Terkadang, saya terpikir, seorang mahasiswa lucu-lucuan dari salah satu Universitas yang berada di Bandung, lebih tepatnya Cimahi. Kemudian muncul pertanyaan: "mengapa membaca terasa kurang diminati?".

Di waktu senggang, saya suka membaca dan mencari-cari artikel yang selalu dipertanyakan, sebagai contoh: "tingkat literasi Indonesia". 

Dari berbagai macam artikel yang saya temukan dapat diambil beberapa fakta yang sama, antara lain: tingkat baca Indonesia sangat rendah, berada pada urutan ke 60 dari 61 negara. Kemudian hanya 1 orang yang minat dan rajin membaca dari 1000 orang Indonesia (Unesco).

Bukan lebay, meskipun saya sebagai mahasiswa lucu-lucuan tapi saya merasa sedih terhadap diri saya sendiri khususnya, dan umumnya terhadap saudara-saudara saya se-tanah air melihat fakta-fakta menyedihkan seperti itu, apakah kita ingin termasuk ke dalam 1000 orang yang tidak minat baca? melihat fakta-fakta yang bertebaran di google, mengapa negara maritim terbesar di dunia sekelas Indonesia, bisa dibilang acuh terhadap budaya membaca.

Padahal tokoh-tokoh besar dunia pun sangat gemar membaca seperti Thomas Alva Edison, Abraham Lincoln, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Warren Buffet. Atau tokoh besar nasional seperti, Ir. soekarno, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara dan masih banyak lagi.

Dengan membaca, kita bisa kaya akan perspektif terhadap suatu permasalahan atau isu yang ada. Dengan membaca buku sejarah misalnya, belajar sejarah bertujuan untuk melonggarkan cekikan masa lalu. Gerakan-gerakan dalam usaha mengubah dunia sering dimulai dengan mempelajari ulang tentang sejarah. Inilah mengapa kaum Marxis menceritakan sejarah kapitalisme, mengapa kaum Feminis mempelajari terbentuknya masyarakat patriarkal.

Atau, 

"World war I" terjadi tahun 1914-1918 yang melibatkan seluruh kekuatan imperium raksasa di Eropa. "World war II" terjadi tahun 1939-1945 yang melibatkan banyak negara di dunia. Hingga akhirnya kita belajar dari peristiwa sejarah kelam masa lalu, agar sejarah kelam tidak tercipta di masa yang akan datang.

Dengan membaca kita bisa bertanya-tanya terhadap suatu hal, misalnya: "kelaparan, perang, dan wabah?". Selama ribuan tahun pertanyaan ini tak berubah, tiga masalah ini menyibukkan pikiran orang China abad ke-20, orang India abad pertengahan dan Mesir Kuno. 

Generasi ke generasi manusia sudah menemukan tak terhitung alat, institusi, dan sistem sosial. Tapi mereka terus mati dalam jumlah jutaan akibat kelaparan, wabah dan perang. Apa sampai akhir dunia pun kita tidak akan terbebas dari tiga pertanyaan itu?.

Dengan membaca, kita banyak tahu tentang pengetahuan-pengetahuan yang tersebar di seluruh dunia, tanpa perlu kita menghabiskan materi dan tenaga kita untuk bisa pergi ke suatu negara tersebut agar dapat mencari pengetahuan tersebut.

Di abad modern seperti sekarang ini, khususnya di kalangan mahasiswa, rasanya membaca buku seperti sebuah bunga layu yang ditinggalkan, yang seolah-olah tak lagi berguna.

Miris rasanya, buku di zaman sekarang ini terlihat seperti tumpukan rongsokan ilmu pengetahuan yang tak digemari. Padahal buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet.

Buku adalah jendela dunia dimana kita bisa melihat isi dunia tanpa melakukan perjalanan, hanya cukup membaca sebuah halaman-halaman yang dilipat.

Kita dapat mencontoh negara Jepang. Dimana Jepang pernah menjadi Negara yang hancur karena kalah dari Word War II, kota Nagasaki dan Hiroshima di bom oleh pihak sekutu. Kemudian Jepang bias bangkit kembali dari keterpurukannya. Salah satu yang digalakkan adalah budaya membacanya.

Budaya membaca dapat menumbuhkan sifat kritis terhadap diri seseorang karena berbagai informasi masuk ke dalam otak, kemudian otak memilah-milah dan mengurai informasi tersebut hingga menimbulkan pertanyaan yang membuat seseorang berpikir kritis.

Dengan membaca juga kita dapat malatih keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata. Kita akan mendapatkan banyak informasi dari kegiatan membaca tersebut.

Banyak sekali yang menyebabkan budaya membaca di kalangan remaja masih sangat rendah. Sebagai penguat, ternyata banyak remaja yang lebih menyukai mengoleksi kaset atau CD lagu-lagu di kamarnya daripada mengoleksi buku-buku yang berkaitan dengan pengetahuan.

Selain itu, mereka lebih suka jalan-jalan ke mall daripada mengunjungi toko buku atau perpustakaan. Ini menandakan bahwa minat baca mereka masih sangat kurang.

Kemajuan teknologi informasi sekarang juga sudah berkembang dengan cepat dan maju setiap harinya. Salah satunya yang paling berkembang adalah adanya internet dan game yang sudah akrab di kalangan anak muda. 

Mereka banyak menghabiskan waktunya hanya untuk surfing internet dan bermain game. Karena sekarang internet dan game sudah bisa dinikmati melalui handphone atau ipad yang sudah dilengakapi dengan aplikasi-aplikasi canggih. Sehingga dapat memanjakan penggunanya dalam melakukan kegiatan tersebut.

Buku adalah jendela dunia, istilah yang sudah sering kita dengar, jangan jadikan buku sebagai "tumpukan rongsokan ilmu pengetahuan". 

Kita sebagai masyarakat Indonesia khusunya anak muda harus bisa menumbuhkan minat membaca dan menciptakan budaya membaca.