Beberapa hari yang lalu, dunia persepakbolaan Indonesia kembali disuguhkan kejadian yang memilukan, yakni adanya kerusuhan pada saat laga dan pasca-pertandingan di Liga 2 yang mempertemukan PSIM (Yogyakarta) dan Persis (Solo). 

Hal tersebut kembali meneguhkan pandangan umum bahwa kerusuhan pada pertandingan sepak bola di Indonesia ialah suatu hal yang biasa, yang bahkan sering kali juga dianggap sebagai suatu keniscayaan. Sebelumnya, mari kita sejenak membahas pertandingan antara PSIM dan Persis tersebut.

Laga antara PSIM dan Persis pada tanggal 21 Oktober 2019 merupakan pertandingan yang berjuluk Derby Mataram. Latar belakang kesejarahan wilayah antara Yogyakarta dan Solo yang kemudian menjadikan tajuk Derby Mataram menjadi selalu panas. 

Kontestasi atas siapa yang “sah” memegang nama “Mataram” di antara kedua kubu suporter PSIM dan Persis pun menjadi dorongan tersendiri agar tim yang mereka dukung dapat memenangkan pertandingan dalam Derby Mataram tersebut. Psywar sebelum pertandingan pun menjadi bumbu ketegangan tersendiri. 

Sebelum laga dimulai, kans kedua tim untuk lolos ke delapan besar Liga 2 sejatinya telah hilang, karena satu jatah tersisa sudah diambil oleh tim Martapura FC, yang pada sebelum laga Derby Mataram ini dimulai telah memenangkan pertandingan melawan PSBS Biak Numfor dengan skor 0-1. 

Namun demikian, derby tetaplah derby. Tidak lolos “ya sudahlah”, kita evaluasi dan mulai siapkan tim untuk musim depan, yang penting sekarang jangan sampai kalah di Derby Mataram ini. Ya, kira-kira begitulah harapan di antara kedua basis suporter PSIM dan Persis tersebut.

Pertandingan antara PSIM dan Persis akhirnya dimenangkan oleh tim tamu dengan skor 2-3. PSIM, sang tuan rumah, kalah di kandang. 

Oke, itu sudah pernah mereka rasakan tiga kali sebelumnya di musim ini. Namun demikian, kali ini PSIM kalah pada Derby Mataram, di kandangnya sendiri pula. Sinyal bahaya pun perlu dinyalakan. Ya, inilah persepakbolaan Indonesia. Seperti yang sudah diduga, insiden di dalam dan di luar lapangan pun terjadi.

Tindakan dari Hisyam Tolle yang menendang pemain Persis sampai pada mengintimidasi seorang juru foto pada laga itu menjadi sorotan. Di sisi lain, kerusuhan suporter PSIM di luar stadion juga menjadi perhatian warganet. 

Kabar akan adanya sweeping kendaraan plat AD di wilayah Yogyakarta pun menjadi keresahan tersendiri bagi para pengendaranya. Ejekan dan hujatan dari para suporter rival juga muncul kepada tim PSIM yang (kembali) kalah di kandangnya sendiri, terlebih saat Derby Mataram. 

Suporter PSIM pun juga mendapatkan hinaan yang senada, dengan tindakan “konyol”-nya saat menjelang laga berakhir dan aksi kerusuhan pasca-pertandingan. Sentilan dalam bahasa Jawa, yakni Menang Umuk, Kalah Ngamuk untuk menggambarkan realitas sikap dan sifat suporter sepak bola Indonesia pun seolah benar adanya. 

Ya, inilah sepak bola Indonesia. Mari kita semua merenung, sampai kapan hal seperti ini akan terjadi?

Sejatinya, pertandingan sepak bola ialah hanya olahraga yang dipertandingkan untuk memperoleh siapa yang lebih kuat atau yang lebih beruntung, dan siapa yang sebaliknya. 

Drama dan gengsi memang selalu terjadi di dalam dunia sepak bola. Kedua hal tersebut memang dibutuhkan karena semua orang menikmatinya sebagai “bumbu pemanis” pertandingan sepak bola. Namun demikian, janganlah berlebihan atas kedua hal tersebut. Fanatik boleh, tapi legowo perlu.

Pertandingan antara PSIM dan Persis di atas hanyalah salah satu insiden yang menunjukkan bagaimana kedewasaan pemain dan penonton sepak bola kita masih rendah. Kita mungkin kecewa dengan sepak bola Indonesia. Ya, sepak bola kita memang sangat mengecewakan. 

Timnas Senior yang tak kunjung meraih prestasi, penyelenggaraan liga yang tampak tidak professional, wasit pertandingan yang selalu diragukan kapabilitasnya, dan segala “kejelekan” persepakbolaan Indonesia lainnya memang memuakkan bagi semua orang. 

Tindakan brutal para suporter (bahkan pemain), baik di dalam ataupun di luar lapangan, akibat frustasi akan nihilnya prestasi tim seperti contoh kejadian di atas pun sejatinya semakin mencoreng wajah persepakbolaan nasional.

Sebagai penikmat, penonton, atau suporter sepak bola, perlu kiranya kita semua paham, bahwasanya segala rivalitas dan tensi panas yang terjadi di dalam lapangan, tak perlu dibawa sampai ke luar stadion. Pertandingan sepak bola hanyalah 90 menit. Sesudah itu, marilah kita nikmati kemenangan yang kita dapat, atau menyudahi kesedihan atas kekalahan yang didapat. 

Jika kita kecewa terhadap tim, layangkanlah kritik pedas kepada mereka. Jika wasit atau perangkat pertandingan dinilai tidak adil dan kontroversial, mintalah federasi atau pihak terkait untuk mengevaluasi mereka, di mana dalam hal ini federasi sepak bola benar-benar harus dapat menunjukkan tingkat profesionalitas setinggi-tingginya. 

Ejekan yang dilayangkan oleh pendukung atau suporter rival pun juga tak perlu ditanggapi dengan kekerasan. Balaslah ejekan tersebut dengan cara yang kreatif atau atraktif, serta berikanlah dorongan kepada tim kita agar dapat berada di atas para rivalnya.

Segala rivalitas antar tim atau suporter, janganlah dibawa ke jalanan, atau dengan kata lain ke luar konteks sepak bola. Sudahilah berita pilu jika muncul kerusuhan atau kekisruhan public yang diakibatkan oleh persepakbolaan Indonesia ini. 

Mari kita fokus kepada tim masing-masing yang kita dukung. Psywar-lah sewajarnya. Jauhkan rasisme yang masih sering terdengar di dalam stadion. Marilah kita bentuk budaya suporter Indonesia yang kreatif dan dewasa, terlebih lagi (suporter) Indonesia akan menjadi sorotan dunia tatkala perhelatan Piala Dunia U-20 pada tahun 2021 mendatang akan dimulai.