Mahasiswa
11 bulan lalu · 285 view · 10 menit baca · Cerpen 51351_90246.jpg
Dokumen Pribadi

Arti Mahkota Keabadian

Hujan yang turun dengan sangat deras di penghujung senja seolah enggan menyingkap keanggunan Aurora di langit Andromeda. Namun entah kenapa, kehangatan seolah terpancar dari sepasang hati yang tengah membara dalam api cinta keduanya. Mereka adalah Putri Cantik titisan Dewi Ular, dan Pangeran Rupawan dari Kerajaan Maha Ular. Hati keduanya benar-benar sudah terpaut hingga tak jarang mereka menghabiskan waktu berdua menelusuri kerajaan yang luas tersebut.

"Putri, terimakasih ya karena kamu sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi bagian dari hidup mu," Bisik Pangeran Rupawan.

"Jangan berkata seperti itu Pangeran, aku pun senang karena kamulah yang akhirnya menjadi bagian dari hidup," Belum sempat Putri Cantik itu menyelesaikan kalimatnya, Api Jingga (Pengawal Putri Cantik) pun datang dengan raut panik yang tak lagi tersembunyikan.

"Tuan Putri! Tuan Putri!"

"Kenapa Api Jingga? Apa yang terjadi?"

"Sang Dewi meminta ku untuk mencari Tuan Putri." Tanpa berpikir panjang, Putri Cantik pun mengikuti Api Jingga dan juga ditemani oleh Pangeran Rupawan.

"Pangeran, sebaiknya kamu pulang saja."

"Kenapa? Bukankah selama ini aku juga yang selalu mengantarkan mu pulang?"

"Ya, tapi kali ini aku akan pulang bersama dengan Api Jingga."

"Hhfftttt. Ya sudah, berhati-hatilah," Sahut Pangeran meski merasa berat.

"Hm."

***

"Siapa laki-laki itu Tuan Putri?" Tanya Sang Dewi saat Putri Cantik sudah berdiri tepat dihadapannya.

"Di..di..dia adalah Pangeran Rupawan dari Kerajaan Maha Ular, Dewi."

"Kenapa Peta Biru (Mata-mata Kerajaan) mengatakan bahwa kamu sering sekali menghabiskan waktu dengannya?" Sang Dewi Ular yang terlihat tenang dan penuh wibawa itu pun menanyakan persoalan yang kian intens pada Putri sulungnya.

"A..aku..aku mencintai Pangeran Rupawan, Dewi. Aku menginginkan Pangeran menjadi teman hidupku selamanya."

"Benarkah? Lalu bagaimana dengan laki-laki itu? Apakah dia memiliki keinginan yang sama?"

"Benar Dewi."

"Sudahkah kamu berpikir tentang hal ini matang-matang putriku? Apa semudah itu Putri Cantik titisan Sang Dewi Ular di kerajaan ini memberikan hatinya pada laki-laki?"

"Maaf Dewi, tapi aku sudah memikirkan semuanya sejak awal aku mengenal Pangeran Rupawan."

"Hhhffttt. Baiklah, kalau begitu, temui aku bersama dengan Pangeran saat Bulan Purnama Penuh nanti."

"Baik Dewi."

***

"Bawa Pangeran Rupawan masuk!" Instruksi Sang Dewi Ular pada Peta Biru saat Bulan Purnama Penuh tiba.

"Saya Pangeran Rupawan dari Kerajaan Maha Ular Dewi," Ucap Pangeran sembari mendekati singgasana lalu memberi hormat.

"Hm. Benar kamu mencintai Tuan Putri?" Putri Cantik pun seketika tertunduk.

"Benar Dewi."

"Kamu tau, bahwa Tuan Putri adalah harta Sang Dewi Ular yang paling berharga bukan?"

"Saya tau Dewi."

"Apa kamu sudah benar-benar yakin ingin menjadikannya pendamping hidup mu?"

"Saya yakin, Dewi."

"Seberapa besar cinta mu pada putriku?"

"Bahkan saat Bulan Purnama itu aku sandingkan dengan kerajaan Ayahku, dan juga kerajaan Sang Dewi, maka cintaku pada Tuan Putri terlihat lebih jelas karena lebih besar," Sahut Pangeran Rupawan mantap.

"Haha. Jawaban mu terdengar menyakinkan sekali Pangeran. Jika memang begitu, tentu saja aku bisa mengajukan satu syarat bukan?"

"Jika saya boleh tau, syarat apa itu Dewi?"

"Ada sepasang Mahkota Keabadian milik kerajaan yang sengaja aku tanamkan di Kaki Langit ke Tujuh. Kamu dan Tuan Putri hanya akan bisa bersanding dan hidup selamanya setelah masing-masing mendapatkan Mahkota Keabadian tersebut," Terang Sang Dewi tanpa basa-basi.

