15520_25635.jpg
https://ziggy1st.files.wordpress.com
Cerpen · 5 menit baca

Aroma Senja

Apakah senja punya aroma? Setiap di mana pertanyaan itu muncul untuk menggaruk kepalaku, maka yang teringat olehku hanyalah sosok seorang anak yang menjajalkan kue di saat-saat tertentu, di kampungku.

Dialah Hafidz, penjajal setia kue lapis buatan ibunya yang terkenal lezat itu. Setiap sore, selepas ba’da ashar ia akan berkeliling kampung, bernyanyi dengan teriakan demi teriakan atas nama dagangan yang ia bawa ke mana-mana dalam bakul plastik bertutup hijau, kuning, dan kadang-kadang berwarna biru.

Setiap kali lolos melewati gang demi gang, ia akan berhenti untuk memperbaiki kantong tempatnya menyimpan uang dalam pecahan-pecahan kecil. Dan setiap selesai menghitung pendapatannya, ia akan menghitung jumlah dagangannya. 

Kemudian berangsur pergi, menghilang dalam kelokan gang demi gang selanjutnya. Namun tetap menyisakan nyanyian demi nyanyian yang bernada teriakan untuk memperingatkan keberadaannya pada orang-orang sekitar.

Kampung kami memiliki bentuk serupa huruf U, di mana di tengah-tengah kampung –atau diantara sudut garis terujung di sisi kiri dan kanan- terdapat sebuah hutan yang nyaris tidak terjamah, karena hanya terdapat bebatuan tajam, semak belukar, dan beberapa binatang reptil menjengkelkan yang sedang mengerami terlurnya.

Sementara di bagian luarnya, perkampungan itu langsung menjorok ke laut, dengan hamparan pasir putih yang serupa garis lurus jika diperhatikan dari atas. Di pagi hari, karena menghadap tepat ke timur, setiap orang dari rumahnya masing-masing bisa menampaki matahari terbit sempurna, sebagaimana yang sering digumam-gumam, dan diidam-idamkan setiap orang kota yang kadang berkunjung ke kampung kami.

Dan begitulah kekosongan arti senja bagi kami -orang-orang dikampungku- diisi oleh aroma kue jajalan Hafidz. Dan nyaris selalu, jika ada pengunjung atau tamu yang tiba-tiba bertanya tentang momen senja terbaik versi kami, maka yang terlintas nyaris di seluruh kepala penduduk kampung adalah sesosok anak kecil bernama Hafidz, dan kue lapis buatan ibunya yang terkenal sangat lezat di kampung kami.

Namun tidak se-lazim penjajal kue-kue yang ada di pasar. Hafidz hanya akan menjajalkan kue lapis buatan ibunya di bulan puasa saja. Selebihnya, ia akan banyak menghabiskan waktu untuk membantu-bantu ibunya berkebun, di luar bulan puasa. Itu menurut orang-orang yang sering berceloteh tentang kebiasaan anak itu.

Maka setiap sore, sebelum berbuka ia akan segera menghabiskan kue jajalannya disepanjang jalan kampung –meskipun pada kenyataannya apa yang ia harapkan dan apa yang kuceritakan tadi tidak benar-benar terjadi, kue-kue yang dijajalkannya itu nyaris tak pernah laku terjual.

Ia kemudian kembali pulang, dan menghilang dari keramaian. Kadang aku sendiri sering bertanya-tanya apa yang dilakukannya dimalam hari, selepas maghrib, karena ia jarang sekali muncul ditengah-tengah kampung, atau ikut berteraweh bersama teman-teman sejawatnya di Masjid besar di kampung kami.  

Biasanya, aku yang begitu tertarik akan sisi hidupnya misterius akan menyuruhnya singgah dirumah kami, dan membeli beberapa potong kue lapis yang dijajalkannya itu. Lucu saja, karena setiap kutanyai perihal seluruh kepusinganku tentangnya, ia hanya akan menggeleng, atau diam saja tidak menggubris dan terus menghitung jumlah potong kue yang akan dipindahkan dari bakulnya ke piring yang sudah disediakan.

Lain waktu, jika sedang berada di luar rumah. Aku akan menemukannya sedang bersembunyi mengintip beberapa anak-anak sejawatnya bermain dihalaman rumah atau lapangan sepak bola yang tak jauh dari kantor desa, juga sekolah dasar di kampung kami.

Akan tetapi, setiap kali menegur atau menepuk pundaknya, ia akan lari terbirit-birit menenteng bakul kue yang belum tandas isinya itu. Menghilang dibalik tembok dan dinding-dinding rumah serupa kucing kecil ketakutan.

~

Suatu kali, seorang anak kecil pernah berteriak histeris dan membuat seluruh tetangga rumahnya keluar dengan cara sebagaimana mereka terguncang oleh gempa bumi. 

Beberapa orang dewasa coba mendekati rumah asal suara teriakan itu muncul. Anak yang tadi berteriak itu sedang beringsut dibalik sofa milik keluarganya. Ayah ibunya nampak sedang tidak berada dirumah. Entah kemana, anak itu tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memeluk seorang lelaki paruh baya yang muncul untuk menyelamatkannya dari sana. 

