1 bulan lalu · 1291 view · 6 menit baca · Ekonomi 44211_66830.jpg
Bisnis.com

Arogansi Netizen Membuyarkan Maksud Achmad Zaky

Pada Jumat (15/2/2019), kancah media sosial kisruh, khususnya di Twitter, dengan hashtag #UninstallBukalapak. Di masa Pilkada sampai Pemilihan Umum, boikot sejenis ini makin marak terjadi. Maklum saja, setiap individu merasa punya kekuatan melakukan apa pun, padahal hanya dari balik layar handphone mereka.

Seperti yang sudah umum diketahui, hashtag ini muncul akibat cuitan si CEO Bukalapak, Achmad Zaky, terkait rendahnya anggaran Research and Development (RnD) di Indonesia dibandingkan negara lain. Padahal Indonesia punya cita-cita memacu diri menjadi negara yang sudah berevolusi digital dengan predikat Indonesia 4.0. 

Sialnya, Zaky menambahkan kata-kata "Presiden Baru" yang spontan mengundang kemarahan para pendukung Presiden Jokowi.

Umumnya para pendukung Jokowi begitu menikmati pemboikotan ini. Alasannya sederhana, itu masuk akal. Dia telah menyinggung dan tidak etis karena menunjukkan keberpihakan politik menyebut harapan pada presiden baru.

Padahal siapa pun yang nanti menjadi presiden tetap menyandang jabatan sebagai presiden baru, bukan?

Ketidakrasional ini dianggap wajar. Pasalnya, dalam ilmu marketing, konsumen memang irasional, maka perusahaan menuruti kemauan konsumen. 

Menurut adik saya, ilmu bisnis dan ekonomi juga berkembang. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, seorang pelaku usaha atau marketing tidak bisa mengandaikan konsumen adalah sosok yang irasional karena pelaku usaha juga harus membidik rasionalitas konsumen dalam mengambil keputusan melakukan transaksi. 

Bidikan itu harus spesifik dan tepat sasaran. Meskipun begitu, rumusan marketing tetap sama, yakni Power of Mouth konsumen adalah kunci utama kesuksesan sebuah bisnis.

Gerakan #UninstallBukalapak dan rating satu sukses membuat bisnis Bukalapak jadi trending. Saya lalu menjadi baper layaknya konsumen pencinta Jokowi. Bedanya, saya mencemaskan soal valuasi rendah Bukalapak yang bisa saja membuat investornya angkat kaki. 

Kedua, saya mencemaskan mitra kerja Bukalapak, yakni usaha mikro kecil menengah. Bisa saja UMKM ini juga bermitra dengan Tokopedia dan Shopee, namun bagaimana kalau tidak? Preferensi setiap pelaku usaha berbeda-beda. 

Ketiga, ini yang paling meresahkan, tenaga kerja di Bukalapak apakah akan terkena dampak? Pemutusan hubungan kerja dan sejenisnya? Dampak ini mungkin tak besar. Namun potensi layoff karyawan masih ada.

Unicorn seperti Bukalapak ini memang berjasa besar dalam perekonomian Indonesia. Umumnya mereka mengandalkan suntikan dana dari perusahaan finansial, bukan APBD apalagi APBN. Mereka menyerap lebih banyak pekerja informal.

Sehingga saya menjadi sangat bingung ketika para pendukung garis keras Pak Jokowi bahkan sampai membuat surat terbuka mengecam Zaky. Katanya, Zaky seperti "Anak Muda Tak Tahu Diri"; sudah didukung pemerintah malah membangkang. Seperti kacang lupa kulit. 

Zaky menerima predikat anak muda arogan hanya karena mengutarakan sebuah harapan, bukan kritik bagi saya. Sebuah framing yang membuat saya berefleksi betapa feodalnya negara ini dan masyarakatnya. 

Anak muda masih harus dicucuk hidungnya untuk tahu terima kasih kepada yang lebih tua atau yang punya wewenang. Sementara prestasi anak muda yang sangat membanggakan, dengan mudah dirusakkan hanya untuk hal sepele. Salah tafsir. 

