Etnografer
2 bulan lalu · 65 view · 7 menit baca · Ekonomi 76393_59357.jpg
paper.org.uk

Arah Baru Industri Kertas

Cerita kertas sejatinya adalah kisah tentang perjalanan peradaban. 

Tentu ungkapan tersebut tidaklah berlebihan andai kita mengetahui riwayat perjalanan kertas dari zaman dahulu hingga masa kini. Jika kita sejenak menelusuri sejarah masa lampau, maka kita akan mendapati satu fakta bahwa relasi antara kertas dan peradaban memang sangatlah erat dan kental.

Andai kita sedikit flashback ke belakang; kembali ke tahun-tahun di mana pengetahuan mulai tumbuh, maka kita akan menemukan suatu kenyataan sejarah. Di balik berbagai kertas kerja yang berisi penemuan revolusioner era renaissance, di antara deretan huruf-huruf formula “ajaib” kedokteran masa lampau, dan dalam berbagai manuskrip kuno yang bernilai eksotis dan sakral, kertas selalu menjadi media ekspresi peradaban.

Kertas senantiasa merekam itu semua. Hingga pada akhirnya membuat gagasan-gagasan besar itu menjadi teks naratif yang bisa dibaca berkelanjutan oleh generasi yang lahir sesudahnya.

Dengan melihat perjalanan kertas yang sangat panjang dalam sejarah, maka bisa dikatakan bahwa kertas adalah satu-satunya media yang memegang peranan penting dalam konstruksi peradaban.

Namun, sejalan dengan kemajuan teknologi digital yang menjadi katalisator terbentuknya era disrupsi teknologi hari ini, peran kertas sebagai media peradaban kini berangsur-angsur melemah dalam berbagai segi dan fungsinya.

Sebagai media baca dan tulis, misalnya, peran kertas telah diambil-alih oleh berbagai instrumen digital yang sampai detik ini terus hadir dalam bentuk-bentuknya yang inovatif.

Sebagai media komunikasi, fungsinya ini pun juga sudah lama digantikan oleh hadirnya surat elektronik (email) serta beragam aplikasi percakapan online yang sifatnya jauh lebih cepat serta praktis digunakan.

Dalam sektor administrasi-birokrasi, tergesernya kertas sebagai media utamanya hanya tinggal menunggu waktu; seiring dengan lahirnya semangat revolusi birokrasi yang menghendaki perubahan pelayanan yang lebih cepat dan efisien dengan mengandalkan teknologi informasi berbasis internet sebagai platform-nya.

Singkatnya, era di mana kertas pernah menempati posisi sentral sebagai media semai peradaban dan ilmu pengetahuan, kini telah digantikan oleh media internet-digital yang lebih mampu mengakselerasi tumbuhnya peradaban baru serta dapat menstimulasi ritme transformasi pengembangan ilmu pengetahuan menjadi lebih cepat dan dinamis.

Kini, seiring dengan berjalannya waktu, eksistensi kertas pun kian hilang dalam bayang-bayang era disrupsi teknologi. Ketika peradaban baru hari ini menuntut digitalisasi atas seluruh aktivitas pekerjaan manusia, permintaan pada produk kertas pun lambat laun menurun dengan sendirinya.

Lalu, dengan menyadari kondisi seperti ini, maka muncul pertanyaan yang cukup menggelitik di benak kita. Ke mana industri kertas akan bermuara selanjutnya? Masihkah industri kertas memiliki harapan di era yang berubah ini?

Kondisi “Dunia Kertas” Hari Ini

Sebagaimana dikutip dalam situs wartaekonomi.co.id, disebutkan bahwa dalam 1 (satu) dekade terakhir ini, permintaan dunia terhadap bubur kertas untuk kebutuhan cetak dan menulis menunjukkan trend yang tidak menggembirakan, terutama bagi industri kertas dan penyedia bahan bakunya.

Penurunan permintaan ini lebih disebabkan oleh mundurnya minat masyarakat dunia terhadap aktivitas membaca melalui koran, majalah, maupun tabloid konvensional berbasis kertas yang pada akhirnya turut berpengaruh terhadap turunnya jumlah oplah media-media tersebut secara signifikan.

