4 September 1927 menjadi penanda lahirnya seorang ilmuwan komputer pencetus kecerdasan buatan (artificial intelligence), John McCarthy, yang hingga kini menjadi kiblat bagi para penerusnya dalam menciptakan teknologi berbasis AI.

Sedikit ulasan yang penulis kutip dari laman media daring (Liputan6). Pada 1958, McCarthy menciptakan bahasa pemrograman lisp yang kemudian menjadi standar bahasa programming AI yang kini digunakan untuk robotik dan AI. Karyanya telah memberi manfaat dalam banyak aplikasi, seperti pendeteksian fraud, kecurangan atau penipuan dalam penggunaan kartu kredit.

Siapa yang mengira bahwa memasuki awal dekade 2000-an, teknologi berbasis AI telah banyak diteliti dan diciptakan oleh para ilmuwan komputer. Cina dan Amerika, pun negara maju lainnya, bersaing dalam perebutan kuasa pengakuan dunia dalam kemajuan teknologinya. Bahkan Cina cukup progresif dalam menciptakan teknologi AI.

1-2 tahun lalu, Cina menghentikan teknologi AI yang dapat mengetahui politisi yang menggunakan uang negara hasil curian (korupsi). Bahkan tak tanggung-tanggung, ribuan kasus terdeteksi oleh teknologi tersebut. Dianggap mengganggu gerak-gerik politisi, AI tersebut akhirnya dimusnahkan.

Atau kisah seorang atlet catur yang tak berkutik di hadapan AI. Pun AI  yang dihentikan oleh salah satu platform media sosial yang penggunanya paling banyak di dunia, yakni Facebook. Dua AI yang mereka ciptakan dapat berkomunikasi dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh keduanya.

Di atas ialah ulasan bagaimana kehebatan teknologi AI berkembang.

Sementara itu, memasuki era digital, praktik jurnalisme dituntut mengikuti perkembangan teknologi agar tak tergerus dan kehilangan pembaca, pendengar, dan penontonnya. Tak terhitung sudah surat kabar pun radio yang akhirnya gulung tikar karena tak mampu berinovasi dan masih mempertahankan cara-cara konvensional—dalam artian, tak mengikuti dan mempelajari trend kebaruan (teknologi).

Pada akhir dekade 1990-an, mulai terlihat media mengikuti perkembangan teknologi dengan mendirikan portal media online, walau pada saat itu belum gencar penggunaannya dan masih sekadar meng-copy-paste hasil berita dari cetak atau TV ke laman media daring yang mereka buat. 

Baru setelah berdiri, detik.com menjadi kiblat awal media online di Indonesia yang coba mengadirkan berita dengan cara tak biasa. Kecepatan menjadi slogan yang diagung-agungkan dari kakak terdahulunya (tv, radio, koran).

Tak habis sampai pada pembuatan media online, era kejayaan teknologi AI juga merambah pada ranah jurnalistik. Media-media mainstream di Amerika mulai menerapkan teknologi AI untuk memproduksi sebuah berita atau artikel singkat yang kemudian disebut sebagai "jurnalisme robot"—walau pada awalnya hanya beberapa jenis laporan yang bisa dibuat oleh jurnalis robot, seperti laporan keuangan dan hasil pertandingan sepak bola.

Hal ini sudah tentu cukup mempermudah ruang redaksi yang perlu kecepatan dan peningkatan kuantitas laporan. Media New York Times pun Washington Post tak luput dari penggunaan teknologi berbasis AI tersebut. Di Indonesia sendiri, media beritagar.id memproklamasikan penggunaan AI pada praktik jurnalisme mereka yang diperkenalkan ke publik awal 2018.

Munculnya jurnalis robot bukan tanpa soal. Semua laporan jurnalistik yang dulunya dikerjakan oleh manusia kini tergantikan oleh kecerdasan buatan. Walau beberapa jenis produk jurnalistik tak bisa dihasilkan oleh AI (investigasi, feature, dan lain-lain), namun hal tersebut cukup menggerus dunia kerja jurnalis manusia. 