Orang-orang yang tadi berkumpul, gaduh karena suara teriakan itu kemudian membentuk lagi semacam gerombolan yang siap membedah apa saja yang baru terjadi. Satu orang diantara mereka kemudian berseloroh.

“Pasti ini ulah anak teroris itu!” ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, serupa seorang ayah dari anak yang sedang terancam nyawanya. Atau lebih buruk, yang terlihat ia seolah-olah punya dendam membara di ulu hatinya. “Kurang ajar.”

Semua orang besorak, mereka sepakat dengan menganggukan kepala, lantas memukul-mukulkan tangan kanan ditangan kiri mereka. “Betul.” Disusul sorak sorai semacam ‘supporter’ sepakbola yang kalah taruhan di stadiun, dan bersiap untuk melakukan sebuah penyerangan massal. 

Anak kecil yang tadi trauma kemudian menjelaskan ulang apa yang baru saja di alaminya. –Seorang anak kecil lain lari terbirit-birit kehalaman rumahnya, untuk menangkap layang-layang yang jatuh dari langit. 

Namun sebelum berhasil menggapai layangan di depannya, kedua anak itu, (termasuk yang berteriak tadi) saling pandang sebentar, sebelum sebuah jeritan meledak dari kerongkongan kecil angkuh dari seorang bocah yang tidak mengerti akibat dari tindakannya itu- tapi semua orang berkata tidak, atau barangkali mengiyakan tapi tetap sepakat untuk memberi pelajaran bagi sang pengganggu ketentraman. 

“Kalau begini terus, anak-anak kita tidak akan aman lagi.” salah seorang diantara mereka, dengan gaya orator, kemudian mengarak massa ke sebuah tempat yang tidak asing lagi bagi orang-orang dikampung itu. 

“Betul!” sambil berjalan, salah seorang perempuan didalam barisan itu berteriak serupa panglima perang yang mengasah mental prajuritnya. “Ini sudah keterlaluan.” 

Mereka kemudian berbelok pada sebuah gang. Menuju sebuah rumah reot yang terpencil dan penyendiri dari pusat perkampungan. Di sana tinggal Maimunah dan kedua anaknya yang masih berumur delapan dan lima tahun. 

Tanpa pikir panjang, sebuah lemparan batu telah melubangi dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu. Maimunah yang ketakutan sejak mendengar suara arakan itu dari kejauhan kemudian keluar, melolong ampunan pada setiap dari mereka, orang-orang yang pada saat itu lebih terlihat sebagai kumpulan penjagal dari pada ayah dan ibu bagi anak-anak mereka. 

Sementara itu dibalik punggung Maimunah menangis kedua putranya yang tidak tahu apa-apa, kecuali sebuah layang-layang yang entah kenapa putus dari benangnya dan angin bersekongkol dengan bencan menerbangkan layang-layang itu menuju rumah yang menjadi cikal bakal malapetaka untuk mereka bertiga.

Rumah kecil reot itu hangus terbakar, bersama isinya, bersama pemiliknya, juga bersama takbir yang berkumandang pertanda kemenangan dimana-mana.

~

Setiap kali pertanyaan itu muncul merayu dikepalaku, aku selalu terngiang dengan Hafidz. Masih segar di ingatanku bagaimana mereka bertahan hidup dengan merawat kebun milik orang-orang dikampung itu. 

Dari satu kebun ke kebun lain, hingga suatu ketika yang biadab, entah disengaja atau tidak, salah satu kebun milik warga hancur porak poranda. Segala tanaman disana rusak, seperti diseruduk sepuluh ekor babi buta yang sedang mengamuk.

Pelan namun pasti, keluarga kecil Hafidz kemudian dililit hutang disana sini. Asal muasalnya pun tidak jelas. Kadang hanya persoalan ikut meramaikan saja, hingga ada salah satu warga yang menuntut karena panen kelapa miliknya tidak menghasilkan uang yang banyak

Bisa ditebak, mereka kemudian menyalahkan ayah Hafidz yang mengurusi perkebunan kelapa beberapa milik warga disana, dan sekali lagi ayah Hafidz harus meminta bantuan pada rentenir licik dikampung itu.

Dan berlipatlah segala persoalan yang harus mereka tanggung.

Hingga disaat yang tidak diduga, sebuah bom meledak di kota kabupaten. Salah satu pelakunya adalah ayah Hafidz sendiri.

Hingga saat ini, jika senja tiba, aku masih terngiang dengan aroma kue lapis jajalan Hafidz yang terkenal lezat dikampungku itu. Kemudian, sekali waktu, tanpa sadar ketika aku mengamati anak-anak yang sedang bermain dilapangan dekat kantor desa dan sekolah dasar itu, aku mendengar suara Hafidz dari kejauhan. 

Kali ini bukan lagi teriakan atas jajalan kue lapisnya, melainkan lolongan ampun untuk ibu dan bapaknya.