“COLLAPSE” adalah suatu judul buku yang baru selesai diterjemahkan dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada Maret 2014 silam. Buku aslinya berjudul sama, COLLAPSE, ditulis Jared Diamond pada 2005.

Jared Diamond (77 tahun) saat ini adalah seorang profesor geografi di University of California, Los Angeles. Latar belakang pendidikannya bukanlah geografi, melainkan biokimia dan fisiologi.

Namun begitu, karier Diamond bersifat lintas bidang ilmu. Ia pernah berkarier dan berkarya dalam bidang fisiologi, biofisika, ornitologi, lingkungan, sejarah, ekologi, geografi, dan biologi evolusi. Beberapa buku sains populer pernah ditulisnya. Sebagian mendapatkan penghargaan.

Jared Diamond dalam buku ini mengantar pembacanya untuk melihat sebab-sebab runtuhnya peradaban masyarakat masa lalu. Semua tersebar ke dalam empat bagian, enam belas bab, dan tujuh ratus tiga puluh satu halaman. 

Memang terbilang tebal, tapi kosa kata yang digunakannya cukup mudah untuk dipahami. Oleh karena itu, saat sedang membacanya, saya seperti diajak berkeliling ke beberapa bagian belahan bumi.

Pada bagian pertama, ia mulai dengan membahas masyarakat modern yang terkena masalah lingkungan, yaitu negara bagian Montana di Amerika Serikat. 

Menurut pengamatan Diamond, masyarakat Montana punya masalah lingkungan yang memengaruhi populasinya. Dengan membaca kisah masyarakat Montana ini, diharapkan para pembaca bisa membayangkan bagaimana peradaban pada masa silam bila berhadapan dengan masalah lingkungan.

Baca Juga: Jaredian

Di bagian Dua, secara beruntun, penulis mulai membahas dengan detail satu per satu peradaban masyarakat masa lalu dan keruntuhan yang dialaminya. Dari bab ke bab di bagian, ia membahas keruntuhan peradaban di Pulau Paskah, Pulau Pitcairn, dan Henderson (gugusan pulau di Polinesia Tiimur), masyarakat pribumi Amerika Anasazi di Amerika Serikat Barat daya, peradaban masyarakat Maya, masyarakat prasejarah Nors di Tanah Hijau (Greenland).

Bagian Dua ini ditutup dengan membahas peradaban masyarakat yang berhasil mengatasi masalah keruntuhannya, yaitu Eslandia, Tikopia di dataran tinggi Papua, dan masyarakat Jepang Era Tokugawa.

Bagian Tiga buku ini kembali ke era modern. Diamond membahas empat negara dalam bagian ini; dua kecil, dua besar. Yang kecil adalah Rwanda yang merupakan bencana bagi Dunia Ketiga, lalu Republik Dominika, negara Dunia Ketiga yang sejauh ini dapat bertahan. Negara besar yang dibahas adalah raksasa Cina yang sedang berpacu membayangi Dunia Pertama dan masyarakat dari Dunia Pertama sendiri, Australia.

Rwanda adalah malapateka mengikuti Teori Malthus yang terjadi di depan kita. Kalau Anda pernah menyaksikan filmya yang berjudul ‘Rwanda’, kengerianlah yang terlihat. Rwanda overpopulasi, kelaparan, runtuh dalam pertumpahan darah mengerikan. 

Rwanda dan tetangganya, Burundi, bereputasi buruk karena kekerasan antaretnis suku-suku Hutu dan Tutsi. Namun Jared Diamond menunjukkan bahwa overpopulasi, kerusakan lingkungan, dan perubahan iklim menyediakan dinamit dengan kekerasan perang suku sebagai sumbu ledaknya.

Cina menderita masalah lingkungan modern dalam stadium lanjut. Karena Cina adalah raksasa dunia dalam luas wilayah, populasi, dan ekonomi, maka dampak lingkungan Cina bukan hanya berlaku bagi Cina saja, tetapi juga bagi seluruh dunia.

Bagian Empat buku ini adalah bagian penting untuk dibaca, tetapi kita akan kurang menghayatinya tanpa membaca tiga bagian sebelumnya. Di bagian ini, Jared Diamond mengemukakan pelajaran-pelajaran praktis bagi kita saat ini setelah memelajari runtuhnya peradaban masyarakat-masyarakat masa silam, dan masalah-masalah yang tengah dihadapi oleh beberapa negara modern saat ini.

Pada akhirnya, banyak pertanyaan yang muncul di benakku, misalnya apakah manusia benar-benar determinan terhadap alam? Dan, apa benar masyarakat masa lalu tidak bisa mengetahui dampak lingkungan yang akan terjadi?

Perihal pertanyaan terakhir itu, buat saya jadi bingung. Karena pada saat yang sama, peradaban dari suku bangsa masing-masing telah memiliki teknologi. Paling canggih, yakni alat yang digunakan untuk menyusun penanggalan, maya misalnya.

Selain itu, buku ini memberiku kesan bahwa alam mesti dipandang sebagai satu kesatuan yang tak terpisah dengan umat manusia. Interaksi kita padanya menentukan bagaimana nasib generasi manusia ke depannya.

Jika interaksi kita padanya buruk, maka alam akan mengancam kelangsungan hidup generasi umat manusia di masa mendatang. Begitulah kesan yang kurasa saat memasuki pertengahan buku ini.

Jujur, saat itu, saya nyaris menjadi seorang enviromentalis, seolah siap menentang setiap kebijakan manusia yang tak menjaganya. Namun, apakah penulis buku ini bermaksud demikian? 

Yang saya temui, Jared Diamond, selaku penulis buku ini, telah mengatakan bahwa dirinya bukanlah enviromentalis. Penulis, selain berhasil mengantarkan imajinasiku seolah sedang menyaksikan kehidupan masyarakat masa lalu, ia juga berhasil membuatku skeptis.

Hal ihwal yang sempat membuatku skeptis sesaat setelah membaca buku ini datang dari pertanyaanku sendiri, apa benar manusia determinan terhadap alam? 

Untuk keluar dari skeptis yang saat itu kualami, saya melakukan komparasi dengan beberapa pandangan ahli perihal pertanyaan di atas. Setidaknya yang kutemui dan tampak jauh berbeda, yakni datang dari buku berjudul “Mengapa Negara Gagal” karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson.

Dalam buku tersebut, terang bahwa faktor gagalnya satu negara tak melulu bergantung pada kondisi geografisnya, melainkan juga bergantung pada institusi ekonomi dan politiknya. Menurut Daron Acemoglu dan James A. Robinson, jika kedua institusi tersebut berjalan dengan ekstraktif, maka dapat dipastikan negara tersebut sedang bergerak menuju kehancuranya. Sebagai contoh, Uni Soviet. 

Selain itu, pandangan lain yang saya temui datang dari Arnold Toynbee (1961). Ia berpendapat bahwa punahnya peradaban diakibatkan oleh faktor-faktor internal bersifat sosial di dalam peradaban itu sendiri.

Mungkin itulah sebabnya mengapa Jared Diamond memasukkan faktor politik dan sosial ke dalam lima faktor yang memengaruhi kelestarian dan keruntuhan suatu peradaban, selain Serangan oleh masyarakat tetangga yang bermusuhan, sokongan dari masyarakat tetangga yang bersahabat, perubahan iklim, dan dampak-dampak lingkungan manusia. 

Kelima faktor tersebut merupakan konklusi hasil riset Jared Diamond dari peradaban yang telah runtuh. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manusia tidak determinan terhadap alam.

Selain itu, kerusakan lingkungan masyarakat masa lalu dibagi ke dalam delapan bagian, yakni penggundulan hutan, penghancuran habitat, masalah tanah (erosi, penggaraman dan kesburuan), pengelolaan air, perburuan berlebihan efek spesies hewan yang didatangkan, pertumbuhan populasi manusia, dan peningkatan dampak perkapita manusia. 

Kedalapan faktor di atas sebagaimana yang terdapat dalam buku itu disinyalir sebagai sebab kehancuran ekologi sebagai awal mula keruntuhan peradaban sebagai salah satu faktor dari lima faktor sebelumnya.

Buku ini memang mengisahkan sejarah masyarakat masa lalu, dan sebagaimana yang saya pahami bahwa sejarah adalah salah satu sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, buku ini penting untuk masyarakat hari ini. Selain itu, fakta yang dituliskan dalam buku ini telah terkonfirmasi secara akademik, misalnya dalam ilmu arkeologi, klimatologi, sejarah, paleontologi, dan palinologi.

Dengan berkembangnya peradaban manusia, kini tentu berbeda dengan masa lampau, namun akankah kita akan menemui kehancuran sebagaimana masyarakat masa lalu alami? 

Untuk menjawab soal ini, teori institusi ekonomi dan politik yang inklusif dari James A. Robinson dan Daron Acemoglu lebih relevan. Sebab, dalam konsepsi bernegara dewasa ini, pembagian kerja ke seluruh sendi kehidupan menjadi objek garapannya, tak terkecuali alam dan yang berkaitan dengannya.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Sebagai bangsa yang berketuhanan yang maha esa dan berkemanusiaan yang adil dan beradab, menarik untuk kita pertanyakan; mengapa baru-baru ini banjir melanda beberapa tempat di negeri ini? 

Banyak yang mengatakan “banjir diakibatkan oleh intensitas hujan yang tinggi”. Apakah hanya itu? Sepaham saya, banjir terjadi karena penyerapan tanah tertutupi oleh beton-bangunan manusia, sehingga menghalangi sifat air yang senantiasa mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Jawaban di atas itu dasar spiritnya sama dengan ungkapan Descartes: Cogitu Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada). Kenapa? Karena mengantarkan kita pada cara pandang bahwa pohon bukanlah makhluk hidup karena ia tak berpikir. 

Dengan begitu, manusia dengan eksistensinya menegasi makhluk hidup yang lainnya. Kuduga inilah yang terjadi pada alam-pikir kapitalisme; tak memandang alam sebagai makhluk hidup. Akibatnya, eksploitasi dilangsungkan sebagaimana film documentary Sexy Killers paparkan.

Apakah dengan keberpikiran manusia yang semacam itu membawa kebaikan bagi alam? Tentu tidak. Faktanya, makin canggih peradaban manusia, makin sering pula alam tereksploitasi, bahkan peperangan di timur tengah didorong oleh nafsu eksploitasi alam. 

Poin yang hendak saya sampaikan adalah penetrasi matrealism-kapitalis di Indonesia menggerus pandangan dunia masyarakat Indonesia yang erat kaitannya dengan religiositas bahkan nyaris menggerus ideologi Pancasila. Akibatnya, UUPA, UU MINERBA, dan UUPPLH dibuat tak senapas dengan Pancasila serta UUD 1945.

Parahnya, kini AMDAL akan dihapuskan untuk memuluskan visi indsutrialisasi Jokowi-Ma’ruf. Jika ini tak dihentikan, 10 Tahun ke depan di Indonesia mungkin tak hanya banjir saja yang terjadi. Akankah Indonesia mengalami nasib sama seperti suku-bangsa masa lampau?