Asa Dan Putus Asa

Ini hanya sebuah puisi tentang kita 

Tentang asa bersambut putus asa

Dulu aku belum lahir

Bukan berararti aku tak tahu

Bukan tugasku bicara kebenaran atau kesalahan

Kau tak lupa kan kisah nenek moyangmu?

Mereka merelakan sisa nafasnya untuk kita

Tiada hari kecuali perang

Mati bukan hal mengerikan

Seolah mati rasa, tapi bukankah itu benderang?

Kini aku sudah berkemas dari remaja

Semua sudah berubah

Musuh-musuh nampak berganti wujud

Bukan berarti usia membuat buta

Kau lupa aku punya telinga, mata, dan hati

Aku bosan..aku muak

Kau sependapat denganku?

Jika orang miskin diwajibkan miskin

Sama-sama budak

Mengapa pura-pura lupa

Sudah mati rasakah?

Mereka bukan tuhan

Yang lebih gila

Mereka tega memakan bangaki manusia

Tak perlu kau menasehati

Toh mereka sudah paham

Malahan gambling

Oh, nasib

Dimanakah rasa kebersamaan? 


Ekalaya 

Inginmu begitu besar

Harapanmu tinggi menjulang

Tapi mengapa kau terabaikan?

Sedang kau tetap bertahan

Meski hatimu tengah kesakitan

Kau tangguhkan pendirian

Tanpa jengah..

Tanpa lelah

Tak kau biarkan yakinmu goyah

Meski semesta memaksamu menyerah


Kerapuhan Jiwa Ini 

Kepada awan yang menyelimuti langit 

Kepada bintang yang menemani rembulan

Kepada kemarau yang menunggui hujan

Kepada senja yang setia terbungkus asa

Aku tetap sama, walau tak kau kira

Aku tetap berdoa, untuk hal yang kupinta sebelumnya

Aku tetap menanti, untuk suatu hal yang tak ku pahami

Aku tetap berjuang, untuk suatu hal yang tak ku mengerti

Seakan terpesona labirin sunyi hati

Yang setia mengharap segala petunjuk ilahi robbi

Semua pinta yang tertuju pada-Mu robbi

Dalam simpuh dan sujudku ini

Wahai engkau Rabb penguasa segala hati

Dengan menyebut ya muqollibal qulub-Mu ini 

Tempat dimana semua hati kembali

Yaa ilahi robbi


Peneguh Diri

Langkahku kian menanjak

Terkadang didampingi oleh sesak

Atas jiwa yang sempat merasa

Terinjak

Namun, asa kembali mendesak

Berbisik nasihat lama

Dari wanita perkasa

Yang penuh akan jasa-jasanya

Bangunlah!

Atas kejamnya dan kerasnya dunia

Sabarlah!

Atas dentum makian manusia

Genapkan niat hati

Untuk sang ilahi robbi

Untuk negeri ibu pertiwi


Aku Malu 

Aku malu pada dzat-Mu

Yang selalu menyimpan celaku

Meski kutambahkan keluh

Namun kasihMu padaku bersikuh

Dirangkul hina

Syukurlah  lupa

Namun kau tetap sama

Megasihi dengan segala kuasa

Menimbang dengan belas kasih rasa

Memanjakan apapaun yang kau pinta

Lalu,

Bagaimana aku tak menambahkan malu

Atas munajatku yang kian melayu.


Gila Aku=  Gila Mereka 

 Aku berjalan dalam deretan

Toko-toko, pasar-pasar, mal-mal dan pusat perbelanjaan

Banyak orang tertwa kegirangan

Begitu melihat barang-barang aneh dijajalkan

Apa mereka gila?

Aku berjalan dengan gagah

Diantara kursi empuk nan mewah 

Yang membentuk putaran jam searah

Banyak orang saling tunding, teriak, dan marah

Hanya karena pendapat mereka berlainan arah 

Apa mereka gila?

Aku berjalan pelan

Tampak rumah-rumah gubuk berjejeran

Jemuran bergantung semrawutan

Dan orang-orang tanpa pekerjaan

Menatap heran dan kening berkerutan

Apa mereka gila?

Aku berjalan diruang pengadilan

Tiba-tiba hadirin bertepuk tangan

Ketika pak hakim mengetuk palu tiga ketukan 

Ternyata pria gemuk berjas safan dibebaskan 

Padahal nyata-nyata dia koruptor jelatatan

Apa mereka gila?

Jing gonjang-ganjing

Melihat manusia-manusia

Yang tak lebih dari seekor anjing 

Ini jaman, jaman edan

Yang tak edan, tak kebagian

Begitulah kata sang”Dalang”

Aku pusing

Kepalaku pening

Mereka anggapku gila

Apakah benar aku telah gila

Ketika aku cintaa ilmu pengetahuan dan eksakta

Ketika aku ingin mengubah wajah dunia

Lebih beradab dan berbudaya


Seleret Harapan 

Berlaksa gemintang di gugus bening langit

Cukuplah bagi bertasbih atas segala karunia 

Maka ampuni bila isakku tercekat

Engaku pasti mendengar gema syukur 

Terbata dari belantara nurani

Betapa syahdu peluhku terus menetes mencipta telaga

Dimana kepasrahan dapat berenang mengarungi tuah-Mu

Menuju tujuan penuh berkah 

Adalah hidup berlumur ridha dan ampunan

Duhai sang jabar penguasa kemegahan Arsy

Jadikanlah hati sebuah bejana

Yang kudus dari setiap karat

Agar tersimpan kalam-Mu

Yang ku pungut satu demi satu

Itulah yang aku bawa

Kelak aku kembali

Jadikanlah hati berpendar cahaya

Sebagaimana engkau terangkan dunia

Sebab alangkah pedihnya dalam kegelapan

Sungguh aku tak ingin tersesat

Aku tak mau tersesat 


Ilusi Reputasi

Di saat angan terpedam

Tak pernah aku berhap ia terbenam

Tatkala aku berbenah

Imajinasiku pun tak terarah

Mereka seolah perpanah

Berdiri gagah

Dengan ilusi berpondasi aku akan kalah 

Penatku disini

Belajar mawas diri, menata hati

Aku dan kendali emosi

Yang selalu menyangkal tentang ending

Impian yang tak akan berakhir cukup disini

Setidaknya aku punya fantasi

Yang tak hentinya ia berotasi

Menghimpun cakrawala

Imajinasiku menderap

Melangkah tegap

Teguh sanubari berucap, berharap

Aku, asaku menjadi mereka dengan reputasi mantap

Layaknya rotasi mentari

Dengan eksistensi menyambut hari

Dengan langkah pasti

Aku dan ilusi reputasi