Undangan kehadiran acara atasyukuran dan kelulusan madrasah tsanawiyah baru saja di edarkan, yang itu artinya aku akan segera lulus dari Madrasah Tsanawiyah Negri ini. 

Sudah lama aku menanti momen ini, momen yang akan menjadikan kuuntuk melangkah lebih tentang cita-cita dan impianku masuk SMA faforit yaitu SMA Negri 1, SMA yang kuharapkan aku bisa menyalurkan semua minat dan bakatku disana. 

Selain itu SMA ini juga terkenal dengan prestasi-prestasi yang sangat gemilang mampu mencetak lulusan yang bisa menembus PTN PTN terbaik di Indonesia. 

Dan begitulah kiranya harapanku bisa masuk di sma ini, ya supaya aku juga bisa masuk ke perguruan tinggi impianku selama ini.

***

Hari sudah berganti hari, dan inilah saat yang aku tunggu yaitu pengumuman kelulusan ku di madrasah tsanawiyah.

“nduk, hari ini bapak aja ya yang berangkat ibu tidak bisa menemani karena ibu harus nyowankeputrine Pakde Ahmad buat mondok di Ponpes Al-Munawwar (pondok ibuku dulu)” ucap ibu.

“loh kan bu, caca pengen ibu tu hadir di acara kelulusan caca” balasku sambil mengerutkan dahi.

“bapakmu saja sudah cukup nduk, ibu gak enak sama Pakdemu karna beliau sudah bilang jauh-jauh hari sama ibu” balas ibu ku dengan sedikit cemas.

“yang penting udah ada wali yang hadir nduk, nga ada ibu juga kamu tetep lulus kan?” ucap bapak sambil mengelus kepalaku yang sedikitngambek.

“yaudadeh pak gapapa yang peting ada yang hadir, trus buat ibu jangan lupa oleh-oleh buat aku” balasku yang ahirnya luluh karena ucapan dari bapak tadi.


Jam sudah menunjukan pergantiannya dan inilah saatnya. Pengumuman kelulusan akan segera di umumkan. 

Dan Alhamdullilah satu angkatanku lulus seratus persen tanpa terkecuali. Dan selanjutnya adalah pengumuman rangking paralel satu angkatan. 

Tanganku sudah mulai basah karena panas dingin ini adalah pengumuman yang sangat menegangkan karena aku merupakan salah satu siswa ambisius yang selama ini berusaha supaya masuk ke dalam rangking di sepuluh besar paralel.

Nama demi nama diumumkan, mulai dari rangking ke sepuluh paralel. Teman-teman yang berhasil mendapat rangking tersebut naik ke atas panggung dengan walinya sambil menampilkan senyum terbaiknya.

“dan peringkat ketiga paralel angkatan tahun 2020 adalah... Salsabila Fadisa Maulina, dimohon untuk mba Faradisa dan walinya naik ke atas paangung” ucap mc dengan nada yang sangat sumringah.

Aku yang menyadari hal tersebut langsung bergegas naik ke atas pangung berjalan beriringan dengan bapakku sambil melemparkan senyum terbaikku seperti teman-temanku tadi.

Dan aku menerima raport dan beberapa bingkisan apresiasi dari pihak madrasah dengan sangat bangganya.

***

“bapak senengnduk kamu bisa berprestasi begini selama kamu menempuh pendidikan, tapi inget jangan jadi sombong jangamngrendahin yang lain dan jangan sampe kamu terlena dengan semua ini” ucap bapak ku setelah  kami sampai dirumah.

“okee siap komandan, aku gabaklan sombong kan aku percaya kalo ini semua adalah amanah dari Allah jadi aku harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya” balasku sambil membuka bingkisan-bingkisan yang tadi aku terima.

Selang beberapa menit, saat aku sedang asikngobrol dengan bapakku tiba-tiba terdengar suara mobil parkir di depan rumahku. 

Dan ternyata itu adalah rombongan pakdhe Ahmad yang barusan mengantarkan sepupuku untuk mondok di ponpes Al-Munawwar pondoknya ibuku dulu. 

Aku mempersilahkan masuk semua yang tadi ikut mengantarkan sepupuku tersebut. Mereka juga betniat istirahat dan sholat di rumahku karena mengejar waktu.

 Setelah semua keluarga sudah sholat dan makan ahirnya kami ngobrol di ruang tamu, obrolan seperti biasanya seperti keluarga yang harmonis dan hangat.

“tujuan kamu mau masuk ke mana setelah lulus ini ca?” ucap pakdhe Ahmad.

“kalo caca sih pengennya di SMA Negri 1 Pakdhe, yang paling favorit itu loh” ucapku dengan rasa bangga.

