"Pokoknya kamu kuliahnya harus 4 tahun! IPK-nya harus 3.98. Kalau gak Cumlaude, gak usah kuliah! Nggak usah ikut organisasi. Itu akan merusak kuliahmu"

Well, sebelum masuk kuliah dulu, telinga saya hampir setiap harinya mendengar kalimat-kalimat itu. Entah dari ibu, paman, bibi maupun kakek-nenek sendiri. Awalnya di iyain saja semuanya, wong waktu itu belum memahami dunia kuliah itu seperti apa.

Masuk jadi Mahasiswa Baru semester 1 semuanya masih biasa-biasa saja, masih mengikuti arus perkuliahan. Kalau ada senior dari Organisasi masuk ke ruangan belajar dan sosialisasi tentang organisasinya, saya merasa itu seperti virus karena sebelum masuk kuliah mindset saya benar-benar diobrak-abrik tentang bagaimana organisasi di kampus itu.

Sampai pada akhirnya saya menjadi mahasiswa cerdas namun GOBLOK! Bingung maksudnya? Begini, mahasiswa yang hanya mengikuti arus perkuliahan saja; tahunya hanya apa yang dikatakan dosen semuanya benar sekalipun dosen saya bilang "Plato itu anaknya Fermanides," maka saya pasti membenarkan dan mencatatnya di dalam buku catatan saya tanpa mempertanyakannya secara kritis.

Perkuliahan di semester 1 berjalan dengan tenang. Teman-teman cowok pada heboh bercerita tentang Organisasi A dan Organisasi B sedang gencar-gencarnya melakukan pengkaderan untuk mencetak kader-kader baru.

Setelah melangkah ke semester 2, akhirnya teman-teman saya yang sudah lama selesai berkader di Organisasi A atau B tersebut, berubah 180 derajat. Ada yang menjadi benar-benar bijaksana, ada yang nasionalis sekali, dan ada pula yang sangat kritis.

Bahkan, saya sampai tak mau mendekati teman saya yang sering melakukan demonstrasi karena saya menganggap mereka manusia goblok yang tidak tahu bagaimana nilai 3.98 tertera di dalam Kartu Hasil Studi. But wrong way! Saya menyombongkan diri dan mengajak mereka berdiskusi (debat kusir). Saya yang sehari-harinya hanya mempelajari ilmu yang memang tertera di jadwal kuliah jadi ambigu ketika mereka membahas tentang FILSAFAT. Iya! Filsafat.

Saya yang tadinya merasa paling cerdas karena mendapatkan IPK 3.98, tiba-tiba hanya bisa mangap-mangap tidak memahami dengan apa yang kawan-kawan saya ceritakan. Ketika mereka menganalisis menggunakan teori-teori, lagi-lagi saya hanya terdiam kaku. Ternyata saya bukan apa-apa dibandingkan mereka.

Saya jadi malu sendiri dengan mereka. Mereka benar-benar hebat. Mereka bisa mengimplementasikan ilmu mereka di dalam masyarakat. Mereka bisa mengatur strategi. Mereka bisa menganalisis. Dan yang terakhir, mereka punya skill. Sedangkan saya? Sama sekali tidak.

Saya membuka mata, mulai berorganisasi, membaca buku-buku Filsafat. Seiring berjalannya waktu dan hampir gila karena baru memulai semuanya dari 0, akhirnya saya bisa menyamai kedudukan teman-teman saya yang lain. Filsafat menjadi kesukaan saya. Ketika berdiskusi dengan teman-teman, saya bisa selaras dengan mereka.

Akan tetapi, angka indah yang terukir di Kartu Hasil Studi menjadi angka buruk yang tadinya 3.00 akhirnya menjadi 2.00. Dan inilah yang menjadi pertanyaan saya. Ternyata kesuksesan seseorang tidak tergantung pada angka yang tertera pada Kartu Hasil Studinya.

Sampai akhirnya saya masih mencintai apa yang saya lakukan membaca buku-buku yang lain selain buku-buku kuliah saya. Aktif melakukan tulis menulis dan diskusi yang menghasilkan sesuatu yang tidak akan pernah saya dapatkan jika tak melakukan hal-hal yang menakjubkan tersebut.

Ketika ada fenomena masyarakat, saya langsung bisa menanggapinya dengan bijak dan tidak langsung men-judge apa yang saya lihat. Ketika ada informasi, saya bisa menyaring informasi tersebut dengan benar dan tidak langsung menelan informasi tersebut mentah-mentah. Tulisan-tulisan di Wall Media Social menjadi lain dari sebelum-sebelumnya dan tidak jarang juga terjadi perdebatan di media sosial.

Namun, masih sangat disayangkan. Masyarakat masih lebih mengakui gelar sarjana dengan IPK luar biasa dengan masa kuliah yang sangat sempit. Mereka yang cerdas, punya skill tetapi IPK-nya bukan cumloude dan tua di kampus dipandang sebelah mata. Tidak jarang pula mereka dianggap sebagai hama masyarakat apalagi mahasiswa yang sering melakukan demonstrasi.

Padahal, kalau mau dipikirkan lebih dalam lagi, proses mencari ilmu itu tidak hanya berbatas pada angka. Tolok ukur seseorang cerdas atau tidak bukanlah dari IPK-nya, tetapi dari apa yang ia sampaikan bermanfaat atau tidak atau dari sikap yang ia tunjukkan.

But this is reality. Orang-orang lebih menyukai Angka dibandingkan Kerja Nyata. Mau sampai kapan kita seperti ini?