Siapa itu Tuhan? Siapa sesungguhnya Dia? Bagaimana wujud-Nya?  Apakah mataku  yang penuh dosa ini mampu melihat-Nya? Apakah hatiku yang lebam ini senantiasa menghadirkan-Nya dalam hari-hari hidupku? Apakah Tuhan sungguh sudah mati?

    Sederet pertanyaan eksistensial itu hadir di kepalamu. Kamu merasa, kepalamu macam taman dan pertanyaan-pertanyaan itu adalah harum bunga mawar. Mereka telah tumbuh, mekar, dan kini aromanya menyebar ke penjuru hatimu. Tak kamu sadari, sudah jauh hari pertanyaan-pertanyaan itu mendekam jauh di dasar hatimu.

    Pada titik  inferioritas, pertanyaan-pertanyaan itu hadir. Mereka hadir merombak dada kamu yang rapuh. Mereka hadir mewasiatkan tentang hidup kamu di masa depan. Mereka hadir seolah memaksa kamu untuk bertanya siapa kamu sesungguhnya. Mereka pun hadir semacam salju di musim semi yang membekukan sesaat seluruh hidup kamu.

    Alasan mengapa pertanyaan-pertanyaan itu kembali mencuat dalam hidup kamu? Karena pernah bahkan selalu setiap hari hidup kamu seperti kanvas yang tak pernah berarti pun juga bagai ombak yang bergelombang dengan ujung yang tak pernah pasti.

    Pernah dalam batang hari yang sejuk dengan secangkir kopi kamu merasa kebingungan, tak tahu arah. Apa yang kamu pikirkan tak sesuai yang kamu harapan. Setiap hari adalah hari yang penuh kemalasan dan kebingungan.

    Tak hanya itu, masalah seperti datang bertubi-tubi. Tugas kuliah menumpuk. Semua teman menjauh tanpa sebab tanpa alasan. Bahkan, cinta seperti neraka yang dipenuhi suasana panas dan mencekam. Ah, betapa hidup sungguh sebuah petualangan yang rumit.

    Aneka masalah-masalah itu pada akhirnya memicu ketidak-tenangan dari dalam diri, mendatangkan ketidakberuntungan yang mendera, melahirkan sifat mudah marah tanpa sebab. Di titik terakhir kamu kehilangan ide dan inspirasi hingga pada suatu waktu kamu ragu dalam mengambil keputusan.

    Dikelilingi oleh situasi-situasi yang membelenggu, kamu menyebut hidup sungguh seperti padang gurun yang gersang. Tidak ada sesuatu yang bergairah. Tidak ada peristiwa menyenangkan. Hanya ada kenangan-kenangan pahit. Hanya ada bayang masa depan yang masih suram.

    Dalam suasana-suasana begitu kamu berani mengatakan Tuhan sudah mati. Tuhan tidak bisa menolong kamu. Tuhan sudah menjauh dari hidup kamu. Tuhan seperti Laut Maha Luas, dan kamu seperti sungai. Setiap kali ingin mengalir ke dalam-Nya, kamu gagal dipukul keluar oleh ombak Maha dahsyatNya.

Mengenal dan Mengidentifikasi Akar Masalah

    Ribuan tahun lalu, filsuf Aristoteles sudah mengumandangkan ide briliannya bahwa manusia adalah animal rationale sekaligus sebagai hommo socius. Sebagai animal rationale, manusia berbeda daripada makhluk ciptaan lainnya atau makhluk infrahuman karena hanya manusialah yang memiliki akal budi.

    Sebagai makhluk rasional, manusia senantiasa berpikir, berefleksi dan menyadari eksistensi dirinya di tengah keberadaannya bersama yang lain. Atau dengan kata lain, manusia mempunyai kemampuan mencerna pengalaman, merenung, merefleksi, menalar, dan meneliti dalam upaya memahami lingkungannya.

    Hanya manusia yang mampu menyadari keberadaannya dan ia sendiri sadar bahwa dia berada. Selain sebagai animal rationale yang sadar akan keberadaannya, manusia juga merupakan homo socius yang senantiasa berada bersama yang lain.

    Adalah suatu fakta yang tidak dapat disangkal bahwa tidak ada seorang manusia pun yang berada dari dan demi dirinya sendiri tanpa bantuan atau pun pengaruh dari keberadaan yang lain. Manusia adalah pribadi yang diadakan dan mengadakan yang memberi dan diberi arti oleh yang lain.

