Pada situasi tertentu terkadang kita memang tak paham diri sendiri, terlalu rancu begini begitu. Mungkin kita lebih dari apa yg kita pikirkan. Mungkin kita tidak seperti yang terlihat. Kita bisa menghindari hal-hal yang ingin kita hindari, tetapi terkadang ada hal-hal yang benar-benar tidak bisa dihindari. Tentang perasaan misalnya. Seperti ini..

Sudah lewat tengah malam tapi pikiranku tak bisa lupa tentangnya. Entah apa yang menarik darinya. Aku tetap tak menemukan alasan mengapa aku begitu menyukainya.

Percakapan demi percakapan tak lantas membuatku paham perasaan macam apa ini. Sering aku kepayahan menenangkan rindu, tak tahu harus apa dan bagaimana menghadapinya.

Kupikir kesibukan-kesibukan hidup mampu membuatku lupa, tapi nyatanya tidak. Semacam membaca novel roman setebal KBBI, semakin kubaca semakin aku kecanduan, lagi dan lagi.

Beruntungnya aku masih bisa mengirim pesan pendek, "Selamat siang, sudah bahagia?" 

Dan entah mengapa jawabnya selalu saja, "Biasa saja, bahagia mungkin sedang berlibur ke tempat yang jauh dan cukup lama."

Sebal! Kata-kata ini membuatku ngilu, sangat ngilu. Arrrgh.. sial!

Rindu semakin tak terkendali sementara waktu sepertinya tak berpihak padaku. Tampaknya begitu, selamanya akan seperti itu.

Self Reminder!

Hey, tahun ini bikin kau mabuk? muntahkan saja segala pilu-pilu itu.
Iya pertemuan-perpisahan-bahagia dan kesedihan yang mengikutinya adalah bekal, simpan baik-baik ya.
Tetapi jika nanti ada yang harus dilepaskan, ya sudah lepaskan saja. sebab memang harus seperti itu cara semesta bekerja. kan emang tak ada yang benar-benar bisa kita miliki selamanya pun tubuh kita sendiri.
Tetapi bersiaplah atas datangnya hal-hal baik, setiap saat. Itupun jika kau mau memahami dan nggak kebanyakan menoleh sana sini.
Eh sadar nggak sih, terkadang yang baik itu datangnya mlipir dari yang nggak asyik.

Selasa terakhir tahun ini, hujan deras sekali sejak siang. Mungkin Dia sengaja menjatuhkan redup bagi mereka yang hatinya masih saja meletupkan kebencian.
Iya, hidup ini tak cukup hanya memaki kan? Maka mari bersuka tanpa melukakan yang lainnya.

Desember beberapa jam lagi selesai dan beberapa kisah mungkin akan berakhir, tapi tidak dengan cintaNya padaku, padamu, pada kita, sekalipun kita lupa mengingatNya. Dan esok adalah kita, cinta dan bahagia, semoga.

Desember 2019

Ambilkan Bulan, Bu


"Bruk."

Berulangkali aku terjatuh. Tersandung batu, batang-batang pohon, dan akar yang melintang sembarang. Tapi aku terus berlari tak peduli ngilu dan perih yang kian menjadi. Danau jernih di tengah hutan sudah di depan mata.

"Bruk."

Aku kembali jatuh terjerembab di tepi danau. Sambil menahan tangis cepat-cepat kubasuh muka, tangan dan kakiku dengan air danau. Dingin tapi cukup segar. Di atas sana bulan hanya separuh, terangnya remang-remang. Tapi mataku jelas melihat sekeliling. Pohon-pohon pinus aneh, bengkok dan rendah. Semak-semak penuh duri tumbuh tinggi, setinggi Alan, kembaranku. Semua terasa ganjil. Dadaku sesak. Aku menangis, memanggil ibuku.

"Alin, jangan menangis terus. Percuma, ibu nggak dengar."

Alan menepuk bahuku lalu memeluk erat. Tubuhnya dingin sekali.

"Tapi Alin kangen ibu, kangen banget. Alin lelah nungguin ayah datang, kenapa lama sekali. Alin hitung ini malam ke 15 di langit ada bulan."

"Sabar ya, pasti nanti ibu jemput kita kalo ayah nggak datang. Tunggu saja. Kamu jangan jauh-jauh makanya kalo main, nanti kalo ibu datang nggak tahu kan."

Alan memang pintar menenangkanku. Selain ibu, dialah tempatku bermanja-manja di rumah kami yang berseni tinggi tapi sepi penghuni.

"Alan, ibu kapan jemput kita?"

"Nggak tahu kapan, tapi pasti jemput kita. Mungkin sekarang ibu masih ada kerjaan yang nggak bisa ditunda, setelahnya baru jemput kita."

"Alan, mbak Asih, ibu Ambar, pak Yoni, dan pak Darko kan bisa jemput kita kalo ibu repot."

"Ya kalo nggak disuruh nggak mungkin mereka ke sini. Jauh loh dari rumah."

"Alan, ayah kenapa ninggalin kita di sini ya, apa ayah nggak kangen kita?"

Alan tak menjawab. Sekuat tenaga ia menahan tangis. Pelukannya semakin erat di tubuh Alin yang dingin, sambil pelan bersenandung--Ambilkan Bulan, Bu.
Alan mengerti mereka berdua sudah mati, dibunuh dan dibuang ayah di hutan ini. Hanya keajaiban yang akan mempertemukannya dengan ibu. Entah kapan.

Kelak Kita Akan Saling Menemukan

Seharian ini aku tak ke mana-mana, di sini saja. Rehat dari penat. ⁣
Mungkin esok perjalanan akan kulanjutkan. ⁣
Perihal waktu, ia menyimpan imajiku dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, percakapan denganmu misalnya. ⁣

Kau paham kan, selalu ada pesan pada tiap pertemuan. Tentang apa-apa yang terlupa, angan ingin yang kadang dingin, rindu yang candu, dan tentang saling menjadi cermin atas satu sama lain. ⁣

Kelak kita akan saling menemukan. Entah sebagai berkat yang saling melengkapi, entah sebagai puisi-puisi yang hanya dibaca sesekali.  ⁣

Disukakan-Dilukakan-Disembuhkan

Waktu seringnya dipahami sebagai rutinitas. Tidur, bangun, kerja, makan, tidur lagi. Sesekali bengong menghayal begini begitu setelah asyik jalan-jalan di medsos.

Iya memang medsos bisa jadi tempat cuci mata sekalian membangun opini sendiri. Tempat kita menertawakan gosip-gosip receh yang nggak penting tapi digemari.

Kadang-kadang waktu menjelma ruang-ruang penggandaan tanpa batas. Pantulan cahaya dengan bayangan dan pikiran yang tak terduga.
Kadang-kadang juga jadi teman sekaligus musuh. Memberi hal-hal yang menyenangkan lalu mengambilnya kembali, cepat atau lambat.
Kadang-kadang tak jadi apa-apa, hanya garis perjalanan yang panjang dan berulang-ulang. Disukakan-dilukakan-disembuhkan.