam yang tidak memahami siklus arisan tersebut, kemudian meributkan dana tunai yang diterima sebagai pembatalan polis tidak sebesar akumulasi premi yang sudah dibayarkanya kepada perusahaan asuransi bertahun-tahun sebelumnya. Media sosial pun kemudian digunakan sebagai penyaluran atas kekecewaan tersebut dan dimulailah acara playing victim yang semakin menyudutkan perusahaan asuransi.

Semestinya hal demikian tak perlu terjadi apabila sejak awal produk asuransi memang dibeli sebagai proteksi tanpa tercemari oleh gengsi.