    Dengan demikian, menjadi jelas kamu adalah manusia bukan? Jika demikian berarti kamu adalah animal rationale sekaligus hommo socius. Kamu adalah manusia yang berani berpikir tentang keberadaanmu sekaligus juga kamu adalah manusia yang tidak bisa tidak berelasi dengan manusia lainya.

    Nah sekarang kembali ke akar masalah? Sekalipun demikian sebagai makluk animal rationale sekaligus hommo socius kamu hidup di dunia dalam dimensi-dimensi yang penuh tantangan. Tantangan-tantangan yang kamu hadapi membawa kamu kepada situasi batas (grand naration). Kamu cemas,  sedih, dan gagal. Hingga pada akhirnya kamu bertanya Apakah Tuhan sudah mati?

    Bagaimana supaya kamu kembali mengatakan bahwa Tuhan ada, bahwa Tuhan tidak mati. Ia ada dan Ia sungguh ada. Kuncinya adalah kamu perlu mengetahui dan mengidentifikasikan konflik masalah-masalahmu.

    Pertama, Sebagai animal rationale kamu perlu mengetahui konflik dalam diri kamu (internal). Konflik diri sendiri merupakan ketidakmampuan dalam menghadapi masalah dan karena itu muncul sikap menghakimi diri sendiri hingga pada situasi tertentu kamu “jatuh” dan tidak ingin bangkit lagi.

    Bagaimana cara memahami konflik diri sendiri? Adalah tidak lain masuklah ke dalam dirimu dan identifikasi dengan akal budimu (rasio mu). Pahami permasalahan diri kemudian renungkan dalam diri kamu dan melihat dari sisi sudut tengah dan tanpa memihak, kemudian lihatlah diri kamu dan kemampuan kamu yang sebenarnya dengan begitu secara alami kamu akan memahami dan menyadari emosional dan masalah-masalah internal kamu.

    Kedua, sebagai hommo socius kamu selalu berinteraksi dengan orang lain. Berinteraksi terkadang juga menimbulkan konflik dengan orang lain (eksternal) seperti perbedaan pendapat, putus cinta, pengkhianatan, kesalahpahaman, perbedaan bahasa, berbeda budaya, berbeda gender, status sosial, kondisi perekonomian, berbeda agama, suku, dan ras.

    konflik tersebut muncul adanya akibat gesekan dengan kamu atau bahkan tanpa sengaja kamu melihat tanpa harus terlibat dalam konflik tersebut dan mengganggu pikiran kamu. Bagaimana supaya kamu bisa mengidentifikasikan konflik-konflik itu?

    Gunakan akal budimu untuk berpikir bahwa setiap konflik pasti menyisakan sedikit emosional dalam diri. Dengan akal budimu, kenalilah emosional tersebut dan ekspresikan dengan natural untuk memberikan dampak kelegaan pada diri saat mengenali konflik tersebut. Saat satu persatu konflik dengan orang lain sudah dikenali maka kamu akan merasakan titik pencerahan dalam penyelesaian yang timbul secara alamiah.

Berdamai Dengan Diri Sendiri

    Jalan terakhir setelah mengetahui dan mengidentifikasikan masalah-masalah kamu adalah kamu harus berdamai dengan diri sendiri. Apa pun itu kamu adalah tuan atas diri dan hidup kamu. Jalani hidup kamu dengan tanpa memakai topeng. Tunjukkan identitas kamu yang asli dalam dan pada setiap situasi dan kondisi.

    Ketika berdamai dengan diri sendiri maka kamu tahu apa prioritas hidup kamu, siapa yang sungguh ada untuk kamu, dan apa tujuan hidup kamu di dunia ini. Terlebih jauh di kepala dan hatimu, kamu sungguh memahami bahwa Tuhan tidak mati. Tuhan adalah udara dalam setiap hembusan nafas kamu. Dia ada dan sungguh tak pernah mati.

    Pada akhirnya dengan kata yang selalu tak habis dicekik oleh makna, syukurilah hidupmu dengan senantiasa menyeduh kopi hangat, dan jangan lupa kata-kata manis dari sang filsuf Stoa, Marcus Aurelius “orang yang bodoh cenderung menyalahkan orang lain atas kemalangannya sendiri. Menyalahkan diri sendiri adalah bukti kemajuan. Tetapi orang bijak tidak pernah menyalahkan orang lain atau diri sendiri, apalagi Tuhan”.