Pada tulisan sebelumnya saya telah menceritakan sedikit tentang latar belakang Ahmad Syafii Maarif. Negarawan yang akrab disapa Buya ini, genap berusia 85 tahun pada paruhan awal 2020 ini.

Banyak hal yang bisa kita teladani dari sikap kritis Buya Syafi'i Maarif, mulai dari kebiasaan hidup sederhana yang ia lakoni. Walaupun ia adalah salah seorang intelektual terkemuka di negeri ini, namun sikap sederhananya masih terus ia pegang.

Sikap lain dari Buya Syafi'i yang selalu bisa kita teladani adalah sikap pluralnya dalam memaknai perbedaan dan keberagaman di negeri yang majemuk ini.

Memasuki usia senja, tak menyurutkan ketekunan Buya Syafi'i Ma'arif dalam melakukan kerja-kerja intelektual. Sudah banyak tulisan beliau yang diterbitkan di media-media besar seperti Republika dan Tempo. 

Menjadi seorang tokoh bangsa, membawa nama Ahmad Syafi'i Maarif sebagai roll mode bagi generasi muda. Usia bagi Buya Syafi'i Maarif tak menjadi peghalang untuk terus berkarya. Melahirkan pemikiran-pemikiran pembaruan dalam menyongsong kemajuan bangsa.

Sebagai tokoh lintas agama, Buya Syafi'i telah merefleksikan pandangan dan pikirannya tentang pesan universal Alquran kepada umat manusia melalui sikap inklusifnya dalam memahami perbedaan. 

Ia tidak mendiskriminasi seseorang berdasarkan agama, etnis ataupun jenis kelamin. Namun ia begitu gamblang merangkul perbedaan dengan menempatkan nilai kemanusiaan di atas yang lainnya.

Argumen Kesetaraan Gender Buya Syafii Maarif

Keberpihakan Buya Syafi'i Maarif terhadap agenda kesetaraan gender telah tampak dalam penolakannya terhadap praktik poligami yang sejak dulu telah dipraktekkan oleh masyarakat Sumpur Kudus tanah kelahirannya.

Permasalahan poligami menjadi wacana yang terus berkecamuk dalam wilayah pemikiran keislaman Buya setelah ia menyelesaikan studi di universitas Chicago. 

Pemikiran Buya Syafi'i Maarif tentang kesetaraan gender tidak jauh beranjak dari pemikiran demokrasinya. Pemikiran demokrasi Buya merupakan sikap kritisnya dalam mengimplementasikan budaya egalitarian masyarakat Minang seperti yang ia nukilkan dalam bukunya yang berjudul Titik-Titik Kisar Perjalananku:

''Filosofi sosial orang Minang mengajarkan agar semua orang merdeka, setara dan sederajat'.'

Hal ini pun tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan memiliki kemerdekaan untuk meraih hal-hal yang setara dengan laki-laki dalam ruang-ruang publik. Buya pun percaya bahwa prinsip kesetaraan gender didukung penuh oleh Alquran.

Sebagaimana bunyi Alquran dalam surah Al-Hujurah ayat 13 yang artinya: ''Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling takwa'.'

Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi yang sama untuk menuju ke-paripurna-an diri di hadapan Tuhan yang Maha Esa. Di mana status antara manusia yang satu dengan yang lainnya, tidak memiliki perbedaan sedikit pun. Terlebih lagi perbedaan yang dilekatkan oleh masyarakat atas perbedaan jenis kelamin menjadi lumpuh dihadapan ayat Alquran ini.

Bagi Buya Syafi'i Maarif, Alquran adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. 

Di saat laki-laki patriarki dari beberapa kelompok keagamaan cenderung mendiskriminasi perempuan dengan dalil agama, bahkan membelenggu kebebasan perempuan di ranah publik dengan menjual ayat-ayat Tuhan, sebaliknya Buya Syafi'i Maarif menunjukkan sikap yang berbeda.

Ia setuju dengan hasil pemilu tahun 2004 tentang kuota 30 persen perempuan di parlemen, di mana ia melihatnya sebagai sebuah kewajaran bilamana perempuan menjadi pemimpin (presiden) sebuah negara.

Pemikiran Buya Syafii'i Maarif yang menempatkan posisi perempuan setara dengan laki-laki dalam ranah politik (publik), menjadi sebuah penanda atas keterbukaan pemikirannya. Bahwa setiap manusia memiliki posisi yang setara di hadapan hukum dan agama.

Agama tidak sedikit pun mendiskiriminasi perempuan. Perbedaan-perbedaan yang hadir dalam menafsirkan ayat Alquran adalah perihal perbedaan setiap orang dalam memahami makna yang hendak disampaikan oleh Alquran.

Argumen kesetaraan gender Buya Syafi'i Maarif dapat pula kita lacak ketika ia dengan imajinatif membayangkan betapa gagahnya para ibu Sumpur Kudus menunggang kuda sejauh 60 km pulang pergi dari Sumpur kudus menuju pasar kumanis.

Dalam titik-titik kisar perjalananku, Buya Syafi'i Maarif menuturkan: ''dengan budaya naik kuda, bukankah pula posisi perempuan di kampungku sangat terhormat, tidak kalah dengan kaum pria?''

Oleh beliau, kebiasaan seorang perempuan naik kuda di lingkungan sebuah negeri yang amat pelosok, menjadi lambang sebuah kemajuan dan kesetaraan. Bahwa perempuan Indonesia telah menunjukan kemajuan kebudayaan pada masa di mana penjajahan masih menyelimuti bangsa Indonesia.

Kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan akan tercapai melalui pengimplementasian sikap humanisme dalam diri setiap manusia beriman. Hal ini adalah landasan konkrit bagi setiap manusia untuk menciptakan suasana yang seimbang dalam kehidupan bermasyarakat.

Kecintaan akan kemanusiaan menjadi jaminan bagi lahirnya kemanusiaan itu sendiri. Cinta akan membawa manusia pada kehidupan kolektif yang damai. Sebagaimana Buya Syafi'i Maarif menerjemahkan syair Rumi, cinta menjadi pilar utama bangunan hubungan antara manusia, antara bangsa, antara kebudayaan, dan antara sistem hidup yang berbeda.

Dengan menanamkan rasa cinta akan kemanusiaan, maka laki-laki dan perempuan akan saling melihat kedalam diri masing-masing. Bahwa Tuhan telah memberikan keseimbangan pada penciptaan laki-laki dan perempuan diatas alam raya ini.

Bagi Buya Syafi'i Maarif, manusia adalah sebuah keluarga. Prinsip keadilanlah yang dapat merekatkan keutuhan sebuah keluarga. Tanpa keadilan, konsep umat manusia sebagai sebuah keluarga akan tercabik dan berserakan.

Hal ini sangatlah sejalan dengan apa yang menjadi tuntutan para feminism, dimana penguasaan atas tubuh perempuan atau hegemoni terhadap perempuan adalah bentuk penindasan yang nyata.

Penindasan yang secara hierarkis telah dipraktekan oleh sistem patriarka terhadap tubuh dan pikiran perempuan, teramat jauh dari prinsip equilibrium yang diamanatkan oleh Alquran. 

Dalam bukunya membumikan Islam, Buya Syafi'i Maarif memposisikan penjajahan dan perbudakan sebagai dua hal yang tidak jauh berbeda, keduanya mematikan jiwa manusia dan merusak mental kita sebagai manusia.

Hegemoni atas pikiran perempuan yang dilakukan oleh sistem kapitalisme pasar, membawa tubuh perempuan pada sebuah sistem kerja pasar yang disebut komodifikasi. Menjadikan perempuan sebagai alat dalam meraup keuntungan adalah perbuatan yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan nilai keadilan itu sendiri.

Sistem kapitalisme pasar telah menjadikan tubuh perempuan teraleanasi dari dirinya sendiri. Sebagaimana manusia-manusia yang telah menjauhkan diri dari diktum universal Alquran.

Seluruh rangkaian penindasan dan pemarjinalan terhadap perempuan adalah sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan. oleh Buya Syafi'i Maarif, Islam adalah agama egalitarian yang menempatkan umat manusia pada posisi yang sama dihadapan Tuhan dan sejarah.