“makin pinteraja ya ponakan pakde yang satu ini, apa ngapengen mondok kaya mbakmu ituca?” balas pakdhe.

“engga ah pakdhe, kan caca bisa ngaji sama ibu sama bapak aja yang udah lulusan pondok pesantren” ucapku sambil memberikan senyum.

Setelah beberapa jam asyik ngobrol satu sama lain, Pakdhe Ahmad dan yang lain memutuskan untuk pamit dari rumahku dan langsung bergegas pulang karena waktu menunjukan sudah hampir malam. 

Pakdhe juga menitipkan beberapa oleh-oleh kepada keluarga ku sebagai ungkapan terimakasih karena ibuku telah mengantarkan anaknya pakdhe.


***

Hari berganti hari, rutinitas-rutinitas yang ku jalani masih sama saja. Tapi ada yang berbeda dengan malam ini. 

Setelah makan malam bersama bapak menyuruhku untuk duduk bersama di teras, katanya bapak pengenngobrol sama anak gadis satu-satunya ini. 

Aku langsung mengiyakan perintah bapak karena memang sudah lama aku tidak ngobrol lama dengan bapak karena ahir-ahir ini tugas bapak dari kelurahan sangat padat.

“nduk bapak pengen kamu masuk man sambil mondok dan ngefahalinqur’annduk, bapak pegen yang terbaik buat kamu.

 Bapak tau ini mungkin akan menyakiti hatimu karena impianmu di SMA Negri 1, ini adalah keinginan bapak dan ibu mu sejak lama nduk. 

Hanya saja bapak tidak pernah bilang ke kamu karena kamu yang begitu ambisius masuk ke SMA Negri 1. Kalo bapak sama ibu ngomong dari dulu takut kalo semangat belajarmu menurun nduk, makanya bapak memerlukan waktu yang tepat buat membicarakan ini sama kamu. 

Dan bapak kira ini adalah saat yang tepat nduk. Gimana kamu mau kan?” ucap bapak dengan tatapan yang serius.

Tatapanku langsung kosong, pikiranku kemana-mana, hatiku seperti di tusuk berkali-kali, mataku tak sengaja menumpahkan segala amarahnya dengan meneteskan air mata yang tak mampu lagi untuk ku bendung.

“tapi kan pak, bapak udahtau kalo caca itu pengennya di SMA Negri, basicnya caca itu di SMA Negri pak” balasku sambil memelas kepada bapakku.

“bapak tau itu sma favorit, sma terbaik di kabupaten ini. Tapi bukan begitu nduk bapak takut kalo pergaulanmu di smanegri bakal ngerubah kamu ke dalam hal-hal yang negative.

 Bapak sama ibu Cuma pengen kamu jadi hafiz Qur’annduk kamu itu harapan satu-satunya harapan bapak dan ibu. 

Apa gunanya kamu pandai dalam ilmu umum tapi cara beribadahmh masih kurang nduk. Tujuan hidup kita itu ahiratnduk, jadi bapak pengen yang terbail buat anak gadis bapak satu-satu nya ini” ucap bapak masih dengan tatapan yang serius.

“setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya nduk, begitupun ibu dan bapak. kamu gadis yang cerdas nduk, kamu sudah bisa membedakan mana yang terbaik untuk masa depanmu nanti. 

Kalau ibu dan bapak menginginkan kamu seperti itu nduk, tapi jika kamu keberatan dan tidak rela ibu tidak akan memaksakan kepadamu untuk menjadi seperti yang ibu dan bapak inginkan nduk. Pilihan tetap ada di tanganmu hanya saja ibu dan bapak menyampaikan keinginan kami” ucap ibu yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di sebelahku sambil mengelus kepalaku.


***

Keinginan tentang SMA Negri memang begitu besar bagiku, tapi aku tidak bisa menutup kemungkinan kalau aku juga harus mengikuti apa yang ibu dan bapak inginkan.

 Baktiku kepada orang tuaku seharusnya lebih besar daripada keinginanku yang memang hanya terpatut pada kesenangan dunia saja. 

Tapi keinginanku ini adalah mimpiku sejak lama. Aku tidak mengerti lagi bagaimana langkah yang seharusnya kau ambil untuk kedepanya. Kepalaku penuh dengan hal-hal yang tak seharusnya dipikirkan sebegitunya.

Aku ahirnya bangkit dari kasurku, menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk melakukan sholat sunah hajat. 

Di dalam sujud ini aku memohon pilihan yang terbaik untuk langkah yang akan aku ambil. Tentang bagaimana manfaat dan mudhorot yang akan aku peroleh dari dua kemungkinan yang akan aku ambil nantinya. 

Kulafadzkan wirid-wirid menyebut asma-Nya untuk melonggarkan hati dan fikiranku yang sedang di landa gundah gulana ini.

