Mahasiswa
1 bulan lalu · 201 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 25696_53048.jpg

Aroma Surga yang Alpa di E-Book

Ada masa-masa di mana kita sangat menyukai sesuatu hal di luar kebiasaan orang pada umumnya. Misalnya, kita menyukai bau-bauan tertentu atau aroma khas yang itu tidak bisa kita temukan di tempat-tempat atau barang-barang lainnya.

Aroma tertentu itu tidak hanya bisa kita dapati dari parfum atau bahkan bau badan sendiri. Ia juga bisa kita jumpai dari barang yang mungkin kerap kita pegang atau menemani aktivitas sehari-hari. Apa itu? Adalah buku.

Yang umum dan sering kita jumpai memang adalah buku, terutama bagi kita yang sedang bergelut di dunia pendidikan sebagai pelajar atau mahasiswa di perguruan tinggi. Terutama lagi bagi pembaca yang sewaktu-waktu bisa gila jika tanpa bertemankan buku di kala nongkrong, tentu kumpulan kertas berisi catatan ilmu pengetahuan itu tidak akan pernah alpa di sisinya; sekali pun!

Tetapi bagi penggila buku tertentu, ternyata bukan melulu kebiasaan membaca yang membuatnya harus selalu tampil bersama buku. Mereka (buku dan pembacanya) juga bisa “mengada” hanya karena aroma khas kertas yang dikandung buku itu sendiri. Maka jangan heran jika kita sesekali bisa melihat para penggila buku-buku itu seperti orang yang lagi sakau.

Memang, pada buku, terdapat jelas aroma khas yang sangat menyenangkan lagi menenangkan. Apalagi buku-buku lawas, yang kuno, yang sudah tertimbun ribuan tahun lamanya (sedikit lebai), yang sekali cium, merasuklah segala kenikmatannya yang tiada tara. Ada nuansa menghanyutkan tersendiri kala mencium aroma buku dengan kertas-kertasnya yang lawas ini.

Seperti yang CNN Indonesia pernah laporkan dalam Mengapa Aroma Buku Tua Begitu Menyenangkan?, disebutkan bahwa aroma kertas dari buku lawas tersebut nyatanya tidak hadir begitu saja. Aroma dirinya, disadari atau tidak, mampu dijelaskan sekaligus oleh ilmu pengetahuan modern.


Benar! Aroma kertas yang menenangkan (serasa surga) itu nyata adanya. Ia hadir karena balutan senyawa kimia, yang itu berasal dari tinta, kertas, dan perekatnya yang mengandung selulosa dan lignin.

Dalam kondisi tertentu, semisal terpapar cahaya, panas, atau kelembapan, senyawa itu akan bereaksi. Lamat-lamat akan terurai, melepaskan senyawa organik bernama volatil—Volatile Organic Compounds (VOC)—yang kemudian makin menguatkan aroma surganya bagi para pencinta.

Mungkin itu sekaligus sebuah alasan mengapa banyak penggila buku di dunia. Bukan hanya menggilai isinya, tapi juga aromanya.

Alpa di E-Book

Sayangnya, aroma yang asyik dan menenangkan itu tidak ada di E-Book. Padahal buku dengan jenis ini sedang marak-maraknya digandrungi banyak pelajar/mahasiswa milenial. Aroma surga alpa di buku-buku berbasis elektronik.

Dari segi akses, mungkin kehadiran E-Book akan sangat membantu banyak pembaca. Tetapi kita tidak bisa menolak bahwa buku-buku yang secara fisik tidak bisa dipegang itu juga menyulitkan. Akan ada kebiasaan seperti menandai atau melipat bagian-bagian penting dari bacaan yang akan hilang dengan E-Book jika dibanding buku-buku yang konvensional.

Belum lagi soal akan terbuangnya waktu-waktu berkualitas secara sia-sia. Dengan E-Book, bukan tidak mungkin perhatian kita akan teralihkan begitu saja pada notifikasi pesan-pesan yang masuk ke berbagai media sosial kita, yang sesekali muncul di layar gawai saat tengah asyik membaca.


Dan yang terpenting juga utama, bagi mereka yang sangat menikmati aroma surga di balik helaian demi helaian kertas, tentu saja tidak akan mampu mendapatinya dari bacaan model E-Book. Sekali lagi, aroma surga alpa di sini. Kelawasan dan kekunoan sebuah buku hilang oleh sebab sirnanya aroma khasnya.

Padahal, berbekal aroma surga kertas, setidaknya ini bisa menjadi semacam terapi yang menenangkan. Ketika sepi, misalnya, besar kemungkinan bahwa kenikmatannya bisa menemani kita menulis dan membuka banyak cakrawala, tentu juga memori. Buku menyimpan sejuta pengetahuan sekaligus kenangan masa silam yang sukar kita singkirkan.

Mulai sekarang, cobalah kita nikmati aroma surga kertas dari buku-buku yang baru saja dibeli, terutama yang sudah lawas. Kalau tidak punya cukup uang untuk membeli, kalian bisa menikmatinya di rak-rak buku perpustakaan umum atau swasta, atau juga yang tersembunyi di dalam tas temanmu. Dari situ kalian akan temukan bahwa E-Book tidak akan pernah—jika bukan mustahil—menggantikan posisi buku-buku yang secara fisik bisa tersentuh.

Artikel Terkait