Namun, di tengah merosotnya pesanan terhadap produk kertas untuk kebutuhan cetak dan menulis ini, ada satu fenomena menarik yang mencuat di tengahnya. Ternyata kebutuhan masyarakat dunia terhadap produk tisu dan kemasan justru mengalami kenaikan secara positif.

Menurut data FAO, permintaan terhadap produk tisu selama tahun 2006 sampai 2016 menunjukkan peningkatan sebesar 2,8%. Sementara konsumsi dunia untuk jenis kertas kemasan (atau kertas pembungkus) juga meningkat dengan nilai sebesar 2,3%.

Kenaikan volume permintaan terhadap produk kertas ini lebih disebabkan oleh aksi beli Tiongkok yang cukup masif terhadap produk kertas dan kemasan yang meningkat beberapa kali lipat dari kebutuhan sebelumnya.

Sebagaimana diketahui bahwa tingkat konsumsi negara Tiongkok terhadap produk kertas dan pulp sangat mendominasi, yakni berkisar 26% dari jumlah total kebutuhan kertas dunia. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan online yang terus meningkat di Tiongkok sehingga membutuhkan lebih banyak tisu dan kertas kemasan.

Untuk produk tisu, tingkat konsumsi per kapita Tiongkok hanya berkisar di angka 7 kg/kapita; masih berada di level terbawah dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat (22 kg/kapita), Eropa (17 kg/kapita), dan Jepang (14 kg/kapita).

Sementara untuk konsumsi kertas kemasan (kertas pembungkus), tingkat penggunaan Tiongkok terhadap jenis produk ini baru mencapai 50 kg/kapita; juga masih tertinggal cukup jauh bila disejajarkan dengan Amerika Serikat yang berjumlah 128 kg/kapita, Jepang sekitar 91 kg/kapita, dan Eropa sekitar 78 kg/kapita. 

Dengan demikian, diperkirakan bahwa daya serap Tiongkok terhadap produk tisu dan kertas kemasan masih akan terus mengalami kenaikan.

Hal ini juga sejalan dengan data FAO yang memperlihatkan bahwa selama tahun 2006 hingga 2016, produksi pulp Tiongkok mengalami kenaikan dari 52 juta ton menjadi sekitar 79 juta ton. Hal ini tidak sebanding dengan tingkat pemakaiannya sendiri yang menanjak lebih cepat dari yang semula 60 juta ton menjadi sekitar 97 juta ton.

Disparitas antara tingkat produksi dan daya konsumsi yang cukup lebar ini tentunya akan berdampak pada meningkatnya impor kertas dan pulp Tiongkok dalam beberapa tahun ke depan.

Untuk menutupi kekurangan ini, maka diperkirakan bahwa Tiongkok akan terus melakukan impor bubur kertas, terutama dari Indonesia dan Brazil yang memiliki kelimpahan bahan baku yang cukup dan kemampuan produksi yang andal.

Untuk menyaingi Brazil dalam kontestasi merebut pasar ekspor kertas dan pulp ini, Indonesia sendiri sebetulnya tidak akan kesulitan. Pasalnya, bila kita mencermati kondisi terakhir saat ini, bisa dikatakan bahwa konstelasi industri kertas dunia sedang dalam posisi yang cukup menguntungkan bagi Indonesia.

Hal ini terjadi akibat bandul produksi kertas dunia sedang bergeser ke kawasan Asia Tenggara yang berbarengan dengan menurunnya peran Amerika Utara dan negara-negara Skandinavia sebagai pemasok utama kertas di tingkat dunia.

Dengan adanya keunggulan komparatif mutlak Indonesia berupa jumlah bahan baku yang melimpah dan kemampuan produksinya yang sangat andal, maka Brazil sendiri akan kesulitan bersaing dengan Indonesia untuk menjadi penyuplai utama terhadap kebutuhan kertas dunia.