Keesokan harinya, hati dan fikiranku mulai membaik. Sarapan di pagi hari ini juga masih seperti rutinitas biasa tidak ada rasa cangung antara aku, ibu, dan bapak.

 Masih normal seperti biasanya, kami masih bersenda gurau dengan wajah-wajah yang sumringah. Setelah sarapan pagi selesai aku ahirnya memberanikan diri membuka mulut ku yang mungkin sedikit kaku.

“caca ahirnyaudahmutusin pak buk, caca mau mondok aja sesuai keinginan bapak dan ibu” ucapku sambil menundukan pandangan.

Bapak terlihat langsung tersenyum melihat dan mendengar pernyataanmu barusan.

“tapi ibu nga mau kalo itu nga dari hati nduk, maksudnya masih ada rasa terpaksa di dalam hatimu. Belum murni dari hatimu untuk mendapa ridho-Nya. 

Tapi kamu sungkan kalo tidak menuruti keinginan bapak dan ibu. Ibu nga kamu nanti kedepannya ini akan jadi beban buatmu nduk” balas ibuku.

“engga kok buk, caca udahpastiin ini murni dari hati caca pak buk” ucapku sambil sedikit tersenyum.

“apa yang membuatmu yakin untuk langsung memutuskan ini nduk” ucap bapak.

“aku sudah berfikirber ulang-ulang pak, sudah ku pertimbangkan semuanya. Ternyata apa yang bapak dan ibu katakaan itu benar jika aku masuk ke smanegri aku hanya akan terpacu pada kesuksesaan dunia saja tan menyimpangkan ahirat dan ridho-Nya. 

Caca yakin ini pilihan yang caca akan ambil pak buk. Caca yakin caca sangup, caca bisa buat jadi seperti apa yang ibuk dan bapak katakan” balasku sambil tersenyum kepada bapak dan ibuku.

Bapak dan ibuk langsung tersenyum dengan jawabanku yang barusan ku ucapkan. Tak henti-henti mereka mengucapkan syukur karena ahirnya hatiku luluh dan mau untuk mengambil langkah ini. 

Setelah pengakuan yang ahirnyaku ucapkan yang ku mantapkan aku mulai meluaskan rasa ikhlas di dalam hati ini karena tidak semua yang menjadi keinginanku belum tentu aku dapatkan. 

Dan mulai sekarang aku merubah cara berfikirku dalam mengambil keputusan, dalam memandang segala sesuatu dari berbagai sisi tidak hanya sisi enaknya saja. Ya.. aku mendapat begitu banyak hikmah dan pelajaran dari kejadian ini. 

Ada hal-hal di luar kendali ku yang tidak bisa aku prediksi kedatangannya dan aku pun seharusnya sudah harus siap dengan hal-hal tersebut karenaa umurku yang mulai akan menginjak dewasa ini. Aku sudah harus terbiasa dengan hal-hal yang seperti ini. 

Ya.. aku harus meluaskan banyak-banyak kesabaran dan keiikhlasan di dalam hati ini. Bismillah...


***

Waktu sudah menunjukan perputaran dan pergantiannya. Dan inilah saatnya aku akan di antar ke pondok pesantren yang akan ku tempuh untuk mencari ilmu dan mengabdikan diriku di sana. 

Aku memantapkan hatiku yang kadang-kadang dilanda rasa ragu dan gundah ini. Aku juga berusaha menutupi dari bapak ibuk kalo terkadang rasa ragu ini menyerpa ke dalam hatiku. Aku berusaha tersenyenyum kepada bapak dan ibuku jika aku ditanya perilah pondok pesantren.

Hari ini eyang putri dan eyang kakung juga sudah sampai di rumah ku untuk mengantarkan ku ke pondok pesantren, tak lupa eyang kakung dan eyang putri juga membelikanku beberapa stel baju kurung dan sarung serta jajan-jajan untuk ku bawa ke pondok pesantren. 

Padahal di sisi lain ibuk dan bapak ku yang semangat juga sudah mempersiapkan segala hal yang nantinya akan aku butuhkan di pesantren seperti persediaan sabun-sabun, selimut, kasur, bantal dan lain sebagainya.

Senyum mereka begitu merekah saat ingin mengantarkan ku di pondok pesantren, aku pun begitu aku berusaha memperlihatkan senyum yang lebar kepada mereka meski hatiku dilanda sedikit keraguan.

 Tapi mau bagaimanapun langkah inilah yang telanh kupilih untuk ku ambil dan untuk aku jalani. 

Karena tidak ada yang salah dengan sebuah pilihan yang salah adalah tentang bagaimana kita bertanggung jawab dengan pilihan yang sudah kita ambil tersebut.

