Suasananya cukup hangat, selama telingaku aman dari berita dalam negeri. Tanahnya begitu subur selama tiada asap industri dan tembok yang menghalangi rona hijaunya. Satu yang khas adalah rempahnya yang pernah diperebutkan layaknya gadis perawan, begitu berharga. 

Konon darah para pribumi turut menyuburkan perkebunan yang dulunya perawan ini. Darah itu belum kering, terus mengalir dari mulut ke mulut, mulut ke tinta, tinta ke angan. Darah itu mendidihkan atmosfer, segala yang lahir di dalamnya tumbuh dengan api.

Api yang menyuburkan sembari menghangatkan, membakar ego pribadi, menghanguskan dan di saat yang sama panasnya merangsang pertumbuhannya, memperluas daerahnya hingga menjadi ego yang dipikul bersama, ego kebangsaan; Patriotisme. 

Jauh di seberang kebun kopi, di balik garis khayal yang membatasi kesadaran kebangsaan, hadir wajah yang berbeda, dongeng yang berbeda. Namun darah mereka tak berbeda, begitupun egonya, menciptakan suatu dunia ideal yang diyakini bersama. 

Juga di seberangnya, di seberangnya lagi, hingga kembali ke titik awal, dunia dipenuhi dengan warna-warni ego. Api tersebut tidak selamanya mengisi jiwa mereka, dia bangkit pada waktunya, berdiam di ruang hati yang rentan dan sensitif. Konon, sensitif adalah esensi mereka yang memiliki api ini. 

Dari mana asalnya? Tentu bukan bawaan dari lahir. Sekilas kudengar itu adalah ruh kesatria berkuda dan pejuang kemerdekaan. Ruh yang menghuni angan kebangsaan, disalurkan lewat dongeng sebelum tidur, dikembangkan oleh pabrik manusia. 

Ya, mereka dikembangkan oleh pabrik, ditanamkan titik api yang menjaga kehangatan bangsa mereka sekaligus kebencian yang perlu untuk dijaga. 

Di sisi lain, cinta terus diperjuangkan di antara peperangan antara hitam dan putih, baik dan jahat, penguasa dan yang tertindas. Memperjuangkan cinta dengan kebencian yang membara, benci atas kekejian yang tanpa disadari adalah buah dari titik api yang juga merupakan cinta sekaligus benci yang dipuja, layaknya kesatria yang membantai prajurit musuh atas nama cinta. 

Dongengnya dikagumi oleh mereka tanpa memandang raga yang dibantai demi cinta sang kesatria, keluarga yang hancur demi kejayaan, tangis yang tumpah demi perut si kucing manja.

Cinta dan benci, bagai dua sisi koin. Koin emas yang diperdagangkan. Dikumpulkan sebagai harta kemudian dilepaskan demi harta yang baru; nama, properti, kekuasaan. 

Jauh sebelum mereka dilepas di arena pertumpahan darah. Cinta perlu dipupuk, dirangsang hingga pecah bersamaan dengan kebencian yang tak kalah hebat. 

Kemudian bumi terpecah-pecah atas nama identitas, oleh garis khayal omong kosong, dengan dalih keadilan dan keamanan, mencegah masuknya penjahat yang berada di baliknya, walau sesungguhnya yang mereka sebut penjahat itu adalah saudara mereka sendiri.

Aku lahir dan tumbuh di antaranya, mereka sama saja. Sama-sama diselimuti dengan kebencian yang mengatasnamakan cinta. Kekonyolan abadi, menumpahkan darah atas nama cinta dengan penuh kebencian. Kemudian kucoba mencari titik pijakan yang lebih tinggi, melihatnya dari jauh mungkin lebih nyaman. Ya, ternyata lebih nyaman. 

Aku tak melihat darah di situ, lebih halus dan sedikit lebih lucu. Mereka terlihat seperti koin emas yang berhamburan, terkadang bagai hewan buas yang dilepas di arena, di adu oleh tuan mereka yang terlalu pengecut untuk saling berhadapan. 

Bagai budak seks komersial yang menikmati tiap siksaan sensual lawan mainnya, hidup mereka diperlakukan layaknya ternak dan anjing penjaga, namun mereka tetap memuja para majikan yang bejat tadi. Semua berbeda jika dilihat dari sini, ingin sesekali kuajak kalian menikmati pemandangan ini, sungguh suatu pemandangan yang sangat absurd!

Biar kuberitahu lagi apa yang kulihat:

"Sesama saudara yang saling membenci atas nama cinta. Sesama saudara yang dimabuk oleh kebencian. Kebencian yang ditanamkan, dipupuk dan dijaga demi menghalau tumbuhnya cinta yang lebih besar; Kemanusiaan."

Tempatku berdiri kali ini jauh dari kerumunan pemabuk tadi, sunyi, tapi tidak sendirian. Rupanya pepohonan saling berbisik sambil perlahan menertawaiku. Zefiros dan Euros seakan-akan lalu-lalang dengan hinaan terselubung, memalukan. 

Ingin kujumpai iblis dan memeluknya dengan penuh rasa bersalah telah membencinya separuh umur, lalu mengatakan bahwa kini kutelah sadar mengapa dia tidak sudi sujud pada Adam.

Lihatlah refleksi-Mu wahai Esa, seperti inikah gambaran-Mu? Seperti inikah indahnya cinta yang Kau anugerahkan untuk kami? Apa mungkin Kau hanya rekaan mereka yang memanfaatkan rasa takut demi mendapatkan kekuasaan?

Ingin kutemui Kau lalu meminta-Mu tuk kembali menurunkan air bah, memusnahkan surga fana-Mu secepatnya. 

Tidak, aku mungkin hanya tenggelam dalam lantunan syair emosional acak di kepala. Lagi pula dengan melihatnya dari sini cukup membantuku melupakan nada-nada sombong budak patriotik, atau setidaknya tawa dan bisikan alam membuatnya terdengar lebih menghibur di telinga.

"Lihatlah dia, berkhayal mengubah dunia namun hanya bisa mencela saudaranya melalui tawa sinisnya. Mereka sama saja, bukan? Sama-sama tidak ada gunanya," ucap semut pada kawanannya yang mengintip dari rongga-rongga tanah yang mulai kehilangan keperawanan.