Memproduksi Kertas dengan Bahan Baku Alternatif

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan kertas dunia untuk jenis tisu dan kertas kemasan, maka hal yang paling utama untuk dibicarakan adalah soal ketersediaan bahan bakunya.

Berbicara soal ketersediaan bahan baku, tentunya kita akan selalu menyinggung tentang sumber bahan baku yang berupa kayu-kayuan, yang merupakan titik sentral atas seluruh isu kerusakan lingkungan.

Dewasa ini, isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan sedang masif disuarakan oleh para aktivis lingkungan, sehingga akan menjadi sulit bagi Indonesia untuk tidak terjebak di antara persoalan dilematik semacam ini.

Di satu sisi, Indonesia dituntut untuk menjaga lingkungan dengan mengurangi penebangan pohon untuk kebutuhan industri. Sementara, di sisi lain, Indonesia harus bisa memenuhi defisit APBN dengan cara memanfaatkan peluang besar untuk menjadi penyuplai kertas dunia yang tentunya akan sangat menguntungkan posisi moneter Indonesia.

Dengan dihadapkan pada situasi yang seperti ini, Indonesia didesak untuk bisa mengambil kebijakan tepat agar mampu berjalan pada skenario yang lebih moderat, yaitu Indonesia diharapkan bisa tetap menjadi produsen kertas dunia tanpa harus mengorbankan keselamatan lingkungan dan kekayaan keanekaragaman hayati yang dimilikinya.

Salah satunya adalah dengan cara mengonversikan sumber bahan baku pulp yang tadinya semata-mata berasal dari jenis pohon daun jarum (conifer), kini harus diganti dengan sumber lain (atau hasil hutan bukan kayu lainnya) yang memiliki zat lignoselulosa, seperti tanaman bambu dan limbah jerami yang stoknya tersedia sangat melimpah di Indonesia.

Sebenarnya, masih banyak jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai alternatif untuk bahan baku produksi kertas. Selama jenis tanaman tersebut memiliki zat selulosa dan hemiselulosa yang merupakan zat penting dalam pembuatan pulp dan kertas, maka tanaman tersebut layak untuk digunakan.

Banyak dari kalangan ahli menilai bahwa bambu dan jerami adalah bahan baku yang tepat sebagai alternatif pengganti, bukan hanya karena memiliki serat yang dibutuhkan, tetapi juga cocok sebagai alternatif dalam upaya perlindungan hutan dari ancaman eksploitasi industri.

Untuk bambu sendiri, tanaman ini adalah sumber penghasil kayu yang dapat tumbuh dengan cepat serta mampu meregenerasi dirinya sendiri secara alami. Jika dibandingkan dengan pohon yang hanya dapat dipanen dengan rotasi beberapa tahun, bambu dapat dipanen secara rutin per tahun.

Pertumbuhan bambu yang cepat berarti menjamin kelangsungan untuk memenuhi kebutuhan yang berkelanjutan, terutama bila diarahkan untuk memenuhi suplai industri bubur kertas dunia.

Jenis bambu yang cocok untuk pembuatan pulp adalah jenis yang memiliki kandungan selulosa yang tinggi, serabut yang panjang, rendah lignin, tumbuh dengan cepat, serta menghasilkan biomassa yang maksimal. Contohnya adalah bambu Bambusa Arundinacea, Dendrocalamus strictus, Bambusa vulgaris, Bambusa tulda, D hamiltonii, Dendrocalamus Longispatus, dan Melocana baccifera.

Terkait dengan Jerami, ini merupakan bahan baku yang kurang populer digunakan dalam industri kertas. Selain karena rendahnya kadar serat yang dimiliki, juga kertas yang dihasilkan relatif kurang bermutu.

Namun, bila sekadar untuk pemenuhan pembuatan produk tisu dan kertas kemasan, maka pulp dari bahan jerami cukup layak digunakan untuk kebutuhan yang dimaksud. 

Jerami merupakan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pulp yang mudah didapatkan. Jumlahnya yang sangat melimpah di Indonesia menjadi satu prasyarat utama untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam upaya mencukupi suplai bubur kertas dunia.