Seperti di film-film, drakula indentik dengan setan penghisap darah. Setan yang tidak pernah puas mengisap darah. 

Dalam kehidupan modern, drakula bermetamorfosis menjadi perusahaan perkebunan sawit, layaknya Astra Agro Lestari. Perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan sawit ini memiliki sejumlah anak perusahaan yang banyak membuat petani kecil di Pedesaan menderita.

Di permukaan mungkin tak tampak seperti apa bentuk penderitaan tersebut, tapi silakan buktikan dengan jalan-jalan ke desa-desa yang berkonflik dengan anak perusahaan Astra Agro Lestari (PT Mamuang, PT Lestari Tani Teladan, PT Letawa, PT Pasangkayu), seperti beberapa desa yang ada di Kabupaten Donggala (Sulteng) dan beberapa desa yang ada di Kabupaten Pasangkayu (Sulbar).

Bentuk-Bentuk Kejahatan gang Dilakukan AAL

Dalam catatan Walhi Sulteng, sejak tahun 2017 sampai dengan sekarang, di Kecamatan Rio Pakava (Kab. Pasangkayu) sudah lima petani yang dipenjarakan oleh PT Mamuang dengan tuduhan pencurian buah kelapa sawit di area hak guna usaha. 

Padahal kelima petani tersebut melakukan panen buah kelapa sawit di lahan mereka sendiri berdasarkan surat-surat tanah yang mereka miliki.

Salah satu di antara petani tersebut bernama Hemsi. Terhitung sejak tahun 2010 sampai dengan sekarang, Hemsi sudah tiga kali masuk penjara karena berusaha mempertahankan lahannya dari rampasan PT Mamuang.

Hal yang sama juga dialami oleh orang tua adat yang bernama Perry. Perry adalah tokoh yang memimpin petani di Desa Gunung Sari (Kab. Pasangkayu) melakukan reclaiming di atas lahan mereka yang dirampas oleh PT Pasangkayu. 

Perry juga pernah dipenjara karena tuduhan pencurian kelapa sawit. Namun setelah bebas dari penjara, Perry bersama kelompoknya kembali melakukan reclaiming sampai dengan sekarang.

Selain itu, terdapat juga petani di Desa Lariang (Kab. Pasangkayu) yang bernama Lamisi. Lamisi sudah dua kali masuk penjara bersama anaknya, karena dilaporkan oleh pihak PT Letawa dengan tuduhan pencurian kelapa sawit di dalam hak guna usaha. 

Setelah keluar dari penjara, Lamisi kembali panen di kebunnya, lalu kembali dilaporkan lagi oleh pihak PT Letawa, dan saat ini kasusnya masih di tingkat kepolisian.

Selain kasus kriminalisasi, kasus perampasan lahan juga tak luput dipandang mata. Petani sudah mengetahui bahwa kriminalisasi dijadikan proyek untuk memuluskan perampasan lahan-lahan petani.

Perampasan lahan yang dilakukan oleh PT Mamuang sudah sejak tahun 2004 terjadi di Kecamatan Rio Pakava, dan sampai dengan sekarang masih terus melakukan upaya-upaya untuk merampas lahan petani.

Praktik perampasan lahan tersebut menimbulkan gejolak-gejolak perlawanan masyarakat di akar rumput. Seperti kasus yang paling update saat ini, kasus reclaiming lahan oleh masyarakat Suku Kaili Tado Dusun Kabuyu Desa Martasari (Kab. Pasangkayu). 

Sudah lebih dari dua bulan Suku Kaili Tado melakukan reclaiming di atas lahan mereka yang sudah sejak lama dikuasai oleh PT Mamuang. Saat ini, masyarakat Kaili Tado tersebut terus mendapatkan intimidasi-intimidasi dari pihak perusahaan maupun kepolisian. Ke depannya, masyarakat Suku Tado berpotensi besar dikriminalisasi.

