Kita semua pasti percaya dengan adanya sesuatu yang berwujud. Tak ada yang bisa menolak itu. Orang Ateispun pasti percaya dengan yang namanya wujud. Apa itu wujud? Menurut para filsuf, konsep wujud merupakan konsep aksiomatik (mafhûm badahiy). 

Artinya dia sudah jelas dengan dirinya sendiri sehingga tidak memerlukan penjelasan lagi. Ketika sesuatu dikatakan berwujud, itu artinya sesuatu itu ada. Apa itu ada? Ya ada. Tidak ada konsep universal yang lebih jelas dan lebih terang benderang dari konsep ada. Dan kita semua percaya dengan sesuatu yang berada itu.

Yang mengingkaripun pada akhirnya akan mengakui keberadaannya. Sebab, ketika dia mengingkari, itu artinya di sana ada pengingkaran. Dan pengingkaran itu meniscayakan keberadaan orang yang mengingkar. 

Karena itu, orang yang mengingkari keberadaan sesuatu yang ada itupun pada akhirnya, mau tidak mau, akan mengakui keberadaan dirinya sendiri. Dan dirinya itu juga termasuk sesuatu yang ada. Karena itu, kepercayaan atas sesuatu yang berwujud itu merupakan suatu aksioma yang tidak mungkin diingkari oleh orang-orang yang bernalar. 

Selain memercayai keberadaan sesuatu yang ada, akal yang sehat juga akan mengatakan bahwa ketika sesuatu itu dikatakan ada, maka keadaannya tidak akan keluar dari dua kemungkinan. 

Satu, wujud yang kita yakini keberadaannya itu bersifat wajib (necessary). Dua, wujud yang kita yakini keberadaannya itu bersifat mumkin (contingent/possible). Apa itu wajib? Wujud yang wajib itu artinya ialah wujud yang harus ada dan tidak menerima ketiadaan.

Dia tidak mungkin tidak ada dan harus ada. Sementara mumkin ialah sesuatu yang mungkin ada dan mungkin tidak ada. Bisa ada, bisa tidak ada. Ketika dia ada pasti ada yang mengadakan, dan ketika dia tidak ada pasti ada sesuatu yang menghendakinya untuk tidak ada. 

Karena baginya, keadaan dan ketidaan bersifat setara. Manakala sisi yang satu lebih unggul, atau terberatkan, maka pastilah di sana ada sebab di balik keadaan atau ketiadaannya itu.

Adakah kemungkinan ketiga? Tidak ada. Pilihannya ada dua itu saja, wajib dan mumkin. Tidak mungkin kita menyertakan mustahil. Mengapa? Karena mustahil itu artinya sesuatu yang memang tidak ada dan tidak akan pernah ada. Sementara pembicaraan kita sekarang ialah seputar sesuatu yang ada. 

Kalau sesuatu yang mustahil itu dimungkinkan untuk ada, maka ketika itu dia tidak disebut mustahil, tetapi menjadi mumkin. Karena itu, ketika kita mengimani keberadaan sesuatu yang ada, maka kemungkinannya hanya ada dua saja, imma dia itu wajib, atau dia itu mumkin. 

Sekarang kita bertanya: Lalu, setelah kita percaya, wujud yang kita yakini keberadaannya itu tergolong wajib atau mumkin? Kalau yang menjawab pertanyaan ini berkata wajib, maka itulah yang kita cari. Tapi kalau dia mengatakan mumkin, maka nalar yang sehat akan menuntut adanya sebab. 

Mengapa? Karena sesuatu yang mumkin, sekali lagi, ialah sesuatu yang sisi keadaan dan ketiadaannya bersifat setara (mastawâ tharafâhu wujûdan wa ‘adaman). Artinya dia bisa ada, bisa tidak ada.

Manakala dia ada, akal kita akan menuntut adanya sebab di balik keberadaannya, karena sesuatu yang mungkin tidak bisa menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Begitu juga, manakala kita katakan dia tidak ada, maka ketiadaannya pasti disebabkan oleh suatu sebab, karena sesuatu yang mungkin ada dan mungkin tiada tidak mungkin meniadakan dirinya sendiri.

