Orang-orang sibuk kesana-kemari, padahal hari masih pagi. Deru mesin kendaraan mulai hilir mudik di Jalan Margonda Raya. Arban masih tertidur pulas di emperan ruko. Tidurnya kebluk. Jika pemilik toko tidak membangunkannya, mungkin ia dan teman-temannya masih terus tertidur.

Nyawanya belum terkumpul seratus persen saat itu. Dengan ogah-ogahan ia bangkit dan mencari tempat lain untuk tidur. Niat untuk tidur kembali diurungkannya. Ia melihat jam dinding yang terpasang di dalam toko menunjukan pukul 07.30.

Berbekal ukulele yang senarnya sudah diganti nilon, kecrekan yang dibuat seadanya menggunakan bekas tutup botol minuman bersoda yang dipaku ke sebilah kayu kecil, dan bas betot berbentuk kotak yang terbuat dari papan dan kayu dengan karet sebagai sumber bunyi, Arban bersama kedua temannya bergegas menyusuri jalanan untuk melantunkan lagu-lagu kesukaannya.

Pertama mereka menyebrang Jalan Margonda Raya. Berjalan ke arah selatan melewati restoran cepat saji dengan menu khasnya ayam yang berbalut saus pedas hingga tingkat kepedasan level lima. Terus menyusuri jalan hingga tiba di simpang Ramanda, diantara jalan  Margonda Raya dan Jalan Arif Rahman Hakim, tempat biasa ia melaksanakan konser mininya.

Belum sempat ia bernyanyi, saat lampu lalu lintas menunjukan warna merah, dari arah Arif Rahman Hakim menuju selatan Margonda Raya, terdengar lantunan kidung-kidung religi yang cukup keras dan memekikan hati. Arban sontak kaget mendengar itu. Suanranya kalah dibanding suara yang keluar dari pengeras suara tersebut.

Itu baru pertama kali didengarnya setelah hampir lima tahun ia hidup di jalanan kota. Ada perasaan aneh yang timbul. Ingatannya seketika kembali ke beberapa tahun silam, saat setiap sore ibunya mengantarnya sekolah di madrasah. Dengan tukang jajanan yang sama saat pagi hari ia jajan di depan sekolah dasarnya.

Lampu merah pertama ia lewatkan begitu saja. Tak ada lagu Buruh Tani yang menjadi lagu pertama dalam playlist lagu-lagu yang akan ia bawakan. Saat arah kendaraan dari selatan Margonda Raya terhenti ia mencoba untuk kembali menyanyi. Pengeras suara itu kembali mengeluarkan bunyinya. Kali ini puji-pujian terhadap sang pembawa risalah, pembawa pedoman bagi umat manusia.

Hatinya kembali gundah. Ada perasaan yang sudah lama redup seolah kini berusaha untuk keluar dari kegelapan. Perlahan minatnya untuk mencari beberapa rupiah untuk makan hari itu pupus. Perasaannya kalut, ia merasa harus menepi terlebih dahulu dan membiarkan kedua temannya untuk melanjutkan konser mini yang tertunda beberapa saat.

Ia berjalan menjauh dari simpang Ramanda, ke arah barat, menuju flyover Arif Rahman Hakim. Setelah sekian lama, tiba-tiba wajah sang ibu terlintas di benaknya. Lagu Sialan, katanya dalam hati. Mengutuk pengeras suara yang tiba-tiba mengeluarkan kidung religi.

Di pandangnya ke arah selatan, jalur kereta api antara Bogor-Jakarta membentang di bawahnya, kepadatan Stasiun Depok Baru terlihat dari tempatnya berdiri. Orang-orang berjejal berusaha masuk ke dalamnya. Gunung salak di arah barat daya terlihat samar, kabut atau lebih tepatnya polutan kota sedikit mengaburkan pemandangan itu.

Sepatu boots yang di beberapa bagian sudah bolong, jeans lusuh yang sudah sekian tahun tak pernah tersentuh laundry, kaos hitam yang itu-itu saja, dengan riasan semacam rantai menggantung dari depan hingga ke saku belakang, ia terus berjalan menuju Jalan Nusantara Raya. Di persimpangan kiri jalan ia berbelok ke arah selatan, di sebrangnya terlihat kantor kelurahan Depok Jaya, juga sebuah bangunan yang bertuliskan Majelis Ulama Indonesia Kota Depok.

Kini bukan hanya pengeras suara yang ia kutuk. Bangunan berlantai dua yang baru saja ia lihat pun tak luput dari kutukannya. Ia tak pernah mengetahui keberadaan bangunan itu selama hidup di jalanan kota ini. Kini bukan ibunya yang datang menghantui, guru-gurunya kini ikut-ikutan melintas dalam benaknya. Sialan!

