1 tahun lalu · 203 view · 7 menit baca · Keluarga 80070.jpg
https://www.facebook.com/mr.ars?fref=ts

ARS, Sang Pembabat Alas
Penculik yang Mengenalkanku pada HMI

          Entah mengapa, kekagumanku padanya, tak pernah surut. Gayanya, caranya bercanda, nada tertawanya, ritme kepemimpinannya, kecerdikan akalnya, daya adaptifnya, licinnya. Semua menyiratkan tanda-tanda calon Politisi masa depan.

          Dulu, waktu Aku masih bau kencur. Masih mahasiswa baru, lugu, dia ‘’menculikku’’. Berkat dia, Aku menjadi kader HMI. Berkat dia, Aku terperosok ke dalam lembah pergerakan. Berkat dia pula, bibit-bibit Pemrotes dalam diriku tumbuh subur. Pokoknya, tanpanya, Aku mungkin sudah menjadi mahasiswa culun. Tiap hari nenteng buku tebal, nongkrong di Perpus, usai kuliah langsung pulang, dan pukul 21;00 WIB wes mapan turu.

          Bagi kami dulu, sekumpulan mahasiswa apatis, Pendobrak adalah sosok yang aneh. Seorang Pelopor, dia yang menerobos mainstream civitas akademika. Kami bergabung di organisasi, menjadi kader, lalu mengkader, dan mencetak bibit-bibit baru untuk sebuah misi yang lebih luas. Ya, Aulia Rachman Siregar adalah seorang yang dengan PD-nya, membangun sebuah komisariat HMI di kampus yang mahasiswanya hampir beku.

          Kini, enam tahun sudah, pascaperistiwa ‘’penculikan’’ tersebut. Dia, masih seperti yang dulu. Hanya kumis, jenggot dan kuantitas berat badannya yang mengembang. Mengingat kejadian enam tahun silam, Aku teringat istilah Jawa ‘’babat alas’’. Yaitu seseorang, yang karena tidak puas dengan keadaan yang ada, nekad membuka arus baru demi kehidupan yang lebih baik.

          ‘’Alas’’ atau hutan, ibarat keadaan yang tak tertembus. Karena hutan adalah bukan jalan, maka seseorang yang membabat, menjadikannya jalan, menjadi pelopor pembuka arus baru di suatu lingkungan. Ini mirip seperti seorang desa, yang bosan hidup miskin. Lalu pergi merantau ke kota mengejar kesuksesan. Dia menjadi Pendahulu dan Perintis.

Dari keberhasilannya tersebut, Dia pelan-pelan menarik, mengajak, membantu dan memberi jalan bagi Pemuda di desanya untuk merantau sepertinya. Alas yang di-babat atau ditebangi, menjadi jalan baru bagi terwujudnya cita-cita baru. Babat alas, juga terobosan menuju kesadaran baru, cara berpikir baru dan cara menjalani kehidupan dengan metode tidak kuno.

Sejak Aku rajin membaca berbagai jenis buku dari berbagai macam sumber, aliran, sekte dan ideologi, bibit fanatik dan radikalisme dalam diriku, punah. Tapi, ada pengecualian. Ada beberapa yang tersisa dan masih tumbuh, yaitu semangat menjalin Persahabatan dan Persaudaraan. Seseorang yang ku nilai baik dan pernah berjasa padaku, bila disakiti oranglain, Aku akan membelanya dengan darahku.

Aku memang bukan tipe Sahabat yang hangat. Aku tidak pernah memberi hadiah, jarang mentraktir orang, tidak seheboh ibu-ibu yang ketemu rekan arisannya, tidak pandai basa-basi, dingin dan miskin selera humor. Tapi, dibalik kesunyian yang tampak dari sorot mataku, sesungguhnya Aku menyayangi, menjaga, memantau dan mengikuti kabar orang-orang yang ku kagumi.

Entah dengan cara apa Aku harus berterimakasih padanya. Aku yang dulu, seorang kaku, radikal dan temperamen. Setelah dikader olehnya, tiba-tiba menjadi bunglon yang cerdik, artinya makin pandai beradaptasi. Dulu, Aku berpikir, semua orang yang bersinggungan denganku, harus menyesuaikan diri denganku. Akhirnya Aku sadar, Kita tidak akan pernah bisa mengubah sesuatu yang ada diluar diri kita.

Aku yang dulu, begitu tekun menyimpan dendam dan kebencian. Sekali seseorang membuatku kecewa atau malu, selamanya ku ingat-ingat terus kesalahannya.