"Bagaimana cara aku bisa menemukannya Dewi?"

"Cahaya. Saat kamu sudah melihat sebuah cahaya, maka kamu akan mendapatkan petunjuk menuju Kaki Langit ke Tujuh."

"Baik Dewi. Aku akan menemukan Mahkota tersebut, dan kembali menemui Sang Dewi."

"Lakukan yang terbaik. Misi ini tidak hanya untuk mu, tapi juga untuk putriku."

"Baik Dewi."

***

Satu bulan berlalu..

Tampaknya udara dingin harus terlebih dahulu memberikan salam hormat pada Sang Dewi Ular pagi itu. Entah kenapa, Putri Cantik seperti tengah memikirkan sesuatu hingga ia tidak menyadari bahwa Sang Dewi sudah berdiri tepat di sampingnya.

"Kamu bangun lebih awal pagi ini? Kenapa? Apakah udaranya sangat dingin?" Tanya Sang Dewi tanpa menoleh.

"Hh!! De..Dewi. Maafkan aku Dewi." Putri Cantik tertunduk.

"Ada yang mengganggu pikiran mu putriku?"

"Ti..ti..tidak Dewi."

"Bagaimana? Apakah kamu dan Pangeran sudah menemukan Cahaya petunjuk?"

"Se..se..sebenarnya, aku sudah menemukan Cahaya itu. Hanya saja, Pangeran belum menemukannya. Saat aku berencana mengajak Pangeran untuk mencari Mahkota itu bersama-sama, Pangeran seketika terpaku di bumi. Ia bahkan tidak bisa bergerak sama sekali," Terang Putri Cantik dengan raut kebingungan.

"Taukah kamu putriku, Cahaya itu hanya akan bisa dilihat oleh pasangan Ular yang bersungguh-sungguh," Ucap Sang Dewi dalam hati.

"Kamu mau ikut dengan ku?"

"Kemana Dewi?"

"Aku akan mengajarkan mu bertahan di dalam air."

"Ta..ta..tapi untuk apa Dewi?"

"Sudah ikut saja."

"Hm."

"Lebih dari sekedar lumayan bukan, menghangatkan diri di danau ini?" Tanya Sang Dewi saat mereka sudah mulai merendamkan tubuh masing-masing di Danau Aurora.

"Benar Dewi. Tapi kenapa Sang Dewi mengizinkan ku mandi di danau ini? Bukankah danau ini adalah danau kesayangan Dewi?"

"Tuan Putri, salah satu hal yang amat spektakuler dari danau ini adalah, menyembunyikan aroma Sang Dewi Ular, beserta titisan-titisannya."

"Benarkah? Tapi, untuk apa kita menyamarkan aroma kita?"

"Suatu saat kamu akan tau."

***

"Aku tidak bisa Putri. Aku bahkan tidak bisa bergerak sama sekali," Sahut Pangeran Rupawan sembari menggerak-gerakkan tubuhnya diatas tanah Kerajaan Maha Ular.

"Tapi kenapa Pangeran? Bukankah ini sudah satu bulan lebih satu minggu kita berdua menyanggupi syarat dari Ibuku?"

"Aku tidak tau, mungkin karena aku belum menemukan Cahaya itu dengan sendirinya."

"Aku akan membantu mu Pangeran. Dan jika memang kamu tidak menemukannya, kita bisa pergi bersama-sama."

"Aku ingin Putri, aku bahkan sangat amat ingin pergi dengan mu walau belum berhasil melihat Cahaya itu. Namun disetiap kita merencanakannya, kamu bisa lihat sendiri apa yang terjadi padaku. Tubuhku seakan terpaku dan tidak bisa kemana-mana."

"Lalu sampai kapan kita akan seperti ini Pangeran?" Suara Putri Cantik mulai terdengar bergetar. Butir-butir kekhawatiran terlihat jelas bergelayut di pelupuk matanya.

"Tolong, jangan menangis. Jangan buang air mata ketulusan itu disaat aku tidak berdaya seperti ini. Aku tidak sanggup melihat mu bersedih sedang aku tidak bisa berbuat apa-apa."

"Tapi aku sangat mencintai mu Pangeran."

"Aku juga sangat mencintai mu. Bahkan kamu adalah hal terindah yang bahkan sekedar memimpikannya aku merasa tidak pantas."

"Lalu kenapa sampai saat ini tidak ada kemajuan apa-apa untuk hubungan kita."

"Maafkan aku Putri. Aku benar-benar minta maaf. Sampai detik ini pun aku masih berusaha untuk melakukan yang terbaik."

