Di dalam kereta tiga KCL Bogor - Jakarta Kota, Ardana masih facebookan dengan Maya. Mereka chatting. Di kereta tiga, keduanya asyik berbalas sayang layaknya suami istri. Padahal, mereka lajang. Kereta berderak lantang menembus pagi kelam.

Ardana tak mendapat tempat duduk. Ia berdiri. Tangan kanannya memegang gantungan pegangan tangan.Tangan kirinya memegang handphone. Sering kali bahkan, tangan kanan Ardana melepas pegangan tangan yang menggantung di dekat tempat para penumpang meletakkan barang bawaan. Karena menulis pesan-pesan bagi Maya. Wajahnya sumringah. Sesekali terlihat tersenyum.

Maya duduk di tempat duduk prioritas di pojok kereta tempat duduk khusus bagi manula, ibu hamil dan menyusui, dan penyandang cacat. Tangan kirinya juga memegang handphone. Tangan kanannya dengan lincah menyentuh layar. Wajahnya juga cerah.

***

Ardana bekerja sebagai buruh di perusahaan ekspedisi, sedangkan Maya mencari nafkah sebagai pekerja di perusahaan konfeksi. Ardana tinggal di Cilebut, sedangkan Maya tinggal di Depok Baru. Mereka para penglaju yang indekos. Mereka para perantau yang mengadu nasibnya di belantara Jakarta. 

Di profil facebooknya, Ardana memasang foto orang lain mirip aktor ternama film nasional tahun 1980-an. Namanya pun diganti menjadi Arjuna, layaknya tokoh wayang atau sinetron Mahabharata dari India. Wajahnya tentu tampan dan namanya juga tentu familiar.

Sebenarnya, nama Ardana itu juga nama kamuflase. Nama alias. Nama  yang tertera di Kartu Tanda Penduduk atau KTP adalah Sariman. Bukan Sory, Man!  Ia lahir di sebuah desa di wilayah Pantai Selatan di Jawa Tengah. 

Kulitnya hitam legam. Badannya gemuk. Tingginya semeter lebih sedikit. Hidungnya sebesar buah terung ungu. Giginya tak rata, sehingga ia tidak berani tertawa lepas jika berbicara dengan orang lain. Ia kurang percaya diri. Ia masih lajang meskipun usianya sudah hampir tiga puluh tahun.

***

Sementara itu, di profil facebooknya, Maya menggunakan foto mirip aktris ternama masa kini. Namanya juga telah berganti menjadi Cleopatra, layaknya ratu Mesir zaman dulu. Dari dinasti Firaun yang sangat berkuasa. Tentu saja cantik. Namanya juga keren.

Padahal, sejatinya ia perempuan dusun. Di KTP yang disimpan rapi di dalam dompetnya, tertera nama aslinya Rojiah. Ia lahir di sebuah desa di Pantai Utara di Jawa Barat. Kulitnya kuning langsat. Di atas bibirnya terdapat tahi lalat sebesar kacang hijau, yang tentu saja menambah daya tariknya. 

Ia sudah setahun ini menjanda. Sebenarnya ia menjanda sudah dua  kali. Akan tetapi, usia perkawinannya selalu berumur pendek. Dari suaminya yang sudah menceraikannya, ia memiliki dua anak kecil. Seorang anak laki-laki dari perkawinannya dengan suaminya yang pertama. Seorang anak perempuan dari perkawinannya dengan suaminya yang kedua.

***

Baru sebulan ini Arjuna dan Cleopatra menjalin pertemanan melalui facebook. Pesan-pesan mereka saling bersahutan di kotak pesan. Namun, juga baru seminggu ini, jalinan pertemanan ini telah berubah menjadi jalinan pertemanan yang beraroma sambung rasa layaknya suami istri.

"Sayang ... sedang apa?" Ardana bertanya.

"Sedang membersihkan pekarangan. Juga beres-beres rumah, membantu ibu," Maya menjawab.

"Bang Arjuna juga lagi apa?"

"Di rumah saja, sayang. Saya sudah menyampaikan surat  izin ke kantor. Lagi tidak enak badan. Flu."

"Oh, semoga cepat sembuh, ya! Saya kangen. Sudah hampir tiga hari ini saya tak membaca celoteh abang!"

***

Kereta terus melaju ke arah utara. Stasiun Pondok Cina, Stasiun Universitas Indonesia, dan Stasiun Universitas Pancasila terlewati sudah. Penumpang bertambah. Namun ada juga yang turun. Udara di dalam kereta masih terasa segar dan nyaman meski penumpang berhimpitan. Selain karena ber-AC, juga karena hari masih pagi.

"Sayang, dari foto-foto yang kau kirimkan, kau sekarang terlihat makin cantik!"

"Hehehe ...."

"Benar kok, aku nggak bohong."

"Abang juga tampan."

"Eh, sayang ... sudah ngeteh apa belum?"

"Abang sudah ngopi? Kalau belum saya seduhin kopi."

"Kapan kita bisa jumpa? Kopi darat. Tak hanya chatting di dunia maya seperti ini?"

"Kapan-kapan aja Bang! Saya tak bisa menerima kedatangan abang selagi saya masih nganggur."

"Eh, sayang ... saya benar-benar ingin menemuimu!"

"Saya juga Bang!"

***

Kereta masih terus juga melaju ke arah utara. Stasiun Lenteng Agung dan Stasiun Tanjung Barat terlewati sudah. Aba-aba dari petugas memberitahukan bahwa kereta akan masuk ke Stasiun Pasar Minggu. Ardana mendengar pemberitahuan itu. Demikian juga Maya.

"Sayang, kita off dulu ya! Ada tamu nih di rumah. Saya harus menemuinya. Nanti kita sambung lagi," kata Ardana berbohong kepada Maya. Sebab, Ardana harus turun di Stasiun Pasar Minggu, tempatnya bekerja sebagai buruh di perusahaan ekspedisi.

"Baik Bang! Kita lanjutkan lagi nanti sore ya Bang," jawab Maya mengiakan. Maya juga berbohong kepada Ardana. Padahal, ia juga harus turun di Stasiun Pasar Minggu.

***

Ardana melompat keluar dari kereta ketika KCL berhenti di Stasiun Pasar Minggu. Maya juga. Mereka berjalan ke arah selatan menyusuri jalur tiga, kemudian menuju ke pintu keluar. Ardana dan Maya berpapasan, tetapi mereka tak saling berkata sepatah kata pun.