Merebaknya aksi-aksi kekerasan yang masih juga diatasnamakan agama belakangan ini perlu ditilik dari sudut pandang lain. Bukan lagi pada isi ajaran agama, tetapi subjek yang menafsirkan ajaran tersebut. 

Meski agama merupakan urusan keyakinan pribadi, nyatanya agama tidak bisa dipelajari – dan kemudian ditafsirkan—secara sendirian. Apalagi, belakangan agama memang lebih sering muncul sebagai urusan komunal, bukan lagi individual. Maka dalam situasi ini, kondisi pembelajar agama yang masih jomblo perlu mendapat perhatian serius, sama seriusnya dengan tulisan ini.

Secara bahasa, hingga saat ini belum ada kesepakatan ulama perihal makna tunggal dari kata jomblo, namun mafhum dipahami bahwa jomblo merupakan sebutan untuk orang-orang yang belum memiliki pasangan. Pertanyaanya adalah apakah jomblo (yang berarti tidak punya pasangan) selalu buruk? Jawabnya bisa iya bisa tidak. 

Jika keputusan untuk tidak berpasangan disebabkan oleh kecintaannya pada Tuhan yang begitu dalam, seperti yang terjadi pada Rabiah al-Adawiyah, si “perempuan ikon cinta Tuhan”, maka jomblo tipe ini tidak berbahaya.

Konon, ulama besar bernama Ibnu Jarir ath-Thabari – yang menjomblo hingga akhir hayatnya di usia 80 tahun— justru sangat produktif menghasilkan karya tulis sepanjang hidupnya. Jika dihitung total karya tulis dan usianya, ulama satu ini rutin menulis 14 halaman setiap harinya selama 80 tahun masa jomblonya. 

Hal sama juga terjadi pada Ibnu Taimiyah yang sangat hafal hadis-hadis nabi beserta ucapan para sahabat, justru ketika ia memilih menjomblo. Silakan baca buku karya KH. Hussein Muhammad berjudul Memilih Jomblo: Kisah Para Intelektual Muslim yang Berkarya sampai Akhir Hayat untuk keterangan lebih lengkapnya.

Di sisi lain, kondisi jomblo bisa sangat berbahaya untuk urusan agama. Terjemahan paling dekat untuk kata ‘Jomblo’ dalam bahasa Inggris adalah single, yang jika dipadankan dengan bahasa Arab setara dengan kata Ahad (tunggal). 

Dalam Islam, jelas hanya Allah saja yang maha tunggal, tidak ada yang lain. Karenanya, jika jomblo diniatkan sebagai upaya untuk tetap ber-tunggal-ria, maka tipe ini akan sangat dekat dengan sikap musyrik.

Bahaya lain yang bisa timbul dari jomblo tipe ini adalah kecenderungan untuk mencintai diri sendiri, beserta segala tetek bengeknya, melebihi cintanya pada hal lain, termasuk mencintai perbedaan pandangan tentang Tuhan.

Bahkan dalam level yang paling tinggi, jomblo tipe ini lebih mudah terperosok pada Autotheisme, yakni keyakinan untuk menjadikan dirinya sendiri (auto) sebagai yang Ilahi (theos). Sikap ini tampak makin jelas belakangan ini dari ulah sebagian pendakwah yang mulai keranjingan untuk memosisikan dirinya sendiri sebagai orang yang paling ngerti agama. 

Siapa pun yang berbeda pendapat dengannya akan langsung dilabeli salah plus kafir. Bukan kafir ples-ples, tetapi kafir karena memiliki pandangan berbeda dengan si jomblo itu.

Jika tidak berani secara langsung mendaku diri sebagai Tuhan seperti yang dilakukan Silvio Berlusconi pada 2006 lalu, jomblo tipe ini akan enteng saja mengaku bahwa ia telah begitu intim dengan Tuhan hingga ia dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhan meski tanpa ada bukti yang menguatkan. 