Sekarang kita katakan bahwa dia itu ada. Ketika kita mengatakan dia ada, maka pastilah di sana ada sebab yang menjadikannya ada. Sebab itu pasti ada. Tidak mungkin tidak ada. Hanya saja, kepada sebab itu kita akan mengajukan pertanyaan yang sama lagi: Sebab yang kita yakini keberadaannya itu wajib atau mumkin

Pilihannya hanya ada dua lagi, yaitu wajib dan mumkin. Tidak ada pilihan ketiga. Kalau dia kita katakan wajib, maka itulah yang kita cari (karena kita ingin membuktikan keberadaan Tuhan, yang wujudnya wajib).

Tapi kalau seandainya dia mumkin, maka konsekuensinya seperti yang saya sebutkan tadi; dia pasti butuh pada sebab di balik keberadaannya. Sebab yang mengadakannya itu sendiri wajib atau mumkin? Kalau dikatakan wajib, itulah yang kita cari. Dan kalau dikatakan mumkin, pertanyaan yang sama akan kita ajukan lagi. Dan begitu seterusnya.

Pada akhirnya, pertanyaan ini pasti akan berujung pada satu sebab yang keberadaannya tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Akal yang sehat tidak akan bisa menerima adanya rangkaian sebab-akibat yang tidak berujung. Rangkain sebab akibat yang tak berujung itu, dalam bahasa ilmu kalam, sering disebut dengan istilah tasalsul (infinite regress). Dan itu mustahil.

Dengan demikian, rangkaian sebab akibat itu harus berakhir dengan satu wujud yang dia menjadi sebab utama di balik semua wujud. Dan wujud yang menjadi sebab utama itu tidak mungkin kita katakan mumkin

Mengapa? Karena kalau dia kita katakan mumkin, itu artinya dia butuh pada sebab lagi. Kalau dia butuh pada sebab, maka sebab yang menyebabkannya juga pasti butuh pada sebab lagi. Dan begitu seterusnya.

Ujung-ujungnya kalau begitu terus kita tidak akan sampai pada titik akhir. Sementara nalar yang sehat mengharuskan adanya keterhentian silsilah itu. Karena dia tidak mungkin tergolong kedalam wujud yang mumkin, maka itu artinya dia tergolong kedalam wujud yang wajib. Dan yang wajibul wujud itulah yang oleh kaum beriman disebut sebagai Allah.

Itulah cara termudah untuk memahami dalîl al-Imkân (the argument of contigency/dalil kemungkinan), sebagai salah satu dalil yang sering dijadikan dasar oleh para filsuf Muslim untuk membuktikan keberadaan Tuhan. 

Dinamai dalîl al-Imkân karena argumennya didasarkan pada “kemungkinan” alam. Bahwa alam semesta ini mumkin (bisa ada bisa tiada). Dan karena dia mumkin maka dia pasti butuh pada sebab. Kalau sebabnya itu mumkin, maka dia juga pasti butuh pada sebab lagi.

Sampai pada akhirnya terhentilah rangkaian sebab-akibat itu pada satu wujud yang menjadi sebab utama dari semua sebab (illat al-‘Ilal). Orang beriman menyebutnya Allah. Orang materialis mungkin akan menyebutnya sebagai materi. Soal apa yang menjadi sebab itu, saya kira, itu diskusi lain lagi.

Yang jelas, jika Anda mengamini argumen ini, Anda tidak akan bisa menolak satu kenyataan bahwa di sana ada satu wujud yang menjadi sebab utama di balik keberadaan alam semesta ini. 

Kalau keberadaan sebab itu kita tolak, maka konsekuensinya kita akan percaya bahwa alam semesta ini disebabkan oleh dirinya sendiri. Tapi mungkin tidak sesuatu itu menjadi sebab bagi dirinya sendiri?

Anda melihat pulpen di samping laptop. Lalu ada orang bilang bahwa pulpen itu tidak ada yang buat, dan dia membuat dirinya sendiri. Bisakah Anda menerima pernyataan itu? Kalau barang yang kecil saja kita amini keberadaan pembuatnya, tidakkah kita percaya bahwa alam semesta yang sedemikian dahsyat ini juga memiliki penciptanya?