Penulis
1 tahun lalu · 248 view · 4 menit baca · Filsafat 97267_14612.jpg
dezzen.com

Argumen Transendental (1)

Tuhan adalah perwujudan sempurna bagi eksistensi. Ia hadir sebagai wujud yang sepenuhnya mengatasi dimensi kehidupan. Realitas pada akhirnya bersifat esa, tetap, dan mutlak.

Kita semua sepakat bahwa kehidupan adalah komedi Ilahi. Ia dimainkan dan dikendalikan dalam realitas yang sepenuhnya menjadi kehendaknya.

Logika iman kita tidak harus mengetahui terlalu banyak dari apa yang Tuhan pikirkan. Karena kredo inilah yang perlu ditegaskan. Bahwa Tuhan telah mengatasi segala jenis kebenaran pada titik terdalam iman kita.

Skeptisisme awam mengajarkan tentang bagaimana cara bersikap terhadap hal-hal baru yang mesti dipertanyakan. Meski kenyataannya keragu-raguan tidak melindungi dari kepekaan terhadap kebenaran. Apa yang perlu kita pastikan adalah setepat mungkin mengikis skeptisisme ketika peluang kebenaran mungkin terungkap dalam lapisan-lapisan pikiran.

Ketika kita tidak pernah tahu tentang apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki sementara proses pencarian yang kita lakukan tidak pernah berhenti tetap. Ketika Tuhan dipahami sebagai dimensi yang mengatasi sejarah dan manusia tidak pernah angkat kaki dari bumi di mana ia berpikir, maka menjadi jelas bahwa kehendak Tuhan tidak akan pernah melesat dari sisi kesejarahan yang menjadi pijakan manusia secara sungguh-sungguh.

Apa yang menjadi mungkin terhadap argumentasi metafisik ketika pada saat yang sama cara pandang kita terhadap hal-hal yang tidak memiliki akar indrawi, tidak pernah sepenuhnya terpecahkan. Lalu bagaimana pemikiran mampu memikirkan hal-hal yang tak terpikirkan.

Lapisan dan kedirian mana yang memiliki sudut pandang objektif dalam melihat kenyataan di luar kenyataan itu sendiri. Tidak ada jawaban yang paling memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan sepele ini, meski tampaknya lebih rumit.

Dalam logika iman, jauh lebih sulit membuktikan ketiadaan Tuhan ketimbang membiarkan begitu saja hati dan pikiran mempercayai adanya Tuhan, tentu kepercayaan bukanlah argumentasi, tetapi apa yang pertama akan kita pikirkan ketika tidak ada hukum moral, kebaikan, dan agama, apakah dengan begitu serta-merta matahari akan selalu muncul tiap hari sebagaimana ungkapan dalam sains.

Ada anggapan bahwa eksistensi mendahului esensi, tapi aturan ini tidak berlaku bagi Tuhan. Ia pun tidak terpisah dari apapun yang menjadi mungkin untuk diperkirakan. Kebebasan cara pandang terhadap wujud absolut menjadikan ia unik, bahkan pada satu titik yang paling ekstrim dalam argumentasi para ateistik dalam menolak Tuhan.

Ateisme hanya mengingkari Tuhan pada tataran konsepsi, persepsinya tentang Tuhan tidak akan pernah sama sekali hilang, ia bagai hantu yang bergentayangan sebagai penanda bagi ada atau ketiadaannya.

Karena kesimpulan yang paling otentik menunjukkan bahwa yang tidak ada dengan yang tak terlihat begitu mirip, keduanya bahkan memiliki kecocokan satu sama lain, betapapun terpisah begitu dalam antar eksistensi yang esensial dan non-eksistensi yang juga esensial, karena keduanya ada tetapi dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Tuhan selalu luput dalam perbincangan antar pikiran, kenghayatan dan kontemplasi. Namun ia sesungguhnya ada di antara semuanya. Apapun argumentasi yang dirumuskan tentangnya, hampir tidak pernah selalu menyerupai apa yang bukan dirinya. Ada ketepatan argumentasi, sekaligus keluputan yang terjal dan mendalam, meski tidak terpisah. Jika dikatakan bahwa “Tuhan itu ada”, pernyataan ini pun sebenarnya merupakan penghinaan terhadap eksistensinya.

Mengapa harus dipersoalkan, dinyatakan kembali, atau bahkan itu pernyataan skeptis yang paling tajam, tetapi tidak tepat. Ada hal-hal aneh yang dalam akar pikiran ketuhanan menjadi tidak sopan untuk dinyatakan, tetapi ia penting, setidaknya ketika pada saat-saat berhenti kita mulai kehilangan orientasi dengan berkurangnya sedikit iman.

Kekuatan agama mampu menjembatani antara dunia fisik dan metafisik, antara yang imanen dan transenden, tetapi tidak bisa dibayangkan bahwa jembatan adalah lintasan untuk melewati dan menghubungkan antara dua hal yang berbeda sekaligus berjarak, tidak selalu seperti itu. Di sinilah kepekaan terhadap argumentasi agama menjadi penting, karena harus disadari bahwa ia bukan satu-satunya kekuatan yang menghubungkan pada dimensi ilahiyah.

Agama terlalu praktis dan bertele-tele jika dikaitkan dengan wujud absolut. Karena ia menyediakan begitu banyak perangkat dan aturan-aturan, yang sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan Tuhan. Tetapi perangkat itu yang tampaknya kompleks sebenarnya ia begitu sederhana, maka Tuhan pun tampak begitu praktis dan masuk akal.

Spiritualitas adalah hal metafisik yang paling mudah dan dekat dirasakan, sekaligus yang paling membingungkan. Semua agama menetapkan kepastian bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk roh yang memiliki pengalaman indrawi, bukan sebaliknya. Kecenderungan dua hal ini dimiliki manusia secara bersama, sampai hampir sulit dipastikan apakah roh atau pengalaman fisik yang paling dominan.

Para pemikir melakukan spekulasi mendalam atas masalah ini, umumnya terbagi dalam dua jenis argumentasi yang saling berlawanan. Mereka tampak sangat kuat, argumentasinya seimbang sama persis sebagaimana yang manusia rasakan dalam alam sadar dan bawah sadar, sampai pada tahap mimpi-mimpi.

Ketika rasionalitas menginginkan ketepatan terhadap argumentasi yang pertama, bahwa transendensi Tuhan terletak di antaranya pada titik spiritualitas manusia secara esensial.

Wujud absolut pada prinsipnya adalah fenomena persepsi murni, konsep-konsep hanya sedikit membantu dalam merumuskan logika yang paling dasar, tetapi terlalu awam untuk yang lebih memuaskan. Persepsi kita tentangnya adalah hal yang paling rumit ketimbang kesadaran soal agama, ia kadang-kadang hadir dalam keseimbangan dimensi ketika merumuskan struktur realitas yang tampaknya terlalu luas untuk hal-hal kecil seperti pikiran.

Tetapi abstraksi dari realitas murni kadang begitu menipu tatkala sinergitas keseimbangan diri tidak terkendali. Menjadi catatan penting bahwa fenomena persepsi murni bukanlah hal yang prosesnya ada di dalam, ia lebih merupakan internalisasi diri terhadap hal-hal di luar diri yang begitu jauh, luas dan tak terkontrol. Sementara cara pandang kita terhadapnya terlalu sederhana, tetapi secara timbal balik ia memang mengharapkannya demikian.

Menjadi mungkin bahwa Tuhan bukanlah wujud yang ingin begitu sulit dimengerti sementara objek pikiran terbatas pada hal-hal yang memiliki akar indrawi, tetapi tidak menuntut kemungkinan bahwa ia menemukan kebenaran.