Peneliti
10 bulan lalu · 20 view · 7 menit baca · Cerpen 60481_94335.jpg

Aren Kecil Belajar Mengarang

Pintunya diketuk dari luar. Tukang khayal itu berhenti dari melamunnya.

“Sial, siapa lagi itu?” gerutunya.

Sambil dengan rasa malas, dia terpaksa berdiri dan bergerak ke arah pintu yang diketuk. Tangannya meraih gagang pintu dan membukanya. Yang tampak adalah kosong. Mata tukang khayal memandang lurus ke depan. Dia tak dapat melihat siapa-siapa.

Hingga sebentar kemudian, sebuah suara terdengar: “Om, om, aku di sini.”

Tukang khayal itu kaget saat menunduk dan pandangannya tertumbuk pada bocah kecil dengan kepala plontos. Maaf, ada sisa rambut bagian depan. Anak itu tersenyum memajangkan gigi-giginya yang tak bersih.

Si tuan rumah masih terpaku. Matanya menyelidiki tamu kecilnya itu. Yang tampak dari anak itu: tubuh kecil dengan baju yang terlampau besar. Baju kaos yang dipakainya hampir menutupi lututnya. Kotor. Kumal.

Anak ini nampaknya lupa atau tak punya celana lain, pikir si tuan rumah mendapati celana pendeknya berwarna merah. Kolor seragam sekolah. Astaga! Alas kakinya adalah sandal jepit yang tak terurus. Kakinya berdebu.

“Kamu habis dari mana?”

“Dari sekolah.”

Wajahnya cengar-cengir. Tak menunjukkan ketakutan. Tak ada kesopanan. Tubuhnya tak dapat diam. Ia bergerak-gerak seperti cacing kepanasan. Matanya memandang kemana-mana.

“Ya sudah masuk.”

Anak itu tersenyum dan melangkah masuk mengikuti tuan rumahnya. Di dalam rumah, anak itu terpesona dengan gambar-gambar lukisan yang menempel di beberapa titik di dindingnya. Matanya terpaku. Tubuhnya tetap bergerak.

“Aku pernah lihat kamu sebelum ini?” tukang khayal itu sambil memperhatikan anak kecil itu. Diteliti wajahnya. Dicermati penampilannya. Dia makin merasa yakin bahwa wajah anak kecil itu pernah ia jumpai di sebuah tempat.

“Sebentar, aku pernah melihatmu, tapi kapan ya?”. Telunjuknya diketuk-ketukkan ke pelipisnya sendiri.

Anak itu lebih terpesona dengan lukisan-lukisan di rumah itu. Dia tak peduli dengan kebingungan si tuan rumah yang menyibukkan diri mengingat-ngingat bocah kecil ini.

“Sial,” si tuan rumah putus asa. Dia tak dapat mengingat secara utuh anak itu. Akhirnya:

“Namamu siapa, nak?”

Anak itu tak menjawab. Matanya tetap tak beranjak dari lukisan di dinding. Tubuhnya bergerak-gerak.

“Kamu mau menemui saya atau menemui benda-benda mati itu?”

Anak itu akhirnya sadar si tuan rumah memanggilnya. Tapi dia tak merasa bersalah telah mengabaikan tuan rumahnya sekitar lima sampai sepuluh menit demi memuaskan dirinya memandang lukisan.

Anak itu melangkah mendekati si tuan rumah. Berhenti tepat di depannya. Berdiri tegak. Lalu dia mengulurkan tangan mungilnya isyarat hendak berjabat tangan. Mimik wajah anak itu kini tampak dipaksakan serius. Lagaknya seperti seorang pejabat.

“Anak gila,” umpat si tuan rumah dalam hati. Tingkahnya konyol. Tapi akhirnya dia tertawa dan menerima uluran jabat tangan anak itu.

“Kamu sebenarnya siapa? Mau apa juga datang ke sini?” si tuan rumah mulai makin kesel dengan sikap yang tampak aneh dari anak itu.

“Namaku Aren, om.”

“Aren?”

“Iya.”

“Pernah ke sini?”

Aren menggeleng.

“Pernah ketemu saya?”

Aren mengangguk.

“Di mana?”

“Di sini, om.”

Si tuan rumah tampak kesel. Gigi-giginya terdengar bergemeretak menahan kekesalan pada anak itu.

“Berarti kamu pernah ke sini, nak. Ngomong dari tadi jangan muter-muter begini bikin pusing om.”

