Biarkan saja jutaan nyawa di renggut corona. Biarlah pula jutaan keluarga tangisi kematian saudaranya. Ihwal ini biar bumi tak terbebani dengan jumlah manusia. Agar bumi tak semakin rusak karenanya

Corona ialah hikmah dari ilahi, memaksa manusia berani hadapi mati, sudah saatnya mereka bertemu yang maha tinggi, menandakan dosanya habis sampai disini. 

Usah hiraukan jutaan nyawa manusia Indonesia di cabut pandemi. Sehingga tidak akan ada persaingan dalam berburu rizki. Tak terjadi perebutan dalam mencari kehidupan yang memadai

Karena pada realitasnya penduduk Indonesia terlalu sulit untuk sejahtera. 

Akhirnya, mungkin saja pancasila hanya utopia


Sudut pandang

Dunia tengah di Landa pandemi, menjadikan manusia mengurung diri, udara tiada bersih lagi, takut terinfeksi, mati...

Jalanan jadi sepi, gerbang sekolah terkunci, pabrik tak beroperasi, roda ekonomi berhenti, sunyi

Pandemi adalah hikmah tuhan kepada insani untuk kembali, kembali renungi kuasa ilahi, bahwa ada hal yang lebih punya arti, Dari sekedar hidup yang hanya diwarnai keluh beserta peluh

Di lain sisi. Manusia menganggap pandemi adalah tragedi, namun bagi bumi pandemi adalah masa yang dinanti nanti. Tak ada lagi polusi, gas emisi. Membuatnya segar kembali, memperpanjang usianya nanti. Dan memang itulah yang selama ini manusia ingini

Cuci tangan

Bangsa ini tidak setia pada perkara ringan, seperti halnya dengan cuci tangan. Regulasi tentang cuci tangan sudah lebih dari satu dasawarsa di buat serta di agendakan, namun sangat buruk dalam segi pelaksanaan

Karena teramat miskin dalam implementasi, mencuci tangan seolah norma baru ketika terserang pandemi

Saat masih kanak-kanak rajin mencuci tangan, setelah remaja mencuci tangan pun dilupakan, karena tidak menemukan panutan

Pejabat publik juga sering pamer mencuci tangan, mereka membasuh tangan tidak di air mengalir dengan sabun. Mereka suka mencuci tangan dalam arti kiasan.

Mencuci tangan bukanlah pola anyar, itu pola lama yang harus menjadi bagian dari kultur. Biar jadi bagian dari kultur, bangsa ini harus mulai setia pada perkara minor, sehingga setia juga pada perkara superior


Situasi

Semasa dini dan senja, jalur Aspal nan sempit meruah liang itu acap menggelar huru hara. Perkara suara suara yang mencuat dari derum jentera jentera angkutan manusia. Yang bergabung beserta bell dan pekik lantang manusia. Lebih-lebih gaduh begitu kurun menyongsong kesudahan dini dan senja. 

Gempar itu di cipta manusia nan kepingin lekas capai loka sasaran. Mereka Tiada mengingini sedikit keterlambatan. Jalur itu mendatangi banyak metropolitan, lahan pekerjaan, sumber penghidupan. Harus rela bersesakan berimpitan berebut satu jalan. Dari kiri dan kanan. 

Tatkala itulah ketabahan ditindih letih. Mereka nan tiada betah sudahnya wajar menyisih. 

Susuri tanggul bakal melesat. Ketika tersendat, ramai ramai lepaskan lengkingan klakson peringati gandaran nan beredar lambat. Jalur Aspal itu teramat ketat. Layaknya perangkap, siapapun tiada mampu laju melesat. 

Di sertai meruah marka dan tikungan. Sewaktu waktu mampu ciptakan kecelakaan memakan korban

Tetapi Ihwal ini tiada sempat melantarkanya menjadi senyap, barang sekejap. Karena semata mata inilah jalur tercepat. 

Di sebagian sisi rute ini banyak melambai bendera partai. Potret utusan orang kebanyakan. Atribut itu jua bersesakan berdesakan dari hari kehari. kiri dan kanan penuhi sisi luar bahu jalan. Berebut sedikit lahan di mana ia ditancapkan. Hingga mengaburkan situasi keindahan. 

Aspal ialah jalur kendaraan, sedangkan atribut kampanye adalah jalur kekuasaan. Keduanya sama memperebutkan bagian jalanan. Potret wakil rakyat di lengkapi visi misi, kata kata persuasi, yang berfungsi memperebutkan simpati. Cukup gaduh untuk yang peduli.


Balada Hutan Jati

Batang batang pohon jati yang kokoh tinggi menjulang, adalah sebuah mimpi bagi dedaunan dan tunas tunas muda berkembang

Yang mengingini tumbuh menjangkau awang-awang, adalah rintik rintik hujan yang akan menjadikanya kenyataan

Tetapi masa teruk pun datang merintang. Vereenigde Oost-Indische Compagnie telah datang bertandang

Sedemikian tertarik pada “emas hijau” ini, lalu banyak melakukan eksploitasi di sana sini

Alasanya adalah untuk mendukung perusahaan perkapalan di Rotterdam dan Amsterdam

Kepunahan hutan jati akhirnya mereka sadari dan tiada bisa di pungkiri. Lalu mereka mengirim Herman Willem Daendels tuk membangun kembali hutan jati, lakukan reboisasi si hutan jati

Apa hendak di kata. Pertumbuhanya yang lambat dengan rendah tingkat germinasi menjadi aral penanaman kembali si pohon jati. Proses propagasi secara alami tiada tercapai

Sementara musim lepas berganti, tak kuasa melepas, tak jua kuasa menyingkir. Nasib pohon jati sampailah di ujung takdir

Dari mata kapak dan deru bunyi gergaji, patah dan rebah, berakhir musnah


Esensi Perang Palestina

Kabar peperangan di jalur gaza adalah airmata. Ia akan selalu datang menghentak jiwa. Bagai teguran keras di tengah kesibukan kita, yang penuh peluh di sertai keluh

Seakan mengingatkan bahwa ada perkara yang lebih punya arti, perang yang terjadi seakan menarik kita untuk kembali. Kembali rasakan getar perjuangan dalam balutan iman

Perang di Palestina adalah masalah yang sengaja Tuhan sisakan kepada kita. Untuk menyaring kualitas keimanan

Karena mudah saja bagi-Nya untuk membinasakan Israel dan para pembelanya. Ada tanda tanya besar tentang hal ini. Mengapakah Bangsa Yahudi teramat keji. Apakah karena berabad-abad Yahudi mengalami diskriminasi

Dan Puncak diskriminasi tatkala Yahudi dibantai. Di Eropa oleh kaum Nazi. Lalu berpengaruh pada psikologi

Aku tak tahu pasti...