4 minggu lalu · 488 view · 5 min baca · Filsafat 54324_80915.jpg

Argumen Kebaruan di Balik Keberadaan Tuhan

Kalau kita amati, segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk diri kita, pasti memiliki dua aspek. Pertama, aspek inti. Kedua, aspek sampingan. Ada yang inti dan ada yang sampingan. 

Segala sesuatu—kecuali Tuhan—pasti memiliki dua aspek itu. Untuk mengambil contoh, lihatlah handphone milik Anda. Sebagaimana benda-benda yang lain, handphone juga memiliki dua aspek yang saya sebutkan tadi. Memiliki aspek inti, dan memiliki aspek sampingan. 

Apa yang inti dari handphone? Yang inti dari handphone, antara lain, ialah bentuk khasnya yang membedakan dia dengan barang-barang lain, di samping juga bahan utamanya, yang tanpa bahan tersebut, handphone tak akan ada.

Lalu apa yang sampingan? Yang sampingan sangat banyak. Harga handphone itu termasuk sampingan. Sebab, baik dia murah ataupun mahal, berkualitas tinggi ataupun rendah, handphone itu tetaplah handphone. Hakikatnya tidak dipengaruhi oleh soal harga. 

Begitu juga halnya dengan warna, panjang, tinggi, lebar, berat, posisi, waktu yang mengitarinya, tempat dia berada, dan atribut-atribut lainnya. 

Itu semua adalah hal-hal yang bersifat sampingan dari handphone, yang kalaupun dia tidak ada, hakikat handphone tetap ada sebagaimana adanya. Tidak “ternodai” oleh hal-hal yang bersifat sampingan itu.


Nah, para teolog Muslim menyebut aspek inti dari sesuatu itu dengan istilah jauhar (substansi). Sementara aspek sampingan mereka sebut dengan istilah ‘aradh (aksiden). Substansi itu adalah “sesuatu yang bertempat karena dirinya sendiri” (mâ tahayyaza bidzzât). 

Atau, jika ingin merujuk pada definisi yang sedikit rumit, substansi itu ialah “esensi yang apabila ditemukan di alam luar, maka niscaya dia tidak berada dalam subjek.” (mâhiyyatun idza wujidat fi al-Khârij kânat lâ fi maudhu’). Sedangkan aksiden ialah sesuatu yang bertempat karena bertempatnya sesuatu yang lain. Atau, sesuatu yang ada, yang keberadaannya bergantung pada subjek.

Handphone yang Anda miliki itu masuk kategori substansi. Sedangkan warna, berat, harga, panjang, lebar, posisi, gerak, waktu, tempat dan hal-hal yang mengitarinya, masuk kategori aksiden. Dalam logika Aristotelian, aksiden itu berjumlah sembilan. Ditambah satu substansi. 

Dari situ muncullah apa yang kita kenal dengan istilah “sepuluh kategori” (maqulat ‘asyrah/ten categories). Kesepuluh kategori itu merupakan genus-genus superior (al-Ajnâs al-‘Ulya) yang diberlakukan bagi segala wujud yang ada di dunia ini.

Segala sesuatu di dunia ini pasti tidak akan lepas dari sepuluh kategori tersebut. Lebih jelasnya, tidak akan lepas dari yang namanya substansi dan aksiden. Dan keduanya saling terkait satu sama lain. Di mana ada substansi, maka di sana ada aksiden. Di mana ada aksiden, maka pastilah di sana ada substansi. Tidak ada yang satu kecuali dengan adanya yang lain.

Mata kepala kita menyaksikan bahwa aksiden itu senantitas berubah-ubah. Orang yang dulu kita benci lima tahun kemudian berubah menjadi orang yang kita sayang. Warna kulit yang tadinya coklat beberapa tahun kemudian berubah menjadi agak putih. Orang yang tadinya kasar tiba-tiba berubah menjadi santun. Handphone yang tadinya bagus di kemudian hari tiba-tiba menjadi rusak. 

Bunga yang tadinya segar beberapa bulan kemudian berubah menjadi layu. Lampu yang tadinya terang tiba-tiba cahayanya mulai melemah. Semua perubahan yang saya sebutkan itu ialah perubahan yang terjadi dalam aksiden. Karena aksiden itu senantiasa berubah-ubah, maka dia termasuk sesuatu yang hâdits

Mengapa tergolong hâdits? Jawabannya, karena keadaannya didahului oleh ketiadaan. Dia ada, setelah sebelumnya tidak ada. Tidak ada, kemudian ada lagi. Dan begitu seterusnya. Keadaan dan ketiadaan datang silih berganti. Itulah yang menjadi ciri aksiden. Karena itu, aksiden termasuk sesuatu yang hâdits.