Persis seperti pepatah, hanya karena nila setitik rusak susu sebelanga. Iya, para pendukung arogan yang bersumbu pendek. 

Sialnya lagi, beberapa pihak yang ikut memanas-manasi hashtag ini adalah Tim Kampanye Nasional (TKN) Pak Jokowi sendiri. Sungguh sedih dan mengecewakan.

Hakikatnya, relasi yang tercipta antara para CEO startup unicorns ini simbiosis mutualisme. Jadi tidak sepenuhnya benar bahwa Bukalapak jadi besar karena dukungan Pak Jokowi. Butuh bukti?

Ingat, ketika ada kecaman dari pelaku usaha lama angkutan terhadap aplikasi berbasis transportasi, muncul teriakan dan penolakan karena profitnya tergerus. Jokowi jelas menabrak aturan dengan membiarkan startup seperti Grab dan GOJEK ini beroperasi. Padahal saat ini ada kekosongan aturan loh! 

Itu menandakan betapa dukungan Jokowi pada pelaku usaha bukan semata karena kewajiban dia sebagai kepala negara. Ada kebutuhan negara terhadap para pelaku usaha ini untuk sama-sama membangun masyarakat dengan penyediaan barang dan jasa.

Jadi, secara semiotik, kedatangan Jokowi pada ulang tahun Bukalapak bukan bentuk kasih sayang seorang bapak kepada seorang anak. Itu adalah relasi yang setara sebagai teman. Itu adalah simbiosis mutualisme yang transaksional. 

Pemerintah jelas butuh Bukalapak untuk membantu pemberdayaan UMKM yang kalau diurus Pemda kerap terjerat jaring monopoli usaha dan sulit berkembang.

Setelah kini mulai ramai lagi ajakan Install Bukalapak, maukah kita melihat konteks pernyataan Zaky terlepas dari data yang dia pakai sudah lama?

Dilansir dari BBC, dalam artikel berjudul Tagar Uninstall Bukalapak dan cuitan Achmad Zaky: Berapa sebenarnya anggaran litbang Indonesia? bahwa pada Agustus 2018, pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Pekanbaru, Menristekdikti juga mengulang sentimen yang sama soal minimnya anggaran penelitian meski persentasenya dari PDB sudah meningkat.

Menurut Nasir, seperti dikutip Antara, "Anggaran riset nasional hanya sebesar 0,25% dari PDB, sedangkan Malaysia sudah mencapai 1,8%, Vietnam 1,1%, dan Singapura mencapai 2,8%."

Saat itu, di Pekanbaru, Nasir menyatakan, "Setelah dianalisis, anggaran sebesar Rp24,9 triliun ternyata hanya Rp10,9 triliun yang menghasilkan riset dan pengembangan. Lebih dari setengahnya, yakni Rp14 triliun, belum menghasilkan output yang maksimal."

Kemudian pada September 2018, Nasir menyatakan bahwa kementeriannya mengelola anggaran riset $2,1 miliar atau sekitar Rp29 triliun lebih, sekitar 0,25% dari PDB. Dan pada 2019, rencananya, kementerian tersebut akan mendapat tambahan anggaran penelitian Rp400 miliar.

Ini menandakan sesungguhnya konteks yang disampaikan Zaky tidak salah. Namun data yang dia gunakan tidak benar.

Sementara itu, bagaimana dengan dapur keuangan Bukalapak sendiri?

Dilansir dari Bisnis.com, Januari 2019 lalu, Bukalapak mengumumkan pendanaan baru yang bersumber dari Mirae Asset Naver Asia Growth Fund, dana kelolaan milik Mirae Asset dan Naver. 

Mirae Asset adalah perusahaan yang bergerak di sektor finansial, sedangkan Naver bergerak di bisnis internet, termasuk platform Line. Kedua investor asal Korea Selatan itu disebut mengucurkan nilai investasi US$50 juta atau sekitar Rp700 miliar.

