Wiraswasta
1 tahun lalu · 403 view · 5 min baca menit baca · Saintek 79874P2.jpg.jpg
https://id.pinterest.com/pin/499407046153119552/

Apresiasi Masyarakat terhadap Kemajuan Sains

Di abad ini, yang sekarang memasuki dasawarsa ke-2, masyarakat dimanjakan oleh banyaknya film ber-genre fiksi ilmiah. Mengambarkan ide-ide besar dari para ilmuwan modern dari abad ke-20 hingga memasuki awal di abad ini, abad ke-21, yang satu per satu mulai terwujud.

Sebagian ide-ide besar, atau berupa visi-visi spektakuler tersebut, dikemas menjadi suatu tontonan yang bukan sekadar menghibur, tapi juga memberikan efek edukasi (pembelajaran) kepada masyarakat untuk menumbuhkan daya imajinasi dan kesadaran akan pentingnya peran sains (ilmu pengetahuan) bagi kehidupan.

Dilihat dari antusiasme masyarakat untuk menonton film fiksi ilmiah, secara selintas bisa terlihat dari seberapa peduli dan tertariknya masyarakat terhadap dunia sains. Mungkin, untuk sebagian orang, pemikiran-pemikiran ilmiah yang dikemas dalam bentuk ‘hiburan’ ini, lebih mudah diterima. Dalam artian, lebih mempermudah masyarakat untuk memahami tentang apa itu sains.

Tentunya lebih mudah jika dibandingkan dengan membaca tulisan-tulisan teoritis yang penyajiannya kadang terlalu ‘kaku’ untuk ‘dicerna’ oleh masyarakat umum.

‘Memandang’ Sains

Pandangan masyarakat yang berasal dari berbagai macam latar belakang dalam menyikapi kemajuan sains, tentunya berbeda. Namun, dari perbedaan pandangan ini yang justru kadang menggerakkan masyarakat untuk berpikir lebih kritis, lebih mendalam dalam memahami setiap persoalan. Dan dari pemikiran-pemikiran kritis itulah sains berkembang.

Jika masyarakat sudah mulai tergerak untuk berpikir kritis, maka ketertarikan masyarakat untuk belajar semakin besar, rasa ingin tahu terhadap banyak hal pun semakin besar. Dari kesadaran inilah yang menjadi awal lahirnya suatu tradisi belajar (membaca, menulis, dan diskusi).

Dari tradisi belajar, melahirkan tradisi ilmiah. Segala hal yang diamati dan diteliti, menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.

Tradisi ilmiah ini yang nantinya melahirkan teknologi, yang  tujuannya, bukan hanya sekadar terapan ilmiah untuk memberikan solusi bagi setiap permasalahan saja. Juga, sebagai semangat untuk manusia terus menggunakan dan mengembangkan potensi dirinya sebagai manusia.

Sains menurut C.A. van Peursen diartikan sebagai “seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.”

Dalam definisi tersebut, van Peursen berusaha menyampaikan bahwa sains memiliki peranan mendasar bagi kehidupan. Sains adalah solusi bagi setiap permasalahan dan juga jawaban dari setiap pertanyaan.

Sains juga berupa inovasi atau spirit yang merangsang kreativitas manusia untuk melahirkan inovasi. Inovasi yang lahir dari sains berikut terapan praktisnya, yaitu teknologi, menjadi suatu energi yang terus menggerakkan roda peradaban di planet ini.

Banyak masyarakat yang memiliki pandangan keliru terhadap sains dan teknologi. Sains sering dipahami sebagai teknologi, begitu pun sebaliknya. Semua berawal dari keterbatasan pemahaman karena kurangnya keinginan dari masyarakat untuk sekadar mencari tahu definisi tentang apa itu sains dan teknologi.

Di sisi lain, ada juga yang memandang sains begitu rumit. Padahal, jika dipahami lebih sederhana, kegiatan memasak pun merupakan sains.

Paranoia terhadap Sains

Selain masyarakat yang menerimanya dengan penuh antusias (bersemangat), apatis (tidak peduli), bahkan menolak sains, ada juga yang bersikap paranoid, suatu gangguan mental yang diderita seseorang yang meyakini bahwa ada sesuatu yang bisa membahayakan. Dikatakan sebagai gangguan mental, bila perilaku tersebut bersifat irasional, menetap, menggangu, dan membuat stres.

Tidak dapat dipungkiri bahwa memang ada sebagian masyarakat yang takut bahkan paranoid pada kemajuan sains yang disertai temuan-temuan baru dalam dunia teknologi. 

Paranoid, atau sikap paranoia terhadap sains ini justru yang sekarang menghinggapi sebagian kalangan pemerhati sains dan saintis. Semua berawal dari pro dan kontra tentang suatu wacana atau penerapan suatu temuan baru dalam dunia saintek (sains dan teknologi).

Misalnya, ketakutan mereka terhadap kemajuan teknologi kecerdasan buatan yang semakin mendekati kecerdasan manusia. Sikap paranoia ini juga yang berusaha digambarkan pada suatu film fiksi ilmiah berjudul Transcendence yang diperankan Johnny Depp.

