Dalam keriuhan kampanye Pemilihan Presiden 2019 lalu, saya terkejut ketika Arief Rosyid ngomong blak-blakan di Simposium Peneliti Jokowi I di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (12 April).

Ya, apalagi kalau bukan urusan politicking agama (Islam). Tetiba mantan Ketua Umum PB HMI ini didepak dari sebuah WhatsApp Group ‘ijo’ lantaran dia mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden: Jokowi-Amin.

Arief dianggap un-islamic karena Pro Jokowi. Sungguh kelucuan yang tidak hakiki.

Lebih terkejut lagi tatkala saya menengok laman Facebook-nya dihajar oleh serdadu politik konservatif-bigot. Komentar-komentar berbau takfiri pun berhamburan di akun dokter gigi cum aktivis ini.  

Apakah Arief menyerah lalu memencil ke gua-gua? Siapa tahu dia mau merawat popularitasnya di kalangan konservatif bersumbu pendek, lalu dieksploitir untuk gaya politik massa yang eksklusif. Ternyata tidak.

Arief malah total, lalu mendirikan kelompok milenial KitaSatu. Salah satu Jubir Milenial Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Amin ini memotori kampanye dari pintu ke pintu yang terintegrasi ke aplikasi Milenial Ketuk Pintu.

Di jagat medsos, Arief pun menghunus ‘badik’ intelektualitasnya kemudian menusuk para agresor politik yang bigot. Ditebas pula satu per satu terutama kelompok takfiri-freelance yang ikut membonceng kenduri demokrasi. Arief itu aktivis besar yang menyadari bahwa karma politik akan menimpa siapa saja yang mempermainkan agama.

Jihad literasi politik memang harus dikumandangkan untuk membabat kemunkaran politik yang merusak keluhuran agama dan kehormatan bangsa ini. Sebuah panggilan jiwa untuk melakukan ijtihad politik berada di habitat politik yang derajat aura positifnya terukur.

Tapi saya tidak terkejut manakala Arief belakangan ini disebut-sebut sebagai salah satu kandidat menteri milenial Jokowi. “Ayam Jantan” ini banyak dijagokan oleh elemen aktivis muda organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan yang representatif, bilkhusus Kelompok Cipayung.

Arief bukanlah milenial genit yang dikarbit secara instan oleh kapitalisme media. Dia membina debut aktivisme-nya mulai dari nol, bahkan merangkak, from zero to hero. Dia juga konsisten dalam isu dan aktualisasi gerakan: pemuda dulu, pemuda lagi, pemuda terus.

Andai Presiden Jokowi benar-benar mempercayai anak muda yang satu ini, sebagian besar berharap agar Arief dikaryakan di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Kemenpora harus dipegang oleh anak muda yang berani dan jejak rekam yang terang di bidang kepemudaan agar bisa menjadi eksekutor program yang berdaya inovatif. Mitra kerja Arief selama ini memang berhubungan dengan lembaga dan komunitas kepemudaan, membina kaum milenial dari pelosok ke pelosok.

Saat ini, Arief adalah anggota non-pemerintah di Pokja Pelayanan Kepemudaan, Kemenpora. Jadi, lingkungan kerja di Kemenpora bukan sesuatu yang asing baginya.

Bersama Ketum HIPMI Bahlil Lahadalia, Arief adalah tim perumus RUU Kewirausahaan Nasional untuk mendorong kebijakan pro kewirausahaan. Hal ini bersahutan dengan geliat anak muda di bidang kewirausahaan yang menjasad dalam industri unicorn, start-up.

Arief tidak datang dari lapisan politisi yang bermodal ‘klik’, tapi melalui proses panjang, bertransformasi karena mobilitas kepemimpinan, prestasi dan kontribusinya. Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2015 pernah menobatkan Putra Gowa ini sebagai 70 Tokoh Berpengaruh di Indonesia 2015.

Tantangan yang tak boleh dianggap enteng adalah tren intoleransi dan radikalisme yang terus mengincar generasi milenial. Arief bertumbuh di habitat politik sekaligus akar kultural yang tepat, muncul tepat waktu, ketika kawula muda tengah kehilangan simbol milenial-moderat yang berwatak pelintas batas.