Tugu Kujang, diantara Jalan Raya Pajajaran dan Jalan Otto Iskandardinata kini menjadi penonton setia konser mininya. Kini ia mulai bersolo karir, setelah ibu dan gurunya datang di Depok, kota sebelumnya yang jalanannya ia jelajahi. Kini ia tidak hanya menunggu lampu lalu lintas berwarna merah. Arban door to door menghampiri setiap orang yang kiranya lapang untuk mendengarkan lantunan lagu yang ia nyanyikan.

Orang-orang yang ia temui di warung bakso, rumah makan padang, atau yang kebetulan berpapasan di jalan biasanya menjadi target audiens konsernya. Konser itu dibagi dalam beberapa sesi. Pertama, sesi pagi mulai pukul 08.00 sampai 11.00. Kedua, sesi sore-malam, antara pukul 16.00 sampai ia lelah. Di istirahat pertama biasanya ia istirahat di kebun raya. Di bawah pepohonan rindang menjadi tempatnya untuk beristirahat, atau di antara bus yang hilir mudik di terminal, di sana ia jumpai kawan-kawannya sesama musisi maupun seniman lain.

Suatu siang ia lupa untuk menepi untuk beristirahat. Saat lagu Peradaban sedang ia bawakan, dari arah Masjid Alumni ia dengar ada panggilan rutin. Belum sempat ia menyelesaikan lagunya, ia kaget dan bergegas pergi menjauh dari sumber suara. Ia sudah tahu di waktu-waktu tertentu ia harus menepi, tapi kali ini ia luput. Bukan saja untuk beristirahat tapi untuk menjauhi ibu dan gurunya yang tiba-tiba datang.

Goblok, goblok! Ia mengutuk dirinya sendiri, sebab mengulangi kesalahan yang pernah ia buat di Depok dulu. Tempat persembunyian tidaklah terlalu sulit untuk ditemukan. Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga. Sepandai-pandai Arban bersembunyi, sekali waktu terlihat juga.

Ibu dan gurunya tiba-tiba datang. Seperti jailangkung yang datang tak pernah diundang, pulang tak pernah diantar. Telinganya ia tutup oleh kedua telapak tangannya. Matanya ia pejamkan. Tapi hatinya tidak bisa ia kendalikan. Sosok yang sudah terjerembab di ruang gelap hatinya itu memaksa untuk keluar.

Di saat menerima tamu yang tak ia undang, botol-botol minuman yang biasanya di simpan untuk malam hari sebelum tidur, ia tenggak siang itu juga. Di balik semak, tiga botol minuman yang telah diracik sebelumnya habis tak bersisa. Tak butuh waktu lama, pikirannya seolah sudah kembali normal. Perasaannya kembali sedia kala, tidak ada hantu-hantu yang memenuhi keduanya.

Seminggu berselang ia sudah tidak berkeliaran di Bogor. Perjalanan ke Bandung ditempuh dengan naik turun mobil bak atau truk yang mengarah ke timur. Perlu waktu hampir dua hari untuk sampai di pusat kota. Mobil terakhir yang ia naiki berhenti di suatu pasar. Saat itu menjelang magrib, ia turun tepat di depan Pasar Cihaurgeulis, dengan sempoyongan ia berjalan ke arah barat, mampir di SPBU plat merah untuk sekedar mencuci muka.

Kota ini lebih sejuk dibanding Depok dan Bogor. Tapi hatinya lebih panas di banding sebelumnya. Orang-orang dengan baju koko, peci, dan celana panjang diatas mata kaki berseliweran. Bukan tampilan mereka yang bermasalah, tapi hantu-hantu masa lalu kembali menghampirinya. Ingatan saat ia pergi untuk belajar seperti yang mereka lakukan. Ingatan terhadap pakaian yang biasa ia kenakan. Nuansanya persis seperti yang ia lihat sekarang.

Dan Bandung bagiku bukan cuman masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan , yang bersamaku ketika sunyi. Kata-kata Pidi Baiq itu ia temukan di suatu sudut di Jalan Asia Afrika. Dan Bandung bagiku bukan cuman masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan masa lalu, yang datang kepadaku bersama hantu-hantunya. Arban memodifikasinya sesaat setelah membaca kutipan aslinya, saat panggilan pagi terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri.

Arban tak kerasan berada di pusat kota. Ia beranjak ke utara, udaranya lebih dingin. Sehelai kaos hitam yang dipakainya tak mampu menahan dingin yang menusuk kulit. Di tengah rasa lapar dan dingin, penglihatannya kabur. Ia tak memiliki cukup rupiah untuk meracik minuman. Tak lama tubuhnya ambruk di emperan ruko yang menjual bolu.

Tak lama ia bangun, di sampingnya sudah berdiri sesosok dengan cahaya yang menyilaukan mata. Tak jelas rupanya, tapi sosok itu menariknya berdiri, lantas dituntunnya ia menyusuri jalan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.