Kau Puisiku

Kau puisi senja
Yang ku kumpulkan lewat berjuta masa
Beratus kesabaran menjalani puluhan kali reinkarnasi

Kau puisi malam
Yang ku ambil dari bintang
Lewat berjuta kematian menjalani perputaran waktu

Kau puisi-puisi
Dalam jiwa bersemayam
Abadi, menenggelamkan setiap tanya yang meresahkan

Kau puisiku
Yang moksa
Karena cinta
karena buta, sebab melihat pun percuma.

Mimpi

Saat bangun tidur pagi ini
Mimpi menyelinap dalam labirin kepala
Tertinggal tak bisa dibaca

Aku mencoba mengingat
Memetakan untuk diurai
Tapi tak merekat

Mimpi itu menjadi partitur
Abu-abu dalam melodi
Tak bisa dieja lagi

Bisakah

Bisakah kau meredam resah
Menenggelamkan ketakutan saat aku butuh

Bisakah tanpa dalih kau
mencintaiku dengan tabah
menyayangiku dengan penuh.

Cinta yang Membara

Ada wilayah yang tak bisa dijangkau logika dan nalar
yang tersembunyi di balik bibir merahmu saat berdoa
yaitu cinta yang membara.

Putus

Kita Pisah
Menjauh Pergi
Meninggalkan Perih

Afilisasi

Aku puisi
Kau puisi
Kita afiliasi

Percaya

Aku percaya kau ada
Entah dimana?

Kau percaya aku ada
Di sinilah aku

Kita percaya, saling bersiteguh
Seperti iman pada-Nya

Di belahan bumi manapun kamu
Selalu tersemat doa-doa
Agar rindu berlabuh
Merapatkan bahtera kasih
untuk selamanya.

Menunggu

Aku masih di sini
Selustrum menunggumu
Lewati lima purnama
untuk bertahan.

Setiap malam ketika langit ramai dengan bintang
Dan mozaik wajahmu berpadu di dalamnya
Doa-doaku terbang melintasi cakrawala
Mengumpulkan senyummu,
memunggut rinduku.

Berhentilah Bersyair

Mungkin langit akan menertawakan
sikap sok romantismu pada senja dan hujan
sebab terlalu paradoksnya  kata-katamu
hingga Yang kau puisikan selama seribu tahun abadi.

Kau bahkan belum pernah benar-benar jatuh cinta,
hanya khayalan tinggi yang kau mekarkan tentang rasa.

Stop berhentilah bersyair,
 seolah  kau pemain cinta
Berhentilah dari perasaan semumu, tinggallah
Biar kata-kata itu sendiri yang lahir,
tanpa paksa dari sebuah gejolak melankolismu.

Hari Jadian Kita

Saat mega menurunkan tirai menampilkan candra
yang berkilau mewarnai lantai menjadi perak bercahaya.
Kau memaksaku melihat purnama di lautan bintang
yang cahayanya ada dalam wajahmu.

Hari itu adalah hari terindah, hari bersama berdua
dalam janji yang tak pernah kita sama-sama ucapkan.
Cinta adalah hal magis, dimana tak perlu bibir berucap
mengatakan aku sayang kamu.
Kita sama-sama percaya pada kekuatan kasih sayang
yang kita bangun selama pertemanan.
Hingga akhirnya kita sama-sama menyadari
rasa itu dan sepakat meleburkannya.
Aku, kita, malam dan bintang, mengembara,
menari, beraja ke bumi, lalu sama-sama kita berdo’a untuk cinta kita.

Cerita Arasis

Suatu malam ketika bintang beraja melintasi bulan dan do’a dilakukan,
Arasis hanya memandangnya untuk sebuah hiburan
bukan sebagai nahkoda untuk mengarungi lautan
atau para petani untuk menentukan waktu tanam
ya, sebab Arasis hanyalah lelaki biasa, bukan seorang petualang atau pejuang.

Sejak kekasihnya pergi tanpa alasan Arasis memutuskan berhenti menulis puisi
dan mengembara di belantara malam dengan bertelanjang penyesalan
sebab dia tak bisa mempertahankan hubungannya.
Satu lustrum sudah, yang seharusnya akhir dari cintanya untuk tumbuh berkembang
namun kenyataan tak seindah perencanaan
manusia tetaplah makhluk lemah di hadapan takdir yang tak menakdirkannya.

Angin berbisik menyampaikan semua peraduan
do’a-do’a manusia dalam hujan rintik dimana Arasis
diam dalam keheningannya.
Aroma kamboja meremuk  pikirannya
di kesunyian yang mengelupas rasa sakit dan ketakutan
dalam pikirannya menjalani hidup sendiri
menjalani penantian yang tak pasti.

Belayar di Lautan Mimpi

Malam meninggi, larungkan mimpi di tiang-tiang sunyi,
mengembara dengan sauh yang mengibarkan rindu-rindu,
biduk pelepah air mata menyusurimu.

Malam meninggi, layarkan mimpi di tiang-tiang gelisah
menujumu melewati pagar perigi.

Keluar dari lorong kelam mengikuti cahaya kecil,
berlayar tak henti-henti dalam laut abu-abu yang janggal.

Aku mengarungginya berulang-ulang kali,
menepi, berlari, jatuh, bangun, berlari, jatuh, bangun, dan lari lagi.

Suara-suara mengema, memecah hening, menerbangkan ribuan merpati,
mengelupas dadaku dari luka; kekesalan, emosi dan dendam.
Kemudian berlayar menuju laut dimana musa pernah membelahnya.

Aku tak bisa merasakan apapun setelahnya,
aku mengambang, mengerogoti diriku sendiri
memakan mataku, memakan jantungku, membunuh sakitku
lalu mimpi berhenti tanpa meninggalkan apapun.

Bercinta

Aliran darah menjadi lava
Mengalir panas dalam sekujur tubuh
Menjadi api yang ku rengkuh lekuknya
Menggelegakkan gunung dan telaga

Bibir menjadi perahu
Berlayar mengelilingi samudera biru
Dalam temaran sinar bulan
Menggerus sunyi dari angan

Tenggelam dalam gairah
Mengurai malam, mengelupas bintang
Melumatkan setiap nyala
Dalam percumbuan yang binatang

Budak Cinta

Aku pernah menulis puisi cinta untukmu
Tapi puisi itu hilang
Ditelan pahit dan luka

Aku pernah merinduimu segila romeo
Rela melakukan apapun
menganggap racun adalah jus

Karena cinta adalah kegilaan
Waras menjadi ketidakwarasan dalam cinta
Buta dan berbahaya

Aku pernah mencintaimu sebegitunya
akal berubah menjadi akar
Pikiran hilang tak bernalar

Tak Ada Apa-Apa

Kata-kataku habis
Puisiku mati
Hidupku juga
Kini yang ada
Tak ada.