18392_45459.jpg
Puisi · 1 menit baca

Asmaraloka
Alam fana cinta

Titimangsa

Aku tidak ingin mengumpamakanmu dengan apapun 

Kamu adalah apa adanya 

Tidak sempat aku menyembunyikanmu dalam kata-kata 

Kata bagiku adalah batasan temporal yang suatu saat nanti akan berganti maknanya 

Kamu adalah apa yang aku sempatkan memesan takdirku pada Tuhan 

Air mata sebagai rayuanku pada-Nya 

Lirih sesekali bersembunyi dibalik senyuman, takut jika kamu malah memesan kepada Tuhan agar membatalkan semua apa yang aku pesan 

Hingga datang titimangsanya 

Tuhan tak mempertemukan kita dalam sajadah yang sama

Manikam 

Sejauh apapun kau hanyut bersama duniamu yang sulit ku akrabi 

Lalu kau bermimpi sangat indah bersamanya 

Lantas kau bercerita kepadaku tentang dirinya 

Membuat ritmenya selaras dengan suara mu yang halus 

Lalu kau jatuh bersamanya ke dalam lumpur kasih 

Lalu ku angkat kau yang berlumur lumpur 

Kau bercerita dengan banyak sekali renda 

Hingga sebenarnya kau enggan mempersalahkannya 

Aku pun tidak, kau tetaplah intan permata 

Bilur 

Lihat ini sayatan bukan kali pertama atau kedua 

ringkih!!!

Mungkin besok mati dan kau akan menyesali 

Memar

Kau benturkan 

Kau sisakan bekasnya membiru

Kau telantarkan hati yang sudah kupasrahkan 

Kau pilih orang lain yang hanya menggadaikan

Asmaraloka 

Adam dan Hawa 

Yusuf dan Zulaikah

Romeo dan Juliet 

Kisahnya masih ditutur sampai sekarang 

Kita hanya mengulangnya tanpa tau mana yang sebenarnya 

Langkah kerap kali patah karena salah arah 

Terus mencari dan mengundi membuat syair dan puisi sesekali berdoa dan memohon bantuan ilahi 

Meski lebih sering ternodai nafsu birahi 

Menyalahkan hati dan terus menangisi hingga naifnya tiada pernah diinsafi