Bukalapak memiliki tiga pemegang saham utama, yakni PT Elang Mahkota Teknologi Tbk.(Emtek), Ant Financial, dan GIC Singapura. EMtek melalui PT Kreatif Media Karya memiliki 36,86% saham Bukalapak.

Ant Financial adalah anak usaha Alibaba yang bergerak di bidang teknologi finansial. Anak usaha Alibaba itu menjadi investor utama dalam ronde pendanaan senilai US$1,1 miliar pada Agustus 2017.

Perusahaan itu juga mendanai perusahaan teknologi penyedia kartu kredit virtual, Akulaku. Akulaku dan Bukapak juga telah berkolaborasi terkait fitur pembelian dengan cicilan bernama BukaCicilan.

Akulaku bersama Emtek membuat bisnis patungan di bidang dompet digital bernama Dana. Bukalapak pun berkolaborasi dengan Dana mengelola dompet digital untuk pembeli dan penjual di platform-nya yang dinamakan BukaDana.

Penjelasan itu menjelaskan juga bahwa persentase anggaran dari negara terhadap entitas bisnis jenis ini masih sangat kecil porsinya karena mereka mengandalkan dana investor. Saya jadi mewajarkan cuitan Zaky. 

Sebagai jurnalis ekonomi, cuitan Zaky sering saya temui bahkan dalam wawancara sehari-hari. Biar bagaimanapun, pilihan politik pelaku usaha ini harus dihargai, sebab dia juga bagian dari masyarakat sipil bukan aparatur negara.

Arogansi yang terjadi saat ini bukan barang baru. Jika kita mencoba membaca kembali survei Litbang Kompas Oktober 2018 lalu, masyarakat sebenarnya membutuhkan kampanye yang substantif. 

Masyarakat perlu mengetahui visi dan misi secara jelas. Namun hak substantif itu terasa semakin blur, bahkan sampai pada waktu menuju pencoblosan.

Kita, tanpa memandang siapa pilihan politik kita, dibuat lelah sebelum berpikir. Habis untuk bertikai. Padahal, kalau membaca konteks dari Zaky, ada pesan penting terkait misi RnD di Indonesia menuju Indonesia 4.0.

Tak percaya? Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (2018), ada beberapa profesi baru di masa depan. Sebut saja Professional Triber, Cloud Architect, sampai Neuro Implant Technology.

Jadi mari kita berpikir serius, apa yang sudah dipersiapkan dua kubu menyambut tantangan itu? 

Dana salah satu bentuk keberpihakan untuk mempersiapkan tantangan itu. Jangan sampai terulang kejadian terburu-buru masuk ke integrasi Masyarakat Ekonomi Asean di saat tidak semua orang Indonesia punya skill berbahasa Inggris.

Refleksi ini membuat saya makin yakin, masa depan memang akan dikuasai mereka yang mengenal algoritma dengan baik. Namun masa depan selalu bisa dikendalikan oleh mereka yang bijaksana dan jernih dalam berpikir. Mereka yang masih menggunakan hati nurani.

Percayalah, akan selalu ada aspek-aspek kemanusiaan yang tidak bisa disingkirkan dan terus-menerus berdinamika.

Akhir kata, pesan saya untuk para masyarakat konsumen, jangan terlampau arogan. Jadikan Bukalapak pelajaran terakhir yang memisahkan masyarakat dari substansi soal tantangan era digital. Kemenangan masih jauh dan belum tentu di tangan Anda, wahai kedua pendukung berat capres.

Sebagai orang baik, bersikaplah mulai lebih cerdik dan bijaksana. Saya sangat berharap ini menjadi pembelajaran terakhir.

Akhir kata, besok-besok pakai data yang benar, ya, Kak Zaky. Sangat disayangkan substansi yang tepat dikemas dengan salah dan membuat persepsi yang tak tepat. Sejatinya, kita masih sama-sama ingin mencapai Indonesia 4.o.

Sumber: