Guru
1 tahun lalu · 226 view · 5 menit baca · Saintek 25979_19044.jpg
http//: asgardia.space

Asgardia Alternatif Setelah Bumi?

We, the people of planet Earth, irrespective of our place of birth, residence, language, gender, race, nationality, religion or citizenship of the existing Earth states, use our free choice, will and conviction, in the desire to:

unite the future humanity as transethnic, transnational, transreligious, ethical, fair, peaceful, looking into the infinite Universe, based on equality and dignity of every human being;

resolve differences, conflicts, inequality and imperfections in human history, bring spiritual and scientific practices and human creative achievements to a new level in all their civilizational and cultural multitude, and launch a new era in the history of space humanity;

based on the Declaration of Unity of Asgardia as an integral part of this Constitution;

have founded Asgardia, the first in human history Space Kingdom, and hereby adopt this Constitution of Asgardia.

Paragraf di atas merupakan isi dari pembukaan (preamblue) yang termaktub dalam konstitusi Negara Asgardia. Ini adalah tentang sebuah ide terhadap realitas perjalanan hidup manusia di muka bumi ini, dan rasanya juga tidak berlebihan jika dikatakan ini adalah tentang suatu impian yang mungkin sudah sangat dirindukan oleh jutaan umat manusia untuk hidup bahagia, aman, damai dan tenteram dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Asgardia adalah sebutan untuk negara pertama dalam sejarah kehidupan manusia yang sengaja diciptakan di luar bumi tepatnya di ruang angkasa. Igor Ashurbeyli, adalah seorang ilmuan asal Rusia yang menjadi pelopor terbentuknya Negara Asgardia. Secara resmi negara pertama di ruang angkasa ini dideklarasikan kepada masyarakat dunia tepatnya pada bulan Oktober tahun 2016.

Sampai saat ini upaya-upaya untuk memenuhi syarat berdirinya suatu negara secara de jure dan de facto terus diupayakan, termasuk keinginan untuk mendaftarkan Negara Asgardia menjadi keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kehadiran Negara Asgardia yang diklaim akan berada di luar planet bumi, tentunya adalah suatu hal yang baru sekaligus menakjubkan. Dilihat dari data yang ada pada situs resmi negara tersebut (https://asgardia.space), sampai saat ini sudah ada puluhan ribu manusia dari berbagai negara telah mendaftarkan diri sebagai warganegara Asgardia yang dikenal dengan istilah Asgardian.

Menariknya per Desember 2017, Tiongkok dan India adalah negara terbesar pertama dan kedua yang penduduknya secara resmi mendaftarkan diri sebagai warganegara Asgardia. Sementara,  Indonesia menempati posisi keempat sebagai negara yang penduduknya secara sukarela dan telah memenuhi syarat turut mendaftarkan diri sebagai asgardian (asgardia.space).

Ini bukan sebuah lelucon atau dongengakan tetapi ini adalah fakta yang benar-benar terjadi. Penduduk dari berbagai negara berbondong-bondong ingin “keluar” dari kehidupan di muka bumi dan menyatakan kesanggupan untuk pindah menjadi asgardian.

Misi untuk menyatukan manusia dalam sebuah wadah (Asgardia) sebagai transetnis, transnasional, transreligious, etis, adil dan damai adalah cita-cita besar yang mungkin lahir karena dilatarbelakangi oleh “kegagalan” manusia selama ini dalam mewujudkan impian dasar yaitu untuk hidup bahagia secara totalitas selama berada di bumi.

Bahkan menariknya yang menjadi unsur ilmiah dan teknologi proyek Negara Asgardia sekaligus menjadi pemikat banyak orang termotivasi untuk menjadi Asgardian adalah  karena proyek ini menitikberatkan pada tiga hal utama yaitu perdamaian, akses dan perlindungan.

Mencermati keinginan mulia untuk mewujudkan impian tersebut, tentunya menjadi sebuah renungan sekaligus sebagai tamparan hebat bagi jutaan umat manusia yang hidup di muka bumi ini. Apakah bumi yang selama ini menjadi satu-satunya tempat bagi manusia untuk merasakan dan menikmati indahnya kehidupan sudah berubah menjadi tempat yang paling menakutkan.

Bumi Panggungnya Konflik Kemanusiaan

Keberadaan bumi sebagai tempat bagi jutaan umat manusia dalam menjalankan proses kehidupan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai universal kemanusiaan tampaknya tidak mudah dapat diwujudkan. Multikulturalisme dan perbedaan latar belakang sering menjadi ruang yang mengakibatkan terjadinya konflik kemanusiaan secara berkelanjutan disetiap waktu.

