Mahasiswa
4 hari lalu · 109 view · 4 min baca menit baca · Saintek 96532_36716.jpg
Wallpaper Abyss

Artificial Intelligence dalan Sendi Kehidupan Manusia

Jika kita perhatikan isu global saat ini, belakangan, revolusi industri 4.0 santer terdengar dalam masyarakat. Beragam negara di belahan dunia saat ini sedang melewatinya, termasuk Indonesia. Para ahli menyebut era ini sebagai zaman berkembangnya superkomputer, artificial intelligence, dan otomatisasi yang akan dimulai pada tahun 2020.

Beragam tanggapan muncul dalam masyarakat. Ada yang menganggap ini sebagai kemajuan teknologi, yang semua kehendaknya berfungsi untuk memudahkan umat manusia. Sebaliknya, ada pula yang beranggapan ini bisa menjadi era disrupsi teknologi, di mana teknologi dapat menggeser nilai-nilai kemanusiaan dan mengambil alih keadaan.

Terlepas dari itu semua, umat manusia tidak dapat lepas dari revolusi industri 4.0. Ia telah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat. 

Dalam tataran dunia global, saat ini kita tidak hanya mempunyai tanggung jawab sebagai citizen (warga kota). Di samping itu, kita juga diwajibkan untuk dapat berperan aktif menjadi netizen (warga internet)  yang bijak.

Artinya, tatanan sosial masyarakat telah mengalami pergeseran, di mana saaat ini individu tidak lagi hanya berhubungan sosial dengan sesama masyarakat dalam dunia nyata (reality), namun mereka juga dipaksa untuk dapat bersosialisasi dalam tatanan masyarakat dunia virtual. Itulah yang terjadi saat ini.

Dapat dikatakan bahwa topik artificial intelligence dan otomotisasi sudah lebih dulu digalakkan dan diterapkan untuk memudahkan agenda hidup umat manusia. Petugas tol yang bukan lagi individu sadar, atau pelayan bar yang sudah mulai digantikan oleh robot, menjadi tonggak awal dalam penyebaran benih-benih artificial intelligence.

Agaknya hukum alam pun berbicara dalam hal ini. “Siapa yang tidak bisa beradaptasi dengan keadaan, maka akan kalah oleh keadaan itu; dan bagi siapa yang dapat beradaptasi dengan alam, akan bisa menaklukan segala-segalanya.”

Namun, relativitas kutipan di atas saya rasa tetap berguna di segala zaman. Di zaman di mana teknologi menjadi tonggak kehidupan sosial masyarakat, siapa yang tidak dapat menguasainya akan tergilas oleh perubahan zaman yang sangat cepat ini.


Dalam bukunya yang berjudul Homo Deus, Harari mengatakan bahwa dua atau tiga dekade mendatang, umat manusia akan digantikan perannya oleh artificial intelligence. Teknologi akan memutuskan tentang apa yang terbaik untuk diri kita yang, sedangkan, diri kita sendiri kebingungan dalam memutuskan apa yang terbaik untuk kita secara pribadi.

Adalah Watson, sebuah AI yang digadang-gadang akan mampu mengungguli manusia dalam bidang pemeriksaan medis. Setelah mampu mengalahkan manusia dalam acara TV Jeopardy!, Watson saat ini akan diharapkan untuk melakukan pekerjaan yang lebih serius, terutama dalam mendiagnosis penyakit.

Dilansir dari buku Homo Deus, hal ini dapat terjadi karena sebuah AI seperti Watson memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dokter manusia. Pertama, sebuah AI dapat menyimpan lebih banyak informasi tentang segala penyakit dan obatnya yang pernah diketahui sepanjang sejarah.

Kemudian, ia dapat memperbarui penyimpanan data setiap harinya, seperti temuan riset-riset baru dan juga statistik medis dari setiap klinik dan rumah sakit yang terhubung di seluruh dunia. Selanjutnya, ia dapat memeriksa silang sekelumit informasi medis ini dengan riwayat penyakit saya dan mencocokkannya dengan kumpulan penyakit-penyakit manusia di bumi ini.

Kedua, Watson tidak hanya mengenal seluruh gen dan sejarah medis hari demi hari, tetapi juga gen dan sejarah medis seluruh keluarga Anda dan teman-teman Anda. Watson akan segera tahu apakah penyakit Anda adalah hasil penularan orang terdekat ataukah ini memang sedang marak merebak di seantero kota.

Ketiga, Watson tidak memiliki emosi-emosi seperti halnya manusia. Ia tidak pernah lelah, lapar atau sakit, dan akan bersama saya sepanjang waktu. Tidak seperti manusia yang terkadang keputusannya dapat terpengaruh oleh emosi, Watson akan membuat keputusan yang rasional dan penuh pertimbangan sebelumnya.

Sebenarnya, selain Watson yang merupakan AI tingkat tinggi, kecerdasan buatan yang lebih sederhana telah merambah terlebih dahulu ke dalam sendi-sendi kehidupan manusia.

Filter yang dikeluarkan oleh Snapchat memungkinkan seseorang untuk mengubah wajahnya menjadi gender yang berbeda. Seorang laki-laki bisa saja berubah menjadi seorang perempuan di dalam foto dengan hanya mengeditnya menggunakan filter ini.

Ada pula AI Netflix, yang merupakan layanan content-on-demand yang menggunakan teknologi prediktif untuk menawarkan rekomendasi berdasarkan reaksi, minat, pilihan, dan perilaku konsumen. AI ini mampu memeriksa sejumlah catatan untuk merekomendasikan film berdasarkan kecintaan dan reaksi Anda sebelumnya.

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, perlu ditekankan di sini bahwa AI bukan lagi produk masa depan, namun ia telah bertransformasi menjadi produk masa kini, dan telah berkecambah ke dalam sendi-sendi kehidupan umat manusia.


Tidak hanya dalam bidang smartphone dan pemeriksaan medis. Tesla, dalam inovasi terbarunya, mengembangkan mobil tanpa awak. Mobil ini dapat menghampiri Anda di mana pun ponselnya berada. Hal ini akan memberikan Anda kemudahan di mana Anda hanya tinggal menekan kunci, maka secara otomatis mobil akan bergerak dengan sendirinya dan mencari spot parkir.

Dalam penerapannya, Artificial Intelligence tidak hanya bergerak dalam bidang teknis-praktis, melainkan juga telah merambah ke dalam dunia yang diperlukan emosi dan rasa sebagai pembentuknya. Adalah EMI (Experiments in Musical Intelligence), sebuah AI yang dapat meniru gaya Johan Sebastian Bach (seorang komponis Jerman).

EMI mampu mengubah 5.000 (nyanyian untuk paduan suara) ala Bach dalam waktu satu hari saja. Ia terus berimprovisasi dan belajar meniru Bethoven, Chopin, Rachmaninov, dan Stravinsky. Pencipta EMI, David Cope, mendapatkan kontrak untuk EMI dan album pertamanya, Classical Music Composed by Computer, yang terjual laris manis.

Mungkin seharusnya kita semua menyadari bawa sesungguhnya AI telah masuk ke dalam kehidupan kita. Sekelumit perubahan yang dibawanya, ada yang menguntungkan juga ada yang merugikan.

Perubahan ke depan tidak bisa kita hentikan. Namun, setidaknya, kemajuan harus disikapi dengan arif dan bijaksana, sehingga manusia akan tetap mendapatkan porsinya, tidak digantikan oleh robot-robot yang tak punya kesadaran.

Sumber

Artikel Terkait