"Setelah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), kamu jangan jualan beras lagi ya." Begitu pesan yang diterima oleh seorang teman sesama dosen di salah satu perguruan tinggi negeri, sebut saja Beno, dari bibinya. Pesan itu disampaikan ketika kami menerima Surat Perintah Melaksanakan Tugas (SPMT). Pesan yang sama juga mungkin diterima banyak Calon ASN yang sedang mengikuti seleksi seperti pada hari-hari ini.

Sebelum menjadi ASN, Beno merupakan tenaga pengajar perguruan tinggi swasta di Palembang, kota kelahirannya. Sebagai usaha sampingan, ia menjalankan bisnis penjualan beras. Sudah banyak relasi dan pelanggan tetap yang ia miliki selama dua tahun menjalankan usaha itu.

Pekerjaan menjual beras memang bukan pekerjaan yang ringan. Diperlukan banyak tenaga untuk membersihkan beras, memasukkan ke dalam karung, dan menempuh perjalanan berkilo-meter untuk mengantarkan pesanan.

Mungkin, itulah alasan mengapa Bibi Beno melarangnya melanjutkan pekerjaan menjual beras ketika telah diterima sebagai ASN. Dalam benak sang Bibi, seorang ASN adalah ‘kalangan elit' yang tidak layak mengerjakan pekerjaan orang biasa dan mengeluarkan banyak tenaga.

Anggapan itu tampaknya tidak hanya dimiliki oleh Bibi Beno. Banyak orang tua di Indonesia yang berkeyakinan begitu. Bagi mereka, ASN merupakan profesi impian. Sebuah profesi 'priyayi' yang akan mengangkat harkat, martabat, dan Marwah keluarga. Karena itu, para ASN dianggap tabu untuk melakukan pekerjaan ‘khas’ kalangan proletar.

****

Menjadi ASN merupakan mimpi sebagian besar warga Indonesia. Bayangan tentang pekerjaan yang mudah dengan gaji yang besar selalu hadir ketika kata ASN itu diucapkan. Belum lagi harapan adanya jaminan pensiun di hari tua yang begitu menggiurkan. Tek heran jika Seleksi Aparatur Sipil Negara senantiasa digandrungi jutaan peminat setiap tahunnya, begitu pula seleksi pada tahun ini.

Sayangnya, semua anggapan itu tidak selamanya tepat. Gaji ASN tidak sebesar yang dibayangkan. Gaji pokok untuk ASN yang baru dilantik terkadang hanya sedikit di atas Upah Minimum Regional (UMR). Memang benar bawah pada beberapa instansi terdapat tunjangan yang cukup besar bagi para ASN. Namun hal itu tidak dapat ditemukan pada instansi yang lain, khususnya di daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup rendah.

Meskipun demikian, anggapan sebagian besar masyarakat tetaplah sama. Bagi mereka ASN adalah kalangan 'priyayi' dengan gaji selangit. Anggapan inilah yang kemudian melahirkan mentalitas borjuis bagi kalangan ASN. Mentalitas yang semestinya hanya dimiliki oleh para pemilik modal dengan kehidupan glamour dan serba berkecukupan.

Jebakan mentalitas ini pun sempat saya alami. Pada bulan-bulan awal bekerja, saya sempat mengontrak rumah kecil untuk saya tempati bersama keluarga dengan harga sewa yang sangat terjangkau. Dan entah bagaimana mulanya, rekan-rekan ASN yang telah lebih dulu tinggal di kota tempat saya bekerja sangat menyarankan saya untuk membeli perumahan. "Masa' ASN selamanya mau ngontrak?" Begitulah kurang lebih cibiran mereka ketika itu.

Menghadapi pertanyaan yang terus datang berulang kali, akhirnya saya mengalah. Dengan berbekal Surat Keputusan pengangkatan ASN, saya mendapatkan pinjaman untuk membeli rumah. Karena itu pula saya harus mengatur pengeluaran sedetail mungkin untuk memenuhi kebutuhan harian dan membayar angsuran.

