1 tahun lalu · 6991 view · 4 min baca menit baca · Politik 13775_93920.jpg
Ariel Heryanto & Tsamara Amany

Ariel Heryanto dan Politisi Bermental Gedongan

Sebagai warga negara, sudah cukup lama saya memimpikan politisi Indonesia adalah mereka yang bukan bermental gedongan; mereka yang selalu punya waktu luang sebagai pejabat publik. Bahkan untuk hal-hal sederhana dan sepele sekalipun, mereka selalu hadir bak Power Rangers atau Ultraman di film-film fantasi kesayangan saya.

Politisi gedongan, apa yang bisa orang harap dari figur publik jenis ini? Tak ada apa-apa yang bisa diunggulkan. Apalagi setelah Ahok dipenjara, yang tersisa nyaris semuanya adalah mereka yang hanya tahu bagaimana isi perut pribadi dan golongannya saja yang harus terpenuhi. Labelnya sebagai pejabat publik seringnya sebatas pajangan belaka.

Belum jua mimpi itu terwujud, Ariel Heryanto muncul seolah semakin membenamkan. Melalui tulisannya Belajar dari Kasus Tsamara Amany (PSI), ia tampil dengan kesan hendak mempertebal kembali mental-mental gedongan di tubuh politisi Indonesia. Ia imbau Tsamara, selaku pegiat politik, agar mampu fokus pada hal-hal besar dan luar biasa saja, bukan pada hal-hal sepele seperti yang sering ia tujukkan selama ini.

Tuduhan bahwa mendukung petahana sama dengan penjilat, misalnya. Bagi Ariel, ini seperti suara batuk atau bersin di tempat umum yang layak diabaikan. Tuduhan bahwa Jokowi adalah presiden yang lemah atau plonga-plongo, sebagaimana Fadli Zon pernah gemparkan di linimasa media sosial, dinilai Ariel ibarat bunyi knalpot dari truk yang lewat di jalan raya.

Bising dan mengganggu mungkin, tetapi bukan sesuatu yang layak diperdebatkan. Pernyataan seperti itu boleh saja jadi lelucon di media massa dan kita baca ketika antre toilet umum, tetapi bukan bahan debat untuk politikus yang berharap dihormati publik.

Maka, lanjut Ariel, jika seorang Tsamara berkali-kali melayani pernyataan sampah sejenis itu, sama artinya bahwa ia sedang merendahkan dirinya sendiri setingkat dengan orang yang didebatnya. Imbasnya, sesudah turun serendah orang yang dikritiknya, warganet pembencinya tidak akan lagi merasa risih untuk melecehkan dengan ujaran-ujaran jorok.

Mudah-mudahan belum terlambat bagi Tsamara dan rekan-rekannya di PSI untuk memulihkan kepercayaan publik yang sempat terganggu. Terlalu banyak masalah lain dalam kehidupan publik yang layak diperdebatkan.

Sungguh nahas jika Tsamara mau mengamini imbauan Ariel itu. Alih-alih akan membawa perubahan lewat “partai anak muda”-nya, imbauan itu hanya akan membuat Tsamara dkk ikut menenggelamkan harapan-mimpi orang-orang seperti saya, yang tak suka model politisi bermental gedongan, apalagi sampai jadi pengurus negara.

***

Akhir-akhir ini, jika bukan terus-terusan, wacana publik memang marak tertonjol hanya pada kontroversi elite politik saja. Hampir semua perdebatan di linimasa media sosial melulu dipenuhi oleh pertentangan-pertentangan akut yang nyaris tak berkesudahan.

Satu contoh mutakhirnya adalah kicauan Fadli Zon tentang Vladimir Putin. Di sana, sembari mengidolakan “pemimpin korup” itu, Fadli sekaligus menyentil Presiden Jokowi sebagai pemimpin yang plonga-plongo, tidak tegas, dan sejenisnya yang lain.

Lihat: Plonga-plongo ala Fadli Zon dan Rapuhnya Partai Gerindra

Sebagai pendukung, tentu tak salah jika Tsamara dan PSI-nya terpicu untuk mendebat. Bukan saja lantaran partai oposisi itu menyentil Jokowi secara tak berdasar, tetapi karena memang Putin tidak layak orang Indonesia, apalagi politisinya, jadikan idola.

Tentang tidak layaknya Putin jadi panutan, salah satunya kita bisa baca dari kicauan Rian Ernest: Soal Media Rusia dan Politisi Indonesia. Bahwa Rusia, meski tidak seluruhnya adalah buruk, tetapi memang negeri berjuluk “Beruang Merah” ini punya masalah besar, terutama terkait korupsi dan isu kebebasan.

Tahun 2007, catat Rian, Transparency International menampilkan indeks persepsi korupsi Indonesia di peringkat 96 dari 180 negara. Sementara Rusia, di bawah kepemimpinan Putin, hanya mampu bertengger di urutan 135.

Belum lagi soal isu kebebasan sipil dan politiknya. Rusia, oleh Freedom House, ditempatkan dalam kategori not free.

Dari skala 1-7, di mana 1 sangat bebas dan 7 sangat tidak bebas, Rusia punya freedom rating di angka 6,5. Adapun Indonesia, meski di tahun 2013 kategori full free untuknya turun jadi partly free, tetapi freedom rating-nya berada di angka 3.

Maka, menjadi hal wajar belaka jika Rian, umumnya PSI, mengkritik Fadli Zon, atau siapa pun yang hendak menampilkan Putin sebagai panutan yang layak, contoh pemimpin yang baik bagi Indonesia. Bagaimana ceritanya kita mengharapkan Indonesia dipimpin oleh orang (seperti Putin) yang punya banyak masalah terkait korupsi dan isu kebesan sipil dan politik itu? Ngawur!

***

Kembali ke soal utama, adalah Tsamara yang memang paling banyak jadi sorotan terkait itu. Kritiknya atas Fadli, yang tak melulu soal pemimpin plonga-plongo, sekaligus menyentil laku Putin di Rusia, bahkan direspons bernada kecaman oleh salah satu media massanya, Russia Beyond The Headline (RBTH).

Selain menyebut pernyataan Tsamara menunjukkan kedangkalan wawasan terkait isu kebebasan di Rusia, RBTH juga menyebut pernyataan itu mengandung unsur ketidakdewasaan. Tsamara, tulis RBTH, perlu banyak belajar lagi soal Rusia dan tetek bengek-nya yang lain.

Kami lihat, Anda punya karier yang sedang naik. Karena itu, kami harap Anda bisa lebih bijaksana ke depannya ketika mengomentari negara lain, apalagi jika pengetahuan Anda tentang negara itu sangat minim.

Di antara kemelut itu, di sanalah Ariel Heryanto hadir. Dalam tulisannya, seperti saya sudah sebut di atas, terkesan menghendaki jika politisi Indonesia benar-benar jadi elite sejati, politisi gedongan, yang tidak punya perhatian apa-apa pada hal-hal yang sepele.

Harapan utama Ariel memang tak bermasalah. Kritiknya untuk Tsamara itu sudah sangat bagus. Hanya saja, terselip makna lain di mata saya: ia hendak mengarahkan politisi Indonesia fokus pada hal-hal besar, mengabaikan isu-isu kecil di masyarakat, termasuk polemik antarwarganet Indonesia sekalipun. Bukankah ini berarti bahwa politisi kita harus bermental gedongan?

Baca juga: 

Melawan Objektifikasi pada Tsamara Amany

Tsamara dan Perjuangan Generasi Millennial

Artikel Terkait