"Tuan Putri! Tuan Putri!" Lagi-lagi Api Jingga menghentikan perbincangan mereka dengan nada seperti itu. Dengan segera, Putri Cantik menyeka air mata yang sejak tadi sudah berlomba-lomba menuju lantai.

"Apa yang terjadi Api Jingga?"

"Mari ikut dengan ku Tuan Putri?" Putri Cantik sempat merasa enggan untuk meninggalkan Pangeran, namun tidak mungkin Api Jingga memintanya untuk meninggalkan Pangeran jika itu bukanlah sesuatu yang penting. Tanpa berpikir panjang, Putri Cantik pun akhirnya meninggalkan Pangeran begitu saja.

***

"Ss..ss...sakit Bu, hentikan aku mohon," Lirih Putri Cantik saat dirinya tengah terlilit kasar oleh tubuh Sang Dewi Ular.

"Kenapa sampai detik ini kalian berdua membuang-buang waktu besama? Bukankah sudah aku katakan bahwa kalian berdua hanya akan bisa bersanding dan hidup selamanya setelah mendapatkan masing-masing Mahkota Keabadian itu? TUAN PUTRI!!!!!! Tidakkah kamu menghargai aku??" Sang Dewi merasa bahwa dirinya sudah tidak lagi dihargai oleh putrinya sendiri.

"Maafkan aku Dewi. Tapi sampai detik ini, Pangeran masih belum bisa menemukan Cahaya itu. Bahkan baru saja aku meninggalkannya dalam keadaan tak berdaya di Kerajaan Maha Ular."

"TUTUP MULUTMU!!!" Teriak Sang Dewi sembari melempar tubuh putrinya hingga terpelanting menyentuh dinding ruangan.

"Hh..hh.." Putri Cantik terlihat sangat ketakutan. Ia bahkan tidak pernah melihat Ibunya semurka itu.

"KELUAR!!!!"

***

"Selamat pagi Tuan Putriiiiiiii," Sapa Api Jingga sembari memeluk erat Tuannya pagi itu.

"Apakah tidur mu nyenyak?"

"Aku bahkan tidak bisa tidur sejak tadi malam."

"Sang Dewi meminta mu untuk menemui nya di Danau Aurora pagi ini."

"APA?? HH..HH.. Aku harus bagaimana? Api Jingga, katakan aku harus bagaimana? Menurut mu apakah Ibu ingin membunuh ku?"

"Aku tidak tau bahwa seorang Tuan Putri bisa tolol seperti ini," Aku Api Jingga dengan raut tak bersalah.

"Hhhffftttt. Aku akan menemui Ibu. Apa pun yang ia katakan, aku akan tetap diam dan mendengarkannya tanpa mengelak sama sekali. Tolong doakan aku Api Jingga. Hhhffttt!!"

Dengan langkah gontai, Putri Cantik berjalan menuju Danau Aurora.

"Selamat pagi Dewi," Sapa Putri Cantik.

"Mendekatlah Tuan Putri. Aku akan mengajarkan mu sebuah permainan di dalam air. Anggap saja ini ujian atas latihan yang selama ini aku berikan."

"Permainan apa Dewi?"

"Siapa yang lebih dulu tertidur didalam air, dan tertidur lebih lama, maka dia adalah pemenangnya."

"Tentu saja aku akan menjadi pemenangnya, bahkan aku belum tidur sejak tadi malam," Aku Putri Cantik dengan raut yang tiba-tiba bahagia.

"Kalau begitu, mulai!"

Benar saja, rasa kantuk dan lelah yang teramat sangat menjadikan Putri Cantik tertidur lebih dulu begitu saja di dasar danau. Bahkan Sang Dewi sama sekali tidak kesulitan untuk melilit tubuh putrinya dengan tanaman lumpur.

"HH!! Dimana Tuan Putri, Sang Dewi?" Tanya Api Jingga panik saat Sang Dewi muncul dari danau dengan sendirinya.

"Aku sengaja menyembunyikannya di danau."

"Ta..tapi untuk apa Dewi?"

"Aku hanya ingin melihat kesungguhan Pangeran Rupawan saat kehilangan jejaknya. Dan kamu, jika Pangeran menanyakan keberadaan Tuan Putri, katakan saja bahwa kamu tidak mengetahuinya!"

"Ba..ba..baik Dewi."

***

Aroma kegelisahan tercium dengan mudahnya di Kerajaan Maha Ular sejak Tiga hari yang lalu. Pangeran Rupawan tidak berhasil menemui Putri Cantik. Bahkan aroma gadis yang dicintainya itu pun pudar begitu saja. Bahkan berkali-kali ia memohon Api Jingga agar memberi taunya, pengawal itu sama sekali tidak memberikan petunjuk apa-apa.