Beberapa ASN lain melangkah lebih jauh. Mentalitas borjuis memaksa mereka untuk semakin banyak mengajukan pinjaman kepada pihak perbankan. Pinjaman itu digunakan untuk memenuhi ‘gengsi’ dan belum terlalu dibutuhkan. Banyak diantara mereka yang mengajukan cicilan mobil, tas branded, sepatu impor, atau mempercantik desain interior rumah dengan furniture yang mewah. Akhirnya, banyak ASN yang tak lagi dapat menikmati gaji bulanan karena harus dipotong angsuran bulanan.

Dengan kondisi demikian, maka sang ASN mau tidak mau harus mencari pekerjaan sampingan. Pada kondisi inilah jebakan mentalitas borjuis semakin memperparah keadaan. Seorang teman sesama dosen, saya biasa memanggilnya Pak To, menginvestasikan simpanannya untuk memulai usaha ternak kambing. Pak To membuat kandang dan mencari rumput untuk pakan ternak nya di sore hari selepas pulang dari kampus. Ternyata, banyak tetangga yang mempertanyakan tindakannya tersebut. Bahkan ada tetangga yang bertanya: “sudah ASN kok masih tahan panas-panasan cari rumput mas?” Ujarnya ketika itu, tentu dengan nada cibiran.

Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, istri saya berjualan online. Terkadang, saya mengantarkan barang dagangannya sepulang dari bekerja. Mengetahui profesi saya sebagai dosen ASN, salah seorang pembeli pernah berkata: “kok dosen tidak malu jualan online mas?”

Bagi saya, Beno, dan Pak To, usaha sampingan kami merupakan sesuatu yang biasa saja dan bukan pekerjaan rendahan. Bahkan hasil yang didapatkan dari usaha tersebut cukup lumayan dan dapat menutupi kebutuhan sehari-hari. Dari hasil berjualan online, saya bisa mendapatkan keuntungan bersih di atas tiga juta perbulan. Beno bisa meraup lima juta perbulan dari hasil bisnis berasnya, Pak To meraih keuntungan enam juta hanya dengan menjual beberapa kambingnya. Selama usaha yang dilakukan tidak merugikan orang lain dan tidak mengganggu produktivitas, maka kami tidak malu melakukannya.

Namun ternyata, tindakan kami hanyalah sebuah deviasi dari fenomena mentalitas borjuis ASN dan lingkungan masyarakat sekitar. Tampaknya ada pembagian jenis pekerjaan yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pegawai kantoran. ASN hanya boleh berinvestasi di bidang saham, mendirikan supermarket, atau menjalankan bisnis ekspor dan impor. Sebaliknya, tak layak bagi mereka untuk  berpanas-panasan, berjualan kecil-kecilan, membajak sawah, atau membantu tukang di perumahan.

Mentalitas semacam ini semakin tumbuh subur di Indonesia. Bagaimana tidak, para ASN ini diberikan banyak kemudahan untuk mengajukan pinjaman di perbankan. Mereka juga memperoleh bermacam previlage di lingkungan sosialnya. Banyak di antara mereka yang ketika mendapat giliran ronda hanya ikut menyumbang makanan dan rokok bagi para warga dan tidak ikut berjaga, "besok banyak kerja" menjadi alasan utamanya.

Kalau sudah begini, para ASN dan masyarakat sekitarnya semakin dipaksa untuk meyakini bahwa ASN merupakan sedikit dari kalangan elit di Indonesia. Kalangan borjuis yang dapat memiliki segalanya.

****

Beberapa hari ini, sebagian penduduk Indonesa sedang berjuang menggapai mimpinya menjadi ASN. Proses seleksi sudah memasuki tahan Seleksi Kompetensi Dasar yang diikuti oleh ratusan ribu pelamar. Semoga saja para calon ASN ini tidak mewarisi mentalitas borjuis yang sama.

Muhammad Amin, Tinggal di Pangkalpinang.