Pembelajaran jarak jauh, mode belajar daring, infrastuktur jaringan yang kurang memadai serasa menggulung lidah, menenggak getir pandemi ini.

Saya ingin menuangkan setitik curah pikiran yang tentu saja dialami oleh setiap insan pengajar di negeri ini, negeri tercinta dengan warna-warni identitas masing-masing pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan kita.

Dahi yang mulai keriput garis tiga ini seakan mulai bergelombang, merasakan tarikan simpul-simpul syaraf di kepala. Seakan kehabisan akal untuk menyelaraskan gerak tubuh ini agar mampu berbuat yang terbaik, sebaik saat dulu ketika masih mendalang di depan kelas. 

Ada hati yang tidak tega melihat si muda berjuang dengan percikan jaringan internet seadanya. Apalagi menyaksikan cucuran keringat ayah-bunda untuk memenuhi kebutuhan hidup yang menuntut tanpa kompromi di masa pandemi.

Harusnya kita menyerah saja, bagaimana mendidik si muda nun jauh di sana? Apakah kita bisa meminta mereka merapikan pakaian? Menjaga gaya cukur rambut yang sopan? Dengan jarak itu? Dengan kualitas jaringan yang susah payah untuk sekadar operasional Learning Management System (LMS) Google Classroom

Berikan saja mereka tugas via Grup Whatsapp dan masalah pun terselesaikan. Untuk apa kita berbuat lebih? Lagi pula tudingan “penikmat gaji buta” makin riuh menggema pada percakapan di tepi jalan sana.

Ketika kita mengeluh, itu hanyalah bentuk legitimasi dari istilah “memulai adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan”. Ketika kita memulai, terdapat beberapa deskripsi situasi dunia pendidikan di lingkungan kita, yang dapat dikategorikan sebagai hal-hal yang melemahkan kita dalam PJJ. 

Infrastruktur jaringan internet yang belum dapat merangkul siswa kita yang masih terselubung dalam rimbunnya perkebunan kelapa di pedesaan. Jika dibuatkan sebuah judul film, saya yakin judulnya adalah “Mission Imposible 2020”. Menilik seri film terkenal Hollywood yang mengisahkan misi-misi yang sangat mustahil untuk dilaksanakan oleh manusia biasa seperti kita tanpa sokongan teknologi yang mumpuni.

Sumber Daya Manusia kita yang belum siap menghadapi gempuran teknologi pada abad ke-21 ini. Jikalau boleh jujur, sebelum pandemi menghimpit, gawai siswa adalah salah satu hambatan belajar siswa. Namun sekarang, gawai itu bagaikan busur Gandiwa Sang Arjuna yang malah menjadi senjata pamungkas dalam mengarungi PJJ. 

Sayang, pola pikir bahwa gawai adalah alat permaianan dan hiburan membuat mereka sulit sekali bereaksi. Apalagi ketika fitur tugas kelas mengindikasikan datangnya tugas baru dari sang guru. Jadi, untuk apa busur Gandiwa, jika kita masih bingung untuk apa busur itu tercipta?

Harusnya ada pembiasaan prioritas penggunaan gawai. Diharuskan? Dipaksa? Dimatikan paket data? atau Ditahan saja gawainya? Dan biarkan si muda merenungkan kesalahanya dalam kelam. 

Semua solusi itu kurang baik jika tidak dapat dikatakan percuma. Ing ngarsa sung tuladha, keteladananlah solusinya. Bagaimana mereka mau memprioritaskan aplikasi belajar kalau yang orang dewasa mencontohkan istilah baru “tuntutlah tiktok sampai ke Negeri Cina”?

Seluruh orang dewasa, bukan hanya guru, orangtua, dan lingkungan harus memberikan contoh yang benar dalam penggunaan gawai sekarang ini. Fokus pendidikan di pedesaan yang selama ini terfokus pada guru harus mulai diprioritaskan oleh pemangku pendidkan yang lain terutama orang tua dan lingkungan tempat siswa berada. 

Jika mau maju, contohkanlah bagaimana kita berproses untuk mencapai kemajuan itu sendiri.

Fokus; inilah elemen penting yang memandu kita mengarahkan setiap anak panah menuju sasaran yang tepat. Bagaimana Pandawa berhasil memenangkan perang Bharatayudha hanya dengan keluarga kecil mereka yang bahagia. Minim intrik dan hanya fokus pada satu tujuan; kemenangan. Hentikan keluhan terhadap jaringan, mulaialah berbenah meningkatkan kualitas diri, terutama dalam memanfaatkan teknologi dalam mengajar. 

Dan yang terpenting adalah selalu menjalin komunikasi yang baik denan siswa serta orang tua siswa agar tercipta penguatan dalam pembelajaran. Fokus akan tercipta jika semua pihak mempunyai persepsi yang sama dalam memajukan pendidikan anak.

Lihatlah Korawa dengan segala fasilitas dan dukungan yang mereka dapatkan. Semuanya gagal karena memang kekuatan mereka tidak terfokus, karena terlalu banyak intrik serta ego masing-masing individu yang menyertai perjuangan. 

Untuk apa fasilitas jika fokus ada pada pemuasan ego masing-masing. Guru terfokus dengan aplikasi belajar, siswa terfokus dengan aplikasi games mereka, dan orangtua yang tidak memperhatikan itu semua. Maka kegagalan sudah pasti akan tercipta.

Bukan ingin menggurui, tapi PJJ sekarang ini mirip dengan medan Kurusetra. Bukanlah semata fasilitas yang akan dapat mengatasinya, namun fokus untuk memajukan PJJ itu sendiri dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Janganlah risau dengan fasilitas yang kurang memadai, jika kita semua fokus pada kemajuan pendidikan siswa, akan selalu ada jalan untuk mengapai tujuan tersebut.

Kuncinya adalah fokus; yaitu dukungan dan keteladanan dari seluruh pihak, Jika semua unsur tersebut menyertai, saya yakin pelaksanaan PJJ kali ini akan mendulang sukses walau dengan keterbatasan fasilitas yang dimiliki siswa pedesaan pada kenyataanya. Mari dukung Arjuna-Arjuna desa kita menyelesaiakan Mission Impossible 2020 mereka.