Tetapi, seperti yang kita tahu, aksiden ini hanya bisa ada dengan adanya sesuatu yang lain, yaitu substansi. Tanpa substansi, aksiden tak akan pernah ada. Pernah tidak Anda melihat rasa enak, misalnya, tanpa melekat dalam suatu makanan, minuman atau benda apapun di dunia ini yang bisa memiliki rasa itu? 

Pasti tidak akan pernah. Yang namanya enak itu pasti melekat dalam sesuatu, entah itu makanan ataupun minuman. Dia adalah aksiden. Dan setiap aksiden, sekali lagi, senantiasa bergantung pada substansi.

Karena aksiden itu hâdits, seperti yang kita katakan tadi, dan dia senantiasa menyertai substansi, maka konsekuensinya substansi juga menjadi hâdits. Mengapa? Karena dia disertai oleh aksiden yang hâdits. Segala sesuatu yang disertai oleh sesuatu yang hâdits maka dia juga hâdits

Dengan demikian, baik substansi maupun aksiden kedua-duanya adalah hâdits. Karena keduanya saling terkait satu sama lain. Jika substansi dan aksiden terbukti hâdits, maka alam semesta ini, yang terdiri dari substansi dan aksiden juga hâdits. Ketika alam ini hâdits (ada dari ketiadaan), maka dia butuh pada muhdits (yang mengadakan dari ketiadaan), dan dialah Allah.

Inilah salah satu cara untuk membuktikan keberadaan Allah dengan premis yang menekankan aspek kebaruan alam (hudûts al-‘Âlam). Mutakallimûn (para teolog) banyak bersandar pada argumen ini. Argumen ini sering dikenal dengan istilah Burhân al-Hudûts (Kalam Cosmological Argument), yang biasa kita pelajari di pesantren-pesantren. 

Hanya saja, uraian di atas sedikit dibumbui oleh istilah-istilah filsafat. Karena itu agak sedikit terlihat rumit. Padahal intinya sama saja. Tidak jauh berbeda dengan argumen yang kita pelajari di pesantren-pesantren itu. Argumen ini bisa kita perjelas lagi dengan bangunan silogisme sebagai berikut:

Premis minor: Alam ini terdiri dari substansi dan aksiden yang ada dari ketiadaan

Premis mayor: Segala sesuatu yang ada dari ketiadaan pasti ada yang mengadakan


Konklusi: Alam ini ada yang mengadakan.

Dan yang mengadakan itu adalah Tuhan. Tapi apakah Tuhan bisa dikatakan sebagai substansi? Dengan mengacu pada definisi di atas, Tuhan tidak mungkin disebut sebagai substansi. Mengapa? Karena substansi adalah sesuatu yang bertempat, sementara Tuhan tidak bertempat. 

Di samping itu, substansi juga senantiasa disertai oleh aksiden. Sedangkan aksiden adalah sesuatu yang hâdits. Konsekuensinya, kalau kita menyebut Tuhan sebagai substansi, kita akan meyakini Dia sebagai sesuatu yang hâdits, karena dia akan disertai oleh aksiden yang juga hâdits. Dan itu mustahil.

Kalau disebut substansi saja tidak mungkin, apalagi kalau kita sebut sebagai aksiden, sebagai sesuatu yang berada dengan adanya sesuatu yang lain. Karena kalau Tuhan disebut sebagai aksiden, itu artinya Tuhan bergantung pada sesuatu yang lain. Dan itu juga mustahil. Alhasil, Tuhan tidak mungkin menyandang dua kategori itu. Dua kategori itu hanya berlaku bagi alam semesta, yang bersifat mungkin (mumkin). 

Karena alam semesata ini terdiri dari substansi dan aksiden, dan masing-masing dari substansi dan aksiden itu adalah sesuatu yang hâdits, maka alam semesta ini adalah sesuatu yang hâdits. Segala sesuatu yang hâdits (ada dari ketiadaan) pasti butuh pada muhdits (yang mengadakan). Dan dialah Allah. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb. 

Artikel Terkait