Tugas di Kemenpora tak bisa sekadar mengandalkan kegenitan berpolemik di media sosial untuk mengerek popularitas. Kandidat menteri milenial harus memahami suasana kebatinan generasi milenial, berpengalaman dalam memimpin organisasi besar, dan seimbang dalam mengurus olahraga, olahhati, olahrasa, dan olahotak.

Namun, kekurangan Arief dibanding calon menteri milenial lainnya, dia tidak berkelindan dengan oligarki dan penguasa berdarah biru. Kekurangan selanjutnya, alumni S1 UNHAS dan S2 UI ini bukanlah anak muda manja yang menyusu pada bandar politik raksasa.

Tapi Arief punya kelebihan lantaran membangun pergerakan pemuda dari bawah. Organisasi ‘Aktivis Milenial’ yang didirikan Arief bersama unsur pemuda multi-profesi menjadi pusat gravitasi kebangsaan untuk mengorbitkan kemajuan Indonesia. Puncaknya, Milenial Fest pada Oktober 2018 menandai kesuksesan Aktivis Milenial goes public.

Arief juga menginisiasi penggiat rumah ibadah lintas agama agar menjadi agen revolusi mental di lapangan ekonomi dan sosio-kultural. Arief bisa dikatakan sebagai payung terbaik dari generasi milenial yang memproyeksikan perubahan dari partikel-partikel kecil, kemudian menggumpal jadi energi besar.

Sayang banget gagasan konseptual dan aksi konkret Arief kalau tidak dikaryakan lewat Kemenpora agar kerja-kerja kepemudaannya lebih terstruktur, sistematis,dan masif. Presiden Jokowi harus berani memilih tokoh milenial untuk menjadi menteri yang merit-based.

Menjadi seorang menteri memang tak gampang, apalagi kementerian sepenting Menpora yang strategis untuk memayungi generasi milenial. Umumnya seorang menteri itu, setidaknya harus memiliki tiga kriteria utama, yakni konseptor, komunikator dan organisator.

Sebagai seorang konseptor, Arief berpengalaman dalam mengonsep kebijakan yang pro pemuda. Sejak 2014, Arief menjadi inisiator berbagai focus group discussion tentang bonus demografi. Arief mempresentasikan tantangan dan solusi pemuda dalam menghadapi bonus demografi ke Bappenas, LIPI, Kemenkeu, dan Kemenpora. 

Mei 2015, Arief menyampaikan dokumen singkat ber-kop PB HMI kepada Presiden Jokowi, yang berisi tuntutan dihadirkannya kebijakan pengarusutamaan pemuda.

Sebagai seorang komunikator, Arief lihai mengartikulasikan gagasan cemerlangnya lewat forum anak muda dari berbagai lapisan hingga forum internasional, bahkan melalui 12 buku tulisannya yang memahat pesan-pesan keagamaan, keindonesiaan, kepemudaan, dan kemilenialan.

Di pentas global, Arief adalah anggota Delegasi Konferensi Perdamaian Dunia "Return To Palestine" di Lebanon (2013), juga partisipan di The International Visitor Leadership Program - The US Department of State, di Amerika Serikat (2016).

Melalui skill komunikasi, seorang menteri bisa berkomunikasi secara profesional dengan presiden, bersinergi antarmenteri, bermitra dengan parlemen dan jajaran aparatur kementerian maupun masyarakat umum, terutama pemuda.

Sebagai seorang organisator, Arief mampu mengorganisasikan dan mengelola berbagai macam organisasi dengan efek influensial yang signifikan bagi khalayak. Kecakapan organisasional dan manajemen kepemimpinan itu penting agar bisa beradaptasi dengan atmosfir birokrasi pemerintahan dan dinamika di lapangan.

Karena itu, saya sepakat dengan pendapat seorang peneliti sosok Jokowi, Andi Zulkarnain, di Simposium Peneliti Jokowi II di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis, 25 Juli 2019.

Andi Zulkarnain yang intens meneliti tipe kepemimpinan politik Jokowi ini mengatakan, Arief Rosyid cocok sebagai perwakilan dari aktivis milenial dan juga mewakili Cipayung untuk menjadi Menpora.

Lidi-lidi pelayanan Arief untuk pemuda yang saya ikat itu memenuhi apa yang disebut sebagai meritocratic millennial. Arief mewakili pula porsi etnisitas dari timur nusantara untuk memperkuat visi Indonesia maju. Kita tunggu ‘istikharah’ Presiden Jokowi sebagai pemegang hak prerogatif.