Bahkan, dulu, sertifikat Ujian Keagamaan dari SMA, ku sobek, ku bakar tepat tiga jam setelah ku terima dari guru dipanggung wisuda. Hanya karena selama Ujian Praktik, Guru tersebut terus saja menghinaku karena tidak hafal beberapa surat dalam Juz Amma. Waktu itu, segalanya menjadi alot, keras dan serba sumbu pendek. Saat ada masalah, pertimbangan yang ada dalam diriku hanya tentang darah, hidup atau mati.

Kini, usai dia mengkaderku, Aku menjadi seorang yang meski menurutku tidak bisa disebut sebagai orang baik, menjadi jauh lebih mendingan. Dari sana, Aku menaruh orang-orang yang berjasa dalam hidupku ke dalam kotak-kotak spesial perasaanku. Orang-orang baik, ku jadikan sahabat dan teman. Aku menyayangi mereka, meski hanya dari jauh dan dengan cara yang sunyi.

Tanpa banyak kata, ku rindukan caranya bicara, tawanya, kegilaannya, kabarnya. Ku catat baik-baik momen penting bersamanya. Penghormatanku padanya, juga sekaligus kekhawatiranku padanya tatkala dia sakit, atau sedang disakiti, dihianati oranglain. Orang-orang yang berani menggores luka dihati sahabatku, ku tandai orangnya. Ku catat baik-baik wajah dan nama, orang yang berani-beraninya membuat hati sahabatku sedih.

Aku bukan tipe Pendendam. Aku tidak suka memperpanjang seteru. Tapi, Aku pun tidak terima, bila Sahabat dan orang yang ku kenal, disakiti oranglain. Sejauh yang telah ku resapi dalam hidup ini, tiada yang lebih berharga daripada persahabatan. Kecintaanku pada persaudaraan, juga sekaligus berani habis-habisan membela Sahabat. Bersahabat tanpa solidaritas, hanya sekumpulan mayat hidup-bergerak di jalan yang kebetulan searah.

Aku tidak menguasai harta dan uang. Caraku membalas jasa orang-orang yang baik, saat ini hanya sebatas menanyakan kabar, mampir ke rumahnya, mengajaknya nongkrong dan makan bareng. Menanyakan apakah punya masalah atau tidak. Menegurnya bila salah. mengkritiknya bila sudah ada tanda-tanda keluar dari rel kebenaran. Juga sekaligus memusuhi orang-orang yang menyakiti, menghianati dan membohongi Sahabat-sahabatku.

Bang Aul. Seperti itulah Aku menyapanya. Pola dan caranya mengkader diriku, membuatku ingin selalu mendengar ajaran-ajarannya. Tapi sayang, waktu, tuntutan dan tantangan yang berubah cepat, membuat kami jadi jarang bertemu. Akhirnya, keadaan memaksa kita untuk hidup dalam lorong waktu, yang dipisah oleh lajur-lajur jalan kehidupan yang tidak sama.

Dia, saat ini menjabat di Kepala Bidang di sebuah struktur kepengurusan wilayah dalam tubuh HMI. Aku senang sekali mendengarnya. Dengan dia yang makin menanjak, Aku terus mengaguminya dari bawah. Dari jauh, Aku selalu menanti terobosan baru yang akan dia gulirkan. Dalam kehidupan yang begitu-begitu saja, memang dibutuhkan satu orang yang menerobos hutan. Membuka dan membuat jalan baru bagi adik-adiknya.

Aku sengaja menulis tentangmu, pada barisan akhir. Sebelumnya, sudah ada Sahabat Rizal, Master Cahyono, Bang Hola, Holik dan Andre, yang ku tulis dalam lembaran kenanganku bersama mereka. Aku juga tidak mengerti, mengapa Aku lebih memilih menulis tentang teman-temanku sendiri, dan bukannya tokoh-tokoh Nasional-populer. Tapi, faktanya, teman-temanku sendirilah, yang jauh lebih terkenal dalam memoriku.

Aku merasa, sahabat-sahabatku lebih berharga, daripada tokoh-tokoh populer yang namanya berseliweran di TV, Majalah, film, maupun buku sejarah. Aku hidup hari ini, disini dan ditemani oleh sahabatku. Maka, bukankah wajar, bila mereka (para sahabatku) ku anggap lebih berharga ketimbang nama-nama Tokoh yang sudah menjadi tulang-belulang? Aku tidak butuh simbol-simbol orang mati; yang ku butuhkan adalah Persahabatan dari orang hidup.

