Penulis
1 tahun lalu · 112 view · 3 menit baca · Filsafat 97046_63425.jpg
sobennation

Argumen Transendental (2)

Menalar wujud absolut kadang-kadang menjerumuskan konsepsi akan dimensi yang begitu luas. Perwujudan absolut dari realitas tertinggi memetakan cara pandang terhadap instrumen-instrumen yang membentuk persepsi tentangnya.

Agama terlalu banyak memberikan hal-hal yang pasti ketika pada saat yang sama ketidakpastian sama banyaknya. Bukankah ini jauh lebih baik? Tetapi, apa jaminan kepastian yang pada prinsipnya ia juga hal lain yang patut dipertimbangkan? Ketidakcocokan satu hal terhadap hal lainnya terkadang merupakan pilihan menipu yang bahkan sedikitpun tidak memiliki landasan substansial.

Keesaan asali bukanlah totalitas keindahan ilusi. Meski agak mirip, namun eksistensi bagi keindahan seni selalu sama kuat dalam menggambarkan lapisan kebijaksanaan dalam relung-relung transendensi. Jarak jauh yang ditempuh, ruang dan waktu yang tak lagi sama, justru menjadi penghalang besar.

Betapapun, ini tidaklah menjadi persoalan mendasar. Apa yang perlu ditekankan adalah perhitungannya tidaklah matematis, tidak sebagaimana angka-angka dapat dijumlah dan dikurangi dengan sedemikian rupa. Rumusan kepastian dari ketepatan angka tidak lagi menjadi yang lebih pasti bagi kesempurnaan wujud. Tidakkah ini terlalu jelas?

Sama persis ada begitu banyak dewa-dewa yang bertugas sebagaimana posisinya, tetapi sebenarnya ia tidaklah banyak. Hanya ketika angka terlibat dalam menerjemahkan aktualitas wujudnya, maka menjadi rancu jika diperbandingkan satu sama lain.

Rasio dan penalaran adalah aspek-aspek paling berharga. Ini keniscayaan historis yang tak terbantahkan. Ia paling tidak sebagai mediasi bagi kemungkinan pembentukan jarak menjadi dekat bagi pengetahuan.

Apapun jenis pengetahuan itu, ia pada intinya akan memenuhi lembaran-lembaran kosong pikiran yang sebelumnya hanya diisi oleh pengalaman yang absurd, tetapi tidak sama sekali abstrak. Rasionalitas, jika boleh dikatakan tidaklah terbatas, sejauh mana ia dapat sampai? Bahkan sampai hari ini tidak ada yang pernah tahu. Hanya kesadaran kosmik yang menyadari.

Tetapi kesadaran bukanlah argumentasi yang pantas untuk dipertimbangkan. Kecenderungan terhadap rasionalitas pada akhirnya menjadi pijakan pokok yang paling primordial. Sementara aspek yang lain sekadar penjaga, sebuah aparatus yang tugasnya tak lebih dari mengawasi.

Banyak pengetahuan datang dari kebijaksanaan. Sikap bijak terhadap sesuatu menumbuhkan pemahaman tentang keadilan transendental. Kebodohan kadang-kadang merupakan tindakan berdosa, meski ia tidak sepenuhnya salah. Apa yang menjadi tujuan kita ketika telah terbentuk semacam keselarasan dalam hidup, tidaklah ini menjadikan bahagia bagi sesama.

Kepentingan terhadap hidup untuk mengatasinya harus pula didasari oleh kesadaran. Begitupun sebaliknya, untuk melihat sejauh mana individu dapat mengaktualisasikan diri. Titik terjauh dari anggapakan umum tentang kebaikan tak pernah sepenuhnya terjelaskan, meski dalam wujud mutlak dapat teratasi.

Roh absolut dalam kesadaran historis mengikat sebagian besar kurun waktu sejarah, bagi manusia. Selama sejauh itu, kedalaman moral, keserasian alam, keharmonisan perkumpulan manusia, didamba-dambakan layaknya apa yang dirasa telah manusia ciptakan.

Mereka begitu bangga dan sombong. Tetapi apapun itu, tidak perlu lagi diragukan bahwa kebaikan demi kebaikan telah dilahirkan, menjadi suatu kebiasaan, seakan-akan ia memang benar-benar baik. Kelahiran moralitas tak pernah secara keseluruhan disadari. Ia mengalir begitu saja seperti ombak yang terbawa angin. Ia mulai menjadi biasa ketika siklus alam menjadi hukum-hukum tetap.

Selama seluruh hidup kita kebaikan diukur dari hal-hal doktrinal atau tradisi tetap yang mengikat, ia sebenarnya tidak selalu tetap, bahkan normatif. Itu tak lain adalah bagian dari kebudayaan yang dipelihara. Betapapun berkembang, tetapi harus dikatakan bahwa ia terbatas. Kepincangan universalitas yang dimilikinya selalu saja hanya menjadikan ia bersifat lokal, membumi, dan bahkan sulit beradaptasi. Kredo tentu hal lain yang menjadi pengecualian.

Lalu, adakah hal lain di luar itu yang mampu menerjemahkan arti kebaikan bagi sesuatu yang memang baik? Tetapi apakah kita sadar bahwa kebaikan sesungguhnya hanyalah kesepakatan belaka, bersifat terwariskan, dan historis?

Manusia menyepakati kebaikan berdasarkan kepantasan, masuk akal, tidak merugikan, atau pada sisi yang lebih rumit melalui agama. Ia pada dasarnya bukanlah kebenaran. Hanya ketika kebenaran dianggap baik, maka secara keseluruhan ia mengikutinya.

Ide kebaikan tertinggi atau segala jenis kebaikan yang bersifat ilahiah berasal dari angapan orang-orang kuno yang tampaknya sampai hari ini masih dihargai. Manusia terlihat menjadi lebih rumit dan tidak rasional.

Namun, sayangnya ide inilah yang begitu mengalir. Bahwa ia dihargai jauh dari ilusi. Cara pandang terhadap alam pada dasarnya lebih memadai ditemukan dalam seni. Ia menghadirkan corak pemahaman yang dapat dipahami meski kenyataannya tampak tak masuk akal dan menjadikan mudah dalam menjalani hidup.

Sementara hal yang sama sekali tidak bisa diabaikan adalah mitos. Ia adalah pengetahuan sekaligus keyakinan. Hari ini, pemahaman terhadapnya banyak ditinggalkan, padahal ada sisi kesejarahan yang tak pernah ia lewatkan bahkan tak pernah meninggalkan cara menjalani hidup. Inilah kesalahan besar yang menjangkit masyarakat sekarang ini, bahkan ia tak lain adalah virus yang mematikan.

Manusia mengalami revolusi kebudayaan secara meningkat. Terlalu naif jika ini bukanlah kemajuan.