Bahkan seorang pakar teknologi kecerdasan buatan di Amerika menyatakan bahwa perkembangan teknologi AI dalam jurnalisme akan terus digenjot untuk bisa melakukan kerja-kerja layaknya jurnalis manusia. 

Ungkapan pakar tersebut tentu saja masih bisa kita perdebatkan pada soal etis. AI tak mungkin memiliki kepekaan yang sama layaknya manusia pada bentuk laporan jurnalistik.

Masa Depan Jurnalisme

Sejarawan kondang pengarang dua buku superlaris, Yuval Noah Harari, mengatakan bahwa ancaman terbesar bagi spesies manusia di masa depan adalah otomaton bernama artificial intelligence, yakni komputer yang bisa berpikir sendiri.

Lebih jelas hal di atas ia tulis dalam buku Homo Deus (masa depan umat manusia) yang terbit setelah Sapiens (sejarah umat manusia ). Kedua buku tersebut menjelaskan dari mana manusia berasal dan ke mana mereka menuju.

Kini AI atau kecerdasan buatan cukup menginvasi teritori manusia pada beberapa bidang. Kerja-kerja yang sebelumnya dilakukan oleh para buruh atau pekerja kantoran kini disusupi oleh teknologi berbasis AI.

Bidang infrastruktur, otomotif, kesehatan, pendidikan, dan lainnya tak terlepas dari sentuhan kecerdasan buatan. Bahkan tak banyak yang menyadari bahwa smartphone dengan beragam aplikasinya pun disusupi kecerdasan buatan di dalamnya.

Kemajuan teknologi pada ranah jurnalisme berbanding terbalik dengan degradasi kompetensi keilmuan dan kesadaran para wartawan dalam menjalankan profesinya. Tak sedikit media-media daring yang berbasis di daerah merekrut wartawan tanpa memperhatikan aspek kualitas dan komitmen dalam menjalankan praktik-praktik jurnalisme.

Walau salah satu pendiri kampus jurnalistik di Inggris pernah berujar bahwa jurnalis tak lahir dari bangku perkuliahan, melainkan pengalaman.

Dewasa ini, bukan barang tabu bahwa beberapa media nasional pun lokal gencar dalam membangun komunikasi antar-pemilik media, politisi, dan korporasi, hingga berujung pada kehilangan jati diri dan independensi. Lalu pengalaman mungkin saja membentuk si wartawan hebat dalam menulis berita, namun tak lagi berpedoman pada kode etik profesinya.

Pemred Tribunnews, Dahlan Dahi, pada sebuah seminar, menyebut bahwa saat ini jurnalis menulis bukan untuk dibaca manusia, tapi memuaskan kriteria yang diminta mesin.

Ungkapan dari petinggi media yang beberapa kali masuk ranking teratas di Alexa tersebut jelas menuai kontra di kalangan akademisi, jurnalis, dan pemerhati media. Namun tak cukup salah jika merujuk pada perkembangan teknologi dan ketertarikan pembaca pada judul berita (clickbait) yang dibuat heboh dan memuaskan SEO Google. Maklum saja, posisi tertinggi pada mesin pencari Google tersebut jelas menasbihkan media menjadi raja dengan penghasilan iklan terbanyak.

Di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia, memiliki media dengan bantuan jurnalis robot (kecerdasan buatan) dalam memudahkan dan mengurangi cost produksi. Istilah "jurnalis robot" sendiri mulai muncul dari hasil teknologi kecerdaan buatan yang mampu melakukan kerja-kerja jurnalistik.

Perkembangan teknologi tak bisa dibendung dalam beberapa tahun ke depan, maka jurnalis dituntut untuk meningkatkan kompetensinya agar tak kalah dari robot hasil buatan manusia. Maka bisa saja bahwa artificial intelligence atau kecerdaan buatan menjadi ancaman atau kawan kerja manusia pada masa mendatang. Mari berkontemplasi!