"HH!! Aroma itu, aroma itu. Bukankah itu aroma Tuan Putri!!" Ucapnya tiba-tiba.

***

"Apa yang terjadi padaku Api Jingga? Kenapa Ibu selalu mengajakku bermain di dasar danau, dan setelah aku tertidur Ibu melilit ku dengan tanaman lumpur?" Tanya Putri Cantik baru saja keluar dari Danau Aurora.

"A..a..aku tidak tau Tuan Putri."

"Hm. Aneh."

"Putri? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Pangeran yang seketika muncul dihadapan Putri Cantik.

"HH! Pangeran?"

***

Sang Dewi kian geram sudah menyaksikan apa yang terjadi beberapa minggu terakhir. Misinya menyembunyikan Putri dari Pangeran selalu saja gagal. Saat ia berhasil membuat Putri Cantik tertidur di dasar danau, dalam Dua, Tiga hari Putri Cantik akan terbangun lalu muncul kepermukaan hingga Pangeran kembali berhasil menemukan jejaknya.

"Apa lagi yang harus aku lakukan demi mengetahui kesungguhan Pangeran Rupawan terhadap putriku? Tuan Putri bahkan sudah menemukan Cahaya itu berkali-kali sedang Pangeran sama sekali belum menemukannya?" Tanya Sang Dewi sedang Peta Biru hanya berdiri penuh kesetiaan sembari mendengarkan Tuannya.

"Tuan Putri, kenapa sampai detik ini kamu masih saja tidak bisa paham Nak? Semua yang aku lakukan adalah untuk kebaikan kamu dan juga Pangeran. Apa lagi yang harus aku lakukan?"

Ditengah-tengah kebingungan Sang Dewi, ada jiwa yang tak kalah kebingungan di bibir Danau Aurora.

"Apa jangan-jangan, ini semua adalah maksud dan tujuan Ibu? Jika benar, maka kali ini aku sendiri yang harus membuktikannya." Dengan segenap rasa yakin, Putri Cantik pun masuk kedalam danau dan melilit tubuhnya sendiri dengan puluham tanaman lumpur.

"Pangeran, jika benar kamu bersungguh-sungguh atas cinta yang selama ini kamu ucapkan, kamu harus membuktinya Pangeran. Jangan kecewakan aku, karena aku adalah perempuan yang sudah teramat sering dikecewakan."

***

"LEBIH BAIK MATI DARI PADA MENJADI LAKI-LAKI YANG TIDAK PUNYA KESUNGGUHAN!!!" Bentak Sang Ayah sembari menghantam tubuh putranya, Pangeran Rupawan.

"Tapi Ayah,"

"Sudah Dua minggu Pangeran! Dua minggu sudah kamu kehilangan jejak Putri Cantik, bahkan kamu tidak tidur dan tidak makan karenanya, kenapa sampai detik ini kamu masih tidak mengambil tindakan apa-apa!"

"Ayah, aku.."

"Berhenti dengan omong kosong itu!! Tidakkah kamu tau perempuan seperti apa Putri Cantik? Sudah sepantasnya gadis seperti dia kamu perjuangkan mati-matian untuk menjadi Ibu dari anak-anak mu!!"

"Aku.." Pangeran seketika lemah tak berdaya. Apa yang ada didalam pikirannya selama ini. Siapa dirinya hingga berani menelantarkan Putri Cantik sekian lama? Penyesalan seketika menggerogoti tubuhnya.

"Pergilah!! Jika memang gadis itu, perjuangkanlah cintanya, dan cinta mu!!" Tambah Ayahnya kemudian.

Dengan segenap keyakinan, kekuatan dan rasa cinta yang dimilikinya, Pangeran Rupawan pun melangkah meninggalkan Kerajaan Maha Ular. Kali ini, ia harus mendapatkan Mahkota Keabadian itu, dan menebus semua rasa bersalahnya terhadap Putri Cantik dengan membahagiakan gadis itu.

"Cahaya apa itu?" Bisik Pangeran dalam perjalanannya.

***

Empat bulan penuh perjalanan yang dilalui oleh Pangeran Rupawan menuju Kaki Langit ke Tujuh tanpa sosok Putri Cantik disisinya. Ia bahkan sudah berhasil membawa sepasang Mahkota Keabadian ke hadapan Sang Dewi. Sang Dewi pun tersenyum puas meski sedikit terlambat, Pangeran Rupawan sudah memperlihatkan kesungguhan cintanya pada Putri Cantik.

"Kemarilah putriku, akan aku kenakan Mahkota ini untukmu," Ucap Sang Dewi. Begitu juga saat Sang Dewi meletakkan Mahkota yang satunya di kepala Pangeran. Malam itu, keduanya resmi menikah dan menjadi pasangan yang berbahagia sepanjang hidup mereka.