Pada film itu Depp berperan sebagai Will Caster, seorang ilmuwan yang menemukan cara memindahkan otak manusia ke dalam suatu sistem komputer dengan bentuk otak digital. Otak digital ini menyimpan memori, juga kepribadian dari orang yang melakukan proses ‘upload’ otak tersebut.

Setelah data-data pada otak itu masuk dalam suatu sistem yang diciptakan oleh Will Caster, otak atau kepribadian digital ini lebih mudah mengembangkan potensinya, kecerdasannya terus berkembang.

Dan pesan utama pada film ini bahwa proses evolusi berjalan lebih cepat dalam dunia digital. Sayangnya, temuan ini disikapi secara paranoid oleh suatu kelompok yang berusaha mempropagandakan bahwa kemajuan teknologi kecerdasan buatan ini yang nantinya menjadi alasan utama kepunahan manusia.

Paranoia ini bisa saja muncul karena daya imajinasi yang terbatas terhadap sains. Tentunya berbanding terbalik dengan sifat dasar sains yang justru memberikan semangat untuk manusia mengembangkan daya imajinasi dan kreativitasnya.

Daya kritis yang tinggi, jika tidak diimbangi dengan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam, akan menghasilkan suatu asumsi atau kesimpulan yang keliru. Celakanya, jika asumsi atau kesimpulan seperti itu secara sepihak dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Jika demikian, maka tak ada lagi keinginan dari manusia untuk berpikir kritis pada pemikirannya sendiri.

Memahami Sains sebagai Solusi

Jika melihat kondisi dunia pendidikan saat ini, dari bagaimana peran para pendidik yang berusaha mengenalkan dan mengajarkan sains kepada muridnya, pendidikan sebagai media pengenalan dan pembelajaran, mungkin telah mengalami banyak kemajuan.

Namun, hal yang paling mendasar, upaya untuk memberikan pemahaman tentang sains kepada masyarakat terlihat belum maksimal. Mengenal dan belajar sains tentu baik, namun memahami sains jauh lebih utama.

Seseorang akan tertarik untuk mengenal sains lebih jauh dan lebih asik mempelajari sains jika mereka diberikan pemahaman yang tepat tentang sains. Misalnya, dengan memberikan pemahaman yang sederhana seperti ini kepada anak di usia dini: “Jika gula atau garam dilarutkan pada air tawar, maka air yang tawar tersebut akan berubah rasanya menjadi manis atau asin. Itulah sains.”

Pemahaman terhadap sains ini sebaiknya dimulai dari usia dini, pemahaman yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan, bahkan sebagai konsumsi umum. Pemahaman ini, bukan hanya melalui lembaga pendidikan, teknologi informasi juga merupakan sarana yang tepat untuk ‘mempropagandakan’ atau memberikan penyadaran tentang pentingnya masyarakat untuk memahami sains.

Bahwa sains sangatlah sederhana, bahwa sains tidaklah rumit, bahwa sains adalah solusi bagi manusia untuk meraih harapannya. Apa pun itu, sains kuncinya.

Ketika masyarakat benar-benar memahami sains, tiada kata lain selain cinta yang ada pada hati setiap manusia terhadap sains. Cinta pada sains bisa berarti cinta pada kehidupan. Kecintaan manusia terhadap sains ini yang melahirkan optimisme dalam berperadaban. Manusia bebas berimajinasi tentang masa depan, bukan hanya soal kehancuran bumi, punahnya manusia, perang nuklir, dan segala hal pesimistis lainnya.

Dengan rasa cinta itu, manusia dengan ‘ringannya’ bisa saja berimajinasi tentang bagaimana jika suatu saat manusia mampu mengetahui dan memahami banyak hal hanya dalam satu ketukan, bagaimana jika manusia berbagi pengetahuan dari otak ke otak, buku-buku digital ke otak, semudah kita meng-upload atau men-download suatu data pada komputer atau internet.

Dan evolusi atau kemajuan apa yang akan terjadi pada diri manusia, jika dalam waktu beberapa detik, menit, atau jam, segala informasi yang ada di bumi ini bisa langsung masuk ke dalam ‘kepalanya’? Dan peradaban seperti apa yang akan muncul setelah manusia sampai pada ‘level’ tersebut?

Tentunya, dengan kesadaran saintifik (ilmiah), manusia bisa bebas menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. 

Dan akhirnya terjawab sudah bahwa sains memang memberikan kita kebebasan dalam berimajinasi. Dengan segala tujuan mulia yang diharapkan manusia, semuanya akan terwujud, tergantung manusia dalam menentukan sudut pandang terhadap sains. Sebagai teror? Atau sains sebagai cinta?

Sebagai masyarakat yang sehat, tentunya kita memandang sains dengan penuh kebahagiaan dan apresiasi sebagai cinta, kan? Jadi, apakah sekarang anda mulai jatuh cinta dan semakin tertarik untuk lebih memahami sains?

Artikel Terkait