52260_98518.jpg
shwiggie.com
Agama · 4 menit baca

Apakah Tuhan Punya Nama?
Catatan Kelas World Religon #2

Saya mengawali kelas World Religion dengan menuliskan pertanyaan "Does God has a name?" di atas di pojok kiri papan tulis. Kepada para mahasiswa, saya bilang bahwa hari ini kita akan belajar apakah Tuhan yang dipuja-puja semua agama itu memiliki nama.

Mengapa pertanyaan ini penting? Tentu karena rasa penasaran sekaligus heran dengan banyaknya istilah yang menyebut “atas nama Tuhan”. Memangnya Tuhan punya nama?

Saya mulai pelajaran hari itu dengan mengajak mahasiswa menyimak lagu Spirit Carries on dari Dream Theather. Lirik lagu ini sangat dalam, menjelaskan betul kenapa orang masih perlu agama.

I used to be frightened of dying, I used to think death was the end, but that was before, I'm not scared anymore, I know that my soul will transcend,” begitu kata mereka.

Di bagian reff, mereka dengan lantang bilang, “If I die tomorrow, I'd be all right, because I believe, that after we're gone, the spirit carries on..”

Lagu ini berhasil membuat suasana kelas agak merinding, saya lalu bilang bahwa satu-satunya hal yang menjadi kekuatan doktrin agama –sehingga masih dipercaya oleh manusia modern hingga saat ini—adalah doktrin soal adanya kehidupan usai kematian, afterlife.

Magic dan modernisme tak memiliki doktrin serupa. Agama memberi pengharapan bahwa kematian bukanlah akhir. Tak ada satu orang pun yang tak takut akan mati. Agama datang untuk mengolah ketakutan tersebut dan memberikan kabar baik bahwa hidup yang sekarang hanyalah bagian dari banyak fase lain kehidupan.

Baca Juga: Agama Indomie

Tetaplah berbuat baik, agar hanya kebaikan pula yang Anda dapatkan di kehidupan usai kematian. Begitu kira-kira pesannya.

Saya lalu memulai penjelasan soal pengenalan 5 agama besar dunia. Saya beruntung, mahasiswa saya berasal dari latar belakang agama yang berbeda-beda, sehingga mudah bagi saya untuk meminta mereka menjelaskan agama mereka sesuai dengan pengetahuan dan pergumulan mereka masing-masing.

Dimulai dengan agama Hindu. Agama tertua ini percaya pada many forms of one god. Tak benar anggapan bahwa Hindu menyembah banyak Tuhan. Tuhan mereka satu, tetapi manifestasinya banyak. Mereka juga percaya pada karma dan reinkarnasi. Yakni, bahwa segala perbuatan pasti akan ada balasnya. Tak ada keburukan atau kebaikan yang terjadi begitu saja, semua pasti ada balasnya.

Meski begitu, Hindu tak memberikan gambaran mengerikan soal hidup setelah mati, sebab semua yang mati pasti akan hidup kembali. Kecuali bagi mereka yang telah berhasil mendekat kepada Tuhan, mereka akan hidup dalam kebahagiaan nan abadi.

“Tapi, Hindu kami beda dengan hindu di India, Pak,” kata salah seorang mahasiswi saya yang berasal dari Bali dan beragama Hindu.

Ia lalu menjelaskan beberapa perbedaan mendasar antara Hindu Bali yang ia anut dan Hindu India.

Agama tertua berikutnya adalah Buddha. Agama ini lahir salah satunya akibat penolakan Sidharta terhadap doktrin soal kasta. Baginya, semua orang lahir dengan starting point yang sama. Tak ada orang yang lahir langsung dalam posisi mulia atau hina. Semuanya sama. Perbuatan selama hiduplah yang menentukan mulia tidaknya seseorang.

Tak ada pemeluk agama Buddha di kelas saya, tapi beberapa mahasiswa berbagi tentang hal yang mereka ketahui dari agama Buddha.

Penjelasan soal agama-agama terus berlanjut, berturut-turut dari agama Yahudi, Kristen dan Islam.

Semua agama ini hadir untuk tujuan yang sama, membimbing manusia menuju Tuhan. Sebelum agama lahir, orang-orang telah menyadari adanya kekuatan lain yang lebih besar dari mereka, sebuah kekuatan yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka. Hanya saja, mereka tak tahu siapa/apa kekuatan ini.

Agama hadir, atau dihadirkan, untuk memberi penjelasan soal ini. Mereka pun sepakat untuk menyebutnya sebagai Tuhan.

Saya kemudian kembali ke pertanyaan yang sudah saya tulis di pojok kiri papan tulis, “Lalu, apakah usaha untuk memperkenalkan Tuhan ini membuat Tuhan serta merta mempunyai nama?” tanya saya.

Pemeluk agama Islam menyebut Tuhan mereka dengan sebutan Allah. Beberapa orang mengira Allah adalah nama Tuhan, nyatanya tidak. Allah adalah bahasa Arab untuk “Tuhan”, bukan nama Tuhan.

Umat Kristen malah cukup menyebut nama Tuhannya dengan sebutan Bapa (Bukan Bapak). Seperti terjemahan di Keluaran 20:5 “Karena aku --Tuhanmu, Bapamu, adalah— Allah yang pencemburu.” Umat Kristen juga ‘bebas’ menyebut Tuhan mereka dengan banyak sebutan lain, seperti; Eli, Elohim, Yahweh, Allah, dst. Tak ada larangan untuk itu, toh itu semua hanya sebutan.

Hal serupa, mengidentifikasi Tuhan dengan banyak sebutan, terjadi pula di hampir semua agama. Hal ini semakin menguatkan pendapat bahwa Tuhan memang tak memiliki nama.

“Kok bisa gitu?”

“Apakah Anda pernah jatuh cinta hingga begitu dalam? Cinta yang membuat Anda tak lagi memanggil pujaan hatimu dengan nama aslinya, melainkan dengan sebutan-sebutan mesra? Pacarmu bernama Suryani, namun kau memanggilnya ‘hani bani suiti’; atau nama pacarmu Hartono tapi kamu malah memanggilnya ‘yayang beb’.”

Mahasiswa saya mengangguk, mungkin paham, tapi mungkin pula sedih; imbas jomblo terlalu lama.

“Begitulah ‘nasib’ nama bagi Tuhan. Kita memanggil-Nya sesuai dengan kadar kedekatan dan kemesraan kita.”

“Nah, kalau manggil Tuhannya pakai pengeras suara, itu tandanya apa?”

“Kalau kata Gus Dur sih, mungkin Tuhannya jauh!” tutup saya.

Pertemuan berikutnya, saya akan memulai kelas dengan pertanyaan: “Apakah Tuhan butuh nama?”