Pemukiman di Dalam HGU 

Desa Towiora adalah Desa paling ujung yang berada di Kecamatan Rio Pakava (Kab. Donggala). Desa Towiora dianggap Desa yang paling miris kondisinya, sebab keberadaannya di Bantaran Sungai Lariang membuat Desa tersebut sarat diterjang banjir. Selain itu, Desa tersebut tepat berada dalam konsesi hak guna usaha PT Lestari Tani Teladan.

Informasi tersebut diketahui saat masyarakat mengajukan pembuatan sertifikat hak milik di ATR/BPN setempat, pihak ATR/BPN menolak membuat sertifikat untuk masyarakat karena lahan dan pemukiman masyarakat tersebut masuk dalam area hak guna usaha PT Lestari Tani Teladan.

Hal serupa juga terjadi di Desa Lariang (Kab. Pasangkayu). Saat masyarakat mengagunkan sertifikatnya ke Bank, pihak Bank menolak pencairan dana dikarenakan sertifikat masyarakat berada di atas hak guna usaha PT Letawa.

Bukan hanya pemukiman masyarakat saja yang berada di atas hak guna usaha, sekolah, masjid, Kantor Desa juga berada di atas hak guna usaha PT Letawa.

Tentunya kejadian ini sangat miris. Meminjam istilah dari masyarakat: jangankan lahan kami, dapur kami pun masuk HGU.

Beberapa kasus di atas hanyalah deretan catatan kasus yang singkat untuk ditulis. Bila mau dirunut satu per satu bentuk-bentuk kejahatan Astra Agro Lestari di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Pasangkayu, tidak akan cukup ditampung dalam tulisan ini.

Siapa yang Membiayai AAL?

Tentunya keberadaan Astra Agro Lestari secara bisnis sangat kuat. Sebagai emiten perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar kedua di Indonesia, yang mengelola 461.072 ribu hektare perkebunan kelapa sawit, Astra Agro Lestari tidak terdaftar sebagai Anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Menurut data Transformasi untuk Keadilan (TuK Indonesia) dalam buku saku Kuasa Taipan Kelapa Sawit di Indonesia 2018, Astra Agro Lestari memiliki 461.072 hektare kebun sawit di Indonesia. Produksi CPO pada tahun 2017 senilai 1.633.806 Ton dengan keuntungan US$143,7 juta.

Pada tahun 2013, Astra Agro Lestari memiliki aset lebih kurang 15 triliun. Ini didapatkan sebagian dananya dari beberapa bank.

Bank yang dimaksud, antara lain: OCBC (Singapura), Mizuho Financial Group (Jepang), Sumitomo Group (Jepang), Mitsubishi UFJ-Financial Group (Jepang), Bank Pan Indonesia, DBS (Singapura), HSBC (Inggris), Commonwealth Bank of Australia, dan Bank Mandiri.

Bank OCBC adalah pemberi utang terbesar pada tahun 2017. Jumlah utang yang digelontorkan mencapai 1,2 triliun rupiah. Bank Mandiri adalah bank nasional pemberi utang jangka panjang terbesar tahun 2017. Jumlahnya mencapai 134 milyar rupiah.

Beberapa investor turut memberikan support dana, seperti Standard Life Aberdeen (Inggris), Vanguard (Amerika Serikat), BlackRock (Amerika Serikat), Norwegia Government Pension Fund (Norwegia), JPMorgan Chase (Amerika Serikat), Schroders (Inggris), MassMutual Finance (Amerika Serikat), Capital Group (Amerika Serikat), T. rowe Price (Amerika Serikat), APG Group (Beanda).

Sudah bisa dipastikan, Astra Agro Lestari adalah perusahaan multinasional yang mempunyai sokongan modal cukup besar. Maka tidak cukup hanya satu atau dua orang petani saja yang berjuang, melainkan dibutuhkan kekuatan kaum tani yang diorganisasikan ke dalam serikat tani untuk mendapatkan kedaulatan.