Salah satu contohnya adalah pernyataan ketua kelompok teroris internasional Boko Haram di Afrika, Abu Bakar Shekau pada 2014 yang begitu percaya bahwa aksinya menculik 200 siswa SMP perempuan di Nigeria merupakan perintah Allah. Dengan lantang ia berkata:

“Saya telah menculik gadis-gadis kalian. Saya akan menjual mereka di pasar, demi Allah, ada sebuah pasar untuk menjual manusia. Allah berkata (bahwa) saya harus menjual mereka; dan saya akan menjual perempuan-perempuan itu. Ya, saya akan menjual perempuan-perempuan itu.” (sumber)

Tentu sesumbar Shekau di atas masih ‘kalah level’ dibanding Berlusconi yang terang-terangan mengaku sebagai Yesus. “Saya adalah Yesus Kristus dalam dunia politik. Seorang korban, penuh kesabaran, menanggung semuanya; saya mengorbankan diri saya bagi semua,” ungkapnya kala itu. (sumber)

Untuk contoh, sengaja diambil dari luar negeri semua. Contoh dalam negeri kurang greget. Beberapa kali memang sempat ada orang-orang yang ngaku jadi nabi, namun akhirnya kalah dengan kumpulan ulama di MUI. Nabi kok kalah sama ulama? Fiuh… kurang seru!

Beberapa pakar mencoba mengartikan merebaknya kekerasan, dan bahkan terorisme, yang mengatasnamakan agama sebagai konsekuensi dari globalisasi. Heru Prakosa misalnya, menyebut bahwa globalisasi melahirkan “relativisasi”, yakni perubahan sikap terhadap suatu nilai yang dulu diyakini dengan harga mati sebagai satu-satunya kebenaran. 

Di era globalisasi, keyakinan itu berubah; bukan lagi satu-satunya kebenaran, melainkan hanya salah satu dari nilai-nilai kebenaran (Basis, 1-2, tahun ke-65, 2016: 5). Pergeseran ini pada gilirannya melahirkan moral insecurity, sebuah perasaan tidak aman yang disertai dengan rasa gamang, ketidakjelasan moral, keragu-raguan, dan kebingungan.

Kekerasan, termasuk sikap seenaknya sendiri dalam menafsirkan ajaran agama, merupakan perwujudan nyata dari kegamangan dan kebingungan tersebut. Orang sudah tidak lagi aman dan nyaman dengan imannya sendiri. Keimanannya dipenuhi dengan kecurigaan; khawatir berlebihan bahwa apa yang dilakukan si A akan berakibat pada ‘inisasi’ dan ‘itusasi’, sementara di waktu bersamaan si jomblo ini tidak sadar sedang gencar melakukan “ini-itusasi”.

Pada kondisi tertentu, kegamangan dan kebingungan ini tidak hanya berhenti pada urusan keimanan saja, tetapi bahkan telah menyeruak pada esensi Tuhan. Tuhan sudah tidak lagi dianggap maha berkuasa, kekuasaan Tuhan dipandang masih kalah atau jauh dari harapan, karenanya para jomblo ini pun yakin bahwa Tuhan membutuhkan bantuannya. 

Maka tak heran jika kemudian muncul sekelompok orang yang mengaku sebagai pembela Tuhan. Seolah Tuhan tidak akan bisa berbuat banyak tanpa pembelaan dari mereka, para jomblo.

Fenomena ini tentu bukan hal baru, jauh sebelum ini telah muncul Sayid Quthb telah mengobarkan semangat jihad dengan tujuan untuk membela hak Allah. Dengan kata lain, doi yakin bahwa ada banyak hak Allah yang tidak terpenuhi, karenanya manusia harus melakukan sesuatu untuk pemenuhan itu. 

Gamal al Banna lantas buru-buru menyebut pemikiran di atas sebagai khayalan yang tidak masuk akal, (lihat: Jihad: Dari Siap Mati ke Siap Hidup, 2014: 174). Hal yang harus diketahui, Gamal al Banna bukan jomblo.

Untuk konteks Indonesia, jomblo sangat rekat dengan peristiwa bom bunuh diri. Hampir seluruh pelaku bom bunuh diri adalah jomblo, yakni mereka yang asyik dengan dirinya sendiri saja sampai lupa bahwa penafsiran agama masih sangat terbuka. 

Para jomblo ini begitu yakin bahwa bom bunuh diri akan mengantarkan mereka bertemu dengan 72 bidadari, yang entah akan mereka apakan. Maklum, mereka jomblo, belum berpengalaman.

Memilih menjadi jomblo tentu sah-sah saja. Yang tidak sah adalah menjadikan jomblo sebagai alasan untuk beragama secara bodoh. Maka tenang dan nyamanlah dengan imanmu sendiri. Tak perlu kau jadikan penderitaanmu sebagai alasan untuk mengganggu.