Tidak cukup sampai disitu, perebutan wilayah teritorial suatu negara, konflik-konflik perbatasan sampai pada kejahatan kemanusiaan (Genosida) selalu saja terjadi dan sangat sulit untuk diselesaikan. Ironisnya, konflik-konflik kemanusiaan yang terjadi selalu mengakibatkan korban jiwa dalam jumlah yang relatif besar.

Sebagai contoh, berdasarkan data The Syrian Network For Human Right (SNHR), bahwa selama enam tahun untuk konflik di Suriah telah mengakibatkan 207 ribu orang meninggal dunia dan 24 ribu diantaranya adalah anak-anak.

Belum lagi ditambah dengan korban jiwa pada saat perang dunia I dan II, konflik dengan ISIS, konflik yang terjadi pada Etnis Rohingya di Myanmar ini adalah sekian dari banyak contoh bukti bahwa gangguan terhadap keamanan di muka bumi ini selalu saja terjadi setiap saat. Istilah yang tepat untuk keadaan ini adalah, setiap masa ada konfliknya, dan setiap konflik ada masanya.

Inilah realita kehidupan di muka bumi ini, setiap hari manusia dipertontonkan oleh aksi-aksi yang tidak manusiawi, melalui peperangan dan saling mengancam sehingga tidak salah jika banyak orang memiliki rasa ketakutan  dan pada akhirnya mencoba berupaya untuk mencari tempat yang lebih aman dan nyaman.

Fenomena Alam yang semakin Mengkhawatirkan

Kenyataannya dalam skala global terhadap proses kehidupan yang terus berlangsung pada saat ini menggambarkan bahwa tidak ada lagi pertemanan yang abadi, kejahatan kemanusiaan terus terjadi.  Bahkan tidak hanya sebatas konflik horizontal antar sesama manusia, yang lebih parah lagi konflik manusia dengan alam semakin menggila dan pada akhirnya kebahagiaan yang seharusnya dinikmati nihil adanya.

Bumi yang diyakini sebagai satu-satunya tempat di jagad raya untuk memainkan peran sebagai ruang bagi manusia dalam menjalani proses kehidupan, pada hari ini faktanya tidak serta merta menghadirkan kenyamanan sebagaimana yang diharapkan tersebut. Budaya “menerabas”, yang cenderung dilakukan manusia mengakibatkan ambang batas kewajaran terhadap segala aspek kehidupan termasuk lingkungan di muka bumi sudah terlampaui.

Baru-baru ini kita kembali dihebohkan akan peringatan yang disampaikan oleh 15.000 ilmuan dari seluruh dunia melalui surat yang bertajuk Warning to Humanity, yang berisikan pesan bahwa saat ini kondisi planet bumi sudah kian memburuk. Perubahan iklim yang semakin tidak menentu, meningkatnya efek gas rumah kaca sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar fosil sampai dengan semakin parahnya kerusakan terhadap lingkungan terus terjadi di muka bumi. Ini adalah warning yang kedua kalinya setelah sebelumnya hal yang sama pernah diingatkan pada tahun 1992.

Bahkan fenomena alam lainnya yaitu ancaman akan mencairnya gunung es di kutub juga menjadi satu perhatian khusus akan kenyamanan dan kemanan untuk terus menjalankan proses kehidupan di muka bumi ini. Hasil penelitian NASA mengasumsikan ada peluang Es di kutub mencair dalam jumlah yang cukup besar, sehingga berpotensi mengakibatkan bencana alam di kota-kota yang ada di muka bumi ini sebagai akibat semakin tingginya suhu panas bumi.

Dalam kondisi seperti ini, semua manusia harus memposisikan diri dengan merasa memiliki tanggungjawab yang sama sekaligus pemegang kendali utama dalam hal merencanakan dan mengatur keberlangsungan hidup yang aman dan nyaman dimasa yang akan datang.

Terhadap konflik-konflik kemanusiaan maupun fenomena alam yang terus terjadi di muka bumi ini jika tidak segera dihentikan tentunya akan semakin membuat kehidupan di jagad bumi ini tidak aman dan nyaman. 

Pasti akan ada kecenderungan manusia untuk menghindari hal tersebut dengan berbagai cara termasuk kemungkinan untuk “pindah” dari planet bumi ini. Lantas pertanyannya, jika terpaksa hal tersebut harus dilakukan, kemana manusia harus pindah? Mungkin Negara Asgardia jawabannya.