87184_42047.jpg
Tomita Web Id
Gaya Hidup · 4 menit baca

Asosial Bukan Dosa

Di kalangan anak pecinta anime seperti saya, seorang asosial biasanya disebut Hikikimori; individu yang menolak interaksi sosial, kerena bermacam alasan. 

Ada yang beranggapan kalau introvert juga seorang asosial, tapi dari beberapa artikel psikologi yang saya baca, introvert umumnya masih memiliki keinginan untuk bersosialisasi dalam kelompok kecil, selama hal itu terjadi atas kehendak mereka sendiri. Hal ini berbeda dengan asosial, yang memang menolak interaksi, bahkan merasa bisa hidup tanpa perlu interaksi langsung.

Saya dulunya juga menganggap diri saya sebagai intovert, yang entah bagaimana kemudian tergelincir menjadi seorang asosial, sedikit mengingatkan saya pada kisah Lucifer, malaikat yang jatuh dari surga lalu menjelma menjadi iblis. Konteksnya jauh berbeda, tapi saya tetap menyukainya.

Secara pribadi saya tidak membenci kehidupan sosial, hanya saja dunia sosial selalu menuntut seseorang untuk berbicara, bahkan kalau hal itu menjurus pada menceritakan keburukan atau masalah orang lain yang tidak penting dan tidak berguna. 

Bahkan, umum sekali orang-orang sosial memiliki dua wajah, yang ramah di depan tapi di lain muka mereka berbicara hal buruk tentang orang lain. Saya lelah dengan hidup seperti itu, penuh kebohongan dan tidak jujur!

Saya merasa, duduk berbincang dengan bahasan bertele-tele terlalu membuang waktu, ada hal lain yang lebih penting yang bisa saya lakukan dalam hidup. Saya percaya, saya hidup untuk bekerja dan bukan banyak bicara.

Sebagian orang mungkin menganggap tindakan saya kasar, angkuh, jahat dan dingin. Pendapat-pendapat demikian sudah santer saya dengar, atau bahkan tidak perlu saya dengar, melihat orang lain menatap ke arah saya saja, sudah cukup membuat saya mengerti bagaimana saya dalam pandangan orang lain. Ujung-ujungnya saya tersisih dari kehidupan sosial. 

Saya sangat jarang meninggalkan rumah dan menghabiskan waktu untuk menulis atu menonton anime. Sekali dua kali, keadaan seperti ini membuat saya merasa sedih. 

Saya berpikir, haruskah saya mengubah diri sendiri menjadi lebih ‘sosial’ seperti orang lain? Pernah, tentu saya pernah mencoba, tapi kenyataannya ketika saya melakukan hal itu, saya merasa seperti mengenakan topeng untuk tertawa dan berbicara.

Orang lain mungkin merasa saya tampak lebih ‘hidup’, kenyatannya saya merasa mati. Membohongi diri untuk menyenangkan orang lain membuat saya tampak seperti orang tolol, bahkan diri saya juga menghardik mengatakan, betapa saya sudah tampak konyol hanya untuk diterima orang lain.

Setelah kejadian itu saya kembali menjadi seorang asosial, yang sebatas duduk mengamati orang lain dan bagaimana mudahnya mereka berbicara banyak hal, dibandingkan saya yang hanya berujar satu dua patah kata lalu diam.

Kadang saya memang sengaja bersikap cuek karena benci saat seseorang mulai bertanya terlalu banyak. Saya mungkin terlihat jahat, tapi bagi saya sendiri, saya hanya sedang berusaha menjadi lebih jujur.

Biarpun selama ini saya merasa kalau hidup sendirian adalah jalan hidup, ada kalanya saya juga merasa kesepian, sendirian dan kosong. Saya mengerti dengan baik bagaimana sakitnya kesepian, bagaimana menyedihkannya harus bangkit dari rasa terpuruk seorang diri tanpa dukungan dari orang terdekat yang tidak saya miliki.

Keinginan itu ada, harapan bahwa suatu hari nanti saya bisa menjadi manusia sosial tetap ada dalam diri saya, tapi berapa kali pun mencoba, ada perasaan gagal dan tidak puas dalam benak saya, entah pada diri saya atau orang lain dalam hidup ini.

Pada akhirnya saya dan diri saya mengambil jalan tengah untuk berdamai, bahwa di dunia ini ada orang yang memang beruntung untuk memiliki teman, karena ‘kemampuan’ untuk dicintai, tapi ada juga orang-orang seperti saya, yang tidak cukup beruntung untuk memiliki itu semua. 

Berkelahi dengan diri saya untuk berubah, pada dasarnya hanya melahirkan penyangkalan yang membuat saya benci pada diri saya sendiri, sedangkan untuk asosial seperti saya, apa yang saya miliki hanya diri saya sendiri sebagai teman.

Orang lain di luar sana mungkin menilai asosial seperti saya adalah orang ‘sakit’ yang harus diobati dengan konseling ke psikolog tiap minggu, tapi di mata saya, kesalahan mereka adalah  tidak mengerti. 

Orang sosial seolah mengatakan bahwa sendiri adalah dosa, sementara bersosialisasi adalah kewajiban. Pandangan dan bagaimana mereka menilai sesuatu bagi saya terlalu sempit, dan penghakiman itu membuat saya ‘benci’ hukum sosial.

Dunia ini tempat yang luas, manusia punya banyak kepribadian dan orang lain tidak berhak mengatur bagaimana cara seseorang harus hidup. Tapi, lagi dan lagi pemahaman manusia kadang terlalu dangkal, persepsi mereka terlalu kuat pada idealisme yang mereka pahami sebagai benar dan salah. 

Seseorang bisa memahami bagaimana cara ribuan orang berpikir, tapi ada kalanya ribuan orang bahkan tidak mengerti pemikiran satu orang, seperti lelucon.

Sekalipun saya seorang asosial yang berdamai dengan diri saya, saya tetap tidak ingin orang lain menjalani kerasnya hidup sendiri, karena ada banyak reiiko yang harus ditanggung untuk menjalani gaya hidup seperti ini, yang sudah beberapa kali saya rasakan.

Di mata saya, orang-orang di luar sana yang memiliki teman, sahabat dan keluarga, mereka adalah orang-orang yang beruntung. Apa yang bisa saya katakan pada mereka yang memilikinya, perlakukan mereka dengan baik, karena bagaimanapun, teman, sahabat dan keluarga adalah pelipur lara terbaik, penghapus air mata paling unggul di jagat raya.