Aku makhluk hidup. Tidak butuh gambar, patung maupun pahlawan mati dalam menopang hidupku ke depan. Cukuplah nilai-nilai dan semangat perjuangan orang mati yang ku resapi, bukan orangnya. Biarkan orang lain, Peneliti, Arkeolog, Sejarahwan dan Novelis, yang menulis tokoh lampau yang sudah terkubur. Aku hanya ingin menulis nama, jasa dan karakter Sahabat dekatku.

Dalam kaitannya dengan oranglain yang tak ku kenal, yang suka nyinyir dan mengejek. Aku adalah orang yang cuek. Mungkin ada saja orang yang heran, entah meledek atau memandang sebelah mata atas penulisan orang-orang terdekatku. Tapi, biarlah, Aku tidak peduli penilaian mereka. Aku hanya akan menulis sesuatu yang ingin ku tulis. Aku Penulis bengal, tidak tertarik dipesan, apalagi diatur dan dikomentari.

Bersamaan dengan isi buku yang ku tulis tahun lalu, gaya penulisanku, caraku beropini, ritme pendapat yang ku bangun. Harusnya orang-orang mengerti, bahwa Aku sangat tidak suka meniru oranglain. Aku berbeda, malas mengikuti arus, dan ingin hidup dengan cara serta standar kebiasaanku sendiri. Mengatur dan mengarahkanku, hanyalah perbuatan sia-sia

Jauh dalam relung hatiku yang terdalam, ada jutaan hal di dunia ini yang tidak ku setujui. Menurutku, hampir segalanya, yang ada di muka bumi ini, harusnya tidak pernah berjalan dengan cara yang demikian. Diam-diam, Aku sedang menyusun, membangun, merancang dan menenun standar etika, norma, ajaran dan kebenaran baru. Hanya saja, untuk saat ini, masih ku simpan untuk diri sendiri.

Bang Aul, maafkan Aku. Sepanjang perjalanan pemerkaderanmu padaku, rasa-rasanya Aku lebih banyak membangkang ketimbang mengikuti arahanmu. Tapi, dibalik egoku selama ini, diam-diam Aku menerima dan mengikuti, entah sebagian maupun beberapa hal dari apa yang Engkau ajarkan.

Sebenarnya bukan disitu letak persoalannya. Ini bukan masalah seberapa sering Aku nurut padamu atau tidak, bukan itu. Tapi, terpenting, kita sama-sama belajar dan berproses dengan pilihan masing-masing. Dari keputusan dan jalan berbeda yang kita tempuh, akan ada hikmah yang berbeda pula. Akhirnya, bila kita bertemu, lalu menceritakan pengalaman masing-masing, akan ada komparasi nilai kehidupan yang saling melengkapi.

Abang, Aku melihat ada bakat seorang Politisi dalam dirimu. Aku akan sangat bangga, mempunyai Abang yang di jalan hidupnya lebih berani mengambil resiko. Terlalu banyak memegang pilihan, seringkali hanya akan menyeret kita pada keadaan yang tidak mendapat apa-apa. Terkadang, kita harus bersikukuh berdiri di atas satu perahu yang bocor, agar kita tahu betul cara memperbaiki masalah yang menimpa kita.

Loyalitas dan keteguhan berdiri pada satu jalan, membuat kita belajar lebih banyak tentang lubang-lubang kehidupan yang kita hadapi. Memiliki banyak perahu cadangan untuk berpijak, sekilas sangat membantu bila ada kebocoran. Tapi, dari situ, kita tidak akan terpacu untuk menguasai keahlian memperbiki keadaan perahu. Politisi yang baik, perlu belajar caranya berdiri pada satu keputusan yang diambil.

Aku tidak terlalu ingin menemani Sahabat berpesta atas kemenangan dan keberhasilannya. Akan tetapi, bila suatu saat nanti Engkau sedang jatuh, tersungkur maupun gagal, Aku siap kapan saja Engkau membutuhkan seorang pendengar yang antusias. Aku paham, ada kalanya seseorang membutuhkan telinga dan hati penampung, untuk menjadi tempat curahan unek-unek maupun masalah yang dihadapi.

Jangan hanya sekali menjadi Pembabat alas. Karena hutan yang telah terbabat, dalam jangka yang tidak terlalu lama bakal menjadi kota. Kota yang telah ditinggali banyak orang, akan cepat menjadi sarang hedonisme baru. Abangku, Aku tunggu hutan-hutan lain yang akan Kau terobos. Disamping itu, Aku pun akan membabat hutan-hutanku sendiri.