Aren tersenyum-senyum sendiri. Si tuan rumah bergumam sendiri: “anak kecil sudah kurang ajar sama orang tua, huh.”

“Aren pernah ke sini dulu, om. Tapi om tolak waktu itu.”

Si tuan rumah terkejut. “Aku tolak?”

Aren mengangguk.

“Pasti karena kamu nakal, nak.”

Aren menggeleng. “Aren minta om ajari Aren mengarang. Om tidak mau. Aren jadinya pulang dan tak masuk sekolah saat itu.”

“Mengapa Aren tidak masuk sekolah?”

“Ada tugas mengarang. Aren tidak bisa. Pasti nilainya jelek. Terus kalau pulang, Aren pasti dimarahi nenek.”

Aren kembali menatap lukisan-lukisan yang menempel di dinding kamar itu dan mengabaikan si tuan rumah. Di lukisan itu: seorang anak kecil dalam gendongan ayahnya. Tampak di sampingnya, seorang perempuan tersenyum. 

Beberapa waktu kemudian, dan begitu singkat, Aren tercengang menyaksikan tiga tubuh di lukisan itu bergerak. Sang ayah memanjakan anaknya, menimang-nimang hingga anak kecil itu tertawa-tawa. Sang ibu di sampingnya juga tersenyum. Kini gilirannya perempuan itu yang mengambil gadis kecil itu.

Aren kaget. Si tuan rumah ternyata sudah berdiri di sampingnya dan juga menatap lukisan itu.

“Kenapa dengan lukisan itu?”

“Bagus, om. Aren suka.”

Si tuan rumah hanya mengerutkan keningnya sembari memonyong-monyongkan bibirnya.

Sebentar kemudian Aren sudah berdiri di dekat pintu.

“Om, Aren lain kali boleh ke sini ya?”

“Oh boleh. Kamu mau kemana? Katanya mau belajar mengarang?”

Aren berbalik dan menatap si tuan rumah. Sembari menirukan lagak seseorang, Aren berkata kepada si tuan rumah: “Apa yang kamu inginkan dari sebuah kerjaan mengkhayal, nak. Mengarang cerita. Menulis tangis. Menghayalkan kesedihan. Itu bukan hal yang baik untuk masa depanmu, nak.”

Si tuan rumah mengingat-ngingat. Kata-kata itu seperti akrab dengan dirinya. Gaya yang ditirukan Aren sepertinya juga tak asing. Tapi…

“Kamu tahu dunia ini nyata, nak”, Aren melanjutkan, “dan kamu masih berpura-pura sedih, ceria atau tertawa. Kesedihan yang sesungguhnya berjejeran di sekitar kita, nak. Dan kebahagiaan sesungguhnya bisa kau dapatkan di luar cerita, bukan?”

Dan Aren pergi. Hilang di balik pintu. Beberapa saat setelah itu, si tuan rumah baru ingat. Ah, Aren menghafalkan kata-kataku. Gaya yang ditirunya juga gayaku. Si tuan rumah tampak menyesal mengapa ia menjadi selupa itu.

“Oh tuhan, aku belum pikun kan?”

Dia melemparkan dirinya ke kasur. Kini pandangannya tertuju ke sebuah lukisan yang menarik perhatian Aren. Si tukang khayal bertanya-tanya: “ada apa dengan lukisan itu?”

Di matanya, lukisan itu memang tak jelek. Tapi juga tak luar biasa. Hanya ada tiga tubuh. Tubuh seorang lelaki. Tubuh seorang perempuan. Lalu seorang anak kecil.

“Sebuah keluarga kecil”, bisiknya.

Dia lalu menggunakan kekuatan khayalannya untuk merangkai-rangkai kemungkinan mengapa Aren menyukai lukisan itu.

*

Di sekolah, guru bahasa Indonesianya tak mendapati Aren. Sudah ditanyakan kepada teman-temannya yang lain, tak ada yang tau.

Tak lama setelah beberapa menit pelajaran dimulai, pintu diketuk. Pintu dibuka sedikit, dan sebuah kepala muncul.

“Aren, kamu ke sini”.

Berangsur-angsur sebuah tubuh melengkapi kepala setelah pintu tersebut dibuka sepenuhnya. Setelah menutup kembali pintunya, Aren berjalan ke arah gurunya.

“Kenapa kamu telat masuk?”

“Aren masih jajan, pak”.

“Kalau begitu, berdiri dulu di depan sebagai hukuman”.

Aren mematuhinya. Dia tak merasakan itu sebagai hukuman yang berat. Kedua matanya dimain-mainkan. Mulutnya dimonyong-monyongkan. Tingkah Aren mengundang reaksi tawa dari teman-teman sekelasnya.

“Aren, berdiri yang bener”.

Aren mematuhinya. Dia tak lagi bertingkah aneh yang mengundang tawa.

Setelah beberapa menit, Aren dibolehkan duduk. Semua siswa disuruh mengumpulkan tugas mengarang. Aren tampak bingung. Dari suatu jarak, sang guru sudah dapat menebak: “Aren tidak mengerjakan tugasnya”.

Seluruh anak-anak maju satu per satu mengumpulkan tugasnya. Kini giliran terakhir: Aren. Dia berdiri dan maju. Diserahkannya secarik kertas yang berisi tugas. Dia kembali lagi ke bangkunya.

Sehabis pelajaran selesai, anak-anak yang lain pulang kecuali Aren. Di deretan bangku terakhir, Aren tertidur. Sang guru mendekati dan membangunkannya.

“Aren, tiap hari kamu tidur di kelas. Tugas juga baru dikerjakan. Kamu itu tidak bakal menjadi pengarang hebat kalau tidak rajin. Sekarang bangun, sana pulang. Kasihan nanti bapak dan ibumu cariin kamu”.

Aren mengangguk dan pergi meninggalkan kelas.

*

Di rumah, guru bahasa Indonesia Aren meninjau satu per satu tugas mengarang dari murid-muridnya. Dibacanya 25 kertas yang berisi tugas karangan murid-muridnya. Lelaki berkacamata itu berdecak kagum. Dia merasa murid-muridnya berkembang cepat dalam mengarang. 

Setidak-tidaknya tak ada yang mencontek. Masing-masing mengarang ceritanya sendiri-sendiri. Dua sampai tiga pragraf tidak masalah. Mereka telah mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk berusaha mencapai hasil dari tugas mengarang.

Lembar terakhir, sebuah kertas yang disobeknya dengan tidak rapih. Terlihat si pemilik buru-buru untuk mengumpulkannya. Sang guru meneliti namanya. Terlihat: Aren.

“Anak itu baru mengerjakan di kelas,” bisiknya.

Karangannya juga singkat sekali. Hanya tiga potong kalimat: “Ibuku pergi. Ayahku menikah lagi. Setelah kejadian itu…”

Kalimat itu ditutup dengan namanya: Aren. Sang guru mengerutkan kepalanya. Jika itu berasal dari penulis handal, barangkali sang guru tidak akan penasaran. Dia akan berpikir, ini pasti karangan yang mengandung atau menyiratkan pesan yang luar biasa. 

Tapi ini adalah karangan dari seorang muridnya yang tiap harinya tak pernah menunjukkan kedisiplinan dan kepatuhan. Tiap hari datang telat ke sekolah. Tiap hari kerjaannya tidur di deretan di bangku belakang.

Anak ini, Aren, telah mengoleksi piala terbanyak dalam ajang siswa paling nakal. Tiap hari selalu ada Aren berdiri di dekat papan tulis dan menghadap teman-temannya. Tiap hari selalu terdengar teguran dan hukuman kepada anak itu. Tapi tak pernah jera. Setiap guru di sekolah itu mengakui tak ada yang lebih nakal dari Aren.

Keesokan harinya, guru bahasa Indonesia itu melaporkan ke kepala sekolah. Jawabannya mengagetkan.

“Maaf dek, semua guru sudah melaporkan hal yang sama soal ini. Semua guru sudah menegurnya. Kami sudah melayangkan surat panggilan kepada ayah dan ibunya. Tapi mereka tak ada yang datang ke sekolah. Satu pun tak ada”.

Guru bahasa Indonesia itu hanya mendengarkan.

“Kami belum tau cara lain bagaimana cara membuat Aren bisa lebih baik sekolahnya. Kami sebenarnya sangat berharap dukungan dan kesadaran dari orang tuanya. Kita kan tahu bahwa pendidikan anak itu bisa berhasil apabila guru dan orang tua itu saling bekerjasama”.

Guru bahasa Indonesia itu mengangguk membenarkan. Setelah itu, dia pamit pulang. Sepanjang jalan dia berpikir bahwa Aren adalah sebuah tantangan baginya sebagai guru. Dia tidak boleh gagal dalam mendidik siswanya. Dia harus menemukan cara untuk mendidik Aren.

Keesokan harinya, kelas pelajaran bahasa Indonesia. Aren tak datang.

Artikel Terkait