“nanti caca duduknya di tengah ya, terus di sampingnya eyang kakung dan eyang putri. Biar ibuk di depan saja menemani bapakmu menyetir mobil” ucap eyang kakung dengan wajah sumringahnya.

“harus begitu dong, eyang eyangmu ini harus setia menemani cucu kesayangannya dari berangkat samapi masuk ke dalam kamar pondok” ucap eyang putri yang juga memperlihatkan kebahagiannya.

“siapppeyangg...” ucapku yang juga sambil tersenyum.


Semua barang-barang sudah siap dan sudah masuk ke dalam bagasi mobil, tinggal orang-orangnya yang masuk mobil. 

Setelah berpamitan dengan tetangga sekitar kami langsung bergegas berangkat ke pondok pesantren. Di sepanjang perjalanan eyang kakung dan eyang putri tak henti-hentinya mendoakanku supaya sehat dan bahagia di pondok.

Begitupun bapak dan ibuk mereka membetiku amanat yang sangat banyak dengan tak henti-hentinya. Tentang aku yang nga boleh ngeluh, harus rajin ngaji, harus semangat, harus ini itu. 

Dan hal-hal itu yang membuat hatiku sedikit bersemangat dan meyakinkan hatiku bahwa aku bisa melewati semua ini.

Sesampai di pondok pesantren, hatiku begitu ngelu. Langkah kaki ku begitu berat melangkahkan kaki ini untuk masuk ke dalam. 

Tapi dengan melihat senyum eyang kakung eyang putri bapak dan juga ibuk aku memantapkan hati dan berusaha melangkahkan kaki ini untuk masuk ke dalam pondok pesantren. 

Di saat aku mulai berjalan menapaki langkah demi langkah untuk sowan ke ndalem ada pemandangan yang begitu menguncangkan hati. Ada anak kecil yang masih berkisaran sdsedang menyetorkan hafalan Al-Qurannya.

 Begitu menelisik hatiku bertubi-tubi, hatiku begitu tersayat-sayat. Aku yang mulai menginjak umur dewasa saja masih memiliki rasa ragu dalam hati sedangkan dia anak kecil yang seharusnya sedang menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermaim tapi dia.. memilih untuk hal yang lebih mulia, subhanallah.

 Dari pemandangan tersebut aku mulai memantapkan hatiku kembali untuk lilahitaa’ala .

Setelah selesai sowan dengan bunyai dan pakyai, mbak-mbak pengurus langsung mengarahkan dan mengantarkanku ke komplek yang nantinya akan menjadi kamarku. 

Setelah sampai di kamar satu persatu mbak-mbak pondok mulai menyapa dan menyambut kedatanganku dengan ciri khas sopan santunya. 

Eyang kakung eyang putru bapak dan juga ibuk tak henti-henti memperlihatkan kebahagiaanya lewat senyuman yang mereka torehkan.

Setelah lama mengobrol dengan eyang-eyang bapak dan juga ibu, ahirnya mereka berpamitaan untuk segera pulang karena nanti takut kemalaman sampai di rumah.

“kami pulang dulu ya nduk, bismillah semoga kamu betah disini semoga dengan lantaran kamu disini akan menangkat derajat kita sekeluarga nduk. Semoga kamu sehat dan selalu bahagia nduk” ucap ibuku sambil memelukku.

“bapak yakin kamu bisa nduk, kamu gadis yang cerdas. Mulai sekarang luruskan lagi niatmu untuk mencari ilmu dan mencari ridho-Nya ya nduk” bisik bapak sambil mencium dan memelukku.

“eyang mendoakan yang terbaik untukmu nduk, semoga kamu sehat dan bahagia nduk, nanti kalo uangnya habis minta aja ke bapak” ucap eyang kakung sambil mengodaku.

Mobil bapak langsung melesat keluar dari gerbang, dan sekarang aku sendiri disini. Tapi aku yakin aku bisa melewatinya. Bismillahirahmanirahim.... batinku.


***

Tak terasa tahun sudah berganti, yang itu artinya sudah satu tahun aku mondok di pondok pesantren ini. 

Begitu banyak pelajaran yang aku ambil dari sini. Mulai dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar. 

Aku juga semakin mantap akan pilihanku untuk menghafal Al-Quran. Aku mulai membenahi diriku di dalam pondok pesantren ini, juga sudah banyak perubahan dan manfaat yang aku dapatkan di pondok pesantren ini.

Dan aku yakin pondok pesantren inilah yang nantinya akan merubah karakterku menjadi lebih baik lagi. Aku juga sudah mantap untuk mengabdikan diriku kepada pondok pesantren ini. “Begitu besar kuasaMu ya rabb aku bersyukur sudah di pilihkan jalan yang terbaik Ya Allah” ucapku dalam doa selesai solat tahajud.