Pada era modern sekarang ini, isu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan banyak dibahas dan sering disebut dengan kesetaraan gender. Kesetaraan yang dimaksud bukanlah kesetaraan dalam hal kodrat, melainkan kesetaraan yang bersifat kultural. 

Adanya hak-hak kaum perempuan yang dituntut untuk disamakan dengan kaum laki-laki menjadikan isu ini makin ramai dibahas, khususnya dalam ranah akademik.

Prof. Dr. Nasarudin Umar telah menuangkan buah pemikirannya terkait korelasi antara Alquran dan kesetaraan gender. Dalam tulisannya, beliau menjabarkan perspektif Alquran terhadap permasalahan gender.

Dengan menunjukkan bahwa Alquran cenderung mempersilakan kepada kecerdasan-kecerdasan manusia di dalam menata pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Dengan kesadaran bahwa persoalan ini cukup penting tapi tidak dirinci di dalam Alquran

Maka hal ini menjadi isyarat adanya kewenangan manusia untuk menggunakan hak-hak kebebasannya dalam memilih pola pembagian peran laki-laki dan perempuan yang saling menguntungkan, baik dalam sektor domestik maupun sektor publik.

Nasaruddin mengawali penelitiannya dengan mengkaji secara ringkas mengenai gender. Definisi, teori-teori, dan seluk beluk gender ia tuliskan sebagai pembuka kajian disertasinya.

Selanjutnya, ia memaparkan kondisi jazirah arab pra Islam, menjelang turunnya Alquran. Ia mengawali pemaparannya dengan menggambarkan letak geografis jazirah arab yang belum merupakan satu kesatuan politik, budaya, apalagi agama.

Jazirah arab pada masa itu berada di tengah-tengah kekuasaan dua bangsa besar, Romawi di sebelah barat, dan Persia di sebelah timur. Dari segi sumber daya alam, wilayah ini tidak memiliki keistimewaan. Hanya yang menjadi nilai lebih bagi wilayah ini adalah letaknya yang strategis untuk pelayaran dan perdagangan. Karena memiliki wilayah pantai yang cukup panjang menghadap ke Laut Merah, Samudera Hindia dan Teluk Persia. 

Nasaruddin kemudian melanjutkan pemaparannya dengan menggambarkan keadaan budaya dan peradaban bangsa Arab sebelum datangnya Islam. Di sana ia menjelaskan bahwa budaya Arab ketika itu masih sangat terpengaruh dengan peradaban Mesopotamia. 

Namun belum ditemukan data yang pasti tentang peranan laki-laki dan perempuan. Bagaimana perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan dalam status sosial masyarakat ketika itu.

Disimpulkan hampir semua kerajaan yang berkuasa di jazirah Arab sebelum datangnya Islam menerapkan perlakuan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Bahkan kaum perempuan saat itu cenderung lebih dipojokkan. Perempuan seolah-olah dipersepsikan sebagai jenis kelamin kedua yang harus tunduk dan berada di bawah otoritas laki-laki.

Untuk memahami keberadaan dan peran yang dimainkan Islam, diperlukan pemahaman mendalam terhadap stratifikasi sosial bangsa Arab menjelang dan ketika Alquran diturunkan. Misi Alquran hanya dapat dipahami secara utuh setelah memahami kondisi sosial budaya bangsa Arab.

Bahkan sejumlah ayat dalam Alquran, seperti ayat-ayat gender, dapat disalahpahami tanpa memahami latar belakang sosial budaya bangsa Arab. Itulah mengapa, sebelum masuk ke dalam pembahasan kesetaraan gender dalam Alquran, Nasaruddin terlebih dahulu menjelaskan kondisi sosial dan geografis bangsa Arab pra Islam.

Gender dalam Alquran

Dalam Alquran terdapat beberapa redaksi kata yang digunakan untuk mengungkapkan laki-laki dan perempuan. Masing-masing redaksi memiliki makna tersendiri dalam pengungkapannya. 

Sebagai contoh kata rajul yang berarti laki-laki tidak menunjukkan kepada jenis kelamin tetapi lebih menekankan kepada aspek maskulinitas.

Lalu ada redaksi lain, yaitu dzakar yang juga berarti laki-laki. Adapun yang kedua lebih berkonotasi biologis dengan menekankan aspek jenis kelamin.

Rijal dan nisa digunakan untuk menggambarkan kualitas moral dan budaya seseorang. Berbeda dengan dzakar dan unsta yang penekanannya kepada jenis kelamin. Oleh karena itu, kata dzakar juga digunakan untuk jenis kelamin binatang.

Dalam pembahasan ini, penulis mencoba menelaah gaya bahasa yang digunakan Alquran dalam mengungkapkan kata laki-laki dan perempuan. Selain bentuk kata per kata, ia juga menelaah bentuk kata ganti atau dhamir yang digunakan dalam mengungkapkan laki.

Konsep gender dalam Alquran dengan memahami asal-usul dan substansi kejadian manusia menurut Alquran. Bagaimana Alquran memosisikan laki-laki dan perempuan baik dari segi substansi maupun dari segi fungsi.

Secara asal-usul tidak terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya sama-sama diciptakan dari satu unsur yaitu air.

Pernyataan bahwa manusia diciptakan dari tanah tidaklah bertentangan dengan hal ini. Karena tanah sejatinya bertempat di salah satu planet yang mengandung banyak air. Dengan menyebut unsur tanah, maka dengan sendirinya tercakup unsur air di dalamnya.

Begitu juga bila dilihat dari proses reproduksi, unsur air menjadi lebih dominan dan sering disebutkan dalam Alquran dengan kata mani sebagai unsur utama reproduksi manusia. Artinya, baik laki-laki maupun perempuan tidak terdapat perbedaan yang berarti berdasarkan proses penciptaannya.

Mengenai gender, dapat dimengerti bahwa istilah gender itu sendiri belum menjadi sebuah kosakata yang baku dalam bahasa Indonesia. Kata gender diadopsi dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Kata ini digunakan untuk menunjukkan adanya perbedaan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Perbedaan-perbedaan yang ada antara mereka sebagian bersifat kodrati dan sebagian lagi bersifat kultural dan sosial. Perbedaan kedua inilah yang menjadi fokus pembahasan kesetaraan gender.

Alquran sebagai pedoman utama umat muslim tidak luput untuk dijadikan sebagai objek formal perkara ini. Kaum feminis berupaya memahami kesetaraan gender melalui sudut pandang Alquran. Hasilnya, menurut mereka, Alquran memberikan pandangan positif terkait kesetaraan gender.

Alquran sangat menegaskan adanya prinsip-prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sebagai seorang hamba. Demikian halnya yang dikemukakan Pof. DR. Nasaruddin Umar MA di dalam bukunya Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Alquran.