“Merantaulah! Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman” adalah petuah bijak yang saya peroleh dari hasil membaca pada sebuah novel karya Rio Alfajri yang berjudul Merantau! Tinggalkan Zona Nyamanmu!

Selepas dari itu, merantau seakan memberitahukan kita bahwa kehidupan yang sebenarnya penuh dengan tantangan. Orang yang merantau bisa dikatakan terbiasa dalam situasi ini. Hal ini tetap mereka jalani sebagai jembatan untuk memperoleh kesuksesan.

Seperti halnya kedatangan para perantau di Desa Karangampel, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang notabene kampung halaman dari si penulis. Penduduk asli Desa Karangampel bermata pencaharian sebagai petani. Sebagaimana yang disampaikan Sartono Kartodirjo (1976) dalam Sejarah Pedesaan dan Pertanian.

Dalam tulisannya terebut, Sartono menjelaskan bahwa pertanian mempunyai peranan penting bagi kebutuhan masyarakat sebelum terjadinya perkembangan industri. Meskipun demikian, kedatangan para perantau tetap disambut baik oleh masyarakat Desa Karangampel.

Sempat terpikirkan oleh saya untuk menemui salah seorang perantau yang ada di Desa Karangampel. Beruntungnya bagi saya, setelah salah seorang kawan meminta tolong untuk menemaninya membeli sepatu. Akhirnya, saya mengiyakan hal tersebut. Karena setahu saya bahwa pemilik toko Bagcrown adalah orang Padang.

Hermawan, pemilik toko Bagcrown merupakan perantau asal Padang, Sumatra Barat. Menurutnya, tujuan merantau di Desa Karangampel tidak terlepas dari kebiasaan adat Minangkabau. 

Irdam Huri dalam Filantropi Kaum Perantau: studi kasus kedermawanan sosial organisasi perantau sulit air (SAS), Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Dalam studinya, Irdam Huri berpendapat bahwa pada Masa kolonial Belanda, merantau sudah melembaga pada kehidupan sosial masyarakat Minang.

Lebih lanjut, Hermawan mengartikan merantau adalah bagian dari hijrah. Merantau bagi masyarakat Minang adalah sebuah keharusan terutama bagi para lelaki. 

Seperti halnya pendapat Mochtar Naim, seorang antropolog dan sosiolog Indonesia bahwa munculnya fenomena merantau (pada etnis Minang) bersamaan dengan berkembangnya sistem matrilineal. Dalam studinya beliau juga mengatakan, merantau juga dianggap sebagai upaya memperbaiki kehidupan ekonomi dan memperoleh kematangan hidup, serta mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Hermawan mengatakan bahwa kedatangan perantau asal Minang diperkirakan sudah ada pada tahun 1975-an di Desa Karangampel. Selama kurun waktu tersebut belum pernah sakalipun mendengar permasalahan atau konflik yang melibatkan etnis Minang terutama yang bermukim di Desa Karangampel. 

Hal yang menarik berikutnya adalah adanya nilai adat yang harus ditanamkan pada saat orang Minang merantau, yaitu “dimano bumi dipijak disinan langit dijunjung”. Hal ini yang kemudian menjadi pedoman bagi etnis Minangkabau yang merantau. 

Memang yang menakutkan dalam merantau adalah konflik. Penting bagi mereka (perantau) beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tujuannya agar terhindar konflik. 

Menjembatani pandangan Nasikun (1995:6), bahwa untuk menyelesaikan konflik, perlu adanya jiwa dan peningkatan semangat gotong royong serta mengilhami jiwa dan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Semoga jiwa dan semangat itu terus terjaga bagi penduduk Indonesia yang sedang dalam migrasi. Termasuk di dalamnya etnis Minangkabau yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai adatnya.

Sekalipun kedatangan awalnya tidak langsung menjadi pedagang besar seperti bisa kita temui dewasa ini, hal ini tidak menyurutkan semangat mereka, karena mereka mengetahui apa yang seharusnya mereka lakukan. Tentu, tujuannya adalah mencari kesuksesan di tanah perantauan. Bahkan, setelah sukses pun orang Minang masih menaruh perhatian terhadap masyarakat. 

Merantau seakan menyadarkan kita akan pentingnya menghargai satu sama lain. Apalagi negara Indonesia merupakan negara beragam suku dan budaya. Perlunya kita mencontoh sikap tersebut untuk merantau di tanah orang. Meskipun dari salah satu etnis atau suku ada yang mendominasi, tetapi tidak memperlakukan deskriminasi pada etnis minoritas melainkan merangkul satu sama lain.

Pentingnya meningkatkan rasa kesatuan antra warga negara. Hal ini yang berusaha disampaikan penulis bahwa kita tidak boleh memaknai peristiwa atau isu hanya bertumpuh pada satu sudut pandang. Seperti halnya kita menilai orang yang merantau adalah orang yang ingin memperoleh keberuntungan di tanah orang dalam arti ingin memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Dan melupakan segala sesuatu yang telah diberikan bagi kelangsungan dan perkembangan desa.

Tidak berhenti sampai di situ, dengan kedatangan etnis Minangkabau sedikit demi sedikit mengubah aktivitas ekonomi, bahkan mampu mepngubah wajah desa. Mula-mula penduduk desa bermata pencaharian sebagai petani, lambat laun mengalami perubahan yang signifikan terutama kebiasaan masyarakat yang konsumtif dan mengarah ke desa Industri.

Oleh karena itu, tidak salah jika penulis melihat etnis Minangkabau memainkan peran dalam proses mobilitas ekonomi di Desa Karangampel, Kabupaten Indramayu. Bahkan menjadi faktor penentu bagi kelangsungan ekonomi desa. 

Hampir sepanjang jalan, pertigaan jalan raya Karangampel pada beberapa toko dimiliki perantau asal Padang. Tetapi, dengan nilai adat yang diterapkan, mengharuskan mereka menyesuaikan diri dan menghindari konflik terutama dengan masyarakat sekitar. 

Orang Padang di Desa Karangampel memberikan kelonggaran bagi masyarakat sekitar untuk ikut berjualan di depan halaman toko tanpa adanya uang sewa sebagai bentuk kedermawanannya.