Anggap suatu ketika Anda masuk kedalam sebuah goa yang sama sekali tak dihuni oleh manusia. Lalu, selang beberapa waktu, Anda menemukan satu buah batu biasa berwarna hitam, berukuran cukup besar, tapi tidak memiliki desain apa-apa. 

Bentuknya tidak jauh beda dengan batu-batu biasa yang lain. Saya yakin, ketika melihat batu semacam itu, respons Anda pun akan biasa-biasa saja. Melihat batu bukanlah hal yang aneh. Setiap hari juga hampir kita lihat.

Tapi bagaimana kalau seandainya, ketika memasuki goa itu, Anda melihat satu buah patung perempuan dengan ukiran yang sedemikian indah. Di samping memiliki ukiran indah, patung itu juga berisikan tulisan yang jelas dan bisa dipahami oleh bahasa manusia. 

Di depan patung perempuan itu ada sebuah patung laki-laki yang sedang mengulurkan tangannya sambil memegang setangkai bunga. Pertanyaanya: Apakah respon Anda akan sama seperti ketika Anda melihat batu yang pertama tadi? Saya rasa tidak.

Ketika melihat sesuatu yang tersusun dan terukir, terlebih jika sesuatu itu memiliki keindahan dan pesan tertentu yang hendak disampaikan, normalnya akal kita akan bertanya-tanya: Siapa yang ada di balik pembuatan patung itu? Artinya, akal sehat kita akan menuntut adanya sebab. 

Soal yang menjadi sebab itu apa dan siapa, itu urusan lain. Yang jelas sebab itu ada. Karena tidak mungkin patung yang sedemikian indah itu terangkai dengan sendirinya.

Itulah cara termudah untuk memahami satu argumen yang oleh para teolog Muslim disebut dengan istilah Burhân al-Nazhm, atau Dalîl al-Nazhm (argumen keteraturan) dalam konteks pembuktian keberadaan Tuhan. Ibnu Rushd (w. 595) menyebutnya dengan istilah lain, yaitu dalîl al-‘Inâyah. 

Para teolog Barat menyebutnya sebagai “argumen desain yang cerdas” (the argument of intelligent design). Terjemahan Arabnya: “Burhân al-Tashmîm al-Dzakiy”. Semua itu pada dasarnya merujuk pada satu dalil yang sama.

Dalil ini bisa kita rangkai melalui bangunan silogisme sebagai berikut:

Premis minor: Alam ini teratur.

Premsi mayor: Segala sesuatu yang teratur pastilah ada yang mengatur.

Konklusi: Alam ini ada yang mengatur.

Premis pertama dari argumen ini tak memerlukan penjelasan. Kalau sebuah handphone saja bisa Anda katakan teratur—dan karena itu Anda percaya bahwa di balik pembuatannya ada suatu sebab—apalagi dengan alam semesta yang terbentang sedemikian luas. 

Tapi, kalau memang alam ini teratur, mengapa harus terjadi gempa bumi, longsor, banjir, tsunami, badai angin, dan bencana alam serupa lainnya? Sebenarnya itu hanya peristiwa aksidental saja. 

Semua orang juga tahu bahwa peristiwa-peristiwa seperti itu tidak terjadi setiap hari. Bahkan, dalam proses terlahirnya, bencana alam itu juga kadang tidak lepas dari campur tangan manusia yang tidak mampu hidup bersahabat dengan alam.

Kalau Anda mengatakan alam ini tidak teratur, niscaya Anda tak akan pernah menyaksikan peradaban umat manusia yang sedemikian dahsyat dan mengagumkan itu. Sains tidak mungkin bisa berkembang di dunia yang penuh dengan kekacauan. Capaian-capain gemilang yang kita saksikan dalam pentas sejarah cukup menjadi bukti bahwa kita tidak hidup di alam yang kacau. Kita ini hidup di alam yang teratur.

Yang mungkin bisa kita tanyakan kepada para pengusung argumen ini ialah tolak ukur keteraturan itu sendiri. Kapan sesuatu itu bisa dikatakan teratur? 

Dalam konteks ini, sebagian dari para teolog mengajukan, setidaknya, tiga aspek: Pertama, sesuatu yang disebut teratur itu terdiri dari bagian-bagian. Kedua, bagian-bagian itu saling berhubungan satu sama lain. Ketiga, sesuatu itu mengisyaratkan akan adanya satu tujuan tertentu.

Kalau Anda punya jam tangan, jam tangan itu sudah bisa dibilang teratur (munazzham). Mengapa? 

Pertama, dia punya bagian-bagian. Kedua, bagian-bagian itu memiliki hubungan satu sama lain. Ketiga, jam itu mengisyaratkan akan adanya satu tujuan tertentu di balik pembuatannya. Yaitu, misalnya, agar orang mudah mengetahui waktu. Jam tangan itu dibuat agar orang bisa mengetahui waktu dengan mudah.

Dan kalau Anda sebelumnya tidak pernah mengenal barang yang namanya jam tangan, lalu tiba-tiba teman Anda mengenakan barang itu di tangannya, dan Anda tahu fungsi utama dan kegunaannya, maka pasti Anda akan bertanya-tanya tentang siapa yang ada di balik pembuatannya? 

Sekurang-kurangnya Anda tak akan mengingkari bahwa di balik pembuatan jam tangan itu ada suatu sebab. Jam tangan itu pasti ada yang buat. Tidak mungkin dia mendesain dirinya sendiri.

Nah, logika yang sama berlaku bagi alam semesta yang terbentang sedemikian luas ini. Alam ini memiliki bagian-bagian, bagian-bagian tersebut saling terhubung satu sama lain, dan alam semesta ini mengisyaratkan akan adanya satu tujuan tertentu di balik penciptaannya. 

Dalam bahasanya Ibnu Rushd, alam semesta ini didesin demi memenuhi kepentingan manusia sebagai wujud “perhatian” Tuhan terhadap mereka. Karena itu ia menamainya dengan istilah dalîl al-‘Inâyah (argumen perhatian).

Semua yang ada di alam semesta ini seolah-olah diatur demi kepentingan manusia. Tapi siapa yang mengatur itu? Hukum kausalitas meniscayakan adanya sebab. Karena setiap akibat pasti butuh pada sebab. 

Nalar yang sehat pasti akan mengamini itu. Tidak mungkin sesuatu menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Karena itu, yang menjadi sebab di balik keteraturan alam raya ini haruslah berupa wujud yang berbeda dengan dirinya. 

Mungkin Anda bisa mengajukan jawaban apa saja. Yang jelas, yang menjadi sebab di balik keteraturan alam raya ini bukan sesuatu yang buta, tuli, dan bisu seperti halnya materi. Agama mengatakan bahwa yang mengatur itu adalah Allah. Dia tidak berawal, tidak berakhir, Mahakuasa, MahaMelihat, MahaMendengar, MahaBerbicara, MahaKaya dan menyandang sifat-sifat kesempurnaan lainnya.

Bukankah logika seperti ini lebih masuk akal ketimbang orang-orang Ateis yang mengingkari keberadaan sebab itu? Bukankah keyakinan seperti ini lebih mudah untuk kita terima ketimbang pandangan kaum materialis yang mengatakan bahwa yang menjadi sebab itu adalah materi, atau kaum naturalis yang meyakini bahwa yang menjadi sebab itu ialah alam itu sendiri? 

Masih adakah ruang bagi kita untuk meragukan keberadaan Tuhan, sementara akal kita sendiri menuntut adanya sebab di balik keteraturan semesta yang selama ini kita saksikan?  

Paling tidak, melalui dalil ini, kita bisa sadar bahwa logika kaum beriman sejujurnya sangat sederhana dan sangat mudah dicerna oleh akal sehat kita. Mengapa kita harus percaya Tuhan? 

Di antara jawabannya, berdasarkan dalil ini, ialah karena alam ini teratur, segala sesuatu yang teratur pasti ada yang mengatur. Konklusinya, alam semesta ini ada yang mengatur. Dan yang